Silent

Silent
Kacau



Jemari tangannya mengepal, menatap ke arah seseorang yang begitu ditundukkannya. Wajah yang sedikit terkikis usia namun masih terlihat rupawan.


"Ayah (Martin) membawanya ke rumah sakit. Ibu mengalami pendarahan hebat, tapi masih bisa diselamatkan. Dia sampai sekarang masih menganggap dirinya yang menyebabkan kematian Viona. Karena itu..." Kata-katanya terhenti, suara pintu mobil terbuka terdengar.


"Dasar!" cibir Samy menyandarkan punggungnya di kursi pengemudi.


*


Tak!


Suara gunting terdengar, satu persatu batang mawar dipotongnya. Terlihat kelopaknya yang basah terkena embun pagi. Wajah seorang wanita yang tersenyum namun menyimpan rasa sakit dan duka di hatinya.


Hingga tangan seorang pria terulur memeluknya dari belakang."Maaf..." ucapnya, dengan air mata menetes tepat mengenai bahu Melda.


Wanita yang masih diam tertegun, menatap ke arah hamparan bunga. Keranjang kecil yang dibawanya dijatuhkan olehnya. Suara seseorang yang dikenalnya, air matanya mengalir begitu saja.


"Aku..." ucap Melda tertunduk.


"Maaf, kamu atau ayah mertua bukan pelakunya. Maaf..." Hanya itu yang dapat diucapkan Narendra.


Wanita yang hanya terdiam tidak menjawab, air mata tidak henti-hentinya mengalir. Ayahnya tidak bersalah? Dirinya tidak menyebabkan kematian Viona?


"Ini salahku, jika kamu ingin aku mati, aku akan mati. Ini salahku..." Narendra melepaskan pelukannya. Bersimpuh dengan kaki yang lemas di atas tanah.


"Aku merindukanmu, tapi tidak berhak mengatakannya..." batin pria yang masih tertunduk.


Melda menghapus air matanya."Ini memang salahmu," gumamnya, hendak melangkah pergi.


"Apa kamu ingin nyawaku?" pertanyaan dari Narendra membuat Melda menghentikan langkahnya.


"Tidak..." jawabannya.


Pria paruh baya, yang tertawa kecil dalam tangisannya, wanita yang mungkin terlalu baik setelah semua kesalahan yang dilakukannya."Kalau begitu aku akan menyerahkan diri pada kepolisian besok. Mungkin beberapa tahun ini kita tidak akan bertemu. Boleh aku minta satu fotomu? Martin mengambil semuanya tanpa sisa," tanyanya.


"Tidak perlu ke kantor polisi. Berikan semua sahammu," ucap Melda membuat Narendra tertegun, senyuman, dan tawa kecil terlihat di wajahnya.


Pria yang mengangguk, tidak mengatakan apapun lagi hanya sebuah senyuman yang ada di bibirnya. Menatap ke arah Melda yang berjalan meninggalkannya, wanita yang luka hatinya akibat rasa bersalah, mungkin telah menghilang.


*


Namun, apa benar demikian? Beberapa minggu setelahnya. Narendra lebih sering datang ke villa. Hanya untuk mengunjungi Melda, pria yang kini menyerahkan segalanya pada kedua putra dan wanita yang dicintainya.


Apa yang dimilikinya? Hanya beberapa toko cabang minimarket. Pria yang biasanya menaiki mobil mewah itu kini menaiki mobil kelas menengah. Hujan mengguyur hari itu, ditambah dengan suara petir yang menggelegar. Lampu villa padam akibat perbaikan.


Semua pelayan bagaikan ada dalam kepanikan."Dimana Melda?" tanya Narendra yang belum mengetahui trauma psikologis yang dialami wanita itu.


"Nyonya bersembunyi, kami sedang coba menemukannya. Jika anda menemukannya, tolong segera berikan obat pada nyonya." Ucap sang pelayan memberikan beberapa butir obat pada Narendra.


"Obat?" Narendra mengenyitkan keningnya tidak mengerti. Membawa beberapa butir obat di tangannya.


Satu persatu ruangan di villa yang cukup luas itu ditelusurinya. Semua ruangan dibukanya, hingga dirinya menemukan Melda dalam salah satu lemari pakaian."Jangan mendekat!" teriak wanita itu ketakutan.


"Jangan lakukan apapun padaku! Yoka tidak boleh melihatnya..." ucapnya mengingat fatamorgana masa lalunya.


Narendra tertegun air matanya mengalir. Jika saja saat itu dirinya menghentikan segalanya. Tidak peduli dan mempercayai hati Melda, ini tidak akan terjadi.


"Maaf..." ucapnya lirih mendekap Melda dalam pelukannya.


"Lepas! Lepas! Lepas!" Melda meronta-ronta namun perlahan Narendra berbisik.


"Aku akan memberikan jawaban CEO, pada wanita yang tidak bisa berbisnis," ucapan darinya ingin menenangkan Melda. Mengingatkan memory pertengkaran mereka yang selalu terjadi.


Satu persatu terbayang di benak sang wanita, 11 tahun yang dilewatinya dengan keluarga yang sempurna. Pertengkaran yang penuh tawa, saling menjambak rambut dan menjewer dengan suaminya.


Melda terdiam sesaat masih menangis terisak."Aku yang membunuh Viona," gumamnya setelah ciuman Narendra terlepas.


"Bukan kamu yang membunuhnya, bukan juga ayahmu. Kamu percaya padaku kan?" tanya Narendra meyakinkan.


Wanita itu berteriak dalamnya tangisannya menjerit. Hingga sekitar 30 menit kemudian terlihat lebih tenang.


*


"Ingin buah yang dipotong?" tanya Narendra tersenyum memakai appron, membawa sepiring buah apel dengan potongan berbentuk kelinci.


"Memalukan kan? Aku sering mengalaminya tiba-tiba..." ucap Melda tertunduk.


"Ini kesalahanku. Karena itu berapa kali pun kamu mengusirku. Aku akan tetap disini untuk menjaga dan melayanimu," ucap Narendra tersenyum.


Bug!


Melda melempar Narendra menggunakan bantal."Martin mengatakan kamu memberikan pacar Yoka pada Malik!" bentaknya.


"Pacarnya materialistis. Aku akan membawa cucu kita besok. Sekaligus mempertemukanmu dengan Yoka dan menantumu," Narendra berhasil menghindar, menghela napas kasar. Saat-saat seperti inilah yang paling dirindukannya selama bertahun-tahun.


Melda menunduk dan menggeleng. Mengepalkan tangannya, masih mengingat segalanya kala Yoka yang bersembunyi di bawah tempat tidur menyaksikan dirinya dilecehkan. Putra tunggalnya? Inilah alasan dirinya tidak ingin bertemu dengan Yoka.


"Yoka tidak dapat bicara selama belasan tahun karena aku ayah yang jahat, dan juga karena merindukan ibunya yang seperti malaikat jatuh ke got," ucap Narendra tersenyum, duduk di samping Melda.


"Jangan dekat-dekat! Kala Gondang!" Melda menggeser posisi duduknya.


"Mak Lampir!" Pria itu kali ini dapat tersenyum dengan tulus. Tidak memiliki benda-benda berharga, hanya ingin menjaga Melda. Wanita yang dilukainya begitu dalam, sekaligus wanita yang dicintainya.


*


Beberapa bulan telah berlalu, tangan-tangan mungil itu masih ada di box bayi. Mulai menangis lagi. Dan inilah kegiatan sang ayah.


"Sebentar ya? Mamamu sakit perut" ucap Yoka memberikan ke dua anak kembarnya botol ASI yang sudah dihangatkan.


Kara dan Ara itulah nama sepasang anak kembar yang memiliki wajah hampir serupa namun berbeda gender.


"Dora! Tolong aku!" ucap Yoka dalam kepanikan, mencium bau tidak sedap dari putranya.


"Sebentar! Aku sedang konsentrasi!" Dora berteriak dari dalam kamar mandi. Siapa bilang punya anak kembar itu tidak sulit? Benar-benar sulit.


Pemuda yang bergerak cepat mengganti popok putranya. Membiarkan putrinya menangis sebentar, karena botol yang terlepas. Kemudian kembali menyuapi kedua anaknya.


Masih dini hari saat ini. Waktu menunjukkan pukul 1 pagi. Rambut Yoka masih acak-acakan menguap beberapa kali, hingga akhirnya tertidur dalam posisi masih duduk.


Bersamaan dengan kedua anaknya yang telah terlelap dalam box bayi.


Dora melangkah keluar, tersenyum simpul menatap keluarga yang kini dimilikinya."Bangun..." ucapnya mengajak suaminya kembali ke tempat tidur.


Perlahan pasangan itu merebahkan tubuhnya."Samy menyusul kak Chery ke Las Vegas. Sepertinya dia benar-benar serius menyukai kakakku."


Yoka mengangguk, menghela napas kasar."Dua minggu yang lalu, aku melihat hal yang memalukkan,"


"Apa?" Dora mengenyitkan keningnya.


"Apa Samy tau ayahnya menjalin hubungan dengan Anggeline?" tanya Yoka.


"Hah?" pekik Dora segera duduk di tempat tidur.


Yoka mengangguk."Aku melihat dengan mata kepalaku sendiri. Saat pembukaan club'malam milik Martin dan Chery. Martin mabuk, mencium Anggeline. Parahnya Anggeline tersenyum, bahkan memesan kamar di hotel terdekat. Dunia memang sudah benar-benar kacau..."