My Son Is My Strength

My Son Is My Strength
Atas Dasar Apa Anda Menemui Saya?



Di ruang tamu itu terlihat Bian sedang berbincang dengan Ibu Syahra, Azzam menempel di pangkuan Bian, dan Arini di sebelah mereka bertiga, pura-pura tidak peduli dengan apa yang mereka bicarakan sedangkan telinganya ia pasang baik-baik untuk mendengarkan pembicaraan itu.


Arumi dan Rangga, mereka berdua sudah pamit undur diri untuk membahas pekerjaan yang akan Arumi berikan untuk Rangga sesuai perintah Arini.


Mereka berdua izin ke taman belakang rumah, agar bisa membicarakan masalah pekerjaan dengan leluasa tanpa mengganggu pembicaraan orang-orang di ruang tamu yang membahas hal yang berbeda dengan pembahasan mereka.


"Jadi, Nak Bian. Teman kerjanya Arini?" tanya Ibu Syahra setelah berbincang lama dengan Bian mengenai nama lengkapnya, nama orang tuanya dan pekerjaan Bian.


"Iya, Bu. Kami teman kerja, namun berbeda perusahaan. Perusahaan Arini dan perusahaan saya bekerja sama dalam bidang properti dan kuliner." Jawab Bian sopan, mengangguk takzim pada Ibu Syahra.


"Oh... begitu ya, Nak." Ibu Syahra mengangguk mengerti. "Semoga kerja sama kalian bisa berjalan lancar dan terus sukses untuk ke depannya." Doa ibu Syahra mendapatkan ucapan 'aamiin' dari Bian.


"Astaghfirullah... ibu belum kasih minum untuk kalian, tunggu sebentar ibu buatkan dulu." Ibu Syahra bergegas berdiri, ia baru ingat belum menjamu kedua tamunya ini.


"Eh... tidak usah repot-repot, Bu." Ujar Bian tidak enak hati, takut merepotkan.


"Ihhs... tidak merepotkan sama sekali, lagi pula kalian adalah tamu ibu. Jadi, harus dijamu dengan baik." Ibu Syahra melambaikan tangan pada Bian, mengatakan sama sekali tidak merepotkan.


"Ya sudah, kamu bicara dulu sama Arini. Tujuan kamu datang ke sini mau bicara dengannya, bukan? Ibu tinggal dulu ke dapur." Ucap ibu Syahra mendapatkan anggukan dari Bian.


Usai mengatakan itu dan melihat anggukan dari Bian, ibu Syahra berjalan menuju dapur untuk membuatkan minuman dan sedikit camilan untuk Bian dan Rangga.


"Mau apa kamu ke sini?" Sarkas Arini ketika melihat ibunya sudah memasuki pintu dapur.


"Boy, sekarang duduk di samping mama dulu, ya." Bukannya menjawab pertanyaan Arini, Bian malah menyuruh Azzam untuk turun dari pangkuannya dan duduk di samping Arini. Lalu ia sendiri bangun, dan berjalan di sisi samping tempat duduk Arini satunya.


"Mau ketemu kamu." Jawab Bian santai, duduk di samping Arini.


Sekarang Arini duduk diimpit oleh kedua laki-laki yang wajahnya serupa, namun berbeda generasi. Arini menoleh ke kanan, mendapatkan senyum manis dari Azzam anaknya. Menoleh ke kiri, mendapatkan senyum manis dari Bian.


Arini tertegun, "Bisa tersenyum juga dia." gumamnya dalam hati, baru melihat senyuman dari Bian. Ia memalingkan wajahnya cepat.


"Atas dasar apa Anda menemui saya?" Arini bertanya ketus, melipat kedua tangannya di dada.


"Atas dasar ini." Bian turun dari sofa, berganti duduk di lantai, menyentuh kaki kiri Arini yang keseleo.


"Eh... mau apa kamu!" Arini refleks menyingkirkan tangan Bian dari kakinya, dengan menepuk kuat tangan kekar itu.


"Aduh...." Bian mengadu sakit, tepukan tangan Arini sangat kuat di tangannya sampai kulit tangannya memerah.


"Om...." Azzam bergegas melihat tangan Bian, kaget dengan perbuatan mamanya.


"Eh... aku nggak sengaja." Ucap Arini merasa bersalah.


"Apakah ini sangat sakit, Om?" tanya Azzam seraya meniupi tangan Bian yang kena tepukan dari mamanya.


"Hm... sangat sakit." Jawab Bian dengan wajah di buat pura-pura menahan kesakitan. Padahal sakitnya sudah tidak terlalu, hanya kulitnya yang masih memerah saja.


Melihat ekspresi wajah Bian yang menahan kesakitan dengan amat sungguh, membuat ia merasa sangat bersalah, menyesali perbuatannya barusan.


"Aduhhh...." Sekarang Arini yang mengadu sakit, akibat ia memaksakan diri untuk duduk di lantai ikut melihat tangan Bian.


"Mama...." Sekarang Azzam beralih melihat Arini.


"Eh... nggak usah ikut duduk di lantai." Bian menahan pergerakan Arini, membuat Arini mau tidak mau kembali duduk di atas sofa.


"Apakah tangan mu masih sakit? Maafkan aku, aku sungguh tidak sengaja." Ucap Arini meminta maaf, menunduk.


Bian tercengang mendengar perkataan Arini, "Apakah Arini sangat menghawatirkan ku, sehingga rela duduk di lantai dan membuat kakinya sakit. Bahkan menayangkan keadaan ku sampai tidak memedulikan kakinya sendiri yang tengah sakit." Gumam Bian dalam hati, senyum-senyum sendiri. Ia sangat senang mendapatkan perhatian seperti itu.


"Om, kenapa?" tanya Azzam yang melihat Bian senyum-senyum sendiri. Membuat Arini mendongak dan melihat hal yang sama dengan yang Azzam lihat.


"Ihh... jangan ge'er." Ucap Arini membuat Bian sadar.


"Siapa yang ge'er!" killah Bian, lalu kembali duduk di lantai samping kaki kiri Arini.


Dengan gerakan yang cepat, Bian memutar punggung kaki dan tumit Arini. Membuat Arini dan Azzam refleks menutup mata mereka dengan kedua tangan, lantas berteriak histeris.


"Arrghh...." Teriak Arini menahan kesakitan.


"Arrghh...." Teriak Azzam yang tidak mengerti dengan apa yang di lakukan Bian.


Teriakkan keduanya membuat telinga Bian berdengung nyaring, dan dengan segera Bian menyumpal mulut mereka berdua dengan kedua tangannya.


"Arrghmmm...." Teriak Arini dan Azzam tertahan.


Merasa mulutnya di sumpal, Arini maupun Azzam membuka mata mereka. Saling lirik, lalu menatap tangan kekar Bian yang menutup mulut mereka.


"Sudah teriaknya?" tanya Bian melepaskan tangannya, lalu kembali duduk di sofa.


"Kamu---" Ucap Arini tertahan, menyadari kaki kirinya tidak sakit lagi.


"Eh...." Arini mencoba bangkit dari duduknya, tidak merasakan sakit, lalu melompat kecil, dan kakinya memang tidak merasakan sakit lagi.


"Kaki kamu sudah baikkan, Nak." Ibu Syahra datang membawa nampan berisi minuman dan camilan, setelah ia mengantarkan minuman dan camilan juga untuk Rangga yang berada di taman belakang bersama Arumi.


"Iya, Bu. Kaki Arin sudah sembuh." Arini menoleh ke ibunya tersenyum bahagia.


"Yeiii... kaki Mama sembuh, makasih Om Bian." Azzam berjingkrak senang, lalu memeluk Bian dan Bian membalas pelukan itu.


"Alhamdulillah syukurlah." Ibu Syahra ikut duduk di sofa, nampan yang dibawanya diambil alih oleh Arini.


"Silakan di nikmati." Ucap Arini menyimpan nampan di dekat Bian.


"Terima kasih." Balas Bian, mengangguk.


*****


Di taman belakang Arumi duduk bersebelahan dengan Rangga, dipisahkan oleh meja bundar di tengahnya.


"Kamu membutuhkan pekerjaan?" tanya Arumi memulai pembicaraan.


"Iya Nona, saya sangat membutuhkan pekerjaan. Semoga Nona bisa memberikannya." Ucap Rangga berharap. "Maaf sebelumnya, karena saya tidak memiliki surat lamaran pekerjaan." Lanjutnya lagi, memberitahu Arumi terlebih dahulu.


"Hmm...." Arumi berpikir, memegang dagunya. "Tunggu sebentar." Ucap Arumi masih berpikir pekerjaan apa yang cocok dengan laki-laki ini.


"Coba kamu berdiri." Perintah Arumi dan Rangga mengangguk, berdiri.


"Berputar-putar." Perintah Arumi lagi, Rangga patuh mengikuti.


Arumi mengamati laki-laki ini, "Tinggi badannya kira-kira 184 cm, berat badan kira-kira 77 kg, kulitnya bersih putih, wajahnya juga bersih terawat, hidungnya man--cung...." Arumi berhenti sejenak mengamati, ia memegang hidungnya sendiri. "Eh... hidungku sepertinya tidak semancung dia." Gumam Arumi meraba-raba hidungnya. Sedangkan Rangga masih berputar-putar karena Arumi belum memberikan instruksi.


"Kapan aku bisa berhenti berputar-putar." Ucap Rangga kemudian, di sela-sela putarannya.


Arumi tersentak mendengar suara Rangga, ia baru menyadari sudah membiarkan Rangga berputar lama.


"Berhenti." Ucap Arumi tiba-tiba, membuat Rangga juga berhenti secara tiba-tiba. Akibatnya, tubuh Rangga tidak seimbang membuat ia jatuh memegang sisi-sisi meja bundar itu dan wajahnya berhadapan dengan Arumi.


Deg... Deg...


Jantung Rangga terpacu kuat, bahkan melebihi ketika ia bertemu dengan Arini. "Uhhkk... kenapa lagi aku ini?" Rangga memegang dadanya. "Apa ini yang namanya karma karena mempermainkan kaum perempuan?" Batinnya bertanya-tanya.


"Kenapa kamu?" tanya Arumi menepuk pelan pipi Rangga untuk menyadarkannya.


"Eh... tidak apa-apa." Rangga menggeleng, mengumpulkan kesadarannya. Berhadapan dengan Arumi sungguh bisa membuat jantungnya hampir copot. Ia kembali duduk di kursinya semula.


*****


Bersambung...