
Mobil melaju memasuki kediaman, tidak ada yang terjadi beberapa bulan ini. Dora menghela napasnya berkali-kali, menatap ke arah rumah besar di hadapannya.
Semua orang bagaikan benar-benar menanti kepulangan Yoka. Entah untuk mengusir dirinya atau untuk sekedar membunuh suaminya.
Memakai daster dengan bahan katun yang cukup tebal. Mengelus perutnya sendiri, gen kembar? Mungkin iya, itulah yang menyebabkan impian Yoka terwujud, seperti imajinasinya. Memiliki anak kembar laki-laki dan perempuan. Hasil USG yang sudah terlihat.
Perut yang lebih besar daripada wanita hamil pada umumnya, membuatnya kesulitan bergerak. Namun, wanita itu tidak mengambil cuti kuliah. Mungkin akan mengambilnya saat mendekati tanggal persalinan nanti.
Melangkah perlahan dibantu oleh Narendra. Sampai saat ini Zou dan Arsen, masih memperhatikannya. Namun hanya tidak dapat memperlihatkannya saja. Seperti kata Dora ini untuk keamanan sepasang majikan mereka yang belum lahir.
"Jangan manja..." cibir Anggeline mengenyitkan keningnya.
Dora mengalihkan pandangannya padanya."Iri?" tanyanya.
"Siapa yang iri pada wanita yang mengkhianati suaminya! Aku tidak iri sama sekali!" bentak Anggeline, tapi sejatinya sedikit melirik ke arah perut Dora. Masih penasaran dengan siapa ayah dari anak tersebut.
"Kalau begitu jangan banyak mengeluh, jika Yoka kembali tinggal mengadu padanya," jawaban dari Dora, melangkah menaiki tangga menuju lantai dua. Sedangkan Narendra berjalan menuju ruang kerja.
Anggeline terdiam sejenak, menghela napas kasar. Dirinya membenci Dora. Mengapa? Wanita itu mengingatkannya pada Dorothy, yang didorongnya. Adiknya yang mungkin sudah meninggal, dosa terbesar yang pernah dilakukannya. Namun setetes air matanya mengalir.
"Aku tidak salah..." gumamnya, mengepalkan tangannya. Ingin benar-benar menghapus tentang masa lalunya. Seorang adik yang didorongnya ke jalanan, tertabrak mobil yang melaju kencang, dengan tubuh berlumuran darah segar.
*
Malam semakin menjelang, wanita yang telah membersihkan dirinya menatap ke arah cermin. Wajah suaminya terbayang di benaknya, memeluknya dari belakang.
"Aku tidak menyukaimu yang gemuk. Kamu tidak menarik lagi seperti Anggeline," bisik fatamorgana Yoka menyeringai.
Ketakutan? Memiliki suami yang benar-benar sulit ditebak. Mungkin saja saat Yoka kembali akan membawa wanita lain, atau kembali pada Anggeline.
Apa yang Chery katakan adalah kebenaran? Anak konglomerat, kaya, pintar, rupawan akan ada banyak wanita yang mendekat. Sedangkan dirinya hanya seorang istri yang kini gemuk. Tidak secantik Anggeline. Perutnya dielus pelan olehnya.
Wajahnya berusaha tersenyum. Hingga sebuah pesan masuk di phonecellnya. Pesan dari Hudson.
'Yoka akan pulang dua minggu lagi. Rahasiakan ini dari orang lain. Dia hanya ingin kamu tidak cemas,' Itulah isi pesan yang dituliskannya.
Seketika wanita hamil itu tersenyum-senyum sendiri. Menjerit bagaikan memenangkan hadiah utama mobil. Suaminya benar-benar akan pulang lebih awal.
Wanita hamil yang tertawa merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Foto besar pernikahan mereka ditatapnya.
"Si bisu sialan!" teriaknya, seakan melupakan prasangka buruknya. Mulai memejamkan matanya tidak sabar menunggu waktu berlalu.
*
Tapi apa benar? Pagi ini dirinya pergi ke kampus seperti biasanya. Mengingat jadwal kuliahnya yang padat. Matanya menelisik menatap ke arah dua orang wanita yang juga turun dari mobil.
Mela dan Lala, dua orang wanita yang sebelumnya terlibat masalah dengan suaminya. Tapi ada yang aneh, dua orang yang terlihat lebih kurus, sekaligus kebingungan.
"Dia tidak menghubungi kita..." gumam Lala.
"Kalau begitu kita cari pria lain. Pasti ada yang mau kan?" Mela memegang tangan sahabatnya. Tangan mereka terlihat gemetar, dalam keadaan yang tidak baik-baik saja. Dua mahasiswi dari jurusan manajemen dan bisnis.
Sudah banyak hal yang dipelajari Dora selama kuliah. Ciri-ciri fisik, melukai diri sendiri, terlihat dari beberapa luka goresan di bagian tangan."Kecanduan," kesimpulan yang diambilnya.
Dora berjalan mendekati mereka. Menghela napas kasar berusaha untuk tersenyum."Kalian butuh uang?" tanyanya.
"Kamu mau membeli mobilku?" tanya Mela, penuh harap.
"Aku tidak perlu mobil. Aku hanya ingin kalian menceritakan hal yang terjadi pada kalian. Maka aku akan memberikan uang langsung ke rekening kalian..." ucapnya tersenyum, menunjukkan handphonenya dengan mobile banking berbagai bank.
Kedua orang itu mengangguk menyetujui.
*
Sebuah cafe dekat kampus menjadi tempat mereka berada saat ini. Menunggu mata kuliah selanjutnya yang akan berlangsung sekitar satu jam lagi.
"Ceritakan kenapa kalian bisa menjadi pecandu?" Dora meminum minuman di hadapannya.
"Kamu tahu? Jangan katakan pada orang lain. Aku mohon..." pinta Lala.
"Aku tidak akan mengatakannya. Bahkan memberikan kalian uang. Tapi ceritakan dulu, kenapa kalian bisa seperti ini," ucapnya.
Mereka saling melirik, kemudian mengangguk menyetujui.
"Sebenarnya beberapa bulan yang lalu, kami berkenalan dengan seorang mahasiswa baru bernama Kouga..." kata-kata Lala tiba-tiba disela.
"Kalian berkenalan dimana?" tanya Dora dengan jemari tangan gemetar. Berharap itu bukan ulah suaminya.
"Di toilet wanita, di kampus ..." jawaban dari Lala.
Badan Dora lemas seketika hanya dapat menghela napasnya. Menakutkan? Sosok asli suaminya memang benar-benar menakutkan. Naluri bertahan hidupnya entah kenapa selalu berfungsi jika berada di dekat tiga orang itu. Yoka, Samy dan satu orang lagi.
"Lanjutkan, apa yang sebenarnya terjadi?" pertanyaan dari Dora, dengan bibir yang bergetar. Dirinya mencintai Yoka, namun terkadang benar-benar ketakutan dengan sosok yang bersembunyi di balik kasih sayang suaminya.
"Kouga menawari kami pekerjaan sebagai translator artikel asing. Tapi syarat masuk ke perusahaan adalah tidur dengan petinggi perusahaan. Kami fikir hanya sekali, jadi kami akhirnya bersedia. Bayarannya besar untuk sekali kencan dan kami juga diterima untuk bekerja,"
"Tapi itu hanya sementara. Kami rasa sudah cukup mempunyai banyak uang. Jadi kami ingin berhenti, lagi pula petinggi perusahaan melakukan hubungan dengan cara-cara yang menyakitkan. Tapi dia belum bosan, jadi memaksa kami mengkonsumsi narkotika agar bergantung padanya. Setelah dia bosan dia meninggalkan kami. Aku mohon tolong beri kami uang..." pinta Mela menangis sesenggukan. Sekujur tubuhnya terasa sakit, telah bergantung pada narkotika.
Mengerikan? Suaminya benar-benar mengerikan, mendorong kedua wanita ini ke dalam jaring laba-laba. Dora mengelus perutnya sendiri. Dirinya harus melarikan diri dari Yoka.
"Aku akan membantu kalian. Tapi tidak dengan memberikan uang. Kalian harus mengikuti rehabilitasi, aku berjanji akan merahasiakannya dari pihak kampus dan orang tua kalian. Aku sendiri yang akan mengatur segalanya agar kalian sembuh dari ketergantungan," janji Dora.
Dua orang yang terdiam dalam kebimbangan, tubuh mereka masih gemetar saat ini. Memerlukan narkotika, yang mulai dicekoki pada mereka sekitar satu setengah bulan lalu.
"Jangan malu, takut, atau ragu. Aku akan membantu kalian..." lanjut Dora.
"Karena ini kesalahanku," batinnya, menatap kedua orang wanita di hadapannya. Sifat menyerupai Melda? Mungkin iya, Yoka melakukannya untuk dirinya. Jadi ini kesalahannya.
Kini bukan bayangan tentang suaminya yang akan mencintai wanita lain, terbayang. Namun, betapa mengerikan iblis yang akan segera kembali.
Janji Yoka setelah mereka melewati malam pertama mereka terbayang."Aku akan melindungimu dan anak kita nanti. Walaupun harus menjadi iblis," Kata-kata yang pernah diucapkan sang pemuda yang dulunya kesulitan bicara. Sosok dingin yang bagaikan menyeringai.
"Aku harus segera pergi..." batin Dora benar-benar ketakutan mendengar cerita dari dua orang mahasiswi di hadapannya.