My Son Is My Strength

My Son Is My Strength
Kau Melihat Kemiripan Kami?



Malam ini Bian tidak menginap di apartemennya seperti biasa, karena kedua orang tuannya menyuruh ia untuk pulang dan tidur satu hari di rumah.


Bagi Bian rumahnya adalah tempat penginapan, sedangkan apartemennya adalah tempat ia untuk pulang dan beristirahat. Entahlah kenapa ia merasa begitu, tapi yang penting ia nyaman akan hal itu.


"Bagaimana keadaan perusahaan?" tanya tuan Dean di sela mengunyahnya, karena mereka sedang berada di ruang makan dan makan bersama.


"Semuanya baik." Jawab Bian memberitahu, karena sekarang perusahaan sudah resmi dipegang kendali olehnya semenjak ia selesai wisuda. Lalu Tuan Dean, hanya sesekali memeriksa keadaan perusahaannya, karena ia sudah mempercayakan perusahaannya pada anak laki-laki satu-satunya itu. Lagi pula ia merasa sudah waktunya untuk beristirahat dan menikmati waktu tuannya bersama sang istri.


"Jangan terlalu sibuk dengan urusan pekerjaan mu, Bian. Sampe-sampe kamu lupa untuk mencari calon menantu untuk mama." Timpal Mira, istri tuan Dean Pratama dan ibu dari Bian. "Kami juga ingin menimang cucu di usia tua ini." Lanjut mama Mira menatap sang anak yang tengah mengunyah, tuan Dean mengangguk.


"Iya, usia kakak sudah mau memasuki kepala tiga. Apa kakak mau jadi lanjang selamanya, atau kakak kurang menarik sehingga tidak di lirik oleh satu wanita pun." Seloroh Alysha, adik perempuan Bian.


Bian menghentikan menyendok makanan sebentar, demi menjawab perkataan Alysha yang menurut Bian adalah hinaan baginya. "Enak saja, semua wanita bertekuk lutut untuk bisa menarik perhatian ku. Tapi tidak ada satu pun yang aku lirik." Kata Bian menyombongkan diri dan memang itulah kenyataannya. "Ya... walau pun tidak semua wanita, tetapi sembilan puluh sembilan persen semuanya begitu." Gumam Bian hanya dalam hati, karena kalau ia mengatakan itu pasti adiknya akan tambah memojokkannya.


"Masa." Kata Alysha memutar jengah bola matanya.


"Apa? Tidak ada yang di lirik! Kenapa?" tanya mama Mira tidak habis pikir.


"Mungkin yang lirik itu... ibu yang sudah janda, kalau bukan ibu-ibu yang sudah janda, berarti nenek-nenek." Seloroh Alysha kembali.


"Uhuk... uhuk...." Bian tersendat mendengar perkataan Alysha.


"Pelan-pelan Bian." Kata mama Mira khawatir, dan tuan Dean menyodorkan air minum pada sang anak karena ia yang paling dekat dengan Bian. Dan Bian langsung mengambil air minum yang di sodorkan, lalu ia pun meneguknya. Sedangkan orang yang duduk di samping Bian yang tak lain adalah Alysha, tidak membantunya memberikan air minum. Karena Alysha sudah berlari cekikikan menuju kamarnya, takut Bian akan memarahinya. Lagi pula, makanannya pun sudah selesai.


"Makanya, kamu cepat menikah agar tidak menjadi bahan lelucon dari Alysha. Lagi pula ada yang akan melayani mu untuk memberikan air minum seperti ini." Kata tuan Dean fokus mengusap mulutnya.


"Iya, benar apa yang papa mu katakan." Mama Mira membenarkan perkataan suaminya. "Apa perlu mama mencarikannya untukmu?" tanya mama Mira, menawarkan bantuan.


"Nggak perlu mah." Kata Bian yang sudah berada di atas tangga, menuju kamarnya. Karena ia juga sudah menyelesaikan makanannya.


"Oh, ya sudah. Mama hanya menawarkan bantuan, dan jika sewaktu-waktu kamu tidak mendapatkannya, mama siap membantu mu mencarikan calon." Kekeh mama Mira, karena ia sangat menginginkan cucu.


Bian mengedikkan bahu, tidak ambil pusing dengan perkataan mamanya, dan terus menaiki tangga menuju kamarnya berada.


Belum sempat Bian membuka pintu kamar, ponsel yang berada di saku celananya berbunyi. Bian mengambil ponselnya itu, lalu mengangkatnya.


"Hm, ada apa?" tanya Bian memulai pembicaraan, seraya membuka pintu kamarnya menggunakan tangan yang tidak ia gunakan untuk memegang ponsel.


"Maaf mengganggu waktunya, Tuan. Saya ingin memberitahukan bahwa perusahaan Azzam Alvaro Group bersedia bekerja sama dengan perusahaan kita, dan pertemuannya dilakukan besok di perusahaan mereka." Kata Rio yang tengah menelpon Bian.


"Ya, kamu siapkan semuanya." Kata Bian duduk di kasur king size-nya.


"Baik, Tuan." Jawab Rio mengangguk di seberang sana.


"Ada lagi." Tanya Bian.


"Tidak ada, Tuan. Hanya itu." Kembali Rio menjawab.


"Oke, aku mau istirahat." Ujar Bian langsung menutup teleponnya, lalu menyimpannya di nakas dan masuk kamar mandi untuk membersihkan diri sebelum ia istirahat.


*****


"Apa Anda baik-baik saja, Tuan?" tanya Rio khawatir, membalikkan tubuhnya.


"Menurut mu." Jawab Bian kesal dan menatap marah pada Rio yang sudah menghentikan mobil secara mendadak.


"Ma... maaf, Tuan. Di depan ada seorang anak laki-laki yang tiba-tiba berlari di tengah jalan." Ujar Rio gugup, berusaha menjelaskan penyebab ia menghentikan mobil secara mendadak tanpa menatap mata Bian yang tersirat kemarahan yang sangat di sana.


Mendengar itu, membuat Bian semakin marah. Ia keluar dari mobil dan menutupnya kasar, sehingga timbul bunyi yang memekik di telinga. Rio yang masih mengendalikan keterkejutan akibat hampir menabrak seorang anak, kini kembali terkejut oleh berbuatan Bian itu.


"Huft... huft...." Rio menghela napasnya, berusaha menghilangkan keterkejutannya. "Nasib... nasib, memiliki bos seperti ini. Untung gajinya banyak, kalau tidak, saat ini juga aku pasti akan meminta resign." Ucap Rio pelan mengusap-usap dadanya berulang kali, takut didengar oleh Bian. Lalu ia pun keluar dari mobil menyusul tuannya, setelah dapat menghilangkan keterkejutannya.


Biar berjalan mendekati anak itu yang kini tengah berjongkok dan memeluk anak kucing. Tubuhnya bergetar hebat, sepertinya ia syok. Bian menghiraukan keadaan anak itu, dan tetap terus mendekatinya bersiap untuk memarahinya.


"Heh, bocah. Apa tidak ada tempat lain untuk mu bermain." Bentak Bian pada anak itu, yang tubuhnya kini semakin bergetar mendengar bentakan Bian.


Bian bersiap membentak anak itu lagi, tapi mulutnya bungkam tak kala melihat wajah anak itu yang tengah menangis ketakutan. Tapi, bukan itu yang membuat Bian bungkam. Ia bungkam karena melihat wajah anak itu yang sangat mirip dengan wajahnya waktu ia masih kecil, bahkan hampir nyaris tidak ada perbedaannya.


Rio yang juga sudah menghampiri Bian kini di buat tersentak melihat wajah anak itu juga yang sangat mirip dengan wajah tuannya. Ia melirik tuannya dan anak itu bergantian dan berulang-ulang, sampai-sampai kepalanya pusing karena hal itu.


"Apa aku mengalami geger otak, sampai-sampai melihat wajah yang sama?" gumam Rio dalam hati, menatap Bian. Pasalnya, kepalanya tadi sempat terbentur dengan dasboard mobil.


"Kenapa?" tanya Bian menatap keanehan Rio.


"Itu, Tuan." Tunjuk Rio pada anak itu.


"Kau melihat kemiripan kami?" tanya Bian ingin memastikannya juga dengan Rio. Rio mengangguk, mengiyakan.


Melihat anggukan Rio membuat Bian berjongkok, dan melihat wajah anak itu lebih dekat lagi untuk memastikan. Dan ternyata, wajah anak ini memang sangat mirip dengan wajahnya waktu ia masih kecil, hanya saja perbedaannya terletak pada bola mata. Anak ini bola matanya berwarna coklat, sedangkan Bian berwarna hitam pekat.


Melihat Bian berjongkok membuat anak itu ketakutan, dan kembali tubuhnya bergetar hebat setelah tadi sedikit tenang.


Bian yang baru sadar anak itu ketakutan, langsung saja memeluknya memberikan rasa tenang dan aman. Dan yang di peluk, langsung tenang karena mendapatkan sesuatu kenyamanan yang belum pernah ia rasakan selama ini. Bian juga merasakan hal yang sama, rasanya ia sangat tenang dan nyaman berpelukan dengan anak ini. Entah kenapa ia merasakan hal seperti itu.


*****


Terima kasih untuk para Reader, yang telah bersedia memberikan waktunya untuk membaca karya baru Author.


Jangan lupa dukung Author dengan memberi vote, Gift, like, and comment, agar makin semangat dalam menulis karya ini. Makasih sekali lagi.


I Love You All...


*****


Bersambung...