
Hari ini dirinya tidak membawa susu persiapan ibu hamil. Jadwal kuliahnya juga diperketat, membawa bekal yang disiapkan pelayan villa. Dora menghela napas kasar, memakan hidangan yang sejatinya benar-benar membangkitkan selera.
Dirinya harus segera lulus, perutnya dielus pelan olehnya. Apa janin kecil telah berkembang di perutnya? Entahlah, namun air matanya tiba-tiba mengalir.
Kurang dari setahun dirinya mulai mengenal Yoka. Hari pertama yang masih diingatnya, kala duduk seorang diri di halte bus.
Seorang pemuda rupawan dengan tatapan mata kosong dengan sengaja ingin menabrakan dirinya. Pemuda yang terlihat kesepian, putus asa dengan hidupnya.
Pertemuan kedua? Menatap sang pemilik villa memainkan piano di halaman belakang. Seseorang yang tiba-tiba merenggut ciuman pertamanya. Mengurungnya sebagai pengganti, juga menyelamatkan nyawanya.
Merindukan Yoka? Entah kenapa.
Hingga suara seseorang terdengar, membuatnya tertegun.
"Dora?" Jovan yang juga mengikuti jadwal kuliah malam menatap ke arahnya. Entah apa yang ada di fikiran pemuda itu.
Dengan cepat Dora menghapus air matanya, kembali makan seorang diri dengan tenang. Menunggu Arsen yang akan menjemputnya sekitar 15 menit lagi.
"Aku ingin minta maaf, tentang janji kita dulu, aku..." kata-kata Jovan terpotong.
"Tidak perlu minta maaf, kita menepati janji untuk menikah, namun dengan pasangan yang berbeda." Hanya itulah jawaban dari Dora merasa aneh dengan dirinya sendiri. Seharusnya dirinya merindukan Jovan yang menjadi kekasihnya selama bertahun-tahun. Tapi mengapa jauh lebih mencintai Yoka, yang hanya dikenalnya kurang dari setahun?
Entahlah, hubungan yang pada awalnya terjalin hanya karena obsesi Yoka yang menjadikannya boneka pengganti. Seorang istri yang hingga sekarang masih meragukan hati suaminya.
Cincin berlian yang tersemat di jari manis Dora diliriknya. Menyakitkan? Mungkin iya, cincin dari ilalang yang dulu berpasangan. Kini cincin pernikahan nyata tersemat di jemari mereka. Namun bukan cincin pasangan.
"Maaf, menunggu lama, nyonya muda..." seorang pria memakai setelan jas hitam, dengan sarung tangan putih di jemarinya, menunduk memberi hormat pada Dora.
Benar mereka telah berjalan di jalan yang berbeda saat ini. Dirinya hanya menatap, Dora yang mulai bangkit, memasukan kotak bekal dan beberapa buku tentang praktek kedokteran kembali ke ranselnya.
Berjalan pergi, diikuti Arsen yang memayunginya di tengah hujan gerimis yang turun.
Dirinya ingin melangkah, mengatakan jangan pergi padanya. Namun tubuh itu tetap memasuki mobil hitam yang telah menunggunya.
Entah kenapa Jovan terdiam, dirinya tidak menginginkan apapun saat ini. Hanya ingin kembali ke masa SMU-nya, tersenyum dengan seorang gadis berambut pendek. Gadis yang naik ke punggungnya sembari tersenyum.
Membuatkannya bubur yang sedikit gosong kala dirinya sakit. Saat itu tidak ada uang di sakunya hanya ada beberapa lembar Pattimura berjejer, tapi dirinya selalu tersenyum menantikan hari esok.
Namun kini, Soekarno-Hatta yang berjejer rapi di dompetnya. Tidak membuatnya bahagia, membuang wanita yang dianggap akan menyusahkan hidupnya demi wanita yang lebih sempurna.
Jovan menghela napas kasar, air akan kembali mengalir ke laut, walaupun terjatuh di atas puncak gunung. Mungkin suatu hari nanti dirinya akan bertemu lagi, karena jalan panjang kehidupan yang begitu berliku, akan bertemu di laut.
*
Sementara di dalam mobil Dora mengenyitkan keningnya, melirik ke arah beberapa koper yang ada disampingnya. Mungkin karena bagasi mereka sudah penuh.
"Apa kita akan menyusul Yoka ke luar negeri? Tapi aku belum punya paspor," ucapnya antusias.
Arsen menggeleng, kemudian tersenyum."Apa kamu pernah berfikir akan memasuki strata sosial tertinggi?"
"Mungkin..." Arsen tersenyum tipis, masih konsentrasi menyetir.
"Atau memamerkan tas merek terkenal dengan harga ratusan juta rupiah. Menaiki mobil sport," Dora kembali tertawa, sedangkan Arsen kembali mengangguk.
"Itu tidak mungkin, sekaya apapun Yoka aku hanya ingin dia menabung untuk anak kami nanti. Aku lebih memilih menjadi dokter bedah suatu hari nanti. Menyelamatkan nyawa di posisi paling kritis. Aku ingin seperti almarhum ayahku," gumamnya, menatap ke arah kaca jendela berembun, mengingat kematian ayahnya yang seorang perawat kala akan berangkat ke rumah sakit.
Mati karena kecelakaan motor dengan keadaan tubuh yang benar-benar tidak utuh. Cita-cita yang tubuh karena ayah angkat yang masih disangka ayah kandung olehnya.
"Mulai sekarang, saya akan melindungi anda. Begitu juga dengan Zou. Anda akan tinggal di kediaman utama, tuan besar yang memanggil anda untuk tinggal disini." Kata-kata dari mulut Arsen membuat Dora tertegun. Sosok ayah mertuanya terbayang di benaknya.
Pria yang merencanakan pelecehan dan pembunuhan istrinya sendiri. Tidak mencintai putranya. Wajah rupawan yang tidak lagi muda, namun mengeluarkan aura mendominasi.
Dirinya mungkin akan dibunuh, dipotong-potong kemudian mayatnya dibuang di tengah hutan. Wajah wanita yang pucat pasi ketakutan.
"Aku mau turun!" teriak Dora menatap gerbang besar di hadapannya, pertanda seharusnya medan perang sudah di depan mata.
"Terlambat, nikmatilah saja menjadi seorang nyonya muda," kata-kata penuh senyuman dari mulut Arsen.
Dan benar saja, mobil telah memasuki parkiran. Dora membuka pintu mobil, benar-benar berusaha mengumpulkan keberaniannya.
Para pelayan berjejer menyambut kedatangannya. Ini sudah bisa, namun rumah yang kini ada di hadapannya bagaikan akan menelannya bulat-bulat.
Berjalan masuk, mengikuti langkah Zou dengan Arsen yang ada di belakang dirinya. Matanya sedikit melirik, Salsa dan Anggeline yang duduk di sofa menatap tidak suka dengan kedatangannya.
Tapi tidak ada yang salah, dirinya hanya mengikuti Zou.
Hingga pintu besar itu terlihat. Memasuki kamar ayah mertuanya. Kamar utama yang benar-benar luas matanya menelisik, mencari senjata yang akan dipergunakan untuk membunuhnya nanti.
Ini adalah lokasi penjagalan. Namun, pria itu tiba-tiba tersenyum menyambut kedatangannya.
"Maaf menjemputmu terburu-buru. Zou kesepian jadi ingin kalian tinggal disini." Ucap Narendra dengan tangan gemetar, bersikap semanis mungkin tidak ingin putranya tiba-tiba diceraikan.
"Ti... tidak apa-apa tuan, maksudku ayah mertua," ucap Dora diam-diam memutar bola matanya malas, tapi benar-benar ketakutan saat ini. Apa dirinya akan mati diracuni? kemudian dipotong-potong? Entahlah hanya Tuhan dan author yang tahu.
Sedangkan Narendra berusaha keras menetralkan rasa tegangnya. Mengingat-ingat hal yang disukai kalangan wanita muda, bahan pembicaraan yang dicarinya di Google.
"Apa kamu suka BTS (boyband idola remaja)?" tanyanya, berharap Dora akan menjawabnya.
Tangan Dora gemetar bagaikan gempa bumi."Aku suka..." dustanya yang lebih menyukai Dono Kasino Indro Warkop.
Narendra yang juga penggemar warkop, melihat contekan kecil di telapak tangannya, tentang boy band yang membuat para wanita muda menggila.
"Personil mana yang kamu sukai?" tanya Narendra lagi, berharap ada beberapa informasi lagi di contekan pada telapak tangannya.
"Mampus!" batin Dora menelan ludahnya, terlanjur berbohong.