Silent

Silent
19 # Sobekan Kenangan



Assalamualaikum temen temen, Alhamdulillah Nana up lagi!!! Gimana nih puasa kalian??? Semoga lancar ya. Jaga kesehatan kalian selama bulan puasa.


.


.


Udah baca Al Qur'an?? Semoga udah baca ya.


.


.


Udah siap baca bab 19??? Ayooo keluarkan emot 🐣!!!


.


.


Happy Reading ♥️


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Kini Zara dan Raluna duduk di kursi taman SMA Bunga Bangsa. Zara menceritakan semua tentang sekolah ini kepada Raluna, "oh iya, aku pernah main sesuatu sama kamu disuatu tempat. Nanti kita kesana ya." Ajak Zara.


"Oh ya? Raluna mau. Tapi Raluna gak ingat jalannya."


"Tenang, aku ingat jalan yang kita lewatin waktu itu."


Edgar berjalan dengan teman temannya, tak sengaja melihat Raluna dan Zara. Senyum terbit di bibirnya, melihat Raluna yang sudah sehat seperti sedia kala.


"Lo udah sembuh?" Tanya Regan, empat cowok mengikutinya dari belakang. Siapa lagi kalau bukan Deanno, Ryan, Bryan sama Brendan.


Raluna menunduk, bingung siapa laki laki didepannya, kenapa tau namanya. Zara melihat kearah Edgar, "Raluna lupa ingatan."


Edgar dan kawan kawan membelalakkan matanya, hilang ingatan? Ohhh kenapa bisa??


"Kenapa bisa-"


"Kakak Edgar, aku sama Raluna mau berbicara berdua. Jadi kalian boleh pergi."


Edgar melihat kearah Zara sewot. Zara membalasnya dengan tatapan kesal. Jika saja Edgar bukan cowok sudah Zara jadikan penyumbat Empang.


Edgar kemudian pergi bersama sahabatnya. Disisi lain Zara kembali berbicara dengan Raluna.


****


"Assalamu'alaikum." Abram mengucap salam, kini ia berada di pesantren tempat ia mengajar. Seperti ucapan David kini, pembangunan ruang kelas dan kamar santri dilakukan.


"Waalaikumsalam. Pak ustadz." Jawab semua muridnya.


"Hari ini kita belajar diluar. Karena kelas ini mau di renovasi."


"Baik pakk."


Kini Abram dan anak muridnya belajar diluar ruangan tepatnya di taman pesantren. Kini waktu tak terasa sudah menunjukkan bahwa pembelajaran sudah selesai. Abram membubarkan anak muridnya. Dan kemudian pamit pergi.


Hari ini adalah jadwal kunjungannya ke kafe, ia melajukan motor Scoopy hitam miliknya membelah jalanan yang ramai. Beberapa saat kemudian ia sampai di kafe miliknya.


"Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam." Jawab semua pelayan termasuk Fendi.


Fendi dan Abram duduk disebuah meja. Mereka duduk berdua, "pak Abram. Saya boleh bertanya?" Abram mengangguk, menyetujui permintaan Fendi.


"Maaf jika pertanyaan saya lancang. Bapak sudah menikah?" Tanya Fendi tiba tiba, Abram tersedak minuman yang ia minum.


"Astaghfirullah, saya minta maaf pak." Fendi dengan secepat kilat memberikan tisu kepada Abram.


"Uhukkk, gak papa. Kenapa kamu menanyakan itu?"


"Tidak papa, saya hanya ingin tau. Maaf pak kalau saya lancang." Ucap Fendi.


"Tidak papa."


"Saya memang belum menikah."


"Kalau bapak mau menikah, undang Fendi ya pak." Pintanya.


"Insyaallah, saya akan undang kamu."


"Kapan pak? Nikahnya?" Lanjut Fendi.


"Fendi, saya akan menikah tapi masih nanti. Tunggu saja. Undangan saya akan segera sampai. Kamu kapan?"


"Nah, itu pak. Saya masih belum ada calonnya. Kalau bapak sudah ada?" Tanya Fendi.


Abram tersenyum, "pilihan sudah ada, tapi biar Allah yang mempertemukan kita dengan caranya." Jawab Abram.


"Jangan lama lama pak, takut saya ketemu sama jodoh saya. Terus bapak saya langkahin."


Abram menggeleng gelengkan kepalanya, "siapa tau kita nikah nanti jaraknya dekat."


"Nah bagus kalau gitu pak, kalau udah nikah bapak rencana buat anak berapa?" Kini suasana sudah mulai mencair, ini karena permintaan Abram. Agar Fendi tidak terlalu takut padanya.


Abram berpikir sejenak sebelum menjawab pertanyaan Fendi, "lima mungkin."


"Wahhh, buat tim voli kurang itu pak."


"Kalau kamu?" Tanya Abram.


"Mau 11 enak buat sepak bola. Tapi tunggu persetujuan ibu negara nanti. Heheheh." Balas Fendi diakhiri kekehan diakhir kalimatnya.


"Kak Sholeh gimana kabarnya pak?"


"Alhamdulillah dia sehat. Sebentar lagi dia mau menikah."


"Wahhh, gercep banget kak Sholeh. Nanti ke nikahan kak Sholeh kita kesana sama sama ya pak."


"Iya."


****


Kini Raluna berada dirumahnya bersama Saidah, duduk dikursi kayu yang sudah usang. Ketukan pintu membuat pembicaraan antara ibu dan anak itu terhenti.


"Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam, sebentar." Saidah hendak berdiri, namun tangannya dipegang oleh Raluna.


"Biar Raluna umi." Saidah tersenyum kemudian membiarkan putrinya membuka kan pintu. Raluna berjalan mendekati pintu kayu itu, membukanya menampilkan ibu Wulan tengah membawa sesuatu.


"Silahkan masuk ibu Wulan."


"Iya nak terimakasih."


"Alhamdulillah ada Bu Wulan silaturahmi. Silahkan duduk Bu." Bu Wulan duduk sambil membawa dua tas yang tadi ia bawa.


"Ini Bu, saya jenguk Raluna. Gimana keadaan Raluna sudah baikan Bu?" Tanya Wulan.


"Alhamdulillah, seharusnya bu Wulan jangan repot repot bawa seperti ini."


"Tidak papa Bu Saidah. Buat Raluna." Balas Wulan.


"Oh iya Bu, ini buat Bu Saidah. Saya mau bicara sesuatu sama Bu Saidah nanti."


"Iya Bu, saya buatkan minuman dulu." Raluna pergi ke dapur dan membuatkan teh untuk Wulan.


"Begini Bu, dua Minggu lagi. Anak saya Sholeh mau menikah. Saya mau mengundang ibu Saidah untuk kerumah saya."


"Alhamdulillah. Saya senang jika bisa membantu diacara pernikahan ibu Wulan."


Wulan tersenyum, "Saya banyak sekali terimakasih kepada Bu Saidah. Sudah senang hati datang ke pernikahan anak saya nanti."


****


Hari demi hari berlalu, kini adalah hari pernikahan anak ibu Wulan. Saidah dan Raluna sudah siap dengan gamis dan kerudung lebar yang mereka gunakan. Warnanya sudah bisa kalian tebak, ya hitam. Raluna sangat suka pakaian warna hitam begitu pun Saidah.


Mereka berdua berjalan menuju rumah Bu Wulan, walau jaraknya agak jauh tapi mereka tempuh dengan santai sambil bercanda ria. Tak sedikit orang yang menyangka mereka berdua akan kekuburan karena memakai pakaian serba hitam.


Sampai dirumah Bu Wulan, Raluna dan Saidah langsung memberikan sesuatu yang sudah mereka bawa. Acara berlangsung dengan lancar, hingga malam tak terasa sudah datang.


Sholeh, adalah nama anak ibu Wulan. Dia menikahi seorang gadis yang bernama Vania yang berasal dari kota. Panggung pengantin dipenuhi dengan bunga dan hiasan lampu yang bernuansa putih.


Raluna tengah duduk, melihat kearah pentas. Tiba tiba Bu Wulan mengejutkannya. "Assalamualaikum Raluna, ayo foto."


"Waalaikumsalam, Bu Wulan. Maaf Bu, baju saya tidak senada dengan pengantin dan tema acara ini Bu."


"Yaallah, gak papa. Kamu pakai apapun sudah cantik luar dalam nak."


"Tapi, raluna-"


"Udah ayo foto aja, afifahh!" Panggil Wulan, tak lama seorang gadis yang lebih tua dari Raluna juga datang. Dia juga berpakaian warna hitam dengan cadar yang ia gunakan.


"Iya, umi?" Jawab gadis bernama Afifah itu. Dia adalah kakak Sholeh, dia sudah menikah dan juga sudah memiliki anak laki laki.


"Ajak Raluna foto sama kamu ya. Umi bujuk dia gak mau."


"Dek, ayo foto sama kakak. Gak papa kok." Ajak Afifah.


"Bukan hanya kamu nak yang berbaju hitam, tuhhh. Sahabat Sholeh juga pakai gamis hitam banyak malah." Wulan menunjuk ke arah gerombolan laki laki berpeci hitam dan gamis hitam tengah duduk di bawah terop.


Raluna menolehkan kepalanya benar ternyata. Akhirnya raluna menganggukkan kepalanya tanda dia setuju.


Afifah menggandeng tangan Raluna untuk naik keatas dekor. Sholeh memanggil Abram dan juga Fendi untuk ikut berfoto. Kini Sholeh dan istrinya berada ditengah, disebelah kanan Sholeh ada Abram, disebelahnya lagi ada Fendi. Dan disebelah kiri Vania ada Raluna, disebelah Raluna ada Afifah.


Abram menolehkan kepalanya setelah selesai berfoto, melihat kearah Raluna. Tepat pada saat Abram hanya melihat sekilas tak sengaja manik matanya bertemu dengan manik mata Raluna.


Sekelibat bayangan muncul dikepalanya, seorang laki laki tapi Raluna tidak bisa dengan jelas melihat wajahnya. Sakit kini kepala Raluna, ia hampir pingsan untungnya Afifah menompa tubuhnya.


"Astaghfirullah, Raluna. Kamu sakit?" Denyutan dikepala Raluna perlahan menghilang, menggeleng pelan menjawab pertanyaan Afifah.


"Astaghfirullah, ada apa Afifah?" Tanya Saidah melihat Afifah datang dengan Raluna yang lemas.


"Tadi sehabis foto, waktu turun saya perhatikan Raluna melihat sesuatu setelah itu Raluna memegang kepalanya." Jelas Afifah.


"Yaallah, terimakasih nak."


"Iya Bu, sama sama. Saya ambilkan minyak kayu putih ya, biar kepala Raluna mendingan."


"Tidak perlu nak."


"Enggak papa Bu, saya ambilkan sebentar." Afifah berjalan masuk dan mengambil minyak kayu putih.


Tak lama kemudian Afifah datang dengan minyak kayu putih ditangannya, "ini Bu, dioleskan ke kepala Raluna Insyaallah bisa mendingan."


"Terimakasih nak." Saidah membuka tutup minyak itu, dan perlahan mengoleskannya ke pelipis Raluna.


Kini acara sudah selesai, namun Saidah lupa kini sudah malam bagaimana seorang perempuan pulang malam malam begini? Suaminya ah iya, kenapa ia lupa dia sudah berpamitan kepada Usman dan Usman mengizinkan nya. Usman akan menjemput mereka saat acara sudah selesai. Kini dia harus menelfon Usman.


"Bu Saidah, saya antar saja ya Bu." Bujuk Wulan.


"Enggak usah Bu, saya mau telfon suami saya saja Bu."


"Yaallah, saya jadi gak enak."


"Enggak papa Bu Wulan."


"Yasudah, ini dibawa ya. Sebagai rasa terimakasih saya." Wulan memberikan dua keranjang penuh makanan dan buah kepada saidah.


"Astaghfirullah, Bu banyak sekali. Saya gak bisa terima Bu Wulan."


"Ihh, Bu Saidah sudah baik banget lohh. Bawa aja Bu."


"Ini buat Raluna, satu lagi buat ibu saidah sama pak Usman."


"Diterima ya Bu, saya sedih sekali kalau Bu Saidah gak terima." Melihat wajah Wulan yang penuh harap Saidah menerimanya akhirnya Saidah menerima pemberian Wulan.


Awalnya Usman juga ingin mengantar keduanya kerumah Bu Wulan, namun Saidah dan Raluna memilih berjalan kaki dengan alasan lebih menyenangkan.


"Nak, telfon Abi mu. Minta sama Abi jemput kita."


"Iya umi." Raluna merogoh saku gamisnya, menemukan benda pipih yang tersimpan disaku itu. Membuka layar dan mencari daftar nama dikontak.


Tut..... Tut.....


"Assalamualaikum, ada apa nak?" Tanya Usman.


"Waalaikumsalam. Abi jemput Raluna sama umi dirumah Bu Wulan."


"Iya, Abi kesana. Tunggu sebentar ya. Abi tutup dulu assalamualaikum."


"Hati hati Abi, waalaikumsalam."


Raluna menutup telfonnya, tak lama kemudian sebuah mobil berwarna putih datang. Keluarlah Usman dari mobil itu, Raluna dan Saidah terkejut pakai mobil siapa Abi nya?


"Assalamualaikum." Usman mengucap salam.


"Waalaikumsalam."


"Eh pak Usman, mari duduk dulu." Ajak suami bu Wulan.


"nggeh." Mereka masih berbincang sebentar, sebelum akhirnya mereka pamit untuk pulang. Diperjalanan Raluna masih dipenuhi pertanyaan diotaknya.


"Abi, ini mobilnya siapa?"


"Punya Abi."


"Abi beneran? Kapan Abi beli? Raluna gak pernah lihat."


"Udah lama, nanti Abi mau kasih tau sesuatu." Sesampainya dirumah, Usman Saidah dan Raluna memasuki rumah sederhana itu.


"Assalamualaikum."


Kini Usman, saidah dan Raluna duduk diruang tamu. "Jadi Abi sudah dapatin kembali perusahaan Abi." Saidah yang mendengar itu kaget.


"Abi? Benar Bi? Penghianat nya sudah ditangkap bi?"


"Iya sayang, semua ini berkat bantuan David. Abi waktu itu mau lamar kerja atas tawaran David waktu itu. Abi kesana ternyata papah Zara adalah David sahabat Abi dulu."


"Alhamdulillah, jadi Zara adalah anak sahabat kamu dulu itu?"


"Iya benar." Jawab Usman, Saidah senang sekali akhirnya ia bisa melihat Raluna seperti anak anak yang lainnya bukannya ia tidak bersyukur ibu mana yang tidak mau melihat anaknya hidup nyaman.


"Abi sama umi bicara apa?" Tanya Raluna yang sedari tadi hanya diam tidak mengerti.


"Nak, dulu Abi kamu adalah seorang pengusaha terkenal tapi ada seseorang yang benci sama Abi kamu akhirnya dia menghianati Abi kamu demi merebut perusahaan Abi kamu, kami bangkrut dan Abi kamu bawa umi sama kamu kesini waktu kamu umur empat tahun. Ini adalah rumah nenek kamu dulu."


"Abi umi gaakan bawa Raluna pergi dari sini kan?" Raluna mengangkat pandangannya.


Usman dan saidah terdiam, hal yang ditakuti Usman kini akan terjadi. "Nak, Abi harus mengurus perusahaan Abi. Abi ingin selalu berada didekat kalian." Raluna mengerti maksud ucapan Usman. Tentu saja Usman akan membawanya pergi dari desa ini, masih banyak memori kenangan yang hilang disini. Apa Raluna akan mendapatkannya kembali? Apa kenangan indah itu akan hilang selamanya dari ingatannya.


"Apa Raluna juga harus meninggalkan kenangan indah yang Raluna lupakan Abi umi?"


"Masih banyak hal yang Raluna lupa. Bahkan sahabat baik Raluna masih belum Raluna ingat sepenuhnya. Bagaimana dengan kenangan indah tentang nenek sama kakek. Apa dulu Raluna sempat bertemu dengan mereka?" Usman dan saidah mengangguk.


Raluna masih belum siap meninggalkan desa ini, tempatnya tumbuh dan melukis banyak sesuatu yang indah disini.


Raluna memeluk kedua orang tuanya. "Raluna sayang sama Abi sama umi. Raluna mau ikut. Tapi Raluna akan mengunjungi desa ini, beberapa kali dalam satu bulan. Apa abi sama umi izinkan?"


Saidah dan Usman tersenyum lega, "iya nak."


"Baiklah kita akan pindah besok. Kemasi barang-barang kalian. Nanti akan dijemput jam 9" ucap Usman, memeluk istri dan anaknya.


"Iya Abi."


Kini Raluna sudah sholat isya', tadi dia tertidur dan belum sholat isya' akhirnya dia sholat terlebih dahulu kemudian sholat tahajjud. Dan mengemasi baju bajunya.


Raluna duduk didepan kaca, melihat kembali isi buku diary nya. Membual kembali halaman demi halaman membacanya kembali berharap ingatannya kembali.


Raluna bertemu lagi dengan isi seorang laki laki yang ia tulis, Raluna masih tidak bisa mengingat siapa yang ia maksud. Raluna tak sengaja melihat ke pojok kiri bawah buku diary halaman itu ada inisial A, Raluna baru menyadari nya.


Raluna sedih, ia masih ingin tinggal disini tapi disisi lain ia juga tidak ingin membuat umi dan abinya kecewa dengan ia menolak untuk ikut. Sekelibat bayangan seseorang muncul diingatkannya. Kepala Raluna kembali sakit.


"Yaallah, kalau dia tidak da kaitannya dengan Raluna jangan ingatkan Raluna kembali tentang dia. Raluna ikhlas dia pergi." Ucap Raluna memegang kepalanya, laki laki itu muncul kembali. Raluna tersenyum getir, bahkan Raluna tidak mengingatnya untuk apa? Dia mengingatnya kembali.


Raluna kembali melihat tulisan itu, dan menyobeknya dari buku diarynya. Dan menaruh sobekan halaman itu diatas meja dekat kaca. Setiap raluna membaca tulisan itu kepalanya menjadi sakit, kilasan balik tergambar di ingatannya. Namun wajahnya tidak jelas.


"Miawww." Raluna menolehkan kepalanya, mencari sumber suara itu. Ternyata kucing putihnya, yang kata umi Raluna temukan dijalan dan dibawa pulang. Tunggu Raluna tadi mengingat sesuatu yang berhubungan dengan kucing ini.


Dia mengingat ada dua kucing, namun kenapa kini tinggal satu kucing saja? Ahhh sudahlah.


"Lula, sini..." Raluna mengambil kucing kecil itu, dan menggendongnya sesekali Raluna mencium kucing putih kecil itu.


Pagi hari, Saidah Raluna dan Usman sudah siap. Mereka hendak pergi karena yang menjemput mereka bukan jam 9 melainkan jam 7 karena nanti Usman akan ada meeting jam 9.


"Raluna sayang, ayo nak." Panggil Saidah dari luar.


"Iya umi, sebentar." Raluna melihat sekeliling kamarnya, pemandangan ini akan membuatnya rindu. Kemudian Raluna keluar, meninggalkan kamar ini. Kertas sobekan dari buku diarynya masih berada di atas meja. Raluna tinggalkan begitu saja.


Mereka memasuki mobil Alphard putih, saat hendak berangkat Saidah terlupa sesuatu. Tasbih nya masih belum ia masukkan tadi saat setelah selesai sholat shubuh.


"Astaghfirullah, Abi tasbih umi masih ada didalam."


"Pak berhenti." Mobil itu berhenti.


"Abi ambilkan ya."


Saidah menggeleng cepat. "Enggak boleh Abi, umi bakal ambil sendiri." Saidah keluar dan berlari kecil memasuki rumah itu kembali. Saidah mengambil tasbihnya yang berada di kamarnya, melewati kamar Anaya yang tidak terkunci ia melihat kertas sobekan.


Saidah yang dipenuhi rasa penasarannya masuk dan langsung memasukkan kertas itu kedalam tas nya.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Assalamualaikum temen temen, Alhamdulillah udah nyampe dipenghujung aja nihh. Gimana bab ini??? Kurang ??? Tunggu Nana up lagi ya.


.


.


Mau konflik?? Tenang bakal Nana kasih. Kalian tim mana nihh


A. Happy Ending


B. Sad Ending


.


.


Kalau Nana lebih gass yang A, Nana gak suka yang sad ending. Tapi tunggu nanti aja deh, liat aja Nana bakal buat happy atau sad. Heheheh nanti kejutannn!!!


.


.


Vote sama komennya, jangan lupa. Sehat selalu buat temen temen. Sampai ketemu di bab berikutnya babayyyyyy!!!!!


.


.


Wassalamu'alaikum warahmatullahi wa barakatuh 🙏


.


.


.


4 April 2022