
Sinar mentari pagi menerobos masuk melalui celah jendela suami istri yang masih saling mengeratkan pelukan itu. Rupanya setelah menunaikan sholat subuh berjamaah, mereka berdua memutuskan untuk tidur kembali.
"Egh...." Bian terbangun dari tidurnya, memegang kepalanya yang terasa berat dan sakit. Matanya menyipit menyesuaikan dengan cahaya kamar.
"Mmm." Bian membekap mulutnya tak kala merasakan mual yang amat sangat pada area perutnya, ia segera menyibabkan selimut dan segera berlari menuju kamar mandi.
Sampainya di sana, Bian langsung memuntahkan semua isi perutnya. Namun, yang keluar hanya cairan bening nan pahit, tubuhnya pun lemas tak berdaya.
Dari arah belakang, terdengar langka kaki yang berlari menuju Bian. Ia begitu khawatir mendengar suara suaminya yang tengah memuntahkan isi perutnya.
"Mas kamu kenapa?" Arini masuk ke dalam kamar mandi dengan tergesa-gesa, ia langsung memijit punggung suaminya, berharap perlakuannya dapat meredakan mual sang suami.
Bian tidak langsung menjawab, ia kembali memuntahkan isi perutnya yang semakin bergejolak. Pijatan istrinya memberikan ia kekuatan agar menyelesaikan gejolak tak nyaman di perutnya itu.
Dan beberapa saat kemudian, merasa sudah sedikit nyaman, Bian membersihkan mulutnya dan area yang terkena muntahannya. Ia pun berbalik menghadap sang istri usai membersihkan mutahannya, wajahnya terlihat pucat pasi.
Melihat suaminya seperti itu, Arini tidak bisa berkata-kata, mata mulai memerah dan entah kapan, air mata yang menggenang sejak tadi pun luruh.
"Hei, kenapa menangis?" Bian mengusap air mata istrinya dengan sisa-sisa tenaganya, sungguh ia tidak tega dan tidak bisa melihat istrinya menangis seperti ini.
Arini tidak menjawab, ia menarik pelan lengan suaminya berniat memapahnya keluar dari kamar mandi. "Sekarang ayo kita ke dokter." Ujarnya tak tenang dengan keadaan sang suami.
"Sayang... aku tidak apa-apa, ini hanya kecapain." Bian berusaha menenangkan istrinya yang tengah di dera kekhawatiran. Ia menurut, membiarkan istrinya memapahnya keluar dari kamar mandi.
"Tidak apa-apa nya? Lihat, wajahmu pucat sekali." Arini berkata khawatir, menurunkan pelan suaminya agar duduk di kasur. "A-aku akan buatkan bubur dulu." Lanjutnya, berdiri ingin menuju dapur. Namun, pergerakannya ditahan oleh sang suami membuat ia kembali duduk di samping suaminya dan saling berhadapan.
"Aku tidak membutuhkan bubur sayang, aku membutuhkan mu." Lirih Bian agar istrinya tidak keluar meninggalkannya.
"Tapi kamu membutuhkannya tenaga untuk ke dokter mas, atau kita panggil saja dokternya ke sini." Saran Arini langsung mendapatkan gelengan dari sang suami.
"Tidak perlu sayang, nanti juga akan sembuh." Ujar Bian tidak ingin memanggil dokter, membuat Arini bergerak gelisah, mimik wajahnya penuh kekhawatiran.
"Ta-tapi---" Ucapan Arini tertahan, bibirnya dibungkam oleh bibir Bian. "Mmmm." Gumam Arini tak kala Bian menarik tengkuk lehernya, memperdalam penyatuan bibir mereka.
"Aku tidak memerlukan dokter sayang, karena dokter tidak bisa memberikan ku obat mujarab seperti ini." Ucap Bian melepaskan ciuman mereka.
"Gombal." Arini mencubit pelan perut suaminya, tapi Bian berteriak seolah-olah cubitan itu teramat sakit.
"Eh... maaf mas, aku nggak sengaja." Arini dengan cepat mengusap kembali tempat cubitannya barusan.
"Nggak cukup diusap sayang, masih sakit." Bian pura-pura menahan sakit.
"Terus harus gimana mas?" Tanya Arini bingung plus khawatir.
"Obatin." Ujar Bian memelas, Arini mengangkat baju suaminya, melihat sisa cubitannya yang tak berbekas.
"Obatin gimana mas? Cubitannya aja nggak berbekas." Arini mengernyit, menurunkan kembali baju suaminya.
"Berbekas sayang, tapi bekasnya di dalam." Ujar Bian memberitahu, Arini tentu saja tidak percaya, apalagi cubitannya tadi sangat pelan.
"Lalu bagaimana cara ngobatinnya mas?" Tanya Arini ngikut saja alur suaminya, apalagi sekarang suaminya ini sedang sakit.
"Obatinnya kaya tadi sayang." Arini mengernyit, mendengar perkataan suaminya. "Iya, kaya tadi. Nih, aku contohin." Lanjut Bian langsung mencium bibir seksi istrinya untuk mempraktekkan, mata Arini membulat tak menyangka pengobatan yang diminta suaminya.
"Ayo, sekarang obatin sayang. Nanti sakitnya akan semakin parah." Arini memutar jengah bola matanya mendengar itu.
"Iya, tapi tutup mata dulu." Ujar Arini sebelum melakukan pengobatan. Ia merasa aneh sendiri juga malu-malu karena ini pertama kali ia memberikan ciuman pada suaminya. Biasanya, suaminya ini yang melakukan hal tersebut pertama kali.
"Ok." Bian langsung menutup matanya, terseyum, menunggu istrinya menciumnya.
Arini memandang wajah suaminya, yang entah kenapa wajah pucat yang membuatnya khawatir ini menjadi menyebalkan. Bian menunggu tidak sabaran, ia tidak tahu kenapa ia mau melakukan hal konyol seperti ini.
Tidak mau membuat suaminya menunggu lama, Arini mulai mendekatkan wajahnya dengan wajah sang suami, berniat mengecup bibirnya dengan singkat.
Namun, bukannya singkat. Kecupan itu semakin lama, semakin lama, dan berubah menjadi ******* lembut. Arini tak kuasa menghentikannya, satu karena membuat suaminya merasa lebih baik. Terdengar aneh, tapi itu kenyataannya. Dan dua, ia pun menikmati.
"Mmmm." Arini bergumam, melirik ponsel suaminya yang bergetar di atas nakas. Bian dengan terpaksa melepaskan ciuman mereka, mengusap bibir istrinya yang lembap bekas ciuman mereka. Satu tangannya meraih ponselnya di atas nakas.
"Kenapa mengganggu ku sepagi ini?" Sarkas Bian dengan suara sedikit meninggi, membuat seseorang di seberang telepon menjauhkan ponsel dari telinga.
"Mas.... " Panggil Arini mengusap lengan suaminya agar tidak marah.
"Hehehe... maaf sayang." Bian tersenyum lembut pada istrinya. Seseorang di seberang telepon mendengar percakapan mereka.
"Hmmm, sabarrrrr... perlakuan sekretaris dengan istri memang berbeda jauh." Batin Rio mengusap dadanya, sadar diri.
"Ada apa?" Tanya Bian, kembali pada teleponnya.
"Maaf karena telah mengganggu waktu Anda Tuan." Ujar Rio meminta maaf terlebih dahulu.
"Ya, kau memang jadi pengganggu!" Batin Bian, tersenyum manis pada istrinya yang tengah menatapnya dengan lembut.
"Saya hanya ingin mengingatkan, kalau pukul 08:00 ini Anda ada pertemuan dengan klien penting kita Tuan." Lanjut Rio memberitahu.
"Urungkan dulu sampai siang ini." Timpal Bian malas untuk beraktivitas pagi ini, yang ia inginkan hanya bersama istrinya di kamar.
"Hmmm...." Rio tidak menjawab.
"Kenapa? Apa tidak bisa?" Tanya Bian tidak mendengar jawaban dari Rio.
"Sebenarnya bisa Tuan, tapi siang ini, setelah Azzam pulang sekolah Anda di minta untuk menemaninya ke perusahaan Rangga, dan termasuk saya juga."Rio mengingat rencana mereka kemarin yang telah diatur oleh anak bosnya ini.
"Kau benar juga... ya sudah, aku siap-siap dulu." Bian menutup teleponnya setelah mendengar balasan Rio, ia pun menyimpan kembali ponselnya di atas nakas.
"Kamu mau kerja mas?" Tanya Arini khawatir setelah menyimak pembicaraan suaminya.
"Iya sayang, sekarang aku mandi dulu." Bian mengecup lembut kening istrinya, lalu bangkin ingin menuju kamar mandi.
"Tapi kamu lagi sakit mas, emang tidak bisa di tunda dulu." Arini mengingatkan kondisi suaminya.
"Setelah mendapatkan obat dari mu aku tidak apa-apa sayang." Bian tersenyum, menunjukkan bahwa ia baik-baik saja pada sang istri. "Bisa sayang, tapi kalau ditunda akan mengecewakan pangeran kita." Lanjutnya, mengingatkan rencana pangeran kecil mereka.
Arini menepuk dahinya, ia melupakan hal tersebut, dan untung diingatkan oleh suaminya. "Kalau begitu aku siapin sarapan dulu." Arini ikut bangkit.
"Iya sayang." Bian mengangguk, masuk kamar mandi. Arini keluar kamar, turun ke lantai satu menuju dapur untuk menyiapkan sarapan.
*****
Bersambung...