Silent

Silent
Seperti Balon



Pagi ini seorang pemuda terbangun dari tidurnya. Membersihkan tubuhnya, menatap penampilannya di cermin. Tampan? Tentu saja, seperti rupa ayahnya.


Sejenak dirinya terdiam, benar-benar berusaha tersenyum. Sedikit lagi, sedikit lagi tujuannya akan terwujud. Foto ibunya terpajang di sana, perlahan dirinya mencium kening, foto berukuran 10R itu.


Berjalan keluar dari kamar, menanti hal menarik apa lagi yang akan didapatkannya hari ini.


Senyap (Silent)? Dirinya juga harus terdiam menyimpan banyak rahasia pahit. Hutang harus dibayar, jemari tangannya mengepal benar-benar membenci sosok Narendra.


Alasannya? Sesuatu yang akan disimpannya, mengatakan hal yang sebenarnya terjadi, kala menyaksikan akhir hidup dari Narendra. Tidak ingin pria itu meminta maaf, hanya ingin melihatnya mati, dengan kata yang tidak dapat terucap.


Hingga dirinya melangkah keluar, menatap Yoka yang berjalan menuruni tangga. Diikuti dengan seorang pinguin, maaf salah, Dora yang berjalan layaknya seekor pinguin.


"Apa sakit?" tanya Samy mengenyitkan keningnya.


Plak!


Dora memukul kepala pemuda itu, menjambak rambutnya penuh angkara murka.


"Tentu saja! Dokter mana yang kamu panggil! Kamu tidak memanggil dokter kan?!" bentak Dora dengan nada tinggi.


"Aku memanggil dokter," Samy memegang tangan Dora agar menghentikan jambakannya.


"Dokter apa?!" tanya Dora lagi.


"Dokter cinta, di luar hujan deras. Yoka keracunan afrodisiak, jika dibiarkan maka dia mungkin akan mengalami masalah dalam tubuhnya. Karena itu, terimakasih sudah membantunya..." ucap Samy penuh haru, mengeluarkan tissuenya, menyeka air matanya yang tidak mengalir.


"Kamu tau ada yang tidak beres denganku?" Yoka menatap tajam ke arah sang pemuda yang tersenyum padanya. Samy mengangguk, mengeluarkan botol kecil yang sebelumnya dibawa oleh Amanda.


"Aku tahu, tapi sebelumnya kita harus ke rumah sakit memeriksa keadaan mentalmu. Apa penyebab kamu bersedia atau lebih tepatnya, dapat bicara?" Senyuman terlihat di bibir Samy melirik ke arah Dora.


"Tidak perlu, selama ini, aku hanya tidak ingin bicara..." jawaban dari Yoka, berjalan pergi menarik tangan Dora.


Samy menghela napas kasar, menatap ke arah punggung Yoka.


Apa alasannya Yoka tidak dapat bicara? Bukan hanya trauma psikologis yang dialaminya. Namun sebuah rahasia yang disimpannya. Anak 11 tahun yang melindungi ayah yang tidak mengasihinya.


Kejadian 15 tahun yang lalu masih terekam jelas di benaknya.


"Samy! Jangan menangis!" bentak Martin pada putranya, yang tengah berada bersamanya di rumah sakit.


Anak itu hanya mengangguk, menghapus air matanya. Matanya menelisik menatap ke arah seorang anak yang terdiam dengan tatapan kosong.


Martin perlahan berjalan mendekati Yoka, menggenggam jemari tangannya.


"Yoka ibumu sudah tidak ada, doakan dia saat pemakaman nanti. Menggantikan ayahmu yang masih berada di luar negeri," pinta Martin pelan, Yoka tidak bicara sama sekali hanya mengangguk.


Samy berjalan mendekatinya, memegang jemari tangannya.


"Boleh aku memanggilmu kakak?" tanyanya, Yoka hanya mengangguk, fikirannya benar-benar kosong saat itu.


"Mau bermain denganku?" tanya Samy lagi, sedangkan Martin hanya tersenyum. Mengusap rambut putra tunggalnya.


*


Sebuah pemakaman sederhana, mengingat tubuh yang dikremasi. Ini adalah keputusan Martin, satu-satunya kerabat yang tersisa dari Melda hanya Salsa, anak angkat dari keluarga wanita itu.


Nona yang dijaganya selamanya hanya Melda, bukan Salsa adik angkat yang diadopsi oleh almarhum orang tua Melda. Hanya Melda, nona muda yang cantik dan selalu tersenyum, seseorang yang membuatnya memendam rasa kagum.


Tidak disangka olehnya, rasa kasih tulus yang diberikan nonanya pada Narendra, seorang pemuda yang dijodohkan dengannya, berakhir seperti ini.


Membencinya? Tentu saja, Martin hanya dapat tersenyum getir, menahan air matanya yang hendak keluar, menatap Yoka dan Samy yang bermain bersama usai pemakaman.


"Ayah dia bicara!" ucap Samy mendengar suara dari bibir Yoka. Setelah terdiam selama dua hari.


"Yoka, kamu ingin apa? Apa kamu ingin pergi ke taman bermain bersama kami?" tanyanya, berlutut mensejajarkan tingginya dengan kedua orang anak.


"Aku ingin ke pantai. Menemui ibu..." ucap Yoka, membuat Samy menoleh bingung pada ayahnya.


"Kamu ingin menemui ibumu? Petikan beberapa bunga untuknya, kita akan menebarnya di laut," Martin tersenyum, memeluk tubuh Yoka yang sudah mulai dapat bicara. Yoka mengangguk, melepaskan pelukan Martin, berjalan ke bagian depan rumahnya, memetik beberapa helai bunga.


"Ayah?" Samy menonggakkan kepalanya.


"Ini adalah tugasmu, ingat ini...."


Banyak hal yang Martin katakan pada putranya saat itu. Anak yang cukup pintar untuk mengerti segalanya. Air matanya mengalir tersenyum getir, perampok? Pelaku perencana pembunuhan Melda adalah Narendra. Sesuatu yang terngiang dalam benak Samy.


*


Sudah lebih dari 30 menit menunggu Yoka, dirinya tersenyum. Mengenakan pakaian rapi, membawa seikat bunga yang juga dipetiknya dari kebun bunga milik Melda.


Matanya menelisik mencari keberadaan Yoka di setiap sudut rumah. Sedangkan Martin sudah menunggu mereka dalam mobil.


Hingga Samy menghentikan langkahnya, menatap Yoka yang berdiri dalam diam di depan ruangan dengan pintu sedikit terbuka. Perlahan Samy berjalan mendekatinya.


"Yo ..." kata-katanya terhenti, menatap Yoka yang diam tertegun, menyaksikan Salsa dan Narendra melakukan hubungan badan.


Air matanya mengalir, bibi yang ditampung ibunya pasca bercerai. Hanya anak angkat dari keluarga ibunya, kini berhubungan dengan ayahnya. Beberapa hari setelah kepergian ibunya.


"Aku membenci Melda, aku membencinya, dia pantas mati..." kata-kata dari ayahnya tidak menyadari keberadaan putranya.


Membenci ibunya? Masih teringat jelas dibenaknya kala ayahnya sakit. Melda membuatkan bubur labu untuk ayahnya yang kesulitan makan.


Pantas mati? Wanita itu adalah ibunya, seorang wanita yang seakan tidak pernah lelah. Pulang dari pekerjaannya, membuatkan mereka cemilan, bermain game bahkan mengajarinya soal yang sulit hingga larut.


Apa ibunya memang pantas mati? Jemari tangannya gemetar. Tidak dapat berkata apapun.


"Aku senang, pembunuh yang aku kirim melakukan tugasnya!" Kata-kata Narendra dalam pengaruh alkohol, menjamah tubuh Salsa.


Ini perbuatan ayahnya, ternyata ayahnya. Hanya terdiam, tidak ada yang dapat dilindunginya lagi selain Narendra. Tidak ingin berbicara, tidak ingin mengatakan ayahnya sendiri yang membunuh ibunya.


Dendam? Pada siapa? Hanya Narendra yang dimilikinya kini. Satu-satunya orang yang seharusnya mencintainya.


Terdiam dalam kebisuan, mengunci hatinya hanya memiliki Narendra sebagai satu satunya orang yang dapat dipanggilnya keluarga.


Yoka menutup pintu di hadapannya. Menggelengkan kepalanya, tidak ingin Samy mengatakannya pada siapapun.


Samy mengangguk, namun tiba-tiba memeluk tubuh Yoka. Menangis terisak, bahkan menjerit. Tangan Yoka masih gemetar, membalas pelukannya. Menangis dalam diam.


Menghubungi psikiater? Yoka masih terdiam tidak memiliki keinginan untuk bicara. Bicara hanya akan dapat menyakiti ayahnya, membuka keburukan pria yang menyayanginya hingga dirinya berusia 11 tahun.


Tidak mengatakan apapun pada Martin, Samy hanya terdiam menatap ke arah Yoka, yang menemui psikiater. Tapi tidak ada hasil sama sekali, Yoka masih hanya membisu.


Mungkin memang hanya Samy yang mengetahui segalanya. Mengetahui cara agar Yoka kembali bicara.


*


Saat ini, villa milik Yoka.


Samy tersenyum, menatap Yoka yang menarik Dora pergi seakan takut kehilangannya. Apa yang membuat Yoka bersedia untuk bicara? Menepis segala traumanya?


Melindungi, kini Dora adalah keluarganya, seseorang yang akan melahirkan anak untuknya. Rasa peduli pada Narendra yang memudar, tempat di hatinya yang dipenuhi dengan gadis ini.


Wanita yang memudarkan ketakutannya akan kegelapan. Membuat Yoka bersedia bicara, mengeluarkan suaranya, hanya agar tidak kehilangannya.


Wajah Samy tersenyum, meraih kunci mobilnya.


"Aku ikut! Aku tau tempat gaun pengantin yang memiliki desain bagus. Kalian sudah melakukan dosa besar! Lebih baik menikah saja, sebelum perut Dora membesar seperti balon! Jika meletus bisa berbahaya..." ucapnya mengejar langkah Yoka dan Dora.


Plak!


Hanya satu pukulan dari Dora melayang tepat di kepalanya.