Silent

Silent
Akhir



Mobil berharga fantastis mulai memasuki gerbang rumah yang cukup besar. Hingga pada akhirnya terparkir di garasi rumah. Sudah dua tahun dirinya tinggal di sarang penyamun. Seekor kelinci yang telah banyak beradaptasi.


Matanya menelisik mengikuti langkah Narendra. Seekor kelinci kecil yang memilih berlindung pada seekor singa. Mengapa? Kini tujuan orang-orang di rumah ini sudah diketahui dengan jelas olehnya.


Salsa dan Anggeline ingin menyingkirkannya. Malik ingin tidur dengannya. Zou dan Arsen, mengawasinya bagaikan CCTV paling canggih di dunia. Jadi satu-satunya orang yang paling ramah di rumah ini hanya ayah mertuanya. Orang yang paling disegani di dalam rumah. Tujuannya? Entahlah, namun ada kalanya Dora melihat Narendra terdiam tengah malam, menatap lukisan mendiang istrinya. Satu-satunya lukisan yang hanya terdapat di gudang belakang.


Apa tujuan Dora saat itu hingga melihat ayah mertuanya terdiam dalam gudang tengah malam? Tentu saja mencari cara melarikan diri dari sarang penyamun, berkeliling tengah malam survei lokasi. Tapi memang lebih sulit melarikan diri ditempat ini.


"Kalian pulang bersama?" suara Salsa terdengar, berdiri di hadapan mereka.


"Iya! Aku adalah nyonya muda! Jadi boleh-boleh saja!" bentak Dora bersembunyi di balik punggung ayah mertuanya. Takut pada Salsa? Tentu saja, tapi selama Narendra berpihak padanya dirinya boleh saja sombong bukan?


"Tapi tetap saja, pria dan wanita ada dalam satu mobil jika ada yang melihatnya orang akan beranggapan..." kata-kata Salsa dipotong.


"Aku tidak memiliki anak perempuan, jadi wajar bagiku memanjakan menantuku. Tapi kamu mempunyai anak laki-laki, apa wajar memanjakan mahasiswa yang jauh lebih muda dari Malik?" kata-kata menusuk dari mulut Narendra, mengetahui walaupun dirinya tidak memberikan uang bulanan lagi, namun Salsa masih mencari kesenangan dengan meminta uang pada Malik dan menggunakan tabungan serta beberapa asetnya.


"Tante seharusnya sadar diri, jangan meludah ke atas, jadi kena wajah sendiri kan?" Dora tersenyum mengejek, menjulurkan lidahnya, kemudian kembali bersembunyi di belakang Narendra.


Benar-benar tengil, benar-benar menyebalkan. Ingin rasanya Salsa menangkapnya, lalu memukulnya bertubi-tubi. Benar-benar bagaikan drama bawang merah bawang putih, dan dirinya sebagai ibu tiri harus banyak-banyak bersabar mencari cara menyingkirkan Dora.


Yoka? Satu setengah tahun yang lalu pemuda itu hilang tanpa jejak. Dirinya pada akhirnya menemukan identitas ayah biologis putranya Malik, satu setengah tahun yang lalu.


Teman Kuliah Salsa di luar negeri, kini memiliki bisnis penyelundupan narkotika. Ayah biologis Malik itulah yang dimintai tolong olehnya untuk menyingkirkan Yoka yang berada di luar negeri.


Sialnya, dirinya kehilangan jejak, pemuda itu berpindah negara dengan cepat. Meminta perlindungan ketat dari kepolisian negara tempatnya membuka bisnis baru dan berinvestasi.


Memanfaaatkan keberadaan Dora di rumah ini? Peretas pernah disewa ayah biologis dari Malik itu. Tapi sudah satu setengah tahun, tidak satupun surat elektronik yang dikirimkan dari luar negeri pada Dora. Sungguh sepasang tikus yang sulit disingkirkan oleh Salsa.


Selama ada dalam perlindungan Narendra yang begitu teliti akan sulit untuk menyingkirkan Dora. Wanita yang dua tahun ini selalu mengejeknya dari belakang punggung Narendra.


*


Malam semakin menjelang, hanya pada acara makan malam mereka berkumpul bersama. Mata Dora menelisik, menghela napas kasar melihat hidangan Volgograd (hati angsa) di hadapannya.


"Aku jadi ingat organ hati yang dikeluarkan Tantra tadi siang, terdapat cacing yang sudah mati. Jadi organ hati tubuh manusia juga bisa terdapat parasit kecil seperti cacing," gumamnya yang benar-benar serius ingin menjadi dokter bedah.


Tang! Tang!


Garpu di tangan Anggeline terjatuh, wanita itu segera berlari ke kamar mandi memuntahkan isi perutnya.


"Dasar tidak sopan! Untuk apa kamu membicarakan hal menjijikkan seperti itu di meja makan?!" bentak Salsa hendak menyiram Dora dengan air.


Namun.


"Ayah..." Dora memelas, pada ayah mertuanya.


"Salsa! Jika tidak ingin dengar tutup telingamu! Dia hanya menceritakan hal menarik yang dilakukannya hari ini. Seperti kamu yang sering mengoceh tentang sepatu keluaran terbaru!" bentak Narendra menatap tajam. Membuat Salsa yang hendak menyiram Dora menghentikan tindakannya.


Dora tersenyum memperlihatkan gigi putihnya, tidak ada yang berselera makan lagi kecuali dirinya dan Narendra. Sedangkan Malik memberikan hati angsanya pada Dora.


"Makanlah yang banyak," ucapnya tersenyum menggoda.


"Kamu ingin membuatku gemuk dan diceraikan Yoka. Bagaimanapun aku adik iparmu, tidak baik menyukai adik ipar sendiri, walaupun aku tahu aku idola kampus..." kata-kata narsis dari bibirnya membuat Malik semakin gemas saja.


Benar-benar wanita yang lucu. Pernah ada waktu dirinya masuk diam-diam ke dalam kamar Dora. Namun wanita itu tiba-tiba terbangun, kemudian berkata kalau dirinya sendiri salah kamar.


Segera bangkit dari tempat tidurnya, berjalan meninggalkan kamarnya sendiri. Benar-benar pandai untuk menghindari Malik dengan cara-cara yang tidak masuk akal. Yang lebih membuat gemas lagi, Dora membangunkan Zou malam itu juga, bersikap seolah-olah dirinya yang tidur di kamar yang salah karena Malik memasuki kamarnya. Saat itu juga kamar Dora dipasang kunci dengan kode akses khusus. Tidak ingin Malik menyelinap masuk lagi.


Dan untuk Malik, dirinya diceramahi, lebih tepatnya dibentak menggunakan rotan oleh Zou dari tengah malam hingga pagi menjelang.


Rasa penasaran, gemas, lucu bercampur aduk menjadi satu ingin rasanya dirinya mengigit pundak dan leher Dora. Membuatnya meracau tidak jelas di tempat tidur. Entah kenapa tiruan (Dora) lebih menarik daripada yang asli(Anggeline).


Tapi, apa sebenarnya status Anggeline hingga setelah bercerai dengan Malik masih tinggal di rumah ini? Hutang, itulah statusnya.


Ayah angkat Anggeline memang melunasi hutang Malik untuk menebus sertifikat gedung teater. Namun, setelah setahun berjalan usaha kuliner yang dibuka Malik mengalami keterpurukan, hingga akhirnya ditutup.


Anggeline tetap menagih uang yang digunakan Malik membuka bisnis kulinernya. Hingga pada akhirnya memaksa tetap tinggal di kediaman utama selama Malik tidak melunasi hutang.


Sedangkan Narendra tidak membantu sama sekali. Pria paruh baya yang menghela napas kasar, hanya menantunya satu-satunya temannya bicara saat ini. Matanya melirik ke arah Dora, wajahnya tersenyum.


Sudah hampir waktunya, untuk mengakhiri segalanya. Menangkap pelakunya? Dirinya sudah cukup lelah, menunggu detektif swasta yang disewanya menemukan Siti.


Apa sudah saatnya mengakhiri usianya. Berpura-pura tersenyum selama ini, kematian keluarga Viona, kematian Melda di tangannya sendiri. Dirinya sudah jenuh dengan semua luka, perasaan bersalah, kesepian, hanya itulah yang dirasakannya. Tidak ada yang lain, menjalani kehidupan, bagai matipun tidak bisa, sedangkan hidup lebih menyakitkan.


"Dora, ayah ingin bicara denganmu, setelah makan, temui ayah di ruang kerja..." kata-kata dari Narendra pada menantunya.