My Son Is My Strength

My Son Is My Strength
Azzam Marah Sama Papa



Di ruang tamu, Arini dan Azzam sedang bersantai. Mereka berdua berbaring di sofa sambil menonton film kartun. Camilan ringan tersaji di atas meja, membuat acara nonton mereka semakin nikmat.


Jam menunjukkan pukul 14:20, Arini dan Azzam sesekali menguap karena mengantuk. Tapi karena film kartun yang sangat seru, membuat keduanya mengurungkan niat untuk tidur siang.


Tadi sebenarnya Arini mengajak anaknya untuk tidur siang, tapi entah kenapa ia sangat tertarik dengan film kartun yang di tonton oleh anaknya. Dan alhasil,ia pun ikut menonton film tersebut bersama Azzam.


Terdengar suara pintu terbuka, membuat dua orang itu refleks menoleh ke sumber suara. Mata Arini dan Azzam terbuka lebar tak kala melihat siapa yang masuk.


"Mas...."


"Papa...."


Arini dan Azzam bangun dari baringan nya, mereka berdua berlari menghampiri orang yang baru saja masuk itu, tak lain adalah Bian, melupakan film kartun mereka yang sangat seru.


Teriakkan itu membuat Bian menoleh ke arah mereka, eh buka ke arah mereka, tapi ke arah istrinya. Senyumannya langsung mengembang, entah kekuatan dari mana, ia ikut berlari menghampiri istrinya itu dan langsung meraih tubuh rampingnya.


Bian langsung menggendong istrinya dengan sejuta rasa sayangnya, melepaskan semua rasa rindu yang menyiksanya beberapa hari ini.


Azzam yang merentangkan tangannya dari tadi ingin digendong, kini melompat-lompat, memanggil-manggil sang papa agar digendong seperti mamanya.


"Papa... papa... aku juga mau." Teriak Azzam melompat-lompat sambil merentangkan kedua tangannya. "Aku juga mau digendong kaya mama." Azzam mengeraskan suaranya agar kedua orang tuanya ini menoleh ke bawah, melihat tubuh mungilnya yang juga ingin digendong.


Bian dan Arini baru tersadar akan anak mereka, karena saling melepaskan kerinduan satu sama lain. Bian pun menurunkan istrinya yang sekarang salah tingkah, juga dirinya. Bisa-bisanya mereka melupakan pangeran kecil nan menggemaskan ini.


"Oh... anak papa yang paling ganteng." Bian meraih tubuh mungil anaknya yang kini berwajah masam. Setelah ia memberikan tas kerjanya pada sang istri.


"Ih... kenapa wajahnya begini?" Bian menyatukan wajahnya dengan wajah sang anak, menggerak-gerakkan ke kiri dan ke kanan. Namun, semua perlakuan Bian tidak mendapatkan respon dari Azzam. Ia bersungut, tangannya terlipat di dada, bibirnya mengerucut marah.


"Uhhh... ceritanya lagi marah nih sama papa? Padahal papa baru pulang loh." Ucap Bian mentoel pipi gembul anaknya.


"Iya, Azzam marah sama papa. Huft...!" Ucap Azzam menghela napas marah, Arini menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. Bagaimana ini, Azzam sudah merajuk.


"Beneran Azzam marah sama papa?" Bian bertanya mengangkat alisnya.


"Iya, Azzam maaraah!" Anak itu memalingkan wajahnya.


"Oh ya?" Bian pura-pura bermuka sedih, sedikit menunduk. "Padahal papa udah beli banyak mainan untuk seseorang." Bian masih berakting sedih, Azzam tidak menyahut, tapi ia mendengarkan dengan penuh minat. "Tapiii... sepertinya orang itu tidak mau menerimanya." Ucap Bian melirik sekilas wajah Azzam yang berada di gendongnya, mata Azzam terbuka lebar. Pikirannya kini di penuhi mainan.


Bian mulai menyebut satu-satu mainan yang ia beli di Hong Kong, Azzam meneguk salivanya susah. Apakah semua mainan itu untuk dirinya.


"Ada mobil, motor, pesawat, kapte---" Belum tuntas Bian menyebut satu-satu mainan yang di bawanya, tapi Azzam sudah menyahut lebih dulu.


"Mana? Azzam nggak lihat." Ucap Azzam masih mempertahankan raut wajah marahnya yang sebentar lagi di robohkan oleh mainan-mainan itu. Bian tersenyum, tembok kokoh kemarahan Azzam kini bercelah. Arini menggeleng-gelengkan kepalanya, tahu maksud suaminya yang akan menghibur anak mereka dengan mainan-mainan itu.


"Ada kok di luar, sebentar lagi dibawa masuk." Ucap Bian.


Dan benar saja, selesai Bian mengucap kalimat itu. Beberapa kotak mainan masuk dibawa oleh Rio dan Pak Bhanu. Mata Azzam berbinar-binar lebar melihat banyaknya kotak mainan yang masuk itu. Ada kotak mobil-mobilan, pesawat, motor, kapten Amerika, dan masih banyak lagi.


"Semua mainan itu untuk kamu." Ucap Bian melihat mata binar dari anaknya.


"Iya, tapi dengan satu syarat." Ucap Bian membuat perhatian Azzam yang sebelumnya ke mainan itu, kini fokus padanya.


"Syarat? Apa syaratnya?" Tanya Azzam mengernyitkan alisnya, bibirnya mengerucut lucu. Membuat Bian berkali-kali tersenyum ulah anaknya ini. Lelah, serta tubuhnya yang kurang fit, kini kembali semakin bersemangat, dan lebih membaik.


"Syaratnya Azzam nggak boleh lagi marah sama papa, bukan begitu mah?" Ucap Bian, dan langsung meminta pendapat dari istrinya.


"Ummm...." Arini mengangguk setuju, melancarkan negosiasi antara anak dan suaminya.


"Hmmm...." Azzam berpikir sejenak, menggigit bibir atasnya, satu tangannya memegang dagu. Bian dan Arini menunggu jawaban dari pangeran mereka ini dengan rasa penasaran.


"Baiklah, Azzam nggak marah lagi sama papa." Azzam mengangguk setuju, tapi sejurus kemudian. "Tapi jangan diulangi lagi!" Azzam menudingkan jarinya.


Arini tersenyum kaku, mengingat kembali kejadian yang baru saja terjadi itu. Untung anaknya tidak mengungkit-ungkit secara detail, karena Rio dan Pak Bhanu semakin mendekat.


"Iya, papa minta maaf." Ucap Bian dan langsung mendapatkan anggukan dari Azzam. Anggukan itu membuat Arini dan Bian bernapas lega.


"Tuan, mainan-mainan ini mau di simpan di mana?" Tanya Rio mencela sebentar percakapan antara anak dan ayah itu.


"Di situ saja." Bian menunjuk di meja sofa ruang tamu. Rio dan Pak Bhanu pun membawa semua mainan itu ke sana.


Langkah Rio dipenuhi sejuta pertanyaan. “Padahal tadi di merasa sakit, tapi kenapa saat ini terlihat baik-baik saja?” Gumam Rio bertanya dalam hatinya, seraya berjala menuju meja sofa dengan kotak mainan di tangannya.


"Pah... ayo ke sana." Azzam bergerak di atas gendongan Bian, ia ingin mengikuti mainan barunya itu.


"Ya sudah, kalian lihat permainan dulu. Mama mau siapin air buat papa mandi." Ucap Arini yang langsung diiyakan oleh Azzam.


"Sekarang ayo, pah." Azzam kembali mengajak Bian. Namun, bukannya melangkah menuju permainan itu. Bian malah mendekati istrinya yang belum beranjak pergi. Perlakuannya itu membuat Azzam mengernyit.


Belum sempat Azzam berucap, ingin mengajaknya kembali papanya melihat mainan. Bian sudah mendekatkan wajahnya pada wajah sang istri, berniat ingin mencium keningnya. Tapi apa yang terjadi, Azzam lebih dahulu menghalau bibir papanya sehingga menempel di pipinya yang gembul.


Bian langsung melotot, bukan ini yang diinginkannya. Arini menggeleng-gelengkan kepala, berani sekali suaminya ini ingin menciumnya di sini. Padahal masih ada Rio dan Pak Bhanu, hampir saja wajahnya memerah bak kepiting rebus seperti kemarin-kemarin. Tapi untung saja ada anaknya Azzam yang menghalau.


"Azzam juga pengen dicium, hehehehe...." Azzam tertawa polos, tanpa ada rasa berdosanya karena telah menggagalkan misi dari sang papa.


"Sayang." Panggil Bian tidak menyuruh istrinya pergi.


"Aku nyiapin air dulu mas, buat kamu mandi." Jawab Arini terus berjalan, tanpa menoleh ke belakang.


"Hehehe... udah pah, mama udah pergi. Sekarang giliran kita pergi ke sana." Azzam dengan tawa cengengesannya, serta di akhiri dengan senyuman polosnya kembali mengajak papanya untuk ke tujuan pertama mereka.


Bian dengan wajah kecewanya, hanya dapat melihat senyuman polos dari sang buah hati. Ia ikut tertawa patah-patah, membalas tawa anaknya. Lalu mereka pun menuju sofa, melihat permainan baru itu dengan diiringi wajah Azzam yang tersenyum bahagia, wajah Bian yang masih kecewa karena tidak jadi mencium istrinya.


*****


Bersambung...