
Assalamualaikum temen temen, Alhamdulillah bisa up lagi nihhh.
.
.
Siap baca?? Tarik nafas dulu!!
.
.
Dua Minggu kemudian hempaskan. Bercanda wkwkwk.
.
.
Happy Reading ♥️
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
"Assalamualaikum." Raluna dan Zara mengucap salam, selang beberapa detik jawaban salam terdengar. Pemilik toko akhirnya keluar.
"Waalaikumsalam, mau beli apa nak?"
"Mau beli es batu buk."
"Ohh es batu, apa lagi?"
"Es batunya dua bungkus, lima mangkok, susu Frisian flag putih dua kaleng, air mineral dua."
"Sebentar saya ambilkan dulu." Tak lama kemudian pemilik toko itu datang dengan pesanan mereka, setelah itu keranjang sepeda mereka berdua penuh dadakan. Canda ria menghiasi mereka naik sepeda.
Setelah sampai ketempat mereka tadi, ternyata pak Dul sudah menggelarkan alas untuk mereka duduk.
"Assalamualaikum, pak Dul makasi."
"Waalaikumsalam, sama sama non, kalau begitu kami permisi dulu."
"Iya, nanti Raluna kasih sesuatu buat pak Dul dan temen pak Dul."
"Siap terimakasih non."
"Iya sama sama."
"Kalau begitu saya permisi, assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
Kini dua gadis itu sudah menaruh semua bahan untuk mereka membuat pisang susu es. Raluna memberi Zara beberapa pisang untuk dia potong potong. "Zara potong potong ya pisangnya, nanti taruh di lima mangkok ini ya."
"Oke."
Sementara Raluna dia membuka es dan menaruhnya di masing masing mangkok, kini pisang pisang sudah Zara potong dan bagi rata di semua mangkok.
Raluna menuangkan susu satu persatu ke masing masing mangkok, kemudian lima mangkok pisang susu es sudah jadi. Raluna memandangnya takjub sungguh indah dan akan lezat rasanya.
Raluna dan Zara memberikan tiga mangkok pisang susu es untuk pak Dul dan temannya. Kemudian kembali duduk menikmati pisang susu es itu.
"Enak.." puji Zara.
"Kenapa bisa kepikiran buat seperti ini Raluna?" tanya Zara.
"Udah lama Raluna sering buat itu, waktu itu Raluna dikasih pisang sama pak ustadz waktu Raluna mengaji. Saat itu masih ramadhan jadi Raluna kepikiran buat mengolah pisang susu es ini jadi takjil."
"Wahh, hebat. Enak banget Lo na."
"Ramadhan kan hampir tiba, nanti buat takjil kaya gini. Nanti di bagiin."
"Boleh boleh." dua gadis itu duduk menikmati kreasi mereka. Menikmati sejuknya alam ditempati es yang mereka buat.
Akhirnya setelah lelah bermain, mereka kembali lagi kerumah Raluna. Sampai dirumah raluna menceritakan semuaa pengalaman mereka berdua kepada Saidah.
"Benarkah? Mereka suka sama pisang susu es nya?"
"Iya umi, kata pak Dul enak banget pisang susu es nya."
"Kata Zara juga, iyakan Zara."
"Iya umi, enak! Zara kasih usulan pas ramadhan nanti kita mau buat lagi terus dibagiin."
Saidah tersenyum, "bagus tuh, nanti umi bantuin. nanti umi buatkan makanan juga."
"Terimakasih umi, gak sabar nyambut ramadhan."
.
.
.
Tak terasa besok sudah bulan ramadhan, kini Saidah Usman dan Raluna bersiap untuk pergi ke desa. Berziarah ke makam ayah dan ibu Usman. Mereka menaiki Alphard putih menuju desa.
Akhirnya setelah menempuh perjalanan yang cukup jauh mereka tiba dirumah lama Usman dan Saidah. Mereka turun dan langsung masuk kedalam. Masih sama keadaannya seperti mereka meninggalkan tempat ini.
Mereka berjalan menuju pemakaman, setelah sampai Usman membacakan Yasin, sementara Raluna menaburkan bunga mawar dan melati yang tadi ia bawa.
Tak lupa pula mereka juga menaburkan bunga bunga itu diseluruh makam disana, setelah selesai berdoa mereka akhirnya memutuskan untuk pulang.
°°°°
Tak terasa ramadhan sudah memasuki hari ke lima, Raluna dan Zara kini mengendarai sepeda pancal untuk ngabuburit. Tak lupa pula mereka membeli takjil untuk dimakan saat buka nanti, Zara memaksa Raluna untuk berbuka puasa dirumahnya nanti.
Gamis coksu dan training yang mereka gunakan, memudahkan mereka mengayuh sepeda. Tak jarang ada yang mengira mereka bahwa mereka adalah gadis kembar, tapi nyatanya bukan.
Mereka mengayuh sepeda sepanjang jalan, semburat oranye sudah terlihat, hari mulai sore. Mereka terhenti karena sejumlah orang membagikan makanan dan juga takjil untuk mereka. Akhirnya setelah menerima itu mereka kembali kerumah Raluna.
Jarak mereka ngaburit memang tidak terlalu jauh, bisa dibilang 4km an. Raluna menaruh sepedanya diparkiran, mereka berjalan menuju pintu utama dan Raluna segera membuka pintu itu dengan men scan sidik jarinya.
"Assalamualaikum, umi Abi! Kita pulang."
"Waalaikumsalam."
Mereka menyalami punggung tangan Saidah dan Usman, "umi, Abi Raluna diajak Zara buka puasa dirumah Zara. Boleh gak?"
Saidah tersenyum, "boleh lah, masa gak boleh."
"Oh iya, itu apa? Dapet takjil?" Tanya Usman.
"Ahh iya, ini tadi dikasih waktu mau pulang."
"Umi Raluna ambil sambalnya ya, nanti nasinya taruh disini aja."
Saidah mengangguk, "iya, nanti kerumah Zara dianterin sama pak Dul ya."
"Iya umi."
"Ayo Zara kekamar aku ganti baju." Raluna menarik tangan Zara menaiki satu persatu anak tangga.
Mereka kini sudah siap, jam menunjukkan pukul 16,37. Mereka bercermin, gamis pink kini mereka gunakan, dengan kerudung dan sepatu yang sama.
Mereka berdua turun dan berpamitan kepada Usman dan Saidah, didalam mobil Raluna bertanya ke Zara. Entah dorongan dari mana ia tiba tiba ingin menanyakan hal ini.
"Zara."
"Hmm?"
"Zara, punya buku diary gak?"
"Punyalah."
"Dibuku diary Zara pasti ada kenangan indah yang Zara tulis."
"Banyak, tapi ada juga kenangan pahit yang aku tulis."
"Kalau kamu Raluna?"
"Banyak, Raluna juga nulis kenangan pahit. Waktu Raluna lupa ingatan, Raluna banyak banget nulis di buku diary Raluna. Mulai dari-"
"Dari apa?" Zara penasaran karena Raluna menghentikan ucapannya.
"Dari Raluna lupain zara, terus-"
"Terus?"
"Terus.. terus.."
"Sini deh, kamu cerita biar kamu gak bebanin pikiran kamu sendiri."
"Aku udah cerita sama Allah, Alhamdulillah aku udah agak tenang." Zara mengerti Raluna belum siap memberitahu sesuatu yang mengganjal dalam diri Raluna.
"Sebenarnya, raluna pernah lihat bayangan seseorang tapi Raluna gak bisa lihat wajahnya karena ngeblur."
Zara menoleh, "seseorang? Siapa? Perempuan? Laki laki?"
"Laki laki, bukan pernah tapi agak sering. Maka dari itu Raluna jadi gak tenang."
"Laki laki? Siapa ya kira kira. Kak Edgar?"
"Bukan, dia selalu pakai gamis, kalau gak sarung."
Zara tersenyum, yang dimaksud Raluna sudah pasti seseorang yang Raluna cintai tapi dia lupa karena amnesia. "Aku tau itu siapa."
"Emang siapa Zara?"
"Ada deh, nanti kamu juga tau."
"Beneran nih??"
"Iya, beneran."
Tak terasa pembicaraan singkat mereka sudah membawa mereka sampai rumah Zara, rumah besar yang dulu pernah Raluna kunjungi ia kembali lagi.
Suara azan yang ditunggu tunggu berkumandang, mereka mulai berbuka puasa memakan kurma. Kemudian dilanjut dengan makan makanan ringan. Tidak makan nasi dulu karena menghindari perut kekenyangan saat tarawih nanti.
Setelah selesai sholat tarawih, mereka kemudian makan. Raluna membuka bungkus sambal yang ia bawa kemudian memakannya. Merasakan sambal itu rasanya tidak asing. Dulu Raluna pernah merasakannya.
Flash Back On
Raluna sedang mengayuh sepedanya dengan amat sangat cepat, kala itu waktu hampir menjelang malam. Karena waktu itu ada latihan olimpiade Raluna jadi pulang telat, mana saat bulan puasa lagi.
Kala itu Raluna masih kelas 10, jadi waktu itu Raluna belum bertemu dengan Zara. Raluna mengerem sepedanya tak kala Ade yang memanggilnya.
"Dek dek." Raluna dipanggil oleh segerombol karyawan, yang sedang membagikan makanan untuk buka puasa.
Kemudian mereka memberi takjil dan satu bungkus makanan. "Terimakasih kak, assalamualaikum."
Sampai dirumah saat buka puasa Raluna memakan makanan itu, dan sambalnya sangat enak sekali.
Flash Back Of
Raluna jadi ingat, sambal ini adalah rasa sambal yang sama seperti waktu itu. Ahh mungkin hanya perasaannya saja, ada banyak orang kan yang bisa membuat sambal.
°°°°
Tak terasa bulan ramadhan sudah memasuki hari ke 10, Raluna, Zara, Saidah, dan Balqis kini tengah sibuk menyiapkan makanan dan takjil untuk dibagikan. Mereka tak sendiri ada banyak pembantu yang juga ikut serta.
Pisang susu es, ini adalah bagian Raluna dan Zara. Sedangkan makanan serahkan komandonya kepada Saidah. Mereka bertempur dengan tugasnya masing masing.
Raluna menyiapkan Tumbler dan kemudian menuangkan es serut, Zara bagian memotong pisang dan memasukkannya kedalam botol. Keduanya menyiapkan pisang susu es sebanyak 150 botol.
Setelah semua botol terisi es serut, mereka memasukkan masing masing dua buah pisang susu, kedalam Tumbler. Kini tinggal susu nya saja. Raluna dan Zara menuangkan susu kedalam Tumbler hingga penuh.
Raluna dan Zara menyeka keringat yang mengalir dipelipis mereka, menatap kagum kesemua Tumbler yang mereka telah rampungkan.
Setelah semuanya selesai, mereka bergegas membawanya dengan mobil box. Total 150 makanan dan minuman disebar 3 daerah. Satu di dekat jalan raya. Satu di tempat pemulung, dan sisanya dibagikan ke pengemis dan pengamen lainnya.
Mereka turun tangan membagikan itu sesuai kesepakatan, Raluna dan Zara di tempat pemulung atau tempat pembuangan sampah yang biasanya didatangi pemulung, Saidah dan Balqis membagikan ke pengemis, pengamen dan lainnya. Sedangkan Usman dan David bertugas di jalan raya.
Raluna dan Zara memberikan satu persatu Tote bag coklat kepada semua pemulung yang ada disekitar sini, "terimakasih nak, semoga semua kebaikan kalian dibalas sama Allah yang lebih dari ini."
"Aamiin. Dimakan ya buk."
"Iya nak, terimakasih."
"Iya sama sama."
"Terimakasih nak. Oh iya, disini juga sering banget, Kayak anak pesantren gitu bagi bagi makanan disini. Semoga kalian dibalas yang lebih baik sama Allah." Pak pemulung itu menyeka air matanya mendapat pemberian mereka, inilah yang Raluna suka dari berbagi. Raluna juga ikut merasakan kebahagiaan yang mereka rasakan.
"Aamiin, semoga bapak dan beluarga bapak sehat selalu dalam lindungan Allah. Aamiin."
"Saya pamit pulang dulu, udah mau magrib."
"Iya pak boleh."
"Assalamualaikum nak."
"Waalaikumsalam." Hari ini adalah hari yang sangat melelahkan, namun kelelahan itut seketika sirna melihat wajah gembira dan bahagia orang yang menerima makanan tadi.
Walau sekecil apapun itu pemberian kita, jika bermakna itu akan membawa kebahagiaan tersendiri bagi yang menerimanya.
Mereka semua berkumpul, semua makanan sudah mereka bagikan. Mereka masuk ke mobil mereka masing masing, David mengendarai Alphard hitam diisi Balqis dan Zara. Sedangkan Usman Pajero hitam diisi Saidah dan Raluna.
Rencananya mereka akan berbuka puasa di luar, mengingat istri dan anak mereka sudah lelah memasak jadi makan diluar saja.
Mereka berhenti disebuah kafe, mereka masuk dan langsung duduk di meja VIP. Zara mengingat tempat ini, ahh bukannya ini adalah kafe yang pernah mereka kunjungi waktu Raluna masih belum lupa ingatan?
Setelah memesan makanan mereka menunggu azan dan kemudian berbuka puasa, dengan perlahan mereka menikmati hidangan yang ada dimulai dari kurma dan seterusnya.
Suara pintu dibuka membuat atensi semua orang tertuju kearah pintu, seorang pria dengan gamis coksu, sorban yang terpasang dipundaknya ditambah peci hitam yang ia kenakan membuat semuanya menoleh.
Akhh ini yang Abram tidak suka, kenapa semua yang ia kenakan menarik atensi semua orang. Abram berjalan menuju Fendi yang kebetulan selesai berbuka puasa. Abram tadi sudah minum sedikit, kemudian melanjutkan perjalanannya.
Usman mengenali Abram, dan memanggilnya. "Nak Abram!"
Abram yang merasa terpanggil mendekat, "assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
"Pak Usman? Pak David?" Tanya Abram tak percaya.
"Iya, benar."
"Alhamdulillah, sudah lama tidak bertemu. Bagaimana kabar pak Usman dan pak David?"
"Alhamdulillah, kami sehat."
"Oh iya bagaimana dengan kamu?"
"Alhamdulillah, saya juga sehat." Jawab Abram.
"Oh iya pak Usman, saya mau minta waktunya sebentar, saya ingin berbicara kepada pak Usman."
"Boleh, boleh. Sekarang aja kenapa?"
"Ohh baiklah, mari pak ikut saya."
"Umi, Abi tinggal sebentar ya."
"Iya Abi."
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
Kini Abram dan Usman berada dalam satu ruangan, hal yang ingin disampaikan Abram dari dulu tidak bisa. Karena ia selalu tidak bisa bertemu tatap muka dengan Usman, waktu ia kerumah Usman, Usman tidak ada. Kebetulan sedang keluar kota.
"Begini, saya ingin membicarakan sesuatu dan memberitahu sesuatu kepada pak Usman."
"Oh iya, silahkan."
"Saya, anak dari Alex orang yang dulu menghianati pak Usman dan pak David. Saya mewakili papah saya, atas nama anak Alex. Saya meminta maaf atas semua kesalahan papah saya."
Usman terdiam dia tidak bisa berkata kata, apa? Alex?
"Saya tau, papah saya telah melakukan kesalahan yang sangat besar. Mungkin akan sulit untuk dimaafkan, saya minta maaf mewakili papah saya."
"Kemana Alex?"
"Papah dipenjara. Dan dia sudah keluar, papah terkena sakit jantung kemudian papah saya meninggal." Bagai tersambar petir, Usman terdiam dirinya syok!
Baru kemarin rasanya mereka masih bersama sekarang Alex sudah dipanggil yang maha kuasa? Takdir tidak ada yang bisa menebak. Bisa datang tiba tiba, perbaiki diri jangan menunggu tua. Sebab ajal datang kapan saja tidak menunggu saat umur bertambah tua.
"Alex? Meninggal?" Abram mengangguk.
"Innalilahi wa innailaihi rojiun. Semoga Allah ampuni segala dosa dosanya dan menerima semua amal kebaikannya."
"Aamiin."
"Nak Abram, maafkan saya. Saya tidak tau kalau Alex sudah meninggal."
"Tidak papa. Saya yang seharusnya minta maaf atas semua kesalahan almarhum papah saya."
"Saya memaafkan Alex, bagaimanapun kita pernah menjadi sahabat, dan saya tidak mempersalahkan semua itu."
"T-terimakasih pak Usman, saya sangat.. berterimakasih."
"Iya sama sama. Oh iya, saya turut berduka cita atas berpulangnya Alex ya nak Abram."
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Assalamualaikum temen temen, gimana bab ini?? Suka?? Mau bertemu dengan hal baru?? Mau Nana kasih sesuatu yang baru??
.
.
Nana udah bilang, Nana gak suka konflik berat, karena Nana sedih sendiri nulisnya. Jadi Nana kasih konflik kecil aja. Wkwkwkkw. Kalau kalian mau konflik berat? Ringan? Sedang?
.
.
Komen insyaallah Nana buatkan wkwkkwkwk.
.
.
Oke gitu aja ya bab ini, jangan lupakan jejak kalian!! Sampai ketemu di bab selanjutnya babayyyyyy!!
.
.
.
Wassalamu'alaikum warahmatullahi wa barakatuh 🙏
.
.
.
Mei 2022