My Son Is My Strength

My Son Is My Strength
Orderan Pertama



Setelah melakukan sesi foto-foto dan mendapat gambar yang menarik, Arini dan Arumi mulai meng-upload gambar tersebut pada media sosial mereka masing-masing.


Berselang beberapa menit kemudian, Arumi mendapatkan notifikasi dari ponselnya. Ia mengambil ponselnya dan mulai mengecek notifikasi yang baru saja masuk itu. Dan alangkah senang sekaligus terkejutnya Arumi mendapatkan notifikasi tersebut, yang tak lain adalah notifikasi orang yang memesan kue mereka.


"Kak... kak...." Panggil Arumi sambil memukul pelan lengan sang kakak, sedangkan matanya masih fokus membaca notifikasi tersebut.


"Ya, kenapa Rum?" jawab Arini tanpa menoleh, karena ia juga sedang fokus mengetik sesuatu pada ponselnya.


"Kakak... ada yang pesan kue kita, sepuluh toples lagi." Kata Arumi senang, memberitahu kakaknya.


"Yang benar Rum?" tanya Arini memastikan, dan kini ia fokus pada sang adik yang tengah membalas pesan pada pembeli.


"Iya. Kalau kakak nggak percaya, lihat aja sendiri." Kata Arumi menyodorkan ponselnya pada sang kakak, setelah ia selesai membalas pesan pada pembeli.


Arini mengambil ponsel di tangan adiknya, dan mulai membaca pesan Arumi dan pembeli dengan teliti.


"Gimana Rin?" tanya ibunya tidak sabaran, karena dia hanya melihat tingkah kedua anaknya sejak tadi.


"Alhamdulillah... benaran ada yang pesan, Bu." Arini menjawab pertanyaan ibunya, dengan raut wajah yang juga senang.


"Alhamdulillah." Ujar ibu Syahra, mengucap syukur.


"Nah, apa ku bilang... ada yang pesan kan! Kakak sih, nggak percaya." Kata Arumi membenarkan perkataannya tadi.


"Iya... iya, kakak bukannya nggak percaya. Tapi, mau masti in aja kok." Arini menimpali perkataan adiknya.


"Terus, apa bedanya." Ujar Arumi menyilangkan kedua tangannya di dada, lalu menghembuskan napas gusar. "Hmm...."


"Sudah-sudah." Ibu Syahra melerai, melihat situasinya berubah. "Terus, pesanan kuenya mau kamu antar gimana Rum?" lanjut ibu Syahra bertanya, mengingat orderan pertama mereka.


"Kalau masalah itu, Arin paket gojek online aja, Bu." Arini menjawab pertanyaan ibunya, dan mengabaikan perkataan Arumi barusan. "Ibu nggak usah khawatir." Lanjut Arini lagi.


"Emang bisa?" tanya ibu Syahra, yang memang belum tahu tentang jasa menggunakan gojek online.


"Bisa dong." Jawab Arumi cepat, menghentikan pergerakan mulut Arini yang juga ingin menjawab pertanyaan dari ibunya.


Dan jadilah mereka mengantar orderan pertama kuenya, menggunakan jasa gojek online yang sudah Arini pesan terlebih dahulu.


"Sesuai alamat ya, Pak." Arumi mengingatkan.


"Siap, Neng." Jawab abang gojek online tersebut, mengacungkan jempol. Lalu menyalakan motornya, mulai mengantar pesanan.


Ting... ting....


Bunyi notifikasi ponsel Arini, mengalihkan fokus mereka yang sedang melihat gojek online tersebut menjauh dari lorong rumah kontrakannya.


"Pesanan lagi kak?" tanya Arumi menebak.


"Tunggu, kakak cek dulu." Jawab Arini dan mulai mengotak atik benda pipih di tangannya.


"Eh iya, pesanan lagi." Kata Arini kemudian, setelah mengecek ponselnya.


"Aamiin." Jawab Arini dan ibunya, mengamini do'a Arumi.


Lalu mereka pun masuk, mulai membungkus pesanan dari pembelinya dan akan di antarkan sesuai alamat.


*****


Hari-hari berjalan begitu cepat, usaha kue jualan online Arini mulai menampakkan kemajuan. Tak sedikit orang-orang yang berada di sekitar Arini iri akan kesuksesannya dan keluarga. Apalagi setelah melihat perut Arini yang sudah mulai membuncit karena memasuki minggu ke enam belas itu.


"Bu... Arin sama Arumi antar kue dulu ya... di warung bibi Juwita." Izin Arini pada ibunya.


"Iya, kalian berdua hati-hati di jalan. Ingat kan pesan ibu, nggak usah di ladenin kalau ada ibu-ibu yang membicarakan kalian." Ujar ibu Syahra memperingati anak-anaknya, karena memang akhir-akhir ini para ibu-ibu suka membicarakan tentang keluarganya, tentang kehamilan Arini yang mereka tidak lihat suaminya.


"Iya, Bu." Jawab Arini dan Arumi berbarengan, sambil mengangguk. Lalu melangkah pergi menuju warung bibi Juwita setelah mereka menyalami tangan ibunya bergantian dan mengucapkan salam.


Ketika Arini dan Arumi mulai mendekati warung tersebut, terlihat ibu-ibu yang berada di warung itu saling berbisik satu sama lain. Yang bisikan mereka masih didengar oleh telinga kedua saudara itu.


Arini menoleh pada adiknya, menatapnya dalam, berusaha mengirimkan kode bahwa 'ingat pesan ibu'. Arumi yang ditatap seperti itu, seolah mengerti akan kode yang diberitahukan oleh kakaknya, ia pun mengangguk. Dan mereka berdua terus menghampiri warung bibi Juwita.


"Tuh lihat sih Arini, perutnya membuncit. Pasti hamil anak haram, hamil di luar nikah." Kata salah satu ibu-ibu, ketika Arini dan Arumi sampai di warung itu.


Mendengar itu semua membuat Arumi geram dalam hati, ingin ia membalas semua perkataan yang dilontarkan oleh ibu-ibu itu, tapi ia masih ingat dengan pesan ibunya. Jadi, Arumi hanya bisa memandang sinis ibu-ibu yang membicarakan kakaknya.


"Kenapa? Kamu marah ya...?" tanya salah satu ibu-ibu dengan suara mengejek melihat pandangan sinis Arumi mengarah pada mereka. "Emang kenyataannya kan!!! kakak kamu itu hamil anak haram, hamil di luar nikah, hamil tanpa suami." Cerocosnya lagi, balas memandang sinis Arumi, lalu menarik keranjang kue yang Arumi pegang dan melemparnya ke samping warung bibi Juwita.


Arini maupun Arumi tercengang akan hal itu, kue yang mereka buat dengan bercucuran keringat dan bersusah payah hanya di buang seperti itu, seperti makanan basi.


"Bu Rahma. Ibu keterlaluan!" teriak Arumi menatap geram orang yang bernama Bu Rahma itu, orang yang sudah membuang kue mereka.


Habis sudah kesabarannya sebagai manusia. Ia tak tahan lagi melihat tingkah ibu-ibu ini yang sudah sangat keterlaluan.


Arumi maju beberapa langkah, ingin membalas perlakuan ibu Rahma tapi langkahnya langsung terhenti karena tangannya ditahan oleh sang kakak.


"Sudah Rum, ingat pesan ibu." Kata Arini mencegah adiknya berbuat yang tidak-tidak. Sebenarnya, ia juga sedikit geram dengan perlakuan ibu-ibu ini. Tapi, sebisa mungkin ia menahan kegeramannya, karena tidak ingin membuat masalah seperti yang di katakan ibunya.


"Tapi kak." Kata Arumi, masih tidak terima dengan perlakuan dari ibu Rahma yang sudah sangat keterlaluan.


"Udah, kita datang bukan untuk cari masalah. Tapi buat antar kue." Ujar Arini menenangkan adiknya.


"Tapi, itu kuenya." Kata Arumi menunjuk kue mereka yang sudah berhamburan dan dimakan oleh kucing.


"Iya, nggak papa. Kan masih ada satu keranjang lagi." Ujar Arini masih berusaha menenangkan adiknya. "Ini bibi Juwita, kuenya aku antar lagi." Lanjut Arini beralih pada bibi Juwita, seraya menyodorkan satu keranjang kuenya.


Bibi Juwita yang sedang bicara dengan salah satu ibu-ibu yang bergosip tadi, kini menoleh pada Arini yang sedang menyodorkan satu keranjang kue padanya, lalu kembali menoleh pada ibu-ibu tadi. Dan sesaat kemudian, ia pun berkata... "Maaf Rin. Saya tidak bisa bantu kamu jualan kue lagi." Kata bibi Juwita menatap kasihan pada Arini. Arini menarik kembali keranjang kue yang di sodorkannya tadi.


"Tapi kenapa, Bi?" tanya Arini bingung, pasalnya baru kali ini bibi Juwita menolak menjual kuenya.


*****


Bersambung...