My Son Is My Strength

My Son Is My Strength
Bermain di Taman



Minggu pagi yang cerah, terlihat sosok Azzam sudah rapi memakai pakaian bermainnya. Ia sedang berada di teras menunggu seseorang yang akan menjemputnya.


"Sayang, ini topinya. Jangan lupa di pakai, ya...." Arini menyodorkan sebuah topi berwarna senada dengan baju Azzam.


"Iya, mah." Jawab Azzam meraih topi itu di tangan Arini.


"Mah, kok om Bian belum datang jemput juga? Katanya kan, jam tujuh tepat udah nyampe di sini." Tanya Azzam, duduk menopang kedua tangannya. Melihat kendaraan yang berlalu lalang di depan rumahnya.


Tiin... Tiin...


Bunyi klakson mobil yang sekarang sudah berhenti tepat di depan rumah Arini, Azzam memerhatikan.


Seseorang yang mengendarai mobil itu keluar memunculkan kakinya terlebih dahulu, lalu badan dan di ikuti oleh wajahnya.


"Om Bian...." Azzam terlonjak, berlari mendekati Bian.


Bian mengajak Azzam untuk menghabiskan akhir pekan bersama. Mengajaknya untuk bermain di taman, mal, dan melihat kebun binatang. Dan tentunya Arini juga ikut bersama mereka atas permintaan Azzam pangeran kecilnya itu, lagi pula Arini tidak akan melepaskan anaknya begitu saja pada Bian. Jadilah ia pun menerima ajakan Azzam dan ikut dalam acara weekend itu.


Awalnya Arini tidak mau ikut, bahkan tidak memperbolehkan Azzam pergi menghabiskan waktu weekend bersama Bian. Tapi, melihat raut sedih dari wajah pengeram kecilnya dan mengingat Bian sudah membantu menyembuhkan kakinya ia pun menyetujui permintaan itu.


"Hai... boy." Bian merentangkan kedua tangannya, menyambut Azzam dengan senyum cerahnya. Hari ini ia sangat senang karena bisa menghabiskan weekend kali ini bersama dengan Azzam dan Arini, tidak seperti weekend kemarin yang ia isi dengan bekerja dan bekerja.


"Om... kenapa jemputnya lama sekali? Katanya jam tujuh tepat udah ada di depan rumah dan ini udah jam tujuh lewat enam menit." Azzam langsung mengintimidasi Bian, ketika ia sudah berada di gendongan Bian.


Bian termangu menatap ekspresi wajah Azzam, sungguh mirip dengannya ketika ia sedang memberi perlawanan dan protes seperti ini kepada mamanya saat ia masih kecil se-umuran Azzam.


"Omm...." Panggil Azzam mengangkat satu alisnya menyadarkan Bian.


"Eh... Iya, iya. Om minta maaf deh." Bian menggelitiki perut Azzam, membuat si empunya tertawa ngakak kegelian.


"Ahahah... jangan di gelitiki om... gelillll... hahah." Azzam tertawa memberontak kegelian di gendongan Bian.


"Iya, tapi dengan satu syarat." Bian menawar, masih melancarkan aksinya. Ia ingat sekali mamanya sering melakukan cara seperti ini padanya, dan dia dengan terpaksanya akan menerima syarat dari mamanya itu.


"Iya hahaha... apa syaratnya om...."


"Syaratnya Azzam jangan marah lagi sama om." Ujar Bian dan langsung mendapatkan anggukan cepat dari Azzam. Bian pun langsung menghentikan aksinya.


"Anak pintar." Bian mengusap kepala Azzam yang dibaluti topi itu.


"Kalian sudah mau pergi?" tanya ibu Syahra yang berbeda di bingkai pintu rumah.


"Iya, Bu." Jawab Arini mendekati ibunya lalu menyalami tangannya. Bian dan Azzam berjalan mendekati keduanya.


"Hati-hati, yah...." Nasehat ibu Syahra kepada Arini yang menyalami tangannya.


Selesai Arini menyalami tangan ibunya, Bian dan Azzam bergantian menyalami tanya ibu Syahra.


Bian sedikit membungkukkan kepalanya ketika berhadapan dengan ibu Syahra ibunya Arini, dan ibu Syahra balas mengangguk.


"Jaga baik-baik anak dan cucu ibu, Bian." Pinta ibu Syahra setelah Bian menyalami tangannya.


"Iya Bu, pasti. Bian akan menjaga mereka." Jawab Bian yakin. Mengangguk takzim pada Ibu Syahra.


Setelah mereka bertiga menyalami tangan ibu Syahra, mereka bertiga berjalan menuju mobilnya Bian.


Azzam berbalik, melambaikan tangannya kepada sang nenek yang masih setia melihat kepergian mereka bertiga.


"Dadahh, nenek...." Ucap Azzam masih melambaikan tangannya, wajahnya tersenyum bahagia. Ibu Syahra tersenyum, ia ikut membalas lambaian tangan dari cucunya itu.


Arini dan Azzam naik di kursi belakang, sedangkan Bian ia di depan kursi pengemudi. Sebenarnya ia ingin Arini dan Azzam duduk di depan samping kursinya, tapi ia takut mengatakannya. Takut Arini akan berubah pikiran dan membatalkan acara liburan bersama mereka.


Bian membunyikan klakson, melihat keluar jendela, sekali lagi mengangguk pada ibu Syahra. Lalu ia pun mulai menjalankan mobilnya.


*****


Di bawah pohon nan rindang, Arini sedang duduk di atas tikar yang sudah mereka rentangkan dengan makanan memenuhi di bagian tengahnya.


"Hai...." Seseorang menyapa Arini, duduk di sampingnya. Arini tidak menyadari kedatangan orang itu.


"Hai...." Kembali orang itu menyapa, menggerakkan tangannya di depan wajah Arini yang masih tidak menyadari kedatangannya karena sedang melihat anaknya yang tengah bermain bersama Bian.


"Eh...." Arini menoleh melihat orang yang duduk di sampingnya tanpa seizinnya.


"Rangga!" Ujar Arini sedikit kaget, memukul pelan bahu Rangga yang duduk di sampingnya.


"Hai...." Sapa Rangga lagi, tersenyum lebar melihat Arini yang sedikit kaget dengan kehadirannya.


"Kamu kapan duduk di situ?" tanya Arini bingung, karena tidak mengetahui kapan Rangga datang dan duduk di sampingnya.


"Baru aja." Jawab Rangga, mengambil minuman yang sudah tersedia di tengah-tengah tikar yang Arini sediakan. Arini mengernyit, kapan? Kok dia tidak mengetahuinya.


Rangga menghiraukan saja kebingungan Arini, ia lebih memilih meminum minuman yang sudah di ambilnya barusan.


Baru saja Rangga ingin menegak minuman dalam botol itu, seseorang terlebih dahulu sudah merampasnya dan langsung menegaknya.


"Eh... minuman ku." Rangga meringis, melihat minuman yang di ambilnya barusan telah di habiskan oleh Bian.


Dan tanpa merasa bersalahnya, Bian kembali mengambil botol minuman yang baru saja Rangga ambil dan kembali menegaknya sampai habis.


Bian sejak tadi, ia memerhatikan Arini yang tengah melihatnya dan Azzam bermain kejar-kejaran di tengah taman. Dan matanya seketika fokus pada sosok lelaki yang tak lain adalah Rangga yang mendekat dan duduk di samping Arini.


Ia pun memutuskan mengajak Azzam untuk beristirahat, sekalian melihat apa yang dilakukan oleh Rangga, lagi pula matahari juga sudah mulai naik memancarkan cahaya panasnya.


"Apa?" tanya Bian polos, melihat wajah Rangga yang menahan emosi.


"Kenapa kau mengambil air minum di tangan ku?" Sarkas Rangga pada Bian. "Itu, masih banyak di sana!" Tunjuknya pada deretan air mineral yang terjejer rapi di tengah-tengah tikar.


Bian melihat air minum yang ditunjuk oleh Rangga, "Kenapa? Suka-suka aku mau minum yang mana!" jawab Bian santai, mengedikkan bahu.


"Ta---" ujar Rangga tertahan, ingin protes.


"Air minum ini kami yang bawa." Ujar Bian telak, membuat Rangga kikuk sendiri.


"Dasar! Sifatnya tidak pernah berubah. Dari kecil sampai sekarang, tetap saja pelit dan perhitungan." Runtuk Rangga mengatai Bian dalam hati.


"Ini minumannya, jangan dengarkan apa yang di katakan orang aneh itu barusan." Arini menyodorkan sebotol air minum pada Rangga yang terlihat sangat haus itu.


"Eits... saya tidak pernah menolak rezeki." ujar Rangga menghalangi tangan Bian yang ingin mengambil kembali air minum yang di berikan Arini kepadanya.


"Terima kasih." ucap Rangga bangun dari duduknya, sambil menegak air minumnya.


"Aku pergi dulu, sepertinya bos ku sudah memanggil nama ku." Ijin Rangga pada ketiga orang itu. Ia takut jika Arumi menunggunya lama, padahal kan ia hanya ijin ke toilet tadi. Dan tidak sengaja bertemu dengan Arini dan mampir minim di sini.


"See you... boy." Ujar Rangga melambaikan tangannya pada Azzam.


"See you too... Om." Azzam balas melambaikan tangan.


Semenjak mendapatkan pekerjaan dari Arumi, Rangga kini dekat dengan keluarganya. Termaksud Azzam dan juga Arini.


*****


Untuk para Reader tercinta, Author minta maaf karena sudah lama tidak update belakangan ini. Karena kesehatan lagi terganggu, jadi Author baru bisa update lagi kali ini.


Author benar-benar minta maaf jika sudah membuat kalian semua lama menunggu update-tan dari novel ini, dan semoga para Reader bisa memaklumi.


Terima kasih untuk semua Reader and love you all...


*****


Bersambung...