Silent

Silent
Kencan



Wanita yang melangkah cepat, ternyata benar-benar janda bukan, perawan juga bukan. Istri yang diacuhkan oleh suaminya? Itulah dirinya.


Merindukan sentuhan pria? Bukankah sekali melakukannya dapat kecanduan? Dirinya hanya dapat menghela napas kasar, mahasiswa dan dosen jurusan kedokteran yang sebagian besar berwajah rupawan dari kalangan menengah ke atas. Namun, sekali lagi cincin di jari manisnya bagaikan rantai yang mengikatnya.


Tidak boleh berselingkuh? Itulah pesan dari suaminya yang entah berada di mana saat ini. Apakah suaminya setia? Entahlah, bukankah sekali mencobanya akan kecanduan? Mungkin suaminya saat ini sedang berhubungan dengan dua wanita sekaligus.


Yang jelas dirinya, akan mengajukan perceraian segera setelah suaminya pulang. Mungkin memang benar dirinya hanya pengganti Anggeline yang telah mengkhianati Yoka. Pemikiran yang kembali diyakininya setelah satu setengah tahun tidak dihubungi.


Berjalan dengan langkah cepat. Hari ini dirinya akan membantu proses otopsi, hanya membantu dan melihat salah satu dosennya. Dirinya masih mencari gelar S1, namun karena kemampuan dan kerja kerasnya selama ini, beberapa dosen membagi pengalaman mereka dengannya.


Mual? Ingin muntah? Mungkin awalnya iya, namun dirinya benar-benar harus terbiasa. Perlahan ini menjadi hal yang tidak begitu sulit untuknya. Mengambil beberapa alat untuk sang dosen yang sesekali meliriknya.


"Yakin tidak ingin makan malam? Biar aku yang traktir," ucap sang dosen menadahkan tangannya yang berbalut sarung tangan karet berlumuran darah.


Dora memberikan alat yang diminta oleh sang dosen. Menghela napas kasar."Sudah aku bilang, suamiku bisa membunuhku,"


"Suami? Jangan berbohong hanya supir yang sering menunduk memberi hormat padamu yang sering menjemputmu," sang dosen tersenyum, kembali menyayat kulit mayat yang mungkin telah meninggal kemarin, diduga akibat keracunan.


"Aku memang sudah menikah. Selain itu aku benar-benar miskin, yang kaya suamiku," ucap Dora berkata sejujur-jujurnya.


Dosen muda, impian para mahasiswi itu melakukan pemeriksaan pada organ mayat lebih dalam.


Crat!


Percikan darah mengenai wajahnya yang tertutup kacamata khusus, masker, serta penutup area rambutnya itu.


"Kemari!" panggil sang dosen, membuat Dora mendekat.


"Inilah yang terjadi pada lambung yang terkena efek sianida," ucapnya menatap ke arah Dora yang benar-benar mengamati segalanya.


"Kamu berkata, kamu tidak kaya tapi suamimu yang kaya. Kamu menikahinya karena dia membiayai kuliahmu?" tanya sang dosen masih penasaran.


"Bisa dibilang awal pertemuan kami memang begitu," jawaban dari Dora jujur. Dirinya tinggal di villa memang karena gaji tinggi yang diberikan di awal pertemuannya dengan Yoka.


"Jika kamu bercerai bagaimana? Aku dapat membiayai kuliahmu hingga menjadi dokter spesialis bedah. Kita menjadi kekasih, menikah dan membuka rumah sakit bersama nantinya. Dokter forensik dan dokter bedah akan cocok..." tawaran dari sang dosen muda, antusias.


Wanita cantik yang tengah memakai pakaian operasi dengan kacamata khusus itu, mengenyitkan keningnya."Haruskah kita membedah bagian hatinya? Apa juga mengalami kerusakan separah ini?"


Sang dokter sekaligus dosen muda itu tertawa kecil. Memang tidak dapat bicara serius atau merayu wanita ini dengan mudah. Tidak heran banyak saingannya di kampus ini. Tapi apa benar wanita ini sudah menikah?


Mungkin tidak dicintai oleh suaminya? Mungkin saja, tidak sekalipun terlihat olehnya, wanita itu diantar selain oleh supirnya. Bahkan kala ada kegiatan kampus, dimana jurusan kedokteran mengadakan pertunjukan teater, dengan Dora menjadi pemeran utama sang Juliette. Tapi suaminya tidak hadir juga. Jadi, diantara dua kemungkinan, Dora berbohong sudah menikah atau menjadi wanita yang tidak dicintai.


Namun kedua alasan itu sama saja. Wanita lucu, cantik dan baik hati, siapa yang tidak akan tertarik padanya.


"Kita mungkin akan cocok, coba fikirkan baik-baik aku akan membiayai kuliahmu, lalu menikah dan membuka rumah sakit bersama. Omong-ngomong tolong dicatat PH lambung saat ini..." ucap sang dosen tersenyum di balik maskernya.


"Bagaimana? Jika tidak diantar sekali saja oleh suamimu. Berarti kamu berbohong untuk menolakku?" pertanyaan dari sang dosen, meraih alat pengukur PH. Sedangkan Dora sudah bersiap mencatat hasilnya.


"Menjemput ya? Kalau suamiku menjemputku nanti sore, artinya dokter akan menyerah?" tanya Dora.


"Tergantung, seberapa mengerikannya suamimu..." jawaban sang dokter, meraih benda lainnya.


Sementara Dora tersenyum simpul, Tantra (sang dosen) benar. Dirinya harus menunjukkan suaminya agar dapat kuliah dengan tenang.


*


Hingga hari sudah mulai sore. Seorang pria terlihat dari kalangan atas, dengan wajah rupawan dan aura angkuhnya, berdiri, menyender di mobil hitam yang terparkir di depan kampus.


Sesekali melirik ke arah jam tangannya. Wajahnya tersenyum menatap kedatangan Dora. Wanita yang melambaikan tangan padanya.


Beberapa mahasiswa yang kebetulan berada di tempat parkir tertegun, termasuk dokter Tantra yang keluar bersamaan dengan Dora.


Wanita yang berlari kecil, mendekati pria yang terlihat dari kalangan atas dari mobil dan setelan jas yang digunakannya. Dengan cepat Dora memeluk lengannya.


"Ayah mertua, terimakasih sudah mau menjemput." ucap Dora dengan suara kecil. Dua tahun ini dirinya memang lebih akrab dengan Narendra. Ayah mertua yang berusaha keras mendekatinya tidak ingin Yoka diceraikan karena pergi entah kemana. Keakraban bagaikan sosok ayah pada putrinya.


Kelinci kecil yang terjebak di sarang penyamun. Menemukan tempatnya dapat berlindung dalam dua tahun ini.


"Dasar! Apalagi yang kamu lakukan?" tanya Narendra, membukakan pintu mobil.


"Hari ini aku membantu membedah lambung manusia. Organ lambungnya terbakar hingga berubah warna, untung dokter Tantra dapat mengidentifikasi dengan jelas melalui gejala pada lambung. Walaupun zat racun telah larut dalam tubuh. Hatinya juga ikut di bedah, jadi organ..." banyak hal yang dijelaskan Dora, sejatinya membuat Narendra ingin muntah. Mengapa putranya bisa jatuh cinta pada gadis sesadis ini?


Membicarakan mayat bagaikan membicarakan tas cantik seharga ratusan juta. Wanita lain hobi ke salon, wanita ini malah hobi mempelajari cara merawat organ tubuh manusia. Selera putranya benar-benar luar biasa unik.


Setidaknya dirinya jatuh cinta pada mendiang istrinya, yang bersifat begitu dewasa, kedewasaan yang membuatnya benar-benar tidak dapat melupakan Melda. Cinta memang benar-benar buta bukan? Menganggap wanita yang sering menjambak rambut bahkan menggunakan jari menaikan ujung hidungnya bagaikan b*bi adalah wanita yang bersifat dewasa.


Mati-matian Narendra menahan rasa mualnya mendengarkan pembicaraan menantunya tentang kamar mayat tempat otopsi diadakan.


*


Sedangkan di tempat lain, Tantra tersenyum. Mendengar orang-orang yang mulai membicarakan suami Dora yang ternyata seorang pria yang mungkin lebih pantas menjadi ayahnya. Walaupun pada kenyataannya wajah Narendra terlihat masih cukup rupawan.


Namun perbedaan usia yang terlalu jauh, mungkin Dora akan menerima perasaannya nanti. Atau itu mungkin ayah kandung Dora yang dimintanya menyamar menjadi suaminya. Tantra mungkin tidak akan menyerah, tepatnya belum akan menyerah.


Tangannya kembali mengetikan pesan mengirimnya pada Dora.


'Nanti malam aku akan ke rumah sakit. Ada pasien yang sudah meninggal tenggelam beberapa hari. Kamu mau membantuku,' itulah isi pesan yang dikirimnya. Sebuah ajakan kencan di kamar mayat yang tidak mungkin ditolak Dora.