Silent

Silent
Tidak Boleh Kalah



Hari ini dirinya mengenakan tuxedo putih, dengan model rambut yang terlihat lebih dewasa. Pernikahan yang tergesa-gesa? Mungkin itulah yang terjadi.


Sedangkan Dora berada di ruangan yang berbeda, tubuhnya kini berbalut gaun putih. Namun, air matanya mengalir, air mata yang segera diseka olehnya. Ini adalah hari pernikahannya, bukan dengan penjaga gerbang depan villa yang menyukai kue cubit rasa petai. Tapi dengan tuan muda pemilik villa, tempatnya biasa berjualan bertahun-tahun.


Ini benar-benar tidak dapat diduga olehnya. Hampir setiap hari selama 7 tahun ini dirinya membawa dagangannya. Dengan para pelayan dan pengawal menjadi langganannya, walaupun hanya sampai area depan villa. Yang benar-benar luas di bagian dalamnya.


Mungkin dirinya dulu sedikit penasaran siapa sang pemilik villa. Tapi setelah 7 tahun kemudian, dirinya menemukan kenyataan, pemilik villa adalah orang yang akan dipanggilnya, Yang Mulia Suami Tersayang.


Benar-benar aneh, apa dirinya bermimpi? Ini bagaikan cerita Cinderella yang berakhir tragis. Masa depan yang menantinya hanya tinggal dua, dikurung di villa selama-lamanya atau diceraikan setelah Anggeline berubah fikiran untuk kembali pada Yoka.


"Ibumu datang, jangan menangis," kata-kata dari Yoka menyandar di pintu yang terbuka lebar.


Dora tertegun sejenak, selalu memakai pakaian santai. Baru kali ini dirinya menatap Yoka dengan penampilan yang berbeda. Wajah rupawan terlihat mengeluarkan aura tegas, mendominasi yang berbeda, stelan tuxedo putih yang dipakainya memberikan kesan berhati baik dengan senyuman yang benar-benar meluluhkan hati.


Benar-benar terdiam, Yoka berjalan mendekatinya, meraih selembar tissue, kemudian menghapus liur Dora yang hampir menetes.


"Jika kita punya anak nanti, kamu hanya boleh menatapku. Agar dia tampan sepertiku, mengerti?" bisiknya mendekati wajah Dora.


Jantung wanita itu berdegup lebih cepat, mengapa dapat seperti ini? Dirinya benar-benar dikendalikan layaknya layangan. Ditarik kemudian diulur, apakah setelah bosan Yoka akan meninggalkannya?


Senyuman terlihat di wajah rupawan sang pemuda, berbisik di telinga pengantinnya.


"Kamu cantik, aku ingin menggigitmu..." ucapnya lagi, pemuda yang tidak tahu malu. Benar-benar tidak tahu malu.


"Yo...Yoka aku..." kata-kata Dora terhenti.


"Di malam pernikahan kita aku mempunyai hal yang harus aku katakan padamu. Jadi bersiaplah..." kata-kata yang terucap dari bibirnya lagi, melangkah pergi meninggalkan Dora yang tertegun.


Wanita yang perlahan melepaskan sepatu hak tingginya, mengendap-endap akan melarikan diri melalui jendela ruangan ganti yang dibukanya.


"Aku akan melarikan diri, menjual gaun bertahtakan kristal, anting dan kalung berlian di leherku. Kemudian pergi ke luar kota, kuliah menjadi dokter spesialis di sana," ucapnya penuh tekad, hendak keluar.


Namun, tiba-tiba tubuhnya dipeluk dari belakang, kemudian ditarik.


"Anak nakal! Kamu ingin melepaskan kesempatan menjadi nyonya muda?!" bentak Vera yang memang telah dihubungi Samy untuk hadir, menarik telinga putrinya dengan kencang.


"Sakit! Aku tidak mau menikah! Dia menikahiku karena wajahku mirip dengan mantan pacarnya!" Kesal Dora, mengusap-usap telinganya yang terasa sakit.


"Cinta bisa tumbuh seiring waktu, mungkin saja lama kelamaan dia bisa melupakan mantan pacarnya untukmu. Kamu itu cantik dan baik hati, apalagi pintar mencari uang, begitu hemat untuk mengatur pengeluaran. Memang wanita seperti apa yang lebih sempurna darimu..." komat-kamit mulut Vera berusaha mengembalikan kepercayaan diri putrinya.


Dora meraih phonecell dengan lambang buah naga digigit, pemberian Arsen. Kemudian menunjukkan artikel tentang Anggeline yang dicarinya di Mbah Google, dengan sesajen kuota paket bulanan.


"Dia mantannya?" tanya Vera menatap foto Anggeline, dijawab dengan anggukan kepala oleh Dora.


"Dia hebat kan?" ucap Dora pada ibunya.


Vera menyipitkan matanya, meraih phonecell Dora. Apa yang dilakukan ibunya? Apakah membaca artikel?


"Se...se...o...rang seseorang..." ucapnya berusaha mengeja.


Dora memijit pelipisnya sendiri melupakan ibunya yang kurang lancar baca tulis. Hanya kurang lancar, bukan berarti tidak bisa membaca dan menulis. Menggunakan handphone? Tentu saja bisa, tapi untuk mengetik dan membaca status Facebook mungkin diperlukan waktu sekitar satu jam.


"Akan aku bacakan, seorang pianis cantik bernama Anggeline, menggelar drama musikal di teater pribadi miliknya sendiri. Menantu dari seorang konglomerat itu..." kata-kata Dora yang tengah membaca artikel dihentikan Vera.


"Yoka sudah bisa bicara," ucap Dora bertambah depresi.


"Dia sudah bisa bicara? Itu bagus, berarti kamu mempunyai suami yang tidak memiliki kelemahan sama sekali," ucap Vera merogoh tasnya, produk perawatan organ terpenting bagi wanita dikeluarkannya, bahkan memiliki aroma bunga tertentu. Beserta lusinan jamu untuk putri tersayangnya, disertai dengan tiga kaset DVD tanpa label.


"Ini untukmu, selama suamimu puas. Pelakor manapun tidak akan menandingimu. Setelah membersihkan diri dan minum jamu. Kalian bisa menonton video bersama," lanjut Vera penuh keyakinan, mengajarkan berbagai kiat l*knat pada putrinya.


"Ini DVD tentang apa?" tanya Dora curiga.


"Ini? Ini hanya berisikan beberapa foto kenanganmu dan almarhum ayahmu. Ada juga rekaman tentang kakakmu, kalian bisa menonton bersama untuk saling mengakrabkan," dusta Vera, penuh senyuman.


Kaset DVD yang diberikan Vera merupakan kaset pelajaran biologi tentang bagaimana cara manusia memperbanyak diri. Berbagai teknik terdapat di sana, bagi yang profesional maupun amatiran. Benar-benar seorang ibu yang menyayangi putrinya.


*


Dora hanya dapat menghirup napas, tidak banyak orang yang hadir, jantungnya berdegup cepat berjalan menatap Yoka yang tersenyum berdiri di altar.


Mencintai hingga maut memisahkan? Entah itu benar atau tidak. Namun sebuah janji yang terucap oleh sepasang insan.


Buket bunga dilemparkan, tepat di tangkap oleh Narendra yang baru saja datang. Matanya menatap kebahagiaan di wajah putranya. Jemari tangannya mengepal, Melda, dirinya, maupun Yoka tidak pantas untuk bahagia.


Tidak ada satupun, janji dan hutangnya dibayar dengan begitu keji oleh Melda. Hanya karena rasa cemburu dan iri.


Apa ini pantas? Narendra yang sempat hadir kembali berjalan berbalik. Sudut terkosong di hatinya merindukan Melda. Apa Melda juga merindukannya? Apa Melda membencinya?


Namun, itulah hutang yang menyakitkan. Matanya menatap ke arah langit, langit yang perlahan menurunkan tetesan air hujan.


Jemari tangan Narendra menengadah, tubuhnya terdiam membiarkan pakaiannya basah. Begitu juga buket bunga yang digenggamnya.


Wajah rupawan wanita itu terbayang.


"Sayang! Habiskan sayurannya! Kamu seperti anak kecil!" gurauan istrinya kala itu, memasukan brokoli ke dalam mulutnya. Wanita yang tertawa, mencium pipinya, menyimpan begitu banyak kedengkian di hatinya.


"Wanita keji," cibir Narendra dengan air mata yang mengalir.


"Tapi aku mencintaimu..." lanjutnya, menatap air hujan yang mengalir tiada henti. Mencintai istri dan anaknya, seorang pria yang terdiam.


...Aku ingin menghentikan waktu, kala senyuman itu terlihat di bibirmu....


...Aku ingin menghentikan waktu, kala dapat menggenggam jemari tanganmu, hingga pagi menjelang....


...Aku ingin menghentikan waktu, kala pagi menyingsing. Agar saat siang tiba, aku tidak perlu tau....


...Hanya menikmati hari-hari kita bersama, bermain bersama putra kita. Aku tidak perlu tau....


...Aku tidak perlu tau....


...Tidak perlu....


Narendra.