
Pintu mobil dibukakan pelayan, beberapa pelayan berjejer, menunduk memberi hormat pada tuan muda mereka. Tuan muda yang baru pertama kali menginjakkan kaki di rumah ini semenjak sekian belas tahun.
Zou masih berdiri di sana mengenakan kacamata minimalis namun terkesan modern. Tepatnya di pintu depan, sedikit menunduk pada tuan mudanya.
"Tuan muda akhirnya anda pulang," ucapnya dengan air mata tertahan.
"Aku pulang, karena ingin memperkenalkan istriku, orang yang akan melahirkan anak-anakku, pada paman," Yoka tersenyum padanya. Pria yang selalu setia pada almarhum kakeknya, Reksa.
"Nyonya muda." Zou menunduk memberi hormat, pada akhirnya keturunan Reksa tidak akan pupus. Tidak akan berakhir seperti ini.
Dora mulai menipiskan bibir menahan tawanya. Dirinya menjadi nyonya muda, ingin rasanya wanita itu tertawa berguling-guling. Baru beberapa bulan yang lalu dirinya mengendarai motor bebek, menjadi wanita patah hati yang merana. Dan sekarang menjadi nyonya muda?
Plak!
Kali ini kepala Dora yang dipukul dari belakang oleh Samy.
"Jangan banyak berkhayal! Ini adalah sarang penyamun, mungkin kamu akan mati mengenaskan disini!" ucap Samy tiba-tiba.
"Dasar! Menyebalkan! Pergi sana!" bentak Dora.
"Aku memang akan pergi. Omong-omong berapa kali Yoka menciummu, sampai pelembab bibirmu berantakan?" Samy mengenyitkan keningnya, berjalan masuk lebih dulu.
"Sial! Tadi sudah aku rapikan!" umpat Dora mengambil cermin kecil dan pelembab bibir di tas tangannya. Mengamati penampilan make-upnya yang rapi.
"Memalukan..." Yoka berjalan mengikuti langkah Samy.
"Aku mana tahu dia membohongiku! Tunggu!" teriak Dora mengikuti langkah Yoka.
Rumah yang benar-benar luas, berada di pusat kota. Mata Dora menelisik, semakin mendekat ke arah suaminya, menggenggam tangannya erat. Apa benar yang dikatakan Samy dirinya bisa mati kapan saja di rumah ini? Apa mereka akan mengirim santet? Teluh? Menggunakan singal WiFi jarak dekat? Entah mungkin harus ditanyakan langsung pada rumput yang bergoyang.
Hingga Narendra terlihat duduk di sofa, tenang seperti biasanya, benar-benar seorang ayah yang keji. Tapi siapapun tidak akan dapat menebak apa yang ada dalam hati manusia.
Putranya? Sudah belasan tahun Yoka tidak pulang ke rumah ini. Tepatnya sejak Martin membawanya untuk menenangkan diri ke villa. Merindukan segalanya? Tentu saja, anak yang selalu menjadi putra kebanggaannya, kini menatapnya seakan bagaikan musuh. Istri yang dicintainya, sudah lama mati di tangannya. Tidak ada kebahagiaan sama sekali, itulah keinginannya bukan?
Wajah kaku yang berpura-pura tersenyum belasan tahun ini, menyimpan segalanya seorang diri. Penyesalan membunuh istrinya sendiri, namun dirinya juga tidak boleh menyesal. Tidak ada yang boleh bahagia, takdir pahit yang akan diingatnya, saat dirinya menatap cermin.
"Sudah datang? Kalian benar-benar bersama, jangan mencintai seorang wanita rendahan..." cibir Narendra, menatap ke arah putranya.
"Ayah boleh meniduri adik angkat ibuku setiap hari. Jadi aku juga boleh meniduri wanita yang aku cintai," jawaban dari Yoka.
"Ayo kita makan malam, semua orang sudah menunggumu." Narendra mulai bangkit, tidak melanjutkan kata-katanya lagi. Berjalan menuju meja makan.
Mata Yoka menelisik, tidak ada satupun foto ibunya disini. Ayahnya sudah benar-benar melupakan ibunya, apa karena perselingkuhan? Lebih mencintai Salsa?
Hingga ruang makan terlihat, Yoka mengepalkan tangannya. Tidak ada satu perabotan pun yang berubah. Zou mempertahankan segalanya, mungkin kecuali foto Melda.
Segalanya masih diingat oleh pemuda itu. Kala ayahnya tertawa mengejek kue pertama buatan Melda. Sang ibu yang kesal melempar kue ke arah wajah Narendra. Marah? Mereka hanya tertawa pada akhirnya.
Membawa Yoka ke restauran untuk merayakan ulang tahunnya, seperti biasanya anak itu akan naik ke punggung ayahnya. Tapi kenangan dan tawa itu tidak ada lagi, semuanya sudah menghilang tanpa sisa.
Yoka duduk berdampingan dengan Dora, sedangkan Samy duduk berhadapan dengan mereka.
"Besok ayah akan memberikannya pada Martin," jawaban dari Narendra, yang juga masih konsentrasi pada makanannya.
Anggeline mengepalkan tangannya, ini benar-benar sudah keterlaluan. Yoka meminta saham? Sedangkan banyak aset bernilai tinggi yang sudah ada di tangannya. Mata Anggeline menelisik, mengamati wajah suram dari Malik. Pemuda yang tidak dapat menjawab atau berkata-kata.
"Sayang, jika Yoka mendapatkan bagian saham Reksa sekarang. Maka kita akan lebih sulit mengendalikan pemegang saham lainnya. Jadi..." Kata-kata Salsa disela.
"Sudah 16 tahun aku tidak memintanya, bibi..." tegas Yoka, penuh senyuman.
"Bibi?! Aku ibumu! Lagi pula kamu sudah memiliki banyak aset. Kenapa meminta..." Kalimat Salsa lagi-lagi terhenti.
"Untuk anakku nanti, darah kakekku mengalir dalam dirinya. Apa kamu punya darah berharga dari kakekku? Jika punya, maka aku akan membagi sahamnya denganmu." Tusukan tajam tidak terlihat tepat menancap di hati Salsa.
Wanita yang menahan amarahnya, sudah 16 tahun dirinya berusaha merebut perhatian Narendra, tapi tidak membawakan hasil sama sekali. Pria berhati dingin baginya, dan sekarang Yoka meminta segalanya?
"Malik..." bisik Anggeline menepuk pergelangan tangan suaminya. Bermaksud agar Malik bicara pada Narendra.
Namun, Malik hanya tertunduk diam. Tidak mengatakan apapun. Menyadari statusnya disini hanya anak tiri.
"Jika kamu tidak bicara, maka aku yang akan bicara!" tegas Anggeline tiba-tiba, bagaikan wonder woman yang ingin membela suaminya.
Perhatian semua orang kini tertuju pada Anggeline. Sedangkan Malik, menarik ujung pakaian istrinya.
"Anggeline diam..." ucapnya dengan suara kecil.
"Sayang, kamu terlalu baik. Jadi aku tidak rela kamu diinjak-injak seperti ini." Semangat berkobar demi uang. Maaf salah, demi cinta hingga lautan api pun akan diseberanginya.
"Aku tidak akan bisa diam jika kamu terus diinjak-injak seperti ini." Angeline menyakinkan suaminya. Sedangkan suaminya memijit pelipisnya sendiri.
Wanita itu menghela napas kasar, sudah cukup keuangan suaminya yang bekerja keras di perusahaan dibatasi. Suami yang sempurna, tidak bisu seperti Yoka yang dulu.
"Ayah mertua! Malik juga anakmu! Dia juga berhak atas segalanya! Selama ini Malik sudah bersabar keuangannya dibatasi! Dia bekerja di perusahaan, tidak seperti Yoka yang hanya tinggal di villa!"
"Aku menuntut keadilan untuk suamiku! Apa salah?! Kalian harusnya sadar! Terutama kamu Yoka, apa begitu prilakumu pada ibu kandungmu? Dulu aku fikir kamu cuma pria bisu yang lugu. Tenyata kamu sepicik ini, menginginkan sesuatu yang menjadi hak kakakmu sendiri! Kalian lahir dari rahim yang sama!" Komat-kamit mulut Anggeline berucap, mungkin tinggal menyemburkan air maka dirinya akan menjadi Mbah Dukun.
Tidak ada yang menanggapi, Narendra, Yoka, bahkan Dora tetap makan dengan tenang. Sedangkan satu-satunya yang tertawa disini hanya Samy.
"Kenapa tertawa?! Ini tidak lucu!" bentak Anggeline.
"Rahim yang sama? Memang siapa yang melahirkan Yoka?" tanya Samy meminum air putih menetralkan tawanya.
"Tentu saja ibu mertuaku, Salsa!" jawabnya.
Zou menyela, meraih red wine, dituangkannya satu persatu ke dalam gelas setiap orang yang ada di sana.
"Tuan Narendra hanya punya seorang putra dari pernikahan pertamanya, tuan muda Yoka. Sedangkan Malik adalah anak sambung dari Salsa, tidak memiliki hubungan darah dengan tuan Narendra. Bagian saham yang dimaksud adalah saham milik almarhum tuan Reksa, saham yang diwariskan pada Melda, kemudian pada Yoka," ucap Zou tenang.
"Ta...tapi Reksa nama ayah dari ibu mertuaku kan?" tanya Anggeline dengan wajah pucat pasi.
"Hanya anak angkat tuan Reksa yang tidak tahu diri dengan statusnya, merangkak ke ranjang suami dari anak kandung. Benar begitu Salsa?" kata-kata dari Zou dengan tenang, menuangkan red wine ke dalam gelas Salsa. Jemari tangan wanita itu mengepal, sudah diduga olehnya ular ini akan bergerak cepat atau lambat untuk menelannya.