
Keji? Memang itulah sifat dasar yang selama ini ditahannya. Terdiam dalam rasa traumanya, tidak ada yang dapat dihargai dan dicintainya. Karena itulah sifat kejinya tertanam, sebuah pedang yang disimpannya. Digunakan untuk melindungi orang yang baginya pantas untuk dilindungi.
Kejadian kala dirinya kecil, membunuh burung flaminggo yang didapatkan neneknya sebagai hadiah. Hewan cantik, yang membuat ibunya ketakutan, hingga jatuh ke dalam kolam ikan.
Apa dia pantas hidup? Hanya seekor hewan yang angkuh. Itulah yang ada di fikirannya hingga membunuh hewan yang saat ini masuk ke daftar hewan langka itu.
Seorang anak yang memiliki rencana tersendiri untuk membunuh hewan yang cukup besar untuk anak seusianya.
Mencintai? Takut kehilangan? Ketakutan akan kesepian? Membuat rasa obsesi dan protektifnya meningkat. Tidak ingin orang yang kini memiliki tubuhnya terluka atau dihina sedikitpun.
Psikopat? Psikopat tidak dapat mencintai, lebih tepatnya tidak mampu. Tapi Yoka tidak seperti itu, dia dapat mencintai, bahkan terlalu dalam. Didikan, pengalaman, rasa haus akan kasih sayang, menciptakan monster lainnya.
Monster yang lebih dapat mengendalikan dirinya. Berbuat apapun untuk mendapatkan tujuannya. Dunianya hanya berfokus pada orang yang dicintainya saja. Mengerikan? Pria mana yang bertahan selama dua tahun untuk mencintai satu orang saja. Tidak terfikir untuk mencintai wanita lainnya, bahkan untuk melihat pun enggan.
Rasa obsesi, protektif yang bercampur, menciptakan monster yang sulit untuk dikendalikan orang lain.
Perlahan Yoka keluar dari ruangan VVIP club'malam.
"Apa yang kamu lakukan?" Satu pertanyaan dari Dora dengan mata menyelidik.
"Bukan apa-apa, mereka iri padamu. Jadi aku hanya membantu mereka mengikuti jalan yang mereka katakan," jawaban ambigu dari Yoka tidak mengetahui istrinya mengikutinya hingga ke club'malam.
Apa Dora akan ketakutan dan membencinya setelah mengetahui segalanya? Entahlah, seringai jahat tersembunyi di balik wajah itu. Dirinya akan mengurung Dora jika dia ketakutan ingin melarikan diri karena ini.
"Aku akan menjadi iblis untuk melindungimu dan anakku..." batin Yoka, mengecup singkat pipi istrinya.
Sedangkan Dora terdiam, tidak mengerti dengan perubahan sifat suaminya yang cepat. Tapi aura membunuh yang mengerikan, benar-benar mengerikan, sekarang tidak terasa lagi.
Mungkin setelah Yoka kembali pergi nanti, dirinya akan menyelidiki apa yang dilakukan suaminya pada dua mahasiswi yang bahkan tidak dikenalnya.
"Ayo kita berkencan! Lusa aku sudah akan pergi. Kita nikmati hari bersama," ucap suaminya. Menarik tangan Dora menemukan tempat kencan pertama, tengah malam.
*
Tentu saja tempat tidur. Mereka telah usai membersikan diri. Yoka meraih sebuah buku, merebahkan tubuhnya di samping istrinya. Di dalam kamar hotel, yang cukup luas. Pemuda yang mulai meraih paper bagnya.
"Suatu Malam Penuh Badai," ucap Yoka membaca judul buku cerita anak-anak.
Dora menoleh padanya."Kamu sudah pernah membacanya kan? Sebelum membacakan untukku, katakan ceritanya tentang apa?"
"Tentang seekor kambing dan serigala yang terjebak badai. Mereka berteduh di kandang hewan yang luas dan gelap sehingga tidak mengetahui hewan apa saja yang ada di dekat mereka. Jadi Serigala berteman dengan sang kambing di tengah kegelapan,"
"Tapi semuanya berubah keesokan harinya, mereka tetap ingin bersahabat walaupun berakhir diusir dan dikucilkan dari kelompoknya. Sedangkan kelompok serigala yang marah ingin membunuh sang kambing,"
"Kambing yang berteman dengan seekor serigala itu, melarikan diri bersama sahabatnya. Hingga mereka menempuh perjalanan jauh..." kata-kata Yoka yang menjelaskan singkat buku yang akan dibacanya disela.
"Aku hanya ingin tahu akhir ceritanya. Bagaimana kalau sad ending..." Dora mengenyitkan keningnya.
"Kambing terus berjalan menemukan tempat yang tenang dimana semua hewan bebas untuk berteman tanpa permusuhan. Tapi sayangnya, satu-satunya sahabatnya sudah mati," jelas Yoka tersenyum ke arah istrinya.
"Kalau begitu jangan bacakan!" bentak Dora.
"Kenapa?" Yoka tersenyum, mengelus rambut istrinya yang meletakkan kepalanya di atas pahanya.
"Terlalu menyedihkan, lagipula serigala itu benar-benar baik, kenapa harus mati. Dia..." Kata-kata Dora disela.
"Dia hanya baik pada orang yang dicintainya saja. Berakhir mati mengenaskan untuk melindungi kambing yang dicintainya. Tidak peduli harus melukai berapa banyak serigala," Yoka tersenyum menghela napas kasar.
"Begitulah cara aku mencintaimu," batin Yoka, mengecup kening istrinya.
"Tetap saja ending ceritanya serigala mati! Jangan menceritakan cerita yang menyedihkan. Lebih baik ceritakan tentang Rapunzel," pinta Dora.
Yoka meletakkan buku dengan judul sampul Suatu Malam Penuh Badai. Mulai menceritakan cerita Rapunzel versinya sendiri.
"Suatu hari Rapunzel terkurung di atas menara Eiffel yang tinggi menjulang. Penyihir pria yang benar-benar tampan mengurungnya. Menunggu seorang pangeran yang menumpang lewat untuk membebaskannya. Hingga Rapunzel menurunkan rambutnya untuk sang pangeran yang kebetulan lewat."
"Sang penyihir pria yang benar-benar tampan, menggunakan sihirnya, mengubah sang pangeran menjadi katak, kemudian menginjak-injaknya, agar tidak membebaskan Rapunzel. Akhir ceritanya, Rapunzel yang tidak dapat keluar dari menara dihamili sang penyihir pria yang tampan. Memiliki banyak anak yang dibesarkan dalam menara tinggi. Membesarkan anak mereka dengan baik, tamat," Itulah versi cerita Rapunzel yang diciptakan Yoka.
Penyihir pria yang tampan? Siapa identitas sang penyihir hingga dapat mengurung Rapunzel? Memiliki banyak anak dengan Rapunzel yang terkurung selama-lamanya dengan sang penyihir.
Dora menatap jenuh, memijit pelipisnya sendiri."Aku ingin yang versi buku cerita atau versi Disney,"
"Kamu tahu? Aku tidak suka versi aslinya. Rapunzel terus menerus menginginkan kebebasan. Apa sang penyihir tidak mencintainya? Dia diberikan makanan, pakaian dan tempat tinggal yang indah. Itu sudah cukup membuktikan penyihir sebenarnya menyayanginya. Tapi pada bagian akhir, penyihir berakhir mati, Rapunzel memilih bersama pria yang baru ditemuinya."
"Pria yang dianggapnya mencintai dan menyayanginya lebih dari sang penyihir. Lihatlah dari sudut pandang yang berbeda, Rapunzel mengkhianati orang yang mencintainya. Membuatnya lenyap bagaikan debu. Bahagia untuk selamanya? Apa menurutmu Rapunzel akan bahagia setelah kematian penyihir yang menemani dan menghiburnya?" tanya Yoka pada Dora.
Dora menatap lekat ke arah suaminya."Dia tidak akan bahagia..." jawabnya memeluk tubuh Yoka. Seakan-akan tidak ingin kehilangannya, membayangkan kehilangan satu-satunya orang yang benar-benar ada untuknya.
Yoka melonggarkan pelukan Dora, dua pasang mata yang saling bertemu."Apa kamu akan melarikan diri dari menara?" tanyanya.
Dora menggeleng, entah sejak kapan kaki, tangan, bahkan lehernya bagaikan diikat oleh pemuda ini. Hanya dapat mencintainya saja.
"Dengar aku adalah seekor serigala, seorang penyihir pria, apa kamu masih tidak akan melarikan diri?" tanyanya, dengan mata yang mulai sayu.
Dora mengangguk, perlahan memejamkan matanya. Membiarkan Yoka menikmati bibirnya, lidah yang terasa mulai masuk ke rongga mulutnya. Menariknya untuk memperdalam sentuhan.
Setiap gerakan benar-benar terasa nyaman. Dua lidah yang saling menyapa bahkan diluar mulut. Ini sulit untuk dijelaskan, perasaan gelisah dan nyaman bersamaan.
"Aku mencintaimu," satu kalimat yang diucapkan Yoka.
Mata Dora menatap wajah rupawan suaminya, mata yang benar-benar bagaikan menenggelamkannya. Kembali lidah pemuda itu menghujam rongga mulutnya, menggoda Dora untuk saling melilit. Sesuatu yang sulit untuk dijelaskannya.