
Komedi putar itu berhenti, diiringi gelak tawa anak-anak serta orang dewasa yang menaiki permainan itu.
Bian menghela napas lega. Akhirnya berhenti juga. Batinnya tak terucap. Ia pun turun dengan sempoyongan, kepalanya pusing bukan main, tubuhnya terasa lemas tak berdaya.
Arini turun mengikuti langkah sang suami, tawanya tertahan melihat kondisi suaminya yang terlihat tidak baik-baik saja. Sedangkan Azzam masih bermain untuk ronde kedua bersama yang lainnya.
"Gimana rasanya mas?" Tanya Arini berusaha menahan tawanya, ia mengikuti sang suami yang terlebih dahulu sudah duduk di kursi tidak jauh dari komedi putar itu, lalu menyodorkannya sebotol air minum.
"Hufttt... rasanya luaar biasa! Sampai-sampai kepala ku pusing tujuh keliling." Bian menerima botol air minum itu dari tangan istrinya, lalu meneguknya perlahan.
"Hahaha... siapa suruh naik mas." Tawa Arini pecah, seraya mengusap-usap punggung suaminya.
"Kalau tahu begini rasanya, aku nggak bakalan naik sayang...." Bian merengek, mendapatkan tawa dari sang istri.
"Ih... ih... jangan gitu, nanti dilihatin lagi sama orang-orang." Arini memukul pelan punggung sang suami.
"Biarin." Bian acuh tak acuh saja dengan keadaan sekitarnya, ia bersandar di bahu sang istri, kepalanya masih terasa pusing akibat putaran permainan itu.
"Mas kalah sama Azzam, tuh lihat... dia sudah ronde ke dua." Tunjuk Arini dengan ekor matanya.
"Gimana nggak kalah sayang, kan mas baru coba." Lirih Bian.
"Hah...?" Arini sama sekali tidak percaya dengan jawaban suaminya, karena menurutnya permainan itu adalah permainan wajib untuk anak-anak. Jadi siapa pun yang pernah menjadi anak-anak tentu saja mencoba permainan itu.
"Iya, mas baru mencobanya." Jelas Bian yang memang baru mencobanya.
"Lalu, masa kecil mas dihabiskan dengan bermain apa saja? Kok bisa masa kecil nggak naik komedi putar, aku aja pas kecil sempat naik, padahal itu dikampung loh... semuanya terbatas, dan harus menunggu hari-hari tertentu untuk bisa memainkannya." Ucap Arini yang masih tidak percaya dengan jawaban sang suami.
"Ya, masa kecil mas tidak se-menyenangkan kalian. Masa kecilku selalu dihabiskan dengan belajar dan peraturan-peraturan dari keluarga." Ujar Bian semakin lirih, Arini terdiam mendengarkan. "Tapi mas tahu, itu semua demi kebaikan mas." Lanjut Bian menyatukan jemarinya di jemari sang istri.
"Umm...." Arini mengangguk setuju, tapi dalam hati kecilnya, ia merasa kasihan dengan kenyataan hidup suaminya. Huft... mendapatkan hal yang berharga, harus berani mengorbankan hal berharga lainnya. Batin Arini menghela napas.
Sejenak mereka berdua terdiam, dan Azzam yang sudah selesai dari permainannya menghampiri kedua orang tuannya yang sedang duduk di kursi.
"Mah... Pah...." Azzam berlari menghampiri keduanya, dan berhenti di depan mereka dengan senyuman yang selalu tersungging di bibir mungilnya. Membuat kedua orang tua itu tersenyum, melupakan masalah mereka melihat kebahagiaan anaknya.
"Sini duduk di pangkuan papa." Bian merentangkan tangannya, menyambut sang anak. Azzam langsung saja menuruti keinginan papanya dan ia pun duduk di atas pangkuan Bian.
"Ini minum dulu." Arini membuka tutup botol dan menuntun Azzam untuk meminum airnya.
"Makasih mah...." Jawab Azzam mengusap sisa-sisa air minumnya.
"Um..., sekarang ayo kita coba yang itu...." Tunjuk Azzam pada permainan kincir ria yang tengah berputar. Bian meneguk susah salivanya. Bermain komedi putar saja sudah membuat ia pusing seperti ini, apalagi permainan itu.
"Ayo mah... pah... Azzam belum pernah mencoba permainan itu." Azzam terus menatap kincir ria itu. Ia sangat ingin mencobanya. Bian kembali meneguk susah salivanya melihat anaknya yang menatap seperti itu pada permainan kincir ria.
"Tapi sayang, pa---" Arini baru saja ingin menolak keinginan sang anak, ia tahu suaminya pasti tak bisa.
"Ya sudah ayo kita naik." Bian memotong ucapan istrinya.
"Mas...." Panggil Arini lirih, dan dijawab dengan anggukan kepala dari suaminya.
"Tapi...." Arini ragu-ragu karena melihat keadaan sang suami.
"Tidak apa-apa, ayo." Bian menggeleng pelan agar istrinya tidak menolak keinginan anak mereka, Bian tidak ingin anaknya sedih karena tidak menaiki kincir ria itu.
"Pelan-pelan sayang." Tegur Arini mengikuti langkah semangat anaknya, Bian hanya tersenyum, juga mengikuti langkah Azzam.
Mereka sampai di kincir ria, dan langsung dituntun oleh petugas untuk menaiki salah satu kabin di kincir ria itu. Bian meneguk salivanya berulang kali, lalu masuk ke dalam kabin itu. Sedangkan Azzam sudah masuk sejak tadi dan menunggu kincir ria itu bergerak.
"Kalau takut nggak usah naik mas." Rupanya petugas itu melihat raut ketakutan di wajah Bian.
"Mas...." Panggil Arini lirih, ia juga melihat raut ketakutan dari wajah suaminya.
"Tidak apa-apa." Jawab Bian berusaha tersenyum, padahal hatinya di dalam sedang menangis ketakutan. Bagaimana tidak? Kincir ria ini tingginya mencapai enam puluh sembilan meter dengan diameter lima puluh dan terdapat tiga puluh dua kabin.
Mereka bertiga sudah berada dalam kabin itu dengan Azzam yang duduk di tengahnya, Arini dan Bian duduk di samping kiri, kanan, anak mereka.
Kincir ria itu pun mulai bergerak perlahan-lahan, bergerak naik secara teratur dan konsisten. Jantung Bian bergerak waswas, satu tangannya memegang tangan sang istri yang berada di belakang punggung anaknya, dan satu tangan lainnya memegang besi kabin kincir ria itu kuat.
"Wah...." Azzam kagum melihat pemandangan kota di atas ketinggian 60 meter. "Lihat pemandangannya mah... pah... bagus sekali." Lanjut Azzam lagi sangat takjub. Arini tersenyum mengangguk pada sang anak, tangannya yang berada di belakang punggung Azzam memegang kuat tangan suaminya, berusaha memberikan rasa ketenangan.
Azzam mendongak pada wajah Bian, dan melihat papanya ini sedang menutup matanya. Ya, Bian sedari tadi menutup matanya takut melihat ke bawah.
"Pah... kenapa matanya di tutup? Ayo buka dan lihat pemandangannya, bagus sekali." Ucap Azzam masih mendongak pada wajah Bian. "Ayo pah, buka matanya." Lanjut Azzam.
Mendengar suara anaknya, Bian menghela napas, mencoba membuka matanya perlahan. Ia tidak mau mengecewakan anaknya.
"Gimana? Pemandangannya bagus kan?" Azzam tersenyum mendapati papanya sudah membuka kedua matanya.
Bian tersenyum pada Azzam, lalu mengangguk, pemandangan sungguh indah. Ia mencium pucuk kepala Azzam, berkat anaknya ini ia bisa melihat pemandangan seperti ini. Arini tersenyum hangat melihat suami dan anaknya.
Mereka bertiga menikmati pemandangan di atas kincir ria itu dengan tenang dan bahagia, sesekali melempar senyum. Bian tidak lagi merasa ketakutan seperti tadi, ia mulai menikmati menaiki permainan kincir ria ini. Sampai... kejadian tak terduga terjadi, membuat semua penumpang berteriak histeris ketakutan.
"Aaakkkkhhh...." Teriak semua penumpang termasuk di kabin yang dinaiki Azzam dan kedua orang tuanya, mereka berteriak ketakutan, tak kala kincir ria itu tiba-tiba bergerak berhenti dengan kuatnya, membuat semua penumpang oleng terhantam ke kiri dan ke kanan.
"Mamaaaa...." Teriak Azzam juga ketakutan, Arini langsung meraih tubuh mungil Azzam dan didekapnya dalam pelukannya dengan satu tangan, tangan lainnya memegang tangan Bian yang tengah gemetar.
Kincir ria itu berhenti bergerak, dengan menggantung orang-orang yang tengah gemetar dalam kabin mereka. Sesaat, ketenangan dan kebahagiaan yang tercipta dalam kincir ria itu berubah menjadi ketakutan untuk semua penumpang.
"Tenang... sebenar lagi akan diperbaiki." Ucap Arini menenangkan dua pria yang tengah ketakutan di depannya ini. Ia terlihat biasa saja karena sudah pernah mengalami hal semacam ini sebelumnya. Bian tidak mendengar ucapan sang istri, tubuhnya berkeringat dingin, gemetar ketakutan.
Arini yang merasakan tangan suaminya yang berkeringat dingin, dan gemetar hebat, melepaskan genggaman tangan mereka. Ia meraih tengkuk leher Bian dan langsung menyatukan bibir mereka, mengecapnya perlahan, berusaha memberikan ketenangan dan kehangatan pada tubuh suaminya.
Gemetar di tubuh Bian seketika berhenti, ia merasakan kehangatan di bibirnya, dan perlahan ia pun tenang. Mulai menerima rasa hangat dan ketenangan yang diberikan istrinya serta membalasnya.
Mereka berdua masih menyalurkan rasa hangat satu sama lain, Azzam masih dalam dekapan Arini menutup wajahnya. Dan tak lama kemudian kincir angin itu berjalan seperti semula, membuat semua orang kembali merasa tenang. Namun, Bian belum melepaskan tautan bibir mereka.
"Hmmp...." Arini bergumam berusaha melepaskan tautan mereka. Karena kalau tidak, adegan mereka ini akan dilihat oleh semua orang.
Di ketinggian satu meter menuju ke bawah, Arini memukul dada suaminya dengan satu tangan. Petugas mendongak ke atas melihat adegan mereka, wajah Arini memerah, merona malu, ia pun terus memukul dada suaminya. Dan Bian baru melepaskan tautan mereka tak kala mendengar suara petugas itu.
"Dilanjutkannya nanti aja mas, sekarang kalian boleh turun." Petugas itu berkata tersenyum, ia pun membuka jeruji besi kabin itu. Wajah Arini semakin memerah, malu serta marah menyatu menjadi satu. Bian tanpa berkata-kata apa pun langsung menggendong anaknya dan keluar dari kabin itu, dengan satu tangan menggenggam tangan Arini.
*****
Bersambung...