My Son Is My Strength

My Son Is My Strength
Pernikahan Arumi



Tibalah hari yang ditunggu-tunggu oleh semua orang. Hari dimana Arumi dan Rangga akan melangsungkan pernikahan mereka setelah beberapa minggu lamaran.


Dengan sinar matahari yang cerah menyambut hari bahagia, Arumi tampak duduk tertegun di depan meja rias kamarnya. Wajahnya yang cantik dengan busana kebaya berbalut warna putih membuat penampilannya terlihat anggun.


"Ya ampun, lagi-lagi aku pangling melihat penampilan Aunty yang cantik begini." Azzam terlihat menggeleng, dengan pujiannya yang memang tidak dibuat-buat.


"Sudah Mama duga kamu akan mengatakan itu." Kedatangan anak laki-lakinya di kamar ini tidak lain untuk memuji sang adik semata, karena kalau tidak ia sudah pasti bergabung dengan papanya di lantai bawah untuk menyusuri meja pramusaji di bawah sana.


"Tentu saja, ini tidak boleh dilewatkan. Buka begitu Aunty?" timpal Azzam butuh pembelaan pada Arumi. Arumi terkekeh, 'tentu saja' katanya. Keponakan laki-lakinya ini memang sungguh menggemaskan.


"Sekarang ayo kita foto." Ia mengumpulkan semua orang yang ada di kamar itu. Mamanya, tante Hana, dan tentu sang nenek, disuruhnya untuk menampilkan senyum terbaik dengan dia yang akan mengambil gambar.


"Semuanya cheersshh." Katanya sembari mengambil gambar, semua orang mengikuti keinginan laki-laki kecil itu.


Acara kini berlanjut, Arumi turun melewati anak tangga dengan didampingi ibunya dan sang kakak, lalu Hana dan si kecil Azzam. Semua mata tertuju pada mereka, termaksud Rangga yang tak melepaskan pandangannya pada sang calon istri.


Tatapannya terpaku di sana, ia terpaku akan kecantikan perempuan yang sebentar lagi menjadi istrinya itu. Ia tahu Arumi cantik, bahkan di pertemuan pertama mereka sudah mampu membuat jantung Rangga berdesir. Namun, hari ini perempuan itu terlihat amat cantik membuat jantungnya berdebar kencang.


Arumi turun lalu digiring menuju tempat duduk di samping Rangga yang bersiap untuk melakukan akad nikah. Mata Rangga tak teralihkan menatapnya sedikit pun, hingga ibu Syahra memasangkan kerudung putih pada kedua mempelai dan ijab kabul pun akan segera dimulai.


Kesadaran Rangga kembali pada pak penghulu, rasa gugupnya kembali menyelimuti. Jantungnya yang berdebar karena aliran cinta kini bertalu-talu layaknya suara gendang.


"Om Rangga kenapa? Kaya orang nahan pipis aja." Celetuk Azzam melihat keringat Rangga yang sudah sebesar biji jagung. Disambung kekehan dari Alysha adik perempuan Bian, mereka berdua memutuskan untuk duduk bersama karena memiliki kesamaan yaitu jomblo happy.


"Hahahaha... iya." Tak tahan, Alysha pun tertawa menutup mulutnya. "Sekarang ayo kita kasih semangat." Ajak Alysha dan Azzam mengangguk setuju.


"Semangat Om Rangga...." Sorak Azzam mengacungkan kepalan tangannya memberi semangat.


Dan karena teriakannya itu membuat semua orang beralih menatapnya, Azzam salah tingkah. Ia cengengesan, memasang senyum terbaik.


Pengorbanan Azzam yang memberikan semangat berhasil tersampaikan pada Rangga, kini laki-laki itu mengatur napasnya lalu memberikan jempol pada Azzam.


"Kalian sudah siap?" tanya pak penghulu pada Rangga dan Arumi.


"Siap," jawab Rangga dengan mantap. Pak penghulu dan Rangga pun mulai berjabat tangan.


Penghulu sebagai wali hakim memulai lebih dulu, lalu dilanjut oleh Rangga yang melafalkan ijab kabul dengan satu tarikan napas. Kata 'sah' pun terdengar menggema seisi ruangan. Para tamu undangan yang hadir mengucapkan syukur dan dilanjut dengan mereka menengadahkan tangan untuk mengaminkan doa.


Melihat semua orang menengadahkan telapak tangan, Azzam pun mengikuti. Ia pun  mengaminkan doa dengan sungguh-sungguh.


Tuan Adi dan Anggit terharu melihat putra semata wayang mereka kini telah melepaskan masa lajangnya. Anggit sungguh berbahagia karena anaknya mendapatkan perempuan yang baik-baik seperti Arumi, dulu ia sempat mengira anaknya itu akan menikahi gadis asal. Tidak bisa ia bayangan mendapatkan menantu dari mantan pacar anaknya dulu.


Rasa haru juga dialami ibu Syahra, kini kedua anak perempuannya telah menemukan pasangan hidup masing-masing. Dan doa terbaiknya sebagai seorang ibu, anak-anaknya berbahagia dalam merajut rumah tangga masing-masing.


Bian tentu tahu itu, kasih sayang istrinya pada Arumi memang sangat besar. Diraihnya tubuh sang istri untuk bersandar di pundaknya.


"I love you." Ia membisikkan kalimat cinta itu, karena mengingat hari pernikahan mereka. Lagi-lagi Arini tersenyum, "I love you to." Balasnya mendongak sedikit, lalu mencium wajah suaminya dengan singkat. Sangat singkat, tapi mampu membuat tubuh Bian membeku.


"Sayang, ke kamar yuk." Ajaknya keceplosan, dan langsung mendapatkan cubitan sayang dari Arini.


*****


Kini kedua mempelai telah berada di atas pelaminan, karena pesta pernikahan berpindah pada aula besar milik keluarga Kusuma. Desain interiornya bernuansa putih nan elegan dengan hiasan bunga mawar. Sangat mewah dan menawan sesuai keinginan Anggit dan tentu kedua mempelai.


Para tamu undangan silih berganti naik ke pelaminan untuk mengucapkan selamat pada pengantin baru itu.


Azzam, Arini dan Bian, keluarga kecil itu sedang mengelilingi meja pramusaji setelah mereka puas melakukan sesi foto dengan kedua pengantin. Mengabaikan ajakan mama Mira yang masih ingin berfoto dengan mereka. Tapi apalah daya, perut mereka yang minta diisi adalah hal utama bagi ketiganya, apalagi hidangan di sana seolah melambai untuk di santap. Jadilah ketiga berpindah dari satu meja ke meja yang lain, mencicipi semua menu makanan.


Rio dan Hana tak tinggal diam, mereka berdua mengelilingi aula mewah itu. Menghampiri beberapa sudut lalu berfoto dengan gaya elegan, gaya gaul, gaya kekinian, bahkan gaya ABG pun mereka lakukan. Keduanya terlihat bahagia dan romantis.


Marvel yang juga di undang, duduk di sudut ruangan seorang diri. Ia menyaksikan semua keharmonisan dan keromantisan dari mereka, mulai dari pamannya dan sang istri, mama Mira. Lalu Tuan Adi dan tante Anggit. Bian dan istrinya Arini, Rangga dan Arumi. Kini Rio dan Hana, lalu dia dengan siapa?


Dari jauh, ia melihat kedatangan Dian yang menghampirinya setelah mengucapkan selamat pada kedua pengantin baru. Dian sama dengannya, juga belum memiliki pasangan.


Sekelebat keberanian langsung muncul dalam dirinya, ia juga ingin memiliki pasangan seperti mereka.


Tak ingin ia hidup melajang seumur hidup dan menjadi perjaka kesepian seperti yang dikatakan oleh sepupu perempuannya, Alysha. Ia juga harus mencari pasangan hidup dan hidup bahagia seperti yang lain.


"Hai, kita ketemu lagi." Sapa Dian, kini mereka sudah lebih saling kenal dan mengetahui nama masing-masing.


"Menikahlah dengan ku."


"Ya?" Dian benar-benar tidak mendengar apa yang diucapkan oleh Marvel karena suasana sangat berisik, apalagi kini suara musik menggema ditambah lagi dengan perkataan Marvel yang terlalu cepat.


"Ayo menikah." Ulang Marvel mengeraskan suaranya, tidak ada keraguan dalam ucapannya itu.


"Hah? Menikah? Tidak mungkin, kita baru saja bertemu beberapa kali." Ucap Dian tak percaya, ia menganggap perkataan Marvel sebagai lelucon.


"Aku serius, ayo kita menikah!” Marvel kembali mengulang ajakannya, dan kini membuat Dian terpaku melihat keseriusannya.


"Menikahlah dengan ku, aku berjanji akan membahagiakan mu dan menjadikan mu ratu dalam hidupku. Aku tidak akan mengkhianatimu karena aku tidak mengenal wanita mana pun selain dirimu dan Arini. Dan kamu tahu sendiri sahabat mu itu sudah ada yang punya, jika aku mengganggunya bisa jadi aku akan dicincang oleh Bian." Tutur Marvel begitu serius, bahkan sangat serius. "Jadi menikahlah dengan ku."


*****


Bersambung...