
quen en mengucek matanya apa ia salah lihat dan teryata benar orang itu bukan tang si fan ia terlalu merindukan sosok si fan hingga fikiran mulai mempermain nya.
"mengambil Vidio seseorang Tampa hak izin kamu akan mendapatkan sangsi"
"menyumpahi leluhur kerajaan kamu akan di anggap penjahat hingga di hukum penggal"
"benarkah ," quen Langsung merebut hendpone tersebut dan melempar ke bawah begitu saja.
"kamu "pria itu mengepalkan tangannya geram ingin menghajar quen jika di hadapan pria mungkin dari awal sudah babak belur.
quen mengangkat wajahnya dengan angkuh serta tersenyum sinis.
pria itu pun pergi turun tangga untuk mengambil hendpone nya yang mungkin sudah hancur berkeping keping.
__________________________
"pangeran ...."pekik kaget di kala bawahan nya melihat sesuatu jatuh dari lantai atas dan mengenai kepala pangeran xu Kay hingga xu Kay mengalami pendarahan di kepala.
setibanya pria itu di lantai bawah ia langsung berlutut di hadapan pangeran xu Kay .
"pangeran itu bukan saya pelakunya"?
"apa ini hendpone mu"tanya bawahan xu Kay.
"iii....yaaa.....tapi gadis di atas sana yang meleparnya , gadis itu marah saat aku merekam makianya terhadap.."pria itu ragu untuk mengatakan nya.
"terhadap siapa??
"leluhur...ke...ke..Ra..ja an"kata pria itu dengan gugup karena takut.
"kalian cek di lantai atas jika tidak ada wanita yang di maksud dia ,maka seret dia penjara"
"siap tuan jim" mereka para pengewal pun segera lari ke lantai atas.
xu Kay dia sudah di larikan ke puskesmas universitas tersebut.
Jim mengambil hendpone itu meminta bawahan memperbaiki agar mengetahui isi rekaman tersebut.
sedangkan quen ia sudah berada di lantai bawah berjalan dengan lesu, saat ini ia tidak memiliki minat untuk bersekolah di sini apa lagi harus mendengar suara sorakan dari mahasiswa lainya setiap kedatangan xu Kay .
benar benar menyebalkan.
"quen...!!!
"iya buk "
"minta tolong antarkan Mey Mey dia sedang sakit perut antar ke Puskesmas ya ,ibu tiba tiba ada panggilan penting"
"iya buk"
"maaf merepotkan kamu ya Quen" Mey Mey merasa tidak enak hati.
"santai aja "quen.
mereka pun ke Puskesmas namun terlihat di sana penjaga pangeran.
"kenapa pasukan norak itu berkumpul di sini" quen dengan nada tidak suka.
tentu perkataan quen membuat Mey Mey terkejut" quen apa kau tidak....???
"aku tidak takut mati"ucap quen kemudian dengan angkuh .
"baik lah ,aauuuu sakit" Mey Mey kesakitan.
quen pun langsung menarik tangan Mey Mey untuk masuk kedalam namun di cegah oleh pengawal xu Kay.
"pangeran dalam pengobatan lebih baik kalian kembali"? usir pangawal tersebut.
"teman ku sedang sakit ,kau tidak lihat wajahnya sudah pucat jika harus menunggu di khawatir membahaya kan kondisi nya" ucap quen.
Tampa menunggu jawaban pengawal itu quen membawa masuk Mey Mey .
setiba di dalam ia bertemu dengan xu Kay yang sedang di pasang perban di kepalanya.
Mey Mey bebinar bahagia bahkan rasa sakit perut lenyap seketika saat melihat idola nya.
sedangkan quen membuang muka seakan tidak sudi menatap pria di hadapan nya.
"ya udah masuk sana ,aku nunggu di sini"
"iya" Mey Mey pun masuk kedalam ruangan pemeriksaan namun ia terus menoleh seakan tidak rela jauh dari xu Kay.
"kau yang pagi tadi mengutuk leluhur ku , pengawal ku mencari mu rupa kau di sini"
Quen menoleh kearah xu Kay dengan melipat tangannya di dada namun mengabaikan pria itu ia sedikit pun tidak menjawab perkataan xu Kay.
"dok , tolong katakan kepada teman ku jika aku pulang ,tiba tiba telinga dan mata ku sakit melihat hantu bergentayangan" kata quen seraya berlalu pergi.
xu Kay tersenyum melihat sikap quen seperti itu ia pun bangkit dari tempat duduknya mengejar quen "heeeiii "panggil xu Kay terhadap quen.
quen ia tidak mempedulikan itu ia terus berjalan .
sedangkan xu Kay terus mengejar nya.
hingga tiba mereka di koridor yang lumayan sepi.
quen menghentikan langkahnya dan membalikan badan melihat ke arah xu Kay.
"untuk apa kau terus mengikuti ku "
"aku penasaran dengan mu ,kenapa kamu begitu membenci leluhur ku"
"karena tidak ada alasan bagi ku untuk menyukai nya"
quen pun langsung pergi .
"pangeran" Jim menghampiri dengan keringat bercucuran setelah mengejar xu Kay.
"baik pangeran"
_______________________________
quen ia langsung pulang dan menuju perpustakaan di mana Zhuang bekerja.
ia melihat Zhuang sedang membersihkan buku buku di rak.
"kenapa kau di sini"?
"di mana letak buku sejarah"
"di sana"tunjuk Zhuang kearah rak buku bagian kanan dekat dengan jendela.
quen pun langsung berjalan ke sana dan mencari buku sejarah negara C namun buku yang di cari tidak ada.
"dimana letak buku sejarah Cheng Zheng"?tanya quen.
"Cheng Zheng ? maksud mu leluhur?"
"ya ya di mana"?
" sudah ku katakan berapa kali jangan menyebutnya seperti itu tapi kau ?buku itu adalah aset penting negara tentu saja tidak akan sembarangan di simpan "
"jadi di mana buku itu"?tanya quen .
"tentu saja di perpustakaan Istana"
"jika seperti ini kita ke istana"?
"quen apa kamu pikir masuk istana semudah memasuki perpustakaan ini????
"dasar payah". ucap quen seraya pergi .
"anak itu benar benar bikin sakit kepala", gerutu Zhuang.
"baik lebih aku memikirkan cara bagaimana bisa masuk ke istana"? batin quen.
tampa quen sadari ia berjalan cukup jauh dari tempat tinggal hari sudah mulai gelap petir mengkilat di langit yang detik kemudian hujan turun dengan derasnya.
quen ia segera berlari ke halte .
karena hujan turun begitu deras membuat jalan sepi hanya terdengar suara petir yang membuat telinga berdengung.
dia hanya duduk dengan diam melihat percik air membasahi jalan aspal dengan air mata yang membasahi pipi .
ia tau jika semua yang terjadi bukan ilusi semata ia dapat merasakan jika jatung terus berdetak saat mengingat tang si fan.
"kenapa sesakit ini merindukanmu ?aku selalu berharap jika kamu di sini ,aku bahkan seperti orang gila setiap waktu mencari mu yang mungkin tidak ada di zaman ini"
sebuah mobil Lamborghini berhenti tepat di depan quen.
pintu di buka sosok pria tinggi putih hidungnya mancung rambut di sisir begitu rapi lelaki itu terlihat begitu Tampa dengen setelan jas yang di kenakanya.
seorang asisten berlari membawa payung ke arah pria itu yang berjalan menghampiri quen.
xu Kay ia duduk di sebelah quen dan menatap gadis yang terlihat familiar itu serta menarik baginya.
" quen itu nama mu kan"tanya xu Kay.
quen tidak merespon ia tetap melihat rintikan hujan.
tentu setelah betemu beberapa kali xu Kay tau sikap quen yang lebih suka mengabaikannya jika bicara pun akan selalu pedas dan kejam penuh ancaman.
asisten jim ingin tertawa ini hal langkah jika tuannya di abaikan begitu saja oleh seorang wanita seharusnya ia merekam momen ini namun mana berani.
"nama ku key , namun kamu selalu menyebut ku Cheng Zheng entah kenapa kau seperti Memiliki dendam lama dengan leluhur ku padahal dari kematian leluhur ku sudah ratusan tahun lamanya ,.
quen langsung menoleh ke arah xu Kay melihat penampilan pria itu sedetil mungkin.
"*jika ia adalah keturunan dari Cheng Zheng dengen siapa ia menikah setelah kematian ku"?batin quen.
"wajah sangat mirip hanya tampilan yang berbeda namun tatapan ini sama memiliki tatapan memangsa"
"dan ia adalah pangeran bukan itu artinya bisa membawa ku ke istana*" batin quen.
entah kenapa melihat quen melihat dirinya seperti itu membuat xu Kay salah tingkah.
tentu hal itu tidak luput dari penglihatan asisten jim yang mati Matian menahan tawa.
"maaff waktu itu aku tidak bermaksud mengutuk leluhurmu , mungkin Waktu aku terlalu bodoh dan lalai " quen memohon maaf .
"sebenarnya tidakan mu salah mengutuk leluhur sama saja menghina seluruh keluarga istana tapi kali ini aku akan memaafkanmu tapi tidak selanjutnya"
"baik lah pangeran sangat murah hati"
xu Kay tidak menyaka jika sifat gadis ini begitu cepat berubah .
hujan pun reda quen berpamitan pulang.
setelah jauh beberapa langkah senyum ketika bersama xu Kay Langsung lenyap begitu saja.
di depan ada Zhuang menghampiri quen dengan membawa payung .
terlihat dari raut wajah Zhuang terlihat marah .
"jangan pernah temui dia lagi"perintah Zhuang.
"dia siapa"quen pura pura tidak mengerti.
"Pangeran xu Kay"
"kenapa???