
Apakah akan mempan? Semua seperti berbalik. Yoka memalingkan wajah darinya, kemudian berjalan ke kursi pengemudi.
"Masuk," hanya satu kata dari pemuda yang membawa tas besar dan sebuah paper bag kecil.
Setidaknya dirinya memiliki kesempatan untuk bicara dengan suaminya. Senyuman terlihat di wajah Dora, kali ini memang kesalahannya dilihat dari sisi manapun. Walaupun sejatinya dirinya tidak mengetahui kedatangan Jovan. Namun, bertemu dengan pria lain hanya berdua, bahkan pria yang dikatakan oleh Aldo menaruh perasaan padanya, itu adalah kesalahan besar.
Walaupun Amanda hadir diantara mereka, tidak pernah sekalipun Yoka peduli. Tipikal yang setia? Mungkin itulah Yoka. Dirinya benar-benar bersalah kali ini.
"Sayang... Yang Mulia Suami... mengenai kemarin..." kali ini Dora menekan harga dirinya, bermanja-manja pada suaminya, bahkan menyender di bahunya.
Yoka hanya terdiam, mengangkat panggilan melalui earphonenya sembari mengemudi. Seakan tidak peduli lagi dengan penjelasan istrinya.
"Yoka..." Dora kembali memelas, menunggu suaminya mengakhiri panggilan. Entah dengan siapa.
"Em?" Hanya satu kata, benar-benar satu kata. Mereka termasuk pengantin baru, ini benar-benar suasana yang sulit dijelaskan.
"Awalnya kami keluar hanya untuk membeli buku. Tapi pacar temanku, namanya Aldo ingin aku makan malam dengan temannya. Dia bilang, ini syarat agar Aldo mendapatkan pekerjaan. Aku tidak tega, jadi..." kata-kata Dora terpotong.
"Jika masih menyukainya, itu terserah padamu. Itu adalah perasaanmu." Benar-benar kata-kata menusuk tepat menancap di hati dari bibir Yoka.
"Sayang, aku tidak menyukainya lagi!" tegas Dora. Entah sejak kapan dirinya memanggil sayang pada suaminya. Malu? Dirinya benar-benar malu dengan panggilan tersebut. Namun ini harus dilakukannya, memohon pengampunan pada Yang Mulia Suami.
"Lalu? Kamu akan menyukaiku? Aku bukan tipikal orang yang sepertinya, membebaskan orang yang aku suka melakukan apa saja." Ucap Yoka membuat Dora terdiam, matanya menatap ke arah jendela, langit yang mendung dengan hujan gerimis yang mulai turun.
*
Pada akhirnya mobil terhenti di depan area kampus. Paper bag kecil diberikan oleh pemuda yang masih berada di kursi pengemudi.
"Arsen yang membuatnya, memintaku memberikan padamu," ucapnya, bagaikan enggan menatap ke arah istrinya.
Susu di botol kaca, beserta bekal, baru kemarin disiapkan sendiri oleh suaminya, dan sekarang hanya kepala pelayan yang menyiapkannya? Rasa cinta Yoka sudah berkurang, benar-benar berkurang. Apa Yoka tidak mencintainya lagi?
Dirinya harus hamil, agar dapat mengikat hati suaminya. Seperti kata ibunya, jika suaminya puas di ranjang maka tidak akan mungkin berselingkuh.
"Yoka nanti jemput aku..." pinta Dora.
"Kalau aku sempat," kata-kata lebih acuh dan menyakinkan lagi, keluar dari mulut sang pemuda. Melajukan mobilnya, meninggalkan istrinya yang tertunduk diam.
Dora menghela napas kasar, benar-benar terasa menyakitkan baginya. Apa dirinya sudah tidak berharga lagi? Entahlah namun satu yang pasti dirinya harus berusaha bagaimanapun caranya demi kecebong. Maaf salah demi perasaan yang mulai tumbuh di hatinya.
*
Sekitar 15 menit menunggu, pada akhirnya mobil itu terlihat juga. Hujan deras mengguyur saat ini, dirinya perlahan memasuki mobil milik suaminya. Hanya sunyi tidak banyak kata yang keluar dari mulut mereka.
"Yoka, aku ingin bicara," ucapnya.
"Kita bicara sampai di rumah saja." Jawaban dari suaminya masih konsentrasi pada jalanan di hadapannya.
Dora menggeleng, menelan ludahnya sendiri. Apakah dirinya harus benar-benar menurunkan harga dirinya?
"Bagaimana caranya agar kamu memaafkanku?" tanya wanita yang duduk di sampingnya.
"Kamu tidak salah, akulah yang salah," jawaban ambigu dari Yoka.
Tidak, benar-benar tidak boleh, Yoka hanya miliknya saja.
"Berhenti! Kita bicara sekarang atau aku melompat, turun dari mobil!" bentak Dora, membuat Yoka menghentikan mobilnya di senja hari, di tengah hujan deras, dekat rimbunnya hutan bambu yang berada di sekitar jalan raya. Mengingat mereka hampir memasuki wilayah pedesaan.
"Apa yang ingin kamu katakan? Menginginkan kebebasan? Aku sudah memberikannya." Kata-kata dari mulut Yoka, membuat Dora mengepalkan tangannya. Suara petir beberapa kali terdengar, hujan angin terasa di luar sana.
Dora menggeleng, menatap ke arah suaminya.
"Kamu tidak menginginkanku lagi? Tidak mencintaiku?" ucapnya tertunduk.
"Kamu istriku, karena itu aku mencintaimu," jawaban ambigu Yoka.
Jika harus menjadi murahan maka dirinya akan menjadi murahan. Menginginkan suaminya kembali menjadi protektif dan posesif seperti dulu.
Tengkuk Yoka ditariknya, diraihnya, menyatukan bibir mereka. Berusaha bergerak, menerobos bibir suaminya. Namun, tidak ada respon, sama sekali tidak ada respon. Dirinya benar-benar tidak dicintai lagi.
Menyakitkan? Tentu saja, setelah benar-benar menekan harga dirinya ternyata inilah hasilnya.
"Kamu tidak mencintaiku lagi?" Lagi-lagi pertanyaan itu yang keluar dari mulut Dora, matanya berkaca-kaca seperti menahan tangisnya.
"Kamu istriku, jadi aku mencintaimu," kata-kata itu lagi yang diulangi oleh sang pemuda. Dora terdiam sejenak, membisu, air matanya mulai mengalir tidak dapat ditahan olehnya.
"Aku...aku tahu aku salah, lebih baik aku pulang sendiri saja. Kalau kamu memang tidak berniat menjemputku!" bentak Dora, membuka pintu mobil ditengah hujan deras.
Tidak peduli lagi, Yoka benar-benar marah padanya. Ini memang kesalahannya, namun rasanya menyesakan saat perhatian pemuda itu lenyap sama sekali.
Hingga berjalan sekitar 10 langkah dari mobil, jemari tangannya ditarik. Pemuda yang menariknya ke dalam mobil, lebih tepatnya pintu penumpang bagian belakang.
Menutup pintu itu seakan tidak membiarkan Dora keluar. Tubuh keduanya basah kuyup, Yoka tiba-tiba memangut bibir istrinya agresif. Apa sebenarnya yang ada di fikiran pemuda ini? Entahlah, Dora hanya mulai memejamkan matanya, menikmati segalanya. Mengeratkan pelukannya pada tubuh pemuda yang basah.
Yoka adalah miliknya, hanya miliknya, hanya boleh mencintainya. Posisi pemuda itu dibaliknya, duduk tepat dipangkuan Yoka, mata mereka saling bertatapan.
"Aku mencintaimu!" bentak Dora pada suaminya, mencium bibirnya agresif, bahkan membuka kancing kemeja sang pemuda. Ciuman yang turun ke area leher Yoka.
Yoka hanya terdiam, tersenyum tanpa disadari Dora yang tengah merayapkan bibirnya di area leher suaminya. Menginginkan Yoka membalas tindakannya.
Pemuda yang mengigit bagian bawah bibirnya sendiri, berusaha agar menekan prilaku agresifnya. Membiarkan istrinya berinisiatif.
Marah? Sejatinya tidak.
Malam saat Yoka meninggalkan Dora di cafe. Apa yang terjadi sebenarnya? Pemuda itu turun dari mobil, setelah beberapa puluh meter. Mengawasi istrinya yang terdiam menunduk di halte. Bersembunyi ditengah hujan gerimis, membiarkan tubuhnya diterpa air hujan. Tidak ingin hal buruk terjadi pada istrinya.
Hingga kedatangan Arsen yang diberikannya pesan agar memelankan laju mobilnya menuju villa.
Pemuda yang tersenyum menatap istrinya memasuki mobil. Waktu yang telah diaturnya agar sampai lebih dulu dibandingkan Dora.
Mengapa?
"Aku mencintaimu..." gumamnya. Berjalan meninggalkan halte, menunju tempat Samy menunggunya untuk kembali ke villa. Pemuda yang ingin mengendalikan hati istrinya.