Silent

Silent
Persiapan



...Cantikmu? Jika ditanyakan seperti itu aku akan menjawabnya bagai bunga yang layu....


...Bunga yang layu kala tetesan air hujan menerpa kulitnya....


...Bunga yang layu kala sinar matahari terik mengeringkan kelopaknya....


...Karena cantikmu, terlihat saat kamu layu. Kala aku belum merawat kulitmu....


...Kala kamu mulai mencintaiku, yang tidak sempurna dengan tulus. Itulah cantikmu......


Yoka.


*


Saat ini, kediaman utama yang ditempati Narendra.


Para pelayan berlarian mempersiapkan segalanya. Hari ini untuk pertama kalinya setelah belasan tahun tuan muda rumah ini akan kembali.


Kepala pelayan mengatur segalanya, seorang kepala pelayan profesional yang kompeten. Memiliki kontrak kerja permanen, dirinya tidak dapat dipecat, hanya dapat pergi jika sudah memutuskan untuk pensiun. Digaji menggunakan bunga uang deposit yang cukup tinggi, atas nama almarhum Reksa.


Mengapa begitu dipercayai? Dirinya ketika remaja pernah mencuri, almarhum Reksa yang membawanya dari jalanan. Menjadikannya pelayan pribadi yang kompeten, walaupun hanya menempuh pendidikan hingga tingkat SMU.


Sama seperti Martin, dan Salsa dirinya hanya yatim-piatu yang tidak mampu. Namun satu perbedaan mendasar diantara mereka bertiga, jalan hidup yang dipilih.


Martin, dulunya masih memiliki seorang ibu yang kini sudah tiada. Lebih memilih hanya dibiayai pendidikan dan hidupnya, tidak menginginkan status anak angkat.


Sedangkan Salsa, diangkat dengan status anak untuk menemani Melda yang hanya anak tunggal. Sekolah, pendidikan, segalanya disamakan dengan Melda. Mungkin perbedaan mendasar hanya pendidikan sang kakek dan beberapa barang serta warisan khusus untuk Melda. Mengingat dialah putri kandung Reksa. Mengapa mengadopsi Salsa? Tentu saja hanya untuk menemani putrinya. Tidak ada tujuan lain.


Terakhir Zou, seorang pria berwajah oriental. Matanya sedikit sipit, berbadan tegap, berkulit putih. Dirinya juga tidak menginginkan status anak angkat. Hanya lulusan SMU, dengan tujuan mengabdikan hidupnya pada Reksa, serta keturunannya.


Masih teringat jelas dibenaknya, kala dirinya yang kelaparan mencuri sebungkus nasi di pinggir jalan. Dihakimi massa, bahkan hendak dibawa ke kantor polisi, karena dianggap sering mencuri. Padahal itu untuk pertama kalinya dirinya mencuri. Kala itulah Reksa datang, tersenyum padanya. Membayar tebusan agar dirinya tidak masuk ke panti sosial, mengingat dirinya yang masih di bawah umur.


Karena itulah Zou, berjanji seumur hidupnya akan mengikuti dan melindungi Reksa. Satu-satunya orang yang baik padanya. Zou sendiri sekarang sudah menikah, memiliki seorang anak perempuan cantik, yang tengah mengikuti pendidikan militer.


Segalanya diawasi olehnya, bahkan hal yang detail. Para pelayan kini berbaris di hadapannya.


Plak!


Satu tamparan mendarat di pipi salah seorang pelayan wanita. Wanita yang tengah meringis kala rambutnya dijambak.


"Kamu tau gaji pelayan di rumah ini sekitar tiga kali lipat gaji asisten rumah tangga biasa? Berapa kamu dibayar hingga berusaha meracuni tuan muda?!" bentaknya meraih sendok dan garpu yang ditata diatas meja makan, melemparkannya ke lantai.


"Sa...saya tidak..." Kata-kata terbata-bata dari sang pelayan wanita disela.


"Hubungi kepolisian, laporkan atas percobaan pembunuhan berencana!" tegas Zou.


"Tuan Zou, tolong saya..." pinta sang pelayan memohon belas kasih.


Tangan Salsa gemetaran melihat mata itu. Zou tidak memiliki uang atau kekuasaan tapi seperti seekor ular yang mengintainya. Mencari celah untuk memakannya yang telah menghabisi Reksa dan mempengaruhi Narendra untuk merencanakan pembunuhan Melda.


Apakah Zou mengetahuinya? Sejatinya hanya sebuah kecurigaan yang terarah pada Salsa. Juga kematian Melda yang tiba-tiba saat Zou ke luar kota menjalankan salah satu bisnis warisan Reksa atas perintah Narendra. Sudah pasti kematian Melda adalah perbuatan Narendra sendiri.


Tapi keluarga yang begitu harmonis selama 11 tahun lebih dapat hancur? Satu nama yang menurutnya dapat melakukannya Salsa.


Tidak peduli, itulah sifat Zou, melindungi satu-satunya keturunan Reksa yang masih hidup saat ini, tuan mudanya, Yoka.


"Sialan..." gumam Salsa dengan suara kecil. Melumuri sendok dan garpu dengan racun? Itulah rencananya. Semuanya gagal, sebelum terlaksana. Wanita yang memutuskan berjalan menuju kamarnya yang terpisah dengan kamar Narendra. Mempersiapkan diri menyambut kedatangan Yoka, sebagai ibu tiri yang baik.


*


Sementara itu Anggeline yang baru datang dari teaternya menghela napas kasar. Menunggu tanpa kejelasan dari Malik, serifikat gedung teater sudah diserahkan olehnya. Untuk digadaikan, dirinya harus benar-benar bicara dengan Salsa dan Narendra agar tidak membatasi keuangan Malik. Mengingat Malik yang ingin membuka usaha sampingan.


Kebohongan? Skenario apa saja yang diceritakan Malik? Diawali dengan kebohongan dirinya adalah anak Narendra dan Salsa. Sama seperti Yoka yang juga anak kandung Salsa dan Narendra.


Garis keturunan palsu yang lancar diucapkan olehnya. Narendra dan Salsa, memiliki dua orang anak kandung dirinya dan Yoka. Tapi sayangnya Yoka bisu sejak kecil. Hingga diasingkan hidup seorang diri di villa. Dirinya sebagai kakak satu ayah dan satu ibu dari Yoka akan mewarisi rumah dan perusahaan mengingat Yoka yang bisu tidak akan dapat mengelola perusahaan.


Pintar kan? Membohongi seorang wanita materialistis. Mungkin makan malam kali ini akan menjadi puncak acara, betapa bahagianya menjadi seorang pengganti.


Mata Anggeline menelisik, menatap Zou, sang kepala pelayan bagaikan akan menyambut tamu penting.


Wanita yang berjalan ke arah sang kepala pelayan kediaman utama.


"Siapa yang akan datang, kenapa seperti akan menyambut tamu?" tanya Anggeline.


"Tuan muda pemilik kediaman utama akan pulang. Jika anda tidak ingin membantu menyambutnya, lebih baik kembali ke kamar anda," ucap Zou dengan nada dingin.


"Kamu hanya kepala pelayan! Anda?! Aku bukan tamu! Sudah aku bilang panggil aku nyonya besar! Atau setidaknya nyonya muda!" bentak Anggeline pada pria di hadapannya.


"Sebaiknya anda sadar dengan status anda yang hanya menumpang hidup pada tuan Narendra. Entah setan apa yang merasukinya hingga membawa tiga benalu yang menumpang tidur dan makan di rumah ini. Satu lagi, majikanku bukan kalian, majikanku hanya tuan muda, cucu satu-satunya dari almarhum tuan Reksa..." tegas Zou, yang hanya menjaga kediaman utama, tidak ingin tempat itu berubah sedikitpun. Menunggu majikan mudanya kembali.


"Reksa siapa?! Ayah dari ibu mertuaku kan?! Jangan lupa masih ada Malik suamiku! Aku yang pantas dihormati di rumah ini!" Anggeline melangkah kesal berjalan menuju kamarnya. Membanting pintu dengan kasar.


Jemari tangannya mengepal, malam ini adalah kesempatannya membela Malik, suaminya. Seorang kakak yang diperlakukan berbeda dengan adiknya, apa hak Yoka memiliki begitu banyak fasilitas dan aset? Sedangkan Malik harus bekerja keras di perusahaan. Seharusnya Malik yang mendapatkan lebih banyak daripada Yoka. Mengingat Yoka yang dulunya bisu hanya dapat menghabiskan uang.


Pada acara makan malam ini, dirinya akan mencerca Yoka, kemudian mengatakan pendapatnya pada Narendra agar tidak membatasi keuangan Malik lagi.


Wanita bodoh yang masih mengira Malik adalah anak kandung Narendra. Dirinya mungkin akan mengetahui kenyataannya saat ini.


Bagaimana indahnya kebohongan suaminya termalang. Termalang? Tentu saja.


Anak kandung Narendra? Bukan, ayah kandung Malik pun saat ini tidak diketahui siapa, mungkin Salsa pun ragu, tidak mengetahuinya. Anak hasil hubungan bebas ketika pesta berganti-ganti pasangan yang dijalaninya kala kuliah di luar negeri, itulah Malik.