
Assalamualaikum temen temen, yeyy! Bisa up bab 17 ni. Siapa yang nungguin cing tangan tinggi tinggi dong!.
.
.
Oh iya, yang udah buka notif dari Nana absen dulu ya. Vote sama komen Wajid diberikan kalau kalian suka sama cerita ini. Wkwkkwkw.
.
.
Yukk udah gasabar ya baca bab 17, langsung scroll aja kebawah!.
.
.
Happy Reading ♥️
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Dimeja makan sekarang ada Raluna Saidah dan Usman. Mereka makan bersama sesekali tertawa karena ada gurauan diantara mereka bertiga.
"Umi nanti kalau Raluna pergi. Umi sama Abi bagaimana?"
"Kalau pergi bersama suami kamu alias menikah kami berdua akan sangat sedih dan senang. Tapi akan lebih senang." Jawab saidah.
"Kalau Raluna pergi untuk selama lamanya?" Tanya Raluna.
"Sudah menjadi takdir Allah, kita semua akan berpulang kepadanya. Kita akan sedih tapi tidak lama karena kami menyayangi mu dan akan mengganti tangisan kami menjadi doa." Jawab Usman.
Selesai sarapan Raluna, Usman dan saidah kini berada di teras rumah menunggu Raluna berangkat.
"Assalamualaikum umi, Abi. Jangan kangen sama Raluna ya." Gurau Raluna.
"Waalaikumsalam, iya. Kamu hati hati." Sembari menyalami punggung tangan orang tuanya Raluna juga mencium kedua pipi dan dahi orang tuanya.
"Dahhh! Umi, umi, umi, Abi! Raluna pergi dulu!" Raluna menaiki sepedanya hendak berangkat.
Setelah Raluna berangkat, hati Saidah rasanya gelisah. Dan juga tidak seperti biasanya kini dadanya sesak entah ada apa dengannya.
...****...
Pagi pagi sekali Raluna sudah berangkat kesekolah, kini ia masih di lampu merah berhenti. Menunggu lampu berubah menjadi hijau.
Raluna mengayuh sepedanya lagi, setelah lampu berubah menjadi hijau. Saat Raluna Raluna mengayuh sepedanya tak jauh dari tempat ia berhenti tadi. Mobil yang melanggar lalu lintas melaju menerobos apa didepannya.
Raluna yang dibelakang, sendiri tidak ada kendaraan lain dibelakangnya.
Brakkkkk!
Semua Pengendara terhenti, melihat pemandangan didepan mereka. Seorang gadis terpental ditabrak oleh mobil itu. Tak butuh waktu lama arus lalu lintas menjadi macet, karena kerumuman orang.
Beberapa saat kemudian sirene polisi terdengar bersama ambulan, itu karena salah satu dari pengendara menghubungi ambulan.
"Permisi, kami harus membawa korban secepatnya." Petugas ambulan menyingkirkan para pengendara yang berhenti.
Ambulan pergi, kini polisi memberi garis polisi. Dan memutar balik arus jalan. Ada beberapa saksi yang dimintai keterangan.
Gadis berkerudung itu kini masih ditangani oleh dokter, dia kehilangan banyak darah. Pihak rumah sakit segera menghubungi keluarga atau orang terdekat korban. Polisi menemukan bahwa gadis ini adalah siswa di SMA Bunga Bangsa, pihak kepolisian langsung menghubungi pihak sekolah. Satu sekolah ricuh atas beredarnya kabar ini.
Zara yang mengetahui bahwa Raluna kecelakaan kalap, dan langsung mengemudikan mobilnya dengan gila menuju rumah Raluna untuk memberitahu umi dan abinya.
Tokk! Tok! Tokkk!!
"Assalamualaikum umiii!!" Zara menggedor pintu itu dengan sangat kencang. Buliran bening terus mengalir di pipi mulusnya.
"Waalaikumsalam, Zara ada apa? Kenapa kamu menangis nak?" Tanya Saidah bingung.
"Itu umi, r-raluna kecelakaan." Saidah yang sedang memegang gelas pun jatuh.
"Astaghfirullah, dimana Raluna? Zara bisa bawa umi dimana Raluna?" Saidah langsung menangis, anak semata wayang nya kini tertimpa musibah siapa yang tidak sedih. Dirinya sebagi seorang ibu sudah pasti sangat sedih.
"Iya umi, ayo. Abi bagaimana?"
"A-abi nanti, umi akan kabari Abi nanti. Umi mau ketemu sama Raluna."
Saidah dan Zara bergegas memasuki mobil, Zara melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Tak lama ia sampai di Royal Hospital.
Saidah berlari dengan berlinang air mata, kerudungnya basah karena air matanya sedari tadi tak henti hentinya mengalir. Begitu juga Zara, Zara masih lengkap dengan seragam sekolahnya berlari mengejar Saidah.
"Sus, korban kecelakaan ada dimana?" Tanya Saidah berhenti di lobi rumah sakit.
"Oh sebentar Bu, korban kecelakaan tadi pagi ada di ruang mayat." Bagai tersambar petir siang hari, kaki Saidah mulai lemas tak kuasa menimpa beban tubuhnya. Ia ambruk kebawah namun ia tidak pingsan.
"Raluna hikss.." saidah menangis, Zara yang baru sampai menghampiri saidah yang kini terduduk dilantai.
"Umi, umi kenapa. Ayo cari ruangan Raluna umi." Zara hendak membantu saidah berdiri.
"Raluna, umi gak siap... Hiksss." Saidah kembali menangis pilu, sejumlah orang yang ada disitu ikut merasakan kesedihan dari tangis Sadiah.
"U-umi. Apa yang umi bicarakan? Ayo umi kita keruangan Raluna." Saidah menggeleng, tangis makin tak bisa dihentikan.
"Umi pasti Raluna sedang menunggu kita umi. Ayo bangkit umi."
"Raluna pergi zaraaa....... Hiksss.." Zara seketika terdiam, tak mengerti apa ucapan saidah.
"Umi, maksud umi apa Raluna kemana?" Zara kini juga semakin menangis.
Zara bangkit, "suster, apa yang suster katakan sama umi saya?" Tanya Zara tak santai.
"Tadi beliau bertanya korban kecelakaan tadi pagi. Saya jawab baru saja dipindah ke kamar mayat." Mendapat jawaban seperti itu, hp yang ada ditangan Zara terjatuh. Ia bagaikan kehilangan keceriaan dalam hidupnya. Raluna apa ini mimpi?
"Suster jangan bercanda."
"Saya tidak bercanda, kalau anda tidak percaya mari saya antar."
"Umii, udah umi jangan nangis. Ayo kita pastikan dia Raluna atau bukan umi." Mendengar hal itu Saidah menjadi lebih tenang, masih ada harapan. Mungkin tadi pagi tidak hanya ada satu korban kecelakaan.
Mereka berjalan dengan lemas menuju ruang mayat, suster itu berhenti didepan pintu dan memberitahukan posisi mayat korban kecelakaan tadi pagi.
Saidah dan Zara berjalan mendekati mayat yang dimaksud, tutupan kain putih menghalau mereka untuk melihat wajah korban itu.
Saidah menangis lagi, ia tak siap. Baru saja kemarin ia rasanya melahirkan Raluna. Mungkin ini yang namanya takdir tidak ada yang tau dan datang secara tiba tiba.
Apa ini alasannya perasaan saidah tadi tidak enak. Dan kenapa tadi Saidah sempat tidak enak tentang ucapan pergi dari Raluna. Lagi lagi tangis membuatnya lemas.
'ternyata. Kata pergi kamu apa seperti ini nak? Kalau saja umi tau, Umi gaakan biarin kamu pergi nak...'
'umi merasa ada yang tidak enak dari ucapan pergi kamu. Tapi apa seperti ini kamu harus menghukum kami nak?'
'abi dan umi minta maaf karena tidak bisa buat hidup kamu seperti teman teman kamu. Umi pikir kamu sudah bahagia karena selalu tertawa bersama kami. Tapi nyatanya kamu lebih memilih bahagia disisi Allah nak.'
'maafin umi nakk..'
'Raluna sayang, andai umi diberi pilihan umi atau kamu yang harus dipanggil lebih dulu. Pasti umi akan pilih umi. Umi gak sanggup hidup tanpa melihat kamu nakk...' batin Saidah.
"Umi, udah nangisnya. Sekarang kita buka ya kainnya."
"Umi gak siap Zara. Hikk.."
Setelah membujuk Saidah, akhirnya saidah mau dan membuka Penutup kain putih itu. Dengan tangan gemetaran Saidah berusaha membuka penutup yang menghalangi wajah korban.
Perlahan Saidah membuka kain putih itu dilihatnya mayat ini adalah laki laki, karena rambutnya.
Setelah membual sempurna wajah mayat itu Saidah sujud syukur, karena mayat korban kecelakaan yang dimaksud suster tadi bukanlah Raluna.
"Hiksss, Alhamdulillah. Dimana Raluna sekarang?" Tanya Saidah masih sembari menyeka air matanya.
Zara membawa Saidah kedalam pelukannya, dan menuntun Saidah bertemu suster tadi.
"Sus, korban yang kami maksud perempuan, suster salah memberi informasi. Tidak menanyakan jenis kelamin terlebih dahulu, siapa korbannya dan dimana karena apa. Malah suster memberitahu kalau ada di kamar mayat. Apa suster tidak maklumi kalau ada keluarga yang syok karena mengetahui anggota keluarganya kecelakaan. Seharusnya dokter tanyakan terlebih dahulu." Zara memperingati suster itu. Zara tau ini adalah ruang sakit papahnya. Itu sebabnya dia menegur agar tidak mengulang kesalahan lagi, kalaupun bukan milik papahnya sudah pasti juga akan Zara tegur.
"Maaf dek, kami mengakui salah. Korban kecelakaan di perempatan _____ ada diruangan ICU."
"Terimakasih." Zara membawa saidah menuju ruangan ICU.
Saat sampai didepan ruangan ICU, kebetulan dokter juga langsung keluar dari ruangan itu..
"Dok gimana keadaan anak saya?" Tanya Saidah.
"Anak ibu mengalami pendarahan, kami membutuhkan donor secepatnya." Jawab dokter perempuan itu.
"Ehh dok c-ekk darah saya." Ucap saidah.
"Baik buk mari."
"Dok saya boleh masuk?" Tanya Zara.
"Boleh tapi jangan terlalu lama. Karena pasien masih dalam keadaan kritis." Balas dokter itu.
Didalam ruang ICU, suara berbagai alat medis yang digunakan Anaya berbunyi. Zara melangkahkan kakinya gontai, duduk disebelah Raluna yang kini mata indahnya terpejam.
Zara memegang tangan Raluna yang dingin, "Raluna, kamu harus kuat yah.. umi sama Abi sayang... Banget kamu." Zara tak kuasa menahan tetesan air matanya, melihat Raluna yang kini terbaring lemas diatas ranjang dengan alat bantu oksigen di hidungnya.
"Kamu tau gak? Waktu umi salah dengar kabar tentang kamu. Umi syokk, bahkan untuk berdiri saja umi gak kuat. Mereka sayangg... banget sama kamu Raluna. Jangan kecewakan mereka ya, kamu harus kuat."
Zara mencoba mengatur nafasnya agar lebih tenang, "kamu pasti kuat Raluna. Aku yakin itu, kamu gadis yang tidak gampang menyerah. Kamu masih harus lewatin ujian ujian yang diberikan Allah. "
"Kamu ingat gak? Waktu pertama kali kita ketemu. Gak nyangka Allah kirim kamu untuk merubah aku, kamu adalah perantara aku menjadi seperti ini. kita harus berjuang lewatin ini sama sama, kamu gak sendiri ada aku disini. Aku akan temenin kamu sampai sadar."
Zara masih memegang tangan dingin itu, tak ada reaksi apapun. Zara masih menangis, hingga matanya sembab.
"Mari buk." Dokter itu mengajak Saidah, mengecek darah Saidah yang ternya tidak sama dengan golongan darah Raluna (AB). Saidah bingung ia harus bagaimana.
Saat ingat bahwa Usman masih belum mengetahui soal ini, Saidah segera menghubunginya dengan telepon rumah sakit.
"Assalamualaikum Abi."
"Waalaikumsalam, sayang ada apa? Kenapa suara kamu seperti habis menangis?" Tanya Usman.
"Raluna kecelakaan Abi, dia butuh donor darah." Jelas Saidah.
"A-apa? Umi sekarang dimana?" Tanya Usman mulai panik, dirinya tengah berada di sawah mencangkul tanah.
"Umi sekarang di Royal Hospital Bi." Jawab Saidah.
"Abi cepat kesini, Raluna butuh darah Abi." Isak Saidah.
"Sayang tenang, Abi akan kesana. Kamu yang sabar ya."
"Umi tutup dulu, assalamualaikum."
"Waalaikumsalam." Usman bergegas pulang dan menelfon seseorang menggunakan hp kunonya (Nokia). Tak lama kemudian sebuah mobil Alphard datang menjemputnya. Usman segera bergegas menuju rumah sakit.
Setibanya disana Usman yang masih dengan pakaian petaninya langsung menuju keruangan ICU, setelah bertanya tadi di lobi.
"Assalamualaikum, umi dimana tempat pendonoran darah? Abi mau segera donorin darah Abi." Tanya Usman tergesa.
"Waalaikumsalam, mari umi antar Abi " keduanya menuju lab untuk mengecek darah. Sudah pasti cocok karena Raluna anak Usman. Tapi ada satu masalah yang membuat Usman sangat gagal menjadi pelindung sekaligus penolong bagi Raluna.
Ada masalah, sehingga ia tidak bisa mendonorkan darahnya kepada Raluna. Dirinya bagaikan kehilangan separuh jiwanya karena tidak bisa menolong Raluna.
"Bagaimana Abi, cocok kan darahnya? Bisa kan segera donorkan darah Abi ke Raluna?" Tanya Saidah dengan sorot mata berharap.
Usman mengangguk kecil tak tega mematahkan harapan istri tercintanya, "iya umi."
"Alhamdulillah, terimakasih ya Allah." Saidah sujud syukur, akhirnya Raluna bisa segera mendapatkan donor darah.
"Umi, Abi telfon dulu sebentar." Saidah mengangguk melihat punggung suaminya yang perlahan menjauh.
Diluar rumah sakit, Usman berdiri sedang menelfon seseorang.
"Assalamualaikum David." Salam Usman.
"Waalaikumsalam, ada apa Usman?" Tanya David.
"Saya minta tolong, apa kamu tidak keberatan?"
"Sama sekali tidak. Minta tolong apa ya?"
"Raluna kecelakaan, dia butuh donor darah. Golongan darahnya AB, golongan darah kami memang sama tapi ada sesuatu yang membuat saya tidak bisa mendonorkann darah saya." Jelas Usman.
"Astaghfirullah. I-iya Usman, aku akan Carikan. Raluna ada dirumah sakit apa?"
"Royal hospital."
"Baiklah kau tenang saja."
"Terimakasih banyak David, aku tutup dulu assalamualaikum."
"Waalaikumsalam." Sejenak setelah mematikan telfon dari Usman, David berpikir bahwa darah AB itu sangat langka. Bahkan golongan darahnya sendiri A. Astaghfirullah ia akan berusaha cari donor darah buat Raluna.
Ia segera membuat poster butuh donor darah golongan AB, hanya sedikit yang berkomentar mungkin hanya itu yang bergolongan darah AB. David memberikan imbalan bagi yang mau mendonorkan darah itu.
Namun setelah ditelusuri, David mendapatkan satu pendonor buat Raluna yang menurutnya terbaik dari lainnya. David menelusuri informasi laki laki ini, David mendapatkan bahwa laki laki ini adalah seorang ustadz di pesantren. Dan juga ia hidup sendirian disebuah desa.
David ingin memberikan Hadiah nanti kepada orang itu, dan akan membantu pesantren tempat laki laki itu mengajar.
David mengirimkan pesan kepada orang itu melalui nomer WhatsApp, setelah tadi berbicara di dm IG.
0***********
^^^Assalamualaikum, saya memilih kamu untuk mendonorkan darah. Saya tanya apa kamu siap mendonorkan darah kamu? Saya akan memberikan hadiah buat kamu.^^^
^^^Soalnya saya sangat butuh sekarang juga. Apa kita bisa bertemu di royal hospital?^^^
Waalaikumsalam. Saya mau pak, baik pak kita ketemu disana.
^^^Sekali lagi Terimakasih.^^^
Iya, sama sama.
.
.
David bergegas menuju rumah sakit, dengan secepat kilat ia menyetir. Anak dan bapak memang sama saja, tidak Zara tidak David sama saja jika disuruh nyetir saat situasi darurat.
Seorang laki laki dewasa berjas hitam, bersama laki laki berpeci hitam serta gamis hitamnya berjalan tergesa menuju ruangan untuk mendonorkan darah.
Tut.....Tut.....Tut .....
Usman meraba saku bajunya, mengambil benda kecil yang biasa ia gunakan untuk menelpon itu. Usman menoleh Saidah tengah terduduk disampingnya dengan bibir yang sedari tadi berdo'a.
"Umi, Abi angkat telfon dulu ya." Usman bangkit.
Saidah menoleh dan menganggukkan kepalanya. Usman melenggang pergi dari sana sesegera mungkin ia mengangkat panggilan yang berdering di hapenya.
"Assalamualaikum, Usman. Aku sudah mendapatkan pendonor nya. Kau segeralah kesini, ruangan pengecekan darah."
"Waalaikumsalam, terimakasih banyak David. I-ya aku akan kesana." Usman mematikan teleponnya dan berlari menuju ruangan yang dimaksud David.
Saat pintu dibuka, yang pertama kali Usman lihat adalah tiga orang suster dan satu dokter, David serta seseorang yang tengah duduk diatas ranjang.
"Assalamualaikum." Salam Usman.
"Waalaikumsalam."
"Bagaimana? Siapa pendonor nya? Aku akan sangat berterimakasih kepadanya." Ucap Usman terharu, sambil menyeka air matanya yang hendak turun.
David tersenyum dan membiarkan Usman melihat orang dibelakangnya. "Dia yang mendonorkan darahnya."
Senyum dibibir Usman seketika terhenti, tak percaya siapa yang mendonorkan darah untuk putrinya. Abram?
Detik berikutnya usman kembali melukiskan senyumnya, "terimakasih nak Abram, kamu sangat baik ingin membantu saya."
"Iya pak, sama sama." Jawab Abram.
"Lohh, kalian saling kenal?" Tanya David bingung.
"Iya suatu kejadian mempertemukan dia, dengan keluarga saya. Lebih tepatnya Raluna sendiri." Jelas Usman.
"Ohhh bagus kalau begitu, saya senang juga karena saya bisa dekat juga dengan kamu." Kata David.
"Pak, hasil golongan darahnya AB. Dan pendonor juga dalam keadaan sehat. Kita bisa lakukan transfusi darahnya sekarang juga." Dokter wanita memberikan sebuah kertas kepada Usman.
"Iy-ya dok, segera lakukan." Jawab Usman.
"Baiklah bapak boleh tunggu diluar."
"I-yya dok." Usman dan David keluar. Menuju Saidah yang kini tengah duduk, dia ingin masuk namun ia tak berani melihat keadaan Raluna.
Beberapa saat kemudian Zara keluar, dengan matanya yang sembab. Duduk disebelah saidah. "Umi mau masuk?"
Saidah mengangguk dan perlahan berjalan memasuki ruang ICU. Pemandangan yang pertama kali ia lihat adalah putrinya yang kini tengah berjuang untuk bertahan. Duduk disebelah Raluna dan mengecup kening putrinya.
"Sayang, tunggu sebentar lagi ya. Abi kamu masih diambil darahnya. Kamu gak usah takut. Umi ada disini kok."
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Assalamualaikum temen temen, gak kerasa udah di penghujung bab aja nihh!. Gimana masih suka gakk?? Masih sayang gak sama Raluna Zara???
.
.
Siapa yang nabrak Raluna ada yang tauuu??
Enggak tau yaa kesian wkwkkwkwk.
.
.
Tungguin part selanjutnya ya, Insyaallah aku bakal up cepet. Happy selalu ya babayyyy.
.
.
See you guysss!
.
.
Waalaikumsalam Warahmatullahi wa barakatuh 🙏
.
.
.
28 Maret 2022