Silent

Silent
Suami Teraniaya



Pemuda yang mengenyitkan keningnya."Orang ini lagi?" gumamnya menghela napas berkali-kali.


Bug!


Pintu mobil kembali di tutupnya, menormalkan detak jantungnya yang terasa terlalu cepat. Wajah wanita rupawan yang tertidur lelap, bibir yang benar-benar membuat Samy mengigit bagian bawah bibirnya sendiri.


"Ibu!" gumamnya bingung, menggaruk-garuk bagian belakang kepalanya yang tidak gatal.


Tidak, dirinya tidak boleh goyah walaupun darahnya berdesir, walaupun jantungnya berdegup cepat, semua wanita sama saja. Jemari tangannya mengepal, menghela napas berkali-kali, hendak membeli minyak angin aromatherapy.


Berjalan menuju minimarket kecil dekat bandara. Sedangkan Chery perlahan membuka matanya. Menyadari keadaan dirinya yang seorang diri berada di dalam mobil.


Benar-benar menyebalkan dirinya dikalahkan oleh pria yang kelihatannya lembek? Mungkin jika sempat mengambil semprotan cabai, alat kejut listrik atau senjata api semuanya tidak akan terjadi.


Menyusun strategi? Itulah yang dilakukannya. Mengeluarkan alat kejut listrik dari tasnya. Kemudian memegangnya, menyembunyikan salah satu tangannya. Menghadapi adik ipar yang benar-benar membuat dirinya kesal.


Chery menutup matanya, berpura-pura masih dalam keadaan tidak sadarkan diri. Perlahan suara pintu terbuka terdengar.


"Seluruh kota, merupakan tempat bermain yang asik. Oh senangnya, aku senang sekali, kalau begini, aku pun jadi sibuk berusaha mengejar, ngejar dia. Matahari menyinari semua perasaan cinta. Tapi mengapa hanya aku yang dimarahi..." Samy berteriak kencang menyanyikan lagu krayon Shinchan. Berharap dapat menetralkan degupan jantungnya.


Mungkin seperti lagu yang dinyanyikannya. Dirinya benar-benar akan dimarahi. Minyak aromaterapi dioleskannya pada pelipis, area belakang telinga, serta di sekitar tengkuk.


"Bibirnya sedikit basah..." batin Samy menyanyi semakin kencang. Seiiring dengan darahnya yang semakin berdesir. Melelan ludahnya berkali-kali.


"Dia semakin dekat. Tenang Chery, cari kesempatan yang tepat untuk melumpuhkannya," isi fikiran Chery berusaha tenang. Masih berpura-pura tidak sadarkan diri.


Namun tidak satu kesempatan pun ditemukan Chery. Mengapa? Pemuda itu terus bernyanyi berulang-ulang. Sembari mengamati wajah wanita di hadapannya.


Hingga waktu yang dijanjikan hampir tiba. Mulut Samy sudah lelah bernyanyi.


"Bagaimana cara membangunkannya ya?" gumam Samy bingung."Apa dia mati?"


Pemuda yang semakin penasaran saja, menelan ludahnya. Haruskah dirinya memberikan napas buatan? Itulah yang ada di fikirannya. Sejatinya fikiran busuknya.


Apa ini tipenya? Tidak dirinya menyukai wanita yang mempunyai sifat seperti ibunya yang penyayang. Bukan wanita tomboi yang kejam seperti ini. Tapi rambutnya yang pendek dengan poni yang manis, kulit putih bersih, bulu mata lentik. Dan bibir itu, ini benar-benar gila! Bagaimana bisa wanita ini membuatnya bingung.


"Ibu..." gumam Samy lagi tidak tahu harus bagaimana. Memang benar-benar kakak yang menyusahkan, setelah mencemooh dirinya impoten. Sekarang malah membuatnya tidak mengerti dengan perasaan yang mungkin berujung pada pelajaran biologi. Bagaimana cara manusia memperbanyak diri?


Entahlah secara teori Samy memang tahu, tapi secara praktek tidak.


Deg! Deg! Deg!


Jantungnya berdegup semakin cepat, lagu krayon Shinchan telah menghilang. Dirinya harus benar-benar konsentrasi saat melakukan napas buatan. Ingat! Ini bukan pelecehan tapi hanya memberikan napas buatan. Benar-benar berusaha menyelamatkan nyawa orang lain.


Hanya perlahan, sedikit lagi maka perasaan yang beberapa bulan lalu membuatnya kecanduan kembali dirasakannya. Sepasang bibir yang semakin mendekat.


Sementara Chery mengangkat salah satu tangannya. Hendak menggunakan alat kejut listriknya membuat Samy tidak sadarkan diri.


"Dasar mesum!" batin Chery, hendak menyerang tanpa mengetahui wajah pria di hadapannya. Hanya mengetahui hembusan napas yang semakin mendekat saja.


Bug!


Tiba-tiba alat kejut listriknya direbut, dibanting ke kursi penumpang bagian belakang.


Chery membuka matanya."Kamu!" pekiknya. Tidak menyangka bertemu dengan predator ini lagi.


Tanpa basa-basi, pundaknya ditahan, mengunci tubuhnya agar tidak bisa bergerak. Kemudian mencium bibir wanita di hadapannya secara paksa. Pelecehan? Bisakah ini disebut pelecehan?


Entahlah, tapi siapa yang peduli. Ini benar-benar menyenangkan untuknya. Bahkan kala Chery berusaha melawan, menggigit bibir Samy hingga mengeluarkan darah segar.


Pemuda itu tidak diam, melanjutkan aktivitasnya. Asin? Sedikit terasa bagaikan besi? Mungkin itulah rasa dari darah Samy yang bercampur dalam mulutnya.


Dirinya tidak boleh ditaklukkan, mungkin itulah yang ada di fikiran Chery. Hingga berusaha melawan, namun dirinya tidak dapat bergerak sama sekali.


"Nikmati dan balas. Maka aku akan berhenti," ucap Samy di sela ciumannya.


Dan benar saja, masa bodoh! Chery membalas ciumannya. Lidah yang bertemu agresif, kini tidak dapat di tebak yang mana amatir dan profesional dalam hal berciuman.


Samy menepati janjinya, melepaskan tubuh Chery. Kala wanita itu membalasnya menikmati segalanya.


"Ibu, aku tidak melecehkan wanita ini. Dia membalas dan menikmatinya. Jadi ini bukan pelecehan..." batin Samy, sebuah teori yang tidak masuk akal. Bagaimana pun Samy telah melecehkan wanita ini. Bagaimana cara bertanggung jawab? Apakah dengan menikahinya, kemudian karena sudah kepalang basah langsung berkembang biak. Memiliki banyak anak kala sel telur dibuahi?


Hai Tayo! Hai Tayo! Dia bis kecil ramah!


Ciuman yang pada akhirnya terlepas kala suara dering phonecell terdengar. Samy segera mengangkatnya, berjalan menjauhi Chery, mengatakan pada Yoka, Chery sudah sadarkan diri.


Sementara Chery mengenyitkan keningnya. Turun dari mobil, hendak pergi mencari adiknya. Namun perlahan Samy berbalik.


"Mau kemana?" tanyanya pada wanita yang tiga tahun lebih tua darinya.


"Mau pergi!" bentak Chery memegang tengkuk yang terasa sedikit sakit. Akibat Yoka yang membuatnya tidak sadarkan diri.


"Tanggung jawab!" Samy menarik tangannya, menghentikan langkah sang wanita.


"Aku tidak menghamilimu! Lagipula pria tidak bisa hamil! Untuk apa aku bertanggung jawab," ucap Chery melangkah pergi, berjalan ke area depan bandara.


Tempat yang cukup ramai dengan hiruk-pikuk orang-orang yang berlalu lalang.


"Tunggu!" teriak Samy, namun dengan cepat Chery berusaha melangkah.


Tapi sial, benar-benar sial kakinya tidak sepanjang kaki Samy. Sehingga dengan mudah pemuda itu menyusulnya.


"Pergi! Atau aku panggil kamu sebagai penguntit!" ancam Chery. Sebuah ancaman yang sejatinya membuat Samy semakin tertantang.


"Kamu tidak akan berani," gerak Samy masih mengikuti langkahnya.


"Tolong! Ada!" kata-kata Chery terhenti. Mendengar teriakan lebih kencang diselingi dengan tangisan oleh sang pemuda.


"Sayang kamu kenapa?! Tolong jangan tinggalkan aku dan kembali pada mantan pacarmu! Kasihan anak-anak kita! Aku mencintaimu!" teriak Samy tiba-tiba, memeluk tubuh Chery dari belakang. Mengundang perhatian semua orang.


Orang-orang yang mulai mencibir Chery. Samy yang memeluknya dari belakang mulai berbisik."Kita bicara baik-baik, atau aku akan berakting lebih buruk?!"


"Aku tidak takut! Kamu hanya menggertak," ucap Chery.


"Sayang, walaupun kamu dihamili pria lain. Aku akan tetep menganggap itu anak kita. Aku mencintaimu..."