
Otaknya mungkin masih kelu, Angeline terdiam sejenak memikirkan segalanya.
"Maksudnya?" tanyanya memastikan anggapannya salah.
"Maksudnya Malik tidak punya status lain, selain anak sambung. Karena itulah, Yoka manggil Salsa bibi. Jadi, selama ini kamu menyangka Malik kakak kandung Yoka?" tanya Samy menipiskan bibir menahan tawanya.
"Malik ini bercanda kan?" tanya Anggeline menatap ke arah suaminya, berharap ini hanyalah sebuah kebohongan.
"Kita bicara di kamar, jangan disini," jawabnya, hendak menarik tangan Anggeline. Namun, wanita itu menepisnya.
"Jika di tempat lain kamu akan mengatakan berbagai alasan! Katakan yang sebenarnya!" bentak wanita di hadapannya.
"Aku mencintaimu. Bukannya setiap bulan aku memberikan uang padamu. Aku memang bukan anak kandung ayah Narendra tapi..."
Plak!
Kata-katanya terhenti, untuk pertama kalinya wanita di hadapannya berani menamparnya. Jemari tangannya mengepal, apa dirinya kurang baik dan bertanggung jawab? Hanya status dan kekayaannya saja yang kurang dari Yoka.
Tiga juta diberikannya sebagai uang bulanan untuk Anggeline. Untuk makan dan semua keperluannya sudah tersedia di rumah utama. Apa yang kurang? Bahkan karyawan di kantornya selalu memberikan uang bulanan dengan jumlah yang sama pada istri mereka.
Berapa sebenarnya penghasilan seorang Malik? Sekitar 150 juta rupiah, hanya gajinya di kantor. Belum lagi ditambah uang bulanan dari Narendra. Tiga juta untuk istrinya? Sungguh suami yang luar biasa.
"Jadi kamu menganggap uang tiga juta cukup?! Aku selama ini bersabar karena mengira keuanganmu sedang dikekang, tapi sekarang tidak lagi! Aku tidak bisa bersabar! Kembalikan sertifikat gedung teaterku!" bentak Anggeline menadahkan tangannya.
Semua orang masih makan dengan tenang, kecuali Malik, Salsa dan Dora. Dora? Wanita itu bagaikan tengah menonton sinetron kejar tayang, sembari mengunyah makanannya. Mencemaskan Anggeline yang akan kembali pada suaminya nanti.
"Anggeline, kamu lupa, kamu sendiri yang ingin menikah dengan Malik. Kamu yang mengejarnya hingga menginap di rumah ini, setelah Malik datang ke villa. Setiap hari kamu membawanya ke villa, kamu lupa?!" Salsa berucap dengan nada tinggi, kesal menatap pipi putranya yang memerah akibat tamparan.
"Aku ingin bercerai! Kembalikan sertifikat gedung teaterku!" tegasnya lagi menatap ke arah suaminya.
"Sudah aku gadaikan, akan aku kembalikan dalam waktu tiga bulan. Jika kamu ingin bercerai, bercerai saja, masih banyak wanita yang akan bersyukur dengan uang bulanan yang aku berikan," cibirnya tidak dapat lagi menahan emosinya.
Mencintai Anggeline? Sejatinya tidak, menikahi Anggeline sebenarnya hanya karena ingin melebihi Yoka. Tidak menginginkan yang lain, dan kini bahkan Yoka tidak peduli lagi pada Anggeline. Maka Malik juga tidak akan peduli.
Mata Malik menatap ke arah Yoka yang mengiriskan daging untuk Dora. Mengganti piringnya dengan piring wanita itu. Sangat mencintainya? Benar-benar terlihat, si bisu benar-benar menyukai Dora, tidak menganggapnya sebagai boneka pengganti. Bagaimana jika dirinya merebut Dora? Pasti akan menyenangkan, melihat Yoka terpuruk kembali.
"Baik! Tapi ingat kembalikan sertifikatku, jika tidak aku akan memenjarakanmu!" peringatan keras dari Anggeline.
Tiga juta? Sejatinya cukup untuk orang biasa. Namun tidak untuk Anggeline yang terbiasa dengan gaya hidup berkelas semenjak menjalin hubungan dengan Yoka dulu. Matanya menelisik, menatap ke arah Yoka.
Wajah yang lebih rupawan dari Malik, bahkan memiliki keahlian bela diri, memiliki kecerdasan tinggi, segalanya diketahui olehnya, dulu mungkin hanya satu kelemahan Yoka, tidak dapat bicara. Namun, kini pemuda itu sudah dapat bicara. Apa yang kurang? Tidak ada, karena itulah setelah berpisah, dirinya akan kembali ke posisinya semula. Sebagai nyonya di villa milik Yoka, mengusir pergi wanita pengganti.
Namun tidak untuk saat ini, terlalu memalukan. Dirinya akan menemui Yoka secara pribadi. Pemuda yang akan memaafkannya apapun kesalahannya.
"Aku menunggumu di pengadilan!" bentaknya, pergi meninggalkan meja makan guna mengemasi barang-barangnya.
Kembali pada Yoka memang jalan yang terbaik, kembali ke kehidupannya yang dulu. Dihormati dimanapun dirinya melangkah. Menjadi istri seorang Yoka, posisi yang seharusnya dimiliki olehnya.
*
"Aku sudah selesai," ucapnya tersenyum.
"Samy, ada yang ingin aku tanyakan padamu. Apa ibumu sering menjengukmu?" tanya Zou, tidak mengerti dengan kehadiran anak itu.
Martin menghamili kekasihnya di luar nikah, kemudian kekasihnya meninggalkannya dengan bayi yang baru dilahirkan? Tiba-tiba anak ini muncul, bukan suatu kebetulan.
Hal yang terlalu aneh bagi Zou.
"Aku yang menjenguk ibuku. Dia sedang sakit," ucapnya sedikit melirik ke arah Narendra. Kebencian yang masih ada, namun dirinya tidak memiliki informasi apapun, apa yang terjadi dengan ibu kandungnya, Viona.
Apa benar Reksa yang membunuh kakek dan ibunya untuk kebahagiaan Melda? Tapi walaupun begitu, Melda tetap menyayangi dan membesarkannya. Benar-benar ada yang janggal, hanya satu hal yang tidak diketahuinya. Meragukan Reksa pelaku sebenarnya dari kematian Viona.
"Dia sakit? Boleh aku menjenguknya? Aku ingin tahu orang seperti apa yang berhasil menggoda Martin," Kata-kata dari mulut Zou.
"Kalau begitu ijinkan aku berlibur dengan anak paman selama seminggu," tawaran dari Samy mengedipkan sebelah matanya.
"Anak kurang ajar," komat-kamit mulut Zou mengomel, berjalan pergi enggan bertanya lebih banyak lagi.
*
Acara makan malam yang telah usai, kini sepasang ayah dan anak duduk berhadapan di ruang besar dengan banyak rak buku berjejer. Tidak ada lampu yang menyala, hanya sinar bulan purnama yang memasuki deretan jendela besar.
"Apa yang ingin kamu bicarakan?" tanya Narendra, meminum secangkir teh di hadapannya.
"Aku membencimu," ucap Yoka yang duduk berhadapan dengan ayahnya. Sedangkan Samy kini berada di belakang Yoka.
"Ayah tau, lalu?" Narendra masih saja dapat tersenyum.
"Ceritakan semuanya, jangan ada yang ditutup-tutupi lagi," Yoka mengepalkan tangannya menatap ke arah ayahnya.
"Ibumu mengakui segalanya, dia berlutut mengakui dirinya membunuh empat orang dengan tangannya sendiri. Aku berfikir Melda tidak mungkin seburuk itu, tapi dia mengakuinya, membakar istri pertamaku, dua orang lansia dan calon adikmu..." Kata-kata dari bibir Narendra, wajahnya tersenyum tertawa kecil namun air matanya mengalir.
"Aku harus apa? Apa harus menjebloskannya ke penjara? Yang mati bukan satu orang, tapi empat orang yang dibakar hidup-hidup. Karena itulah aku membunuhnya," lanjut Narendra, masih berusaha tersenyum namun air mata membasahi pipinya tidak dapat dihentikan olehnya.
Yoka mengepalkan tangannya, penuh rasa kesal."Aku tidak sepertimu, jika itu aku maka..."
"Maka apa? Kamu pernah hidup dengan jantung orang lain? Aku memang pernah menikah sebelum menikah dengan ibumu, kamu baru mengetahuinya juga bukan?"
"Alasan aku menikah pada awalnya, hanya karena kakaknya akan mendonorkan jantung untukku. Memohon padaku agar menikahi adiknya dan menjaga kedua orang tuanya. Tapi pada akhirnya, istriku yang lain membunuh mereka karena rasa iri!" Narendra tertunduk sesaat, hatinya masih merasa sakit hingga kini, merindukan Melda. Namun wanita itu pada akhirnya mati di tangannya.
Mungkin sebuah perasaan yang terlalu dalam, rasa sakit kala tidak dapat melihat wajah itu untuk yang terakhir kalinya. Rasa sakit kala mengetahui wanita yang dicintainya dilecehkan sebelum kematiannya.
Mungkin hanya satu hal yang membuatnya bertahan untuk hidup. Kata-kata dalam senyuman terakhir Melda, kala mengemasi barang-barangnya, yang akan pergi ke luar negeri. Saat-saat terakhir menatap wajah satu-satunya wanita yang pernah ada di hatinya.