Silent

Silent
Memergoki



Berita yang menyebar begitu cepat bagaikan kobaran api. Salsa mengetahui segalanya, wanita yang hanya diam. Meyakini jika yang ada dalam perut Dora bukanlah anak Yoka. Sedangkan Narendra menghela napas kasar.


Menantunya kini tengah mengandung cucu pertamanya. Ada banyak bahaya di tempat ini. Seperti peringatan Dora, dirinya memang sudah mencurigai Salsa semenjak menemukan kenyataan bahwa putra bungsunya masih hidup.


Tapi tidak ada bukti nyata. Menceraikan Salsa? Maka dengan mudah wanita itu melarikan diri. Hanya satu yang dapat dilakukannya, menunggu semua bukti terkumpul. Saat itulah dirinya akan membawa Salsa mati bersamanya.


Mati dalam penyesalan? Hidup pun sebuah penyesalan baginya. Tidak ada yang berarti dalam hidup ini, menjalaninya hanya untuk menunggu kematian. Mengetahui Melda tidak akan memaafkannya.


Menemuinya di kehidupan selanjutnya? Dirinya menginginkan itu, tidak akan ada hutang dan dendam diantara mereka. Kala itu juga dirinya akan mengejar Melda walaupun harus ditolak, walaupun Melda menyakitinya, jika saat itu tiba bahkan jika Melda berakhir membunuhnya dirinya juga tidak akan apa-apa. Tetap mencintainya, tapi apa bisa?


"Ayah, ini untuk ayah," Anggeline mengambilkan makanan untuk Narendra.


"Dora bagaimana jika setelah ini, kamu mengambil cuti kuliah," ucap Narendra tersenyum lembut. Membuat semua orang mengalihkan pandangannya pada pria itu.


Termasuk Salsa yang kini tersedak makanan. Terbatuk-batuk beberapa kali. Yang ada di fikirannya saat ini hanya, ketakutan. Mungkin saja yang ada di kandungan Dora saat ini adalah anak Narendra.


Bagaimana jika demikian?


"Ayah, kenapa ayah perhatian pada Dora?" Anggeline mengenyitkan keningnya ikut menatap curiga. Mencurigai sang wanita pengganti menggoda mertuanya sendiri.


"Aku bisa mengusir kalian dari rumah ini jika kalian banyak bicara," tegasnya membuat semua orang terdiam melanjutkan aktivitas makan mereka.


Zou dan Arsen masih memasang ekspresi wajah datar, sedikit melirik kedekatan Dora dan Narendra. Namun mereka bagaikan mengawasi Narendra hampir 24 jam, tidak akan ada kesempatan berhubungan dengan menantunya.


Tapi tetap saja, dua orang dengan ekspresi wajah datar itu sejatinya ingin tertawa saat ini.


Pinguin kecil memiliki hubungan khusus dengan singa? Entah ini lelucon atau bukan. Tapi memang benar-benar aneh. Tidak mengerti dengan arah fikiran Angeline dan Salsa.


Tapi semua harus ditekannya. Jika Salsa menganggap itu adalah anak Narendra, anak kandung Yoka dapat berada dalam bahaya.


"Dia sering diam-diam ke club'malam. Jadi wajar saja tidak tahu ayah dari anaknya," gumam Zou, membuat Dora yang tengah menyantap spaghetti menoleh padanya. Mulutnya penuh dengan pasta, dan pinggir mulutnya berlumuran saus. Benar-benar sangat manis.


"Ini..." Malik memberikan tissue padanya. Mengigit bagian bawah bibirnya sendiri gemas.


Dora menelan pastanya, meraih tissue yang diberikan Malik. Kemudian mengelap saus di mulutnya. Dengan ajaibnya, benar-benar tidak tahu malu Dora mengembalikan tissue yang telah kotor pada Malik.


"Aku ingin bibirnya, bukan tissue kotornya. Dasar..." batin Malik melemparkan tissue ke tempat sampah.


Benar-benar berusaha tenang, Zou dan Arsen memang mengatakan akan membully-nya. Mengikuti arahan mereka menjadi satu-satunya cara yang harus dilakukannya.


"Ayah dari anakku setidaknya masih muda. Tidak orang-orang tua kaku seperti kalian..." cibirnya tersenyum.


Orang tua kaku? Arsen dan Zou saling melirik. Mereka dikatakan sebagai orang tua kaku? Nyonya muda mereka sudah cukup keterlaluan saat ini.


"Ibunya benar-benar menyebalkan. Aku berharap anaknya tidak sama menyebalkannya..." sindir Arsen pada Dora.


"Ayahnya lumayan menyebalkan. Tentu saja anakku sangat menyebalkan," entah kenapa cibiran Dora berpindah ke suaminya.


Arsen dan Zou tidak menjawab lagi. Mengapa? Jika salah sedikit saja bicara, nama Yoka mungkin saja tidak sengaja mereka sebut.


"Tentu saja boleh, kamu boleh bersama dengannya setelah Yoka pulang. Sakiti Yoka, lebih menyakitkan lagi..." pinta Narendra bagaikan mengatakan rasa tidak sukanya pada putranya.


"Sakiti Yoka, karena harus berbagi ASI dengan anaknya nanti. Dasar anak tengil! Untung saja istrimu pandai membaca situasi jika tidak, dia akan menjadi wanita teraniaya di rumah ini," batin Narendra, benar-benar kesal pada putranya yang mengacuhkan pinguin kecil, tengah mengerami telur. Entah kapan putranya akan pulang. Apa harus menunggu anaknya memanggil dokter Tantra papa? Bagiamana jika setelah melahirkan Dora mengajukan perceraian? Entahlah.


*


Sementara itu di tempat lain.


Seperti biasanya, Jovan memakan makanannya seorang diri. Sama seperti sebelumnya, Meira tidak pulang. Sudah dua tahun dirinya mencoba bertahan.


Jabatannya saat ini juga sudah mulai naik. Belum begitu tinggi, tapi dirinya sudah dapat membeli rumah dan mobil. Tangannya mengepal, sudah tidak tahan lagi rasanya.


Meira mengatakan tidak ingin hamil atas dasar kariernya. Tapi apa benar?


Tang!


Prang!


Suara garpu yang dibantingnya, menghancurkan rak kaca berisikan pajangan. Air matanya mengalir, sudah cukup dirinya tersiksa dua tahun ini. Tidak pernah ada cinta atau kehangatan keluarga yang didapatkannya.


Keluarga? Mengapa dirinya baru menyadari setelah pernikahannya dengan Meira? Selama bertahun-tahun hanya Dora yang ada di hidupnya, menemani dan tersenyum bersamanya dalam susah maupun senang, itulah makna keluarga.


Pada akhirnya keputusan ini diambilnya, telah mengetahui perselingkuhan istrinya dengan sang pemilik pabrik semen. Jovan meraih kunci mobilnya, berjalan menuju garasi.


Gerbang dibukakan ART yang memang dipekerjakannya. Mobil yang melaju dengan kecepatan sedang menuju sebuah kompleks apartemen elite.


Banyak hal yang ada di fikirannya. Pemilik pabrik semen yang berusia lima tahun lebih tua darinya. Sudah memiliki tiga orang anak, mungkin itulah sebabnya tidak menikahi Meira hingga saat ini.


Dirinya berpura-pura hubungannya dan Meira baik-baik saja. Mengikuti semua keinginan gila istrinya. Benar-benar gaya hidup hedon, jika tidak dapat memenuhinya, Meira akan membandingkannya dengan pemilik pabrik semen tempat Meira bekerja. Seorang pria muda yang telah memiliki istri.


Cincin pernikahan masih tersemat di jari manisnya. Tangannya mengepal, istri sang pemilik pabrik semen mulai dihubunginya.


"Bu Yuli? Ini saya Jovan. Ada hal penting yang ingin saya bicarakan tentang istri saya, dan suami anda..." ucap Jovan pada seseorang di seberang sana.


"Suami saya? Memang suami saya kenapa?" tanya Yuli yang kini tengah menidurkan anak-anaknya.


"Datang saja! Ke hotel Triton, saya akan menunggu anda di depan lobby hotel." jawab Jovan penuh senyuman, mematikan panggilannya.


*


Beberapa puluh menit kemudian, mobil wanita itu terparkir. Matanya menelisik, pada akhirnya menemukan sosok Jovan, yang tengah berbicara pada resepsionis.


"Ada apa!? Kamu tidak akan macam-macam kan," bentaknya ketakutan.


Jovan menggeleng."Malam ini kita akan tau seberapa liar suamimu dan istriku di ranjang," jawabnya.