Silent

Silent
23 # Terkejut



Assalamualaikum temen temen, Alhamdulillah bisa up lagi. Oh iya Nana masih bingung cari visual Raluna sama yang lainnya, takut nanti enggak cocok sama ekspektasi kalian.


.


.


Hoyyyy!!! Jangan lupa vote sama komenn!!! Siapa nihh pengikut Raluna dari awal?? Cing tangan dongg.....


.


.


Buat temen temen yang udah setia baca silent love dari awal, makasi ya support kalian buat Nana, itu sangat berarti buat Nana🤍🤍


.


.


Gimana komen yaa. Jangan lupa happy kiyowo tiap hari ya, yuk scroll kebawah!!!


.


.


Jangan lupa kasih satu anak ayammm🐣🐣🐣


.


.


.


Happy Reading ♥️


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Edgar merasakan telinganya ditarik paksa, lantas cowok itu segera menolehkan kepalanya. Wadidauu!! Pak wig kini berada disampingnya, ralat menjewer telinganya.


"Heh!!!, Siapa yang kamu ASU ASU itu Hahhh?!!" guru itu kelihatannya ngamok, wajahnya yang gempal dan wig coklat norak yang bertengger di kepala botaknya membuat empat cowok teman Edgar tak kuasa menahan tawa.


Kabarnya guru ini beberapa hari yang lalu, ketahuan istrinya berada di sebuah tempat bapak bapak bermain domino. Tapi pak wig ini bilang kepada istrinya akan rapat, tapi nyatanya untuk bermain domino. Akibatnya rambut aduhai membahana bagai artis Korea katanya! Dicukur habis oleh istrinya. Pftttt!! Suruh siapa bohongin istri.


"Gaada kok pak, bapak tambah ganteng deh pakai wig warna coklat norak itu." Nyali Edgar seketika ciut berurusan dengan guru yang sudah dari kelas 10 mengejar ngejar Edgar, bukan tanpa alasan Edgar dan teman temannya adalah langganan BK. Sebut saja guru ini pak wig BK.


"Masak nak? Padahal kata istri saya ini gak ada bagus bagusnya. Tapi waktu saya beli bagus bagus aja kok." Guru ini terlalu polos atau bagaimana, sudah Edgar bilang kalau wig ini norak diakhir kalimatnya.


"Beuhh bagus amat pak, apalagi kalau hijau neon itu. Tambah cakep bapak." Tambah Brendan.


"Masak sih? Beneran nih?" Guru itu memastikan.


"Iya pak suer, masa sih gak percaya pak. Kita nih anak muda, pilihan kita selalu bagus pak." Tambah Deanno.


"Yasudah nanti pulang sekolah bapak beli wig yang warna neon neon biar tambah cakep."


"Oh iya, tadi saya mau marah sama kalian!!!!" Guru itu kembali galak. Kini mereka yang tadinya senyum senyum menahan tawa diam.


"Kenapa kalian keluar saat jam pelajaran?!!!" Tanya pak wig BK.


"Orang kita disuruh keluar sama Bu lili, yak gak no?" Brendan menyenggol bahu Deanno.


"Iya pak, sebenarnya cuma mereka bertiga." Deanno menunjuk tiga temannya. "Berhubung kita sohib, jadi kita juga ikut keluar begitu pak wig." Lanjut Deanno.


"Ahhh, gaada alasan. Pokonya kalian bapak hukum! Hormat bendera sampai jam istirahat. Jangan coba coba kabur atau nama kalian bukan hanya merah tapi hitam." Sudah banyak sekali kenakalan yang dilakukan lima cowok ini, tentu saja pemimpinnya Edgar, walau dia pintar kenakalannya lebih mendominasi. Total jika dihitung pelanggaran yang dilakukan Edgar sudah 750 lebih dalam kurun waktu dua tahun setengah.


Mulai dari loncat pagar, bolos pelajaran, bahkan menaruh saos di bangku guru. Hingga yang paling gila, dia mematikan kran dan lampu saat seorang guru killer yang tengah mengeluarkan emas seratus karatan di kamar mandi.


"Korting dong pak. Panas nih, padahal tadi udah kita kasih request wig yang cakep. Masa gak dikorting, Ireng endasku mas brohh." Balas Bryan.


"Eleh, laki takut item. Gak Maco Lo." Timpal Ryan.


"Berarti kalau gue hitam pekat, cuma keliatan gigi doang gue yang paling Maco didunia ini gitu?"


"Ahhh males gue, bego amat sih lo."


"semua orang ganteng dengan caranya sendiri. gaada orang yang gak ganteng, termasuk kalian. kalian ganteng cuma otak kalian kegeser waktu manfaatin kegantengan kalian." semua mata tertuju kearah Deanno. kemudian lanjutan debat kembali tertuang.


"Udah udah!!, Sekarang mending kalian lakukan hukuman kalian!"


"Asiappp bapak wigg!!!" Lima cowok itu langsung ngacir dengan es yang masing masing mereka bawa. Kini hukuman mereka sudah usai, perihal tidak memakai motor dan potongan uang jajan karena peristiwa Bryan sama Brendan waktu itu wkwkwkwk.


Lima cowok itu mengerutkan keningnya, melihat seorang gadis tengah hormat bendera dibawah teriknya sinar matahari. Seperkian detik mereka mendekat, bisa mereka lihat kalau itu adalah Raluna. Kenapa ia bisa dihukum?


"Hai dek." Sapa Ryan sok akrab banget ni play boy satu, eh lupa namanya juga play boy. Raluna hanya menolehkan kepalanya. Alasan kenapa ia dihukum adalah karena tadi ia lupa kalau ada pr b.jawa yang belum ia kerjakan.


"Dihukum bareng dek Raluna nih, meskipun panas menjerit, akan Abang Brendan jabanin kalau bersama adek kelas cantik."


"B***t ae Lo dan! Mending diem, pak ketu lagi berbunga bunga nih."


Mereka ber enam berdiri di tengah teriknya matahari, ya sekarang sudah pukul 12 dan ini adalah waktu matahari akan semakin menyengat.


Keringat sudah bercucuran, sesekali Raluna menyeka dengan tangannya kemudian kembali hormat. "Duduk kalo capek. Masih jam pelajaran gaada guru yang ngecek." Raluna menolehkan kepalanya, Edgar lah pemilik suara itu.


Raluna hanya menggeleng pelan, "Raluna buat kesalahan, jadi Raluna gak akan lari dari tanggung jawab."


"Prinsip kita sama ya, gue bakal tanggung jawab kalau gue salah." Setelah mengatakan itu Edgar berlari pergi, membuat Raluna bingung.


Tak lama kemudian, seorang cowok dengan penampilan bisa dibilang urakan itu datang dengan dua botol air mineral ditangannya. "Nih, minum. Lo pasti haus kan?"


Raluna masih diam, menimang apa ia harus menerimanya atau tidak. Jika ditolak perkataan Edgar benar, dia sekarang haus. Jari putih bersih, dengan cincin kayu bermata dua itu mengambil minuman dari tangan Edgar.


"Makasih kak."


"Iya."


****


Setelah lama menjalankan hukuman hingga bel kedua tiba, Raluna berteduh sebentar ditaman belakang sekolah dengan minuman yang diberikan Edgar tadi.


Tiba tiba segerombol cewek mendatangi Raluna, merampas minuman Raluna dan menyiramkannya! Ohh tidakk!!


"Kak, Raluna punya salah apa?" Kini baju Raluna sudah basah kuyup, untung seragam ini berbeda jadi tidak nerawang.


"Lo salah! Karena deketin Edgar!" Sarkas cewek itu.


"Dari sisi sebelah mana Raluna deketin kak Edgar kak?"


"Lo tadi! Dihukum berdua sama Edgar kan?! Terus Edgar ngasih minuman sama Lo! Ehh denger ya! Edgar tuh banyak yang ngincer. Jadi Lo jangan jadi orang asing yang tiba tiba Dateng ambil kesempatan kita semua."


"Ralat, bukan berdua tapi ber enam." Koreksi Raluna.


"Terserah gue! Yang penting Lo jauh jauh dari Edgar!" Bentak cewek itu.


"Edgar gak akan mau sama Lo! Cupu, miskin lagi!"


Raluna mendongak, wajahnya basah membuat bulu mata lentik ya semakin jelas, "Apa kakak sebegitu pintarnya menilai hati orang? Sampai sampai kakak tidak bisa menilai hati kakak sendiri?"


"Kurang ajar Lo ya!-" cewek itu hendak menampar Raluna, namun tamparan yang Raluna tunggu tidak kunjung ada. Raluna membuka matanya, ternyata Edgar mencengkram tangan cewek itu.


Edgar mengeraskan rahangnya, "Mau nampar Raluna?"


"Enggak gitu kok gar, gue cuma mau ngasih pelajaran sama dia."


"Dia sudah pintar, guru saja cukup untuk raluna. Gak usah tambahan dari Lo! Sana pergi." Kemudian dengan perasaan kesal cewek cewek itu pergi meninggalkan Edgar dan Raluna.


Edgar melepas jas batiknya perlahan, dan memakaikannya ke Raluna, "astaghfirullah. Maaf kak, Raluna harus pergi." Raluna terkejut saat Edgar menyampirkan jas dipundaknya. Raluna berlari menuju kamar mandi, sebelum itu dia mengambil baju ganti di loker nya.


Edgar masih ditempat yang sama, senyum terulas dibibirnya. "Lo lucu Raluna."


Lama sudah Edgar terdiam sambil tersenyum, empat temannya datang dan memperhatikan ketuanya dengan heran. Kesambet apaan Edgar?


"C*k!!"


"Apaan nj***!"


"Sellow gar, lagian udah 3 menit Lo senyum senyum sendiri. Gue kira Lo kesambet apaan, makanya gue kagetin Lo, biar setannya keluar." jawab Brendan santai.


"Setannya kalian!"


"Udah ayo masuk." ajak Deanno, dari pada adu bacot mending ke kelas.


****


Malam hari Raluna berada dalam rumahnya, dia berbaring diatas kasur ber sprei Flaminggo. Saat sedang asik membaca buku novel pemberian Zara, Raluna teringat bahwa dia hari ini belum kerumah Zara sama sekali.


Raluna melirik jam disebelah kasurnya, masih jam 7. Apa abi, umi nya akan mengizinkan dia pergi kerumah Zara jam segini? Ahh kan ada yang mau antar. Raluna bersiap siap dulu.


Seorang gadis cantik tengah berdiri dihadapan cermin besar, dia sangat cantik dengan dress Sky Blue, kerudung panjang dengan sepatu putih sebagai pelengkapnya. Semua baju baru sudah Usman dan Saidah sediakan. Namun hanya ini yang baru Raluna pakai, toh baju lamanya juga masih bisa dipakai.


Raluna berjalan menuruni satu persatu anak tangga, menuju ruang keluarga dimana Abi dan uminya sekarang lagi duduk berdua. "Abi, umi."


Mereka menolehkan kepalanya, Raluna sudah rapi dan sangat cantik mau kemana dia?, "Nak kamu mau kemana?" Tanya Usman.


"Kerumah Zara Abi, boleh?"


"Boleh. Sini duduk dulu." Usman menepuk pelan sofa disebelahnya, mengisyaratkan Raluna untuk duduk ditengah tengah Saidah dan Usman.


"Nak. Setelah lulus sekolah, kamu mau lanjut ke universitas mana?" Tanya Usman.


Raluna diam sejenak, memikirkan. Jujur ia belum sampai kesana memikirkan apa yang akan ia lakukan setelah lulus, namun Raluna punya cita cita untuk menjadi dokter.


"Enggak tau, terserah Abi saja. Raluna tau Abi akan carikan tempat yang baik buat Raluna." Usman tersenyum, putrinya tetap sama. Raluna akan menyerahkan semua pilihan kepada Usman, karena menurut Raluna pilihan orang tua adalah yang terbaik.


Tidak ada orang tua yang tidak ingin anaknya mendapatkan yang terbaik kan?


Ting tong...


Suara bel menghentikan pembicaraan tiga orang itu. Raluna menoleh, "siapa Abi? Abi ada tamu?"


"Gak ada, biar Abi buka." Usman berjalan menuju pintu utama, membuka pintu dengan sidik jarinya.


Pintu terbuka sempurna, tiga orang kini berdiri dihadapannya. membawa bingkisan dan juga masih banyak lagi.


"Assalamualaikum, Pak Usman Hafizh Ahkam." Pria itu mengucap salah, bisa Usman lihat disebelahnya adalah istri dan disebelahnya lagi adalah putranya.


"Waalaikumsalam.. Sena." Ya dia adalah teman Usman dulu sewaktu awal awal masuk kedalam dunia bisnis.


"Mari masuk."


Raluna mengerutkan keningnya, kak Edgar? Kenapa kesini?


"Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam." Jawab Saidah dan Raluna.


"Mari duduk." Mereka duduk di ruang keluarga. Raluna duduk ditengah tengah antara Usman dan Saidah.


"Umi, Raluna pergi kerumah Zara dulu ya as-" Raluna berbisik kepada Saidah. Namun Saidah menghentikan nya.


"Masuk kamar dulu gih." Suruh saidah berbisik. Raluna menurutinya, sampai dikamar Raluna masih tak habis pikir. Ada apa Edgar kesini? Bawa orang tuanya lagi.


Kembali ke ruang keluarga, makanan dan minuman sudah terhidang dimeja. Pembicaraan pun dimulai oleh Sena yang mengatakan tujuan utama mereka kesini.


"Begini, saya ingin mengikat tali silaturahmi dengan pak Usman." Ucap Sena.


"Alhamdulillah, bagus kita bisa berteman seperti dahulu."


"Oh iya, kebetulan saya ingin tali silaturahmi nya lebih dari teman seperti dulu. Melainkan kita besanan." Lanjut Sena.


Usman tertegun, ia harus menjawab apa? Begitu juga Saidah. Jika Usman setuju apa dia akan melukai hati anaknya? Dan jika dia menolak ia akan membuat Sena kecewa. Pilihan yang amat sangat rumit.


"Alhamdulillah, tapi saya minta maaf sebelumnya untuk itu. Saya butuh persetujuan anak saya." Jawab Saidah, hatinya gelisah. Dan selalu teringat tentang sobekan buku diary Raluna, walau Raluna lupa ingatan tetap saja Saidah tak tega.


Lelaki yang Raluna maksud Saidah sudah mengetahuinya, tapi apa ini ujian untuknya? Ini pilihan yang sulit, disisi lain ia ingin Raluna mendapatkan cinta yang dia lupakan. Tapi disisi lain dia juga tidak ingin membuat keputusan yang terburu buru dan akan membuat putrinya sedih.


"Saya faham Bu Saidah. Anak saya sudah jatuh cinta dengan anak ibu waktu dia pertama kali melihat anak Bu Saidah. Tapi setiap anak saya mendekati anak ibu dia selalu menjauh, saya paham karena belum ada ikatan apapun diantara mereka. Oleh karena itu kami memutuskan untuk melamar Raluna." Tutur mami Edgar.


"Iya, anak saya memang jarang berinteraksi dengan lawan jenisnya." Balas Saidah.


"Sebentar, saya permisi dulu." Saidah bangkit, dia ingin menemui Raluna untuk membahas ini.


Saidah masuk, Raluna kini tengah duduk termenung. "Nak." Sentuhan tangan Saidah membuat Raluna terkejut.


"Astaghfirullah. Iya umi?"


"Umi mau bicara serius sama kamu."


Raluna tersenyum, "bicara apa umi?"


"Mereka kesini melamar kamu nak." Deg Raluna mematung, entah kenapa mendengar ucapan uminya membuat darah dalam tubuhnya seketika dingin.


Jantungnya berpacu tak karuan, ada rasa sedih sekaligus tak bisa menerima didalam hatinya. Raluna kemudian mendongak menatap manik Saidah. "Umi. Apa Raluna masih punya pilihan?"


"Semua orang punya pilihan nak. Untuk saat ini, Abi dan umi tidak bisa langsung mengambil keputusan. Karena kamu juga berhak dalam hal ini."


"Apa pilihannya masih, iya dan tidak umi?" Tanya Raluna lagi, Saidah mengangguk.


Tetes air mata lolos jatuh dari mata indahnya, kenapa ia sangat sedih. Kenapa seperti ada seseorang yang tengah menunggunya, tapi Raluna tidak tau siapa itu.


"Nak.. umi tau kamu masih belum bisa menerima semua ini, umi akan menolak lamaran ini." Ucap saidah. Raluna menatap uminya, dia tidak ingin membuat Abi dan uminya kecewa. Tapi dihatinya seakan meneriakkan penolakan untuk lamaran ini.


"Umi, apa umi akan kecewa dengan jawaban Raluna?"


"Apapun jawaban kamu, Abi dan umi tidak akan pernah kecewa nak." Hati Saidah tak tahan melihat putrinya, melihat sobekan lembar diary Raluna Saidah tau. Raluna sangat mencintai orang itu, memang Raluna tidak pernah bercerita akan hal itu.


Namun sorot mata seorang anak tidak akan mungkin berbohong jika sudah dilihat sang ibu. "Kamu boleh menolak, kalau hati kamu memang bukan untuk Edgar." Ucap saidah, Raluna ingin menyampaikan sesuatu tapi Raluna terlalu malu untuk sekedar menyampaikannya dulu.


"Cinta bisa datang dengan sendirinya umi, kalau Abi dan umi menginginkan hal ini. Raluna menerima lamaran ini." Keputusan sudah Raluna ambil, semoga ini adalah yang terbaik untuknya dan Abi uminya.


"Raluna? Apa kamu yakin? Tanyakan kepada hati kecil kamu. Jangan karena Abi dan umi kamu menerima lamaran ini. Umi tau kamu mencintai seseorang, dan umi dukung itu karena umi tau siapa yang kamu cintai." Raluna tertegun dengan respon Saidah. Kini ia bagaikan berada diantara harus mengorbankan cinta yang dia lupakan, tau memilih mencintai orang baru yang kini melamarnya.


"Umi. Walau Raluna lupa, raluna tau. Kalau Allah takdirkan Raluna dengan laki laki yang Raluna cinta dulu, maka Allah akan pertemukan kita walau terhalang berbagai rintangan dalam bentuk apapun itu, contohnya seperti ini."


Saidah tersenyum mendengar penuturan putrinya, kemudian ibu dan anak itu saling berpelukan.


Raluna dan Saidah turun kebawah, menemui orang yang tengah berbincang. Mereka berdua duduk disebelah Usman sambil mengulas kan senyum tipis.


"Bagaimana Bu Saidah? Raluna mau?"


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Assalamualaikum temen temen, udah sampe di ujung aja nihh. Wkwkwkwk bulan puasa gabut, nulis deh.


.


.


Jangan lupa vote sama komen ya temen temen, jaga kesehatan selalu... Kita jumpa di bab berikutnya dadahhhhhh


.


.


.


Wassalamu'alaikum warahmatullahi wa barakatuh 🙏


.


.


.


15 April 2022