
Tak terasa waktu berjalan begitu cepat, lima tahun lebih sudah dilewati oleh Arini dan keluarganya penuh dengan canda dan tawa. Apalagi dengan kehadiran laki-laki kecil yang bernama Azzam Alvaro itu, menambah warna untuk kehidupan mereka bertiga khususnya Arini. Bagi Arini laki-laki kecil itu adalah sumber kekuatan baru baginya, sumber kebahagiaannya terletak.
"Mama! Bangun! Mama!" Azzam menarik-narik baju mamanya, berusaha membangunkan sang mama.
"Eeekkh...." Gumam Arini setengah sadar, karena tidur nyenyaknya diganggu oleh guncangan dan teriakan nyaring di sebelahnya. Ia membuka matanya, terlihat pangeran kecilnya tengah memasang wajah cemberut dengan tangan terlipat di depan dada. Tak sadar Arini menyunggingkan seulas senyum. Lalu ia bangun dari tidurnya dan menarik pangeran kecilnya agar bisa duduk di pangkuannya.
"Kenapa sayang?" Tanya Arini dengan suara lembutnya pada sang pangeran kecilnya. Azzam diam, tidak menyahut pertanyaan sang mama.
Melihat Azzam diam, Arini mulai melancarkan jurus terampuhnya.
"Ummm... mama, Azzam geli hihihi... mama geli hihihi...." Kata Azzam kegelian karena sang mama menggelitiki perut kecilnya seraya menciumi seluruh wajahnya.
"Nah... masih marah sama mama?" tanya Arini masih melancarkan aksi mencium pangeran kecilnya.
"Tidak mama hihihi... Azzam tidak marah lagi sama mama, udah mah geli hihihi...." Kata Azzam menyerah. Arini menghentikan aksinya, mendengar penuturan dari pangeran kecilnya.
"Kenapa sayang?" tanya Arini mengulangi pertanyaannya, yang belum sempat pangeran kecilnya jawab.
"Ih mama. Mama lupa ya, kalau hari ini hari pertama Azzam masuk sekolah tahu." Kata Azzam menggembungkan pipi gembulnya.
"Oh, astagfirullah. Mama lupa sayang." Kata Arini menepuk jidatnya sendiri. "Ya sudah, ayo kita siap-siap biar mama yang antar." Lanjut Arini seraya turun dari tempat tidur.
"Eh... nggak usah mah, biar aunt Arumi saja yang antar aku ke sekolah." Kata Azzam menolak tawaran sang mama.
"Kenapa sayang? Kamu nggak mau mama yang antar di hari pertama sekolah?" tanya Arini mengernyitkan dahi.
"Bukan begitu mah, tapi Azzam takut mama capek." Kata Azzam menatap wajah mamanya, ia takut membuat mamanya kecapaian karena mamanya juga harus bekerja.
"Siapa bilang mama capek? Mama nggak capek kok, malahan mama sangat bersemangat. Lagi pula ini hari pertama Azzam masuk sekolah. Jadi, harus mama yang mengantarkannya." Ujar Arini meyakinkan Azzam.
"Benarkah mah? Mama tidak capek?" tanya Azzam memastikan, dan Arini menggeleng sebagai jawaban dari pertanyaan sang pangeran kecilnya.
"Yeiiii... Azzam di antar sama mama ke sekolah." Ujar Azzam girang sambil melompat di atas kasur king size mamanya.
Arini terkekeh melihat kelakuan sang anak. "Ya sudah, ayo Azzam sayang kita siap-siap ke sekolah." Ajak Arini mengulurkan tangannya.
"Ayo mama." Kata Azzam bersemangat lalu menyambut uluran tangan dari sang mama untuk menurunkannya dari ranjang.
"Tunggu mah." Kata Azzam tiba-tiba, menolak uluran tangan dari Arini.
"Kenapa sayang?" tanya Arini bingung.
"Ummah... ummah, Azzam sayang mama." Katanya seraya mencium kedua pipi Arini, lalu ia turun sendiri dari ranjang king size itu, karena tidak ingin membuat mamanya repot dan kecapaian. "Azzam bisa siap-siap sendiri dibantu sama aunty Arumi." Lanjut Azzam lagi, lalu keluar dari kamar Arini dan memberikan sun jauh kepada sang mama sebelum ia benar-benar menutup pintu kamar mamanya.
Arini yang melihat tingkah lucu pangeran kecilnya, tak henti-hentinya tersenyum. Lalu ia pun masuk ke kamar mandi dan bersiap-siap untuk mengantar Azzam ke sekolah.
*****
"Yeii mama sudah turun." Kata Azzam girang, sambil lompat-lompat melihat Arini yang turun dari tangga. Tampaknya ia sangat bersemangat untuk segera berangkat ke sekolah.
Arini mengulumkan senyumnya pada sang anak. "Apakah Azzam sudah sarapan?" tanya Arini menatap sang anak.
"Iya, Azzam sudah sarapan mah." Jawab Azzam mengangguk semangat.
"Bekalnya sudah Rum?" tanya Arini beralih pada adiknya.
"Ya sudah ayo berangkat sayang." Ajak Arini pada sang anak. "Tapi jangan lupa, cium tangan nenek dulu sama tante Arumi." Lanjut Arini mengingatkan anaknya.
"Ih... bukan tente, aku ini masih mudah, masih imut. Jadi nggak cocok dipanggil tante." Kata Arumi menolak panggilan tanten.
"Terus mau di panggil pake apa?" tanya Arini menatap sekilas adiknya.
"Panggil aunty Arumi, oke boy." Jawab Arumi memberikan tangannya kepada Azzam untuk di salami.
"Hallah, apa bedanya." Kata Arini memutar jengah bola matanya. Seraya menciumi tangan ibunya.
"Yes, aunty Arumi." Kata Azzam menyalami tangan Arumi setelah ia menyalami tangan sang nenek. Lalu Arumi dan Azzam menyatukan kedua tangannya bertos ria. Setelah itu Azzam kembali mendekati mamanya.
"Ayo mah, kita berangkat." Kata Azzam bersemangat.
"Kamu nggak sarapan dulu, Rin." Tanya ibunya, sebelum Arini beranjak pergi.
"Entar di kantor aja Arin sarapan, Bu." Kata Arini menjawab pertanyaan ibunya. Lalu ia pun keluar dari pintu rumah dan menaiki mobilnya bersama sang pangeran kecilnya menuju ke sekolah.
*****
Sampainya di depan sekolah Azzam, Arini segera turun dari mobil, membukakan pintu untuk Azzam dan tak lupa pula membantu melepaskan sabuk pengaman pangeran kecilnya.
"Ayo sayang." Arini mengajak turun sang anak.
Dengan mengeratkan pegangan tasnya, Azzam turun dari mobil dan berjalan dengan tangannya di pegang oleh sang mama menuju gerbang sekolah.
"Ayo masuk sayang." Kata Arini menyuruh Azzam masuk ke sekolahnya.
Azzam melihat ke sekeliling sekolah, sudah banyak anak seusianya yang datang terlebih dahulu. Lalu mendongak melihat mamanya.
"Kenapa sayang?" tanya Arini melihat tingkah tidak biasa dari anaknya.
"Umm... Azzam gugup mah." Kata Azzam mengeratkan pegangan tangan pada sang mama, dengan mimik muka yang lucu.
Melihat itu membuat Arini ingin tertawa tapi ia urungkan, takut Azzam menangis di hari pertamanya sekolah. Lalu ia menunduk menyejajarkan tingginya dengan pangeran kecilnya, kemudian menghujani Azzam dengan ciuman di wajahnya.
"Gimana? Masih gugup?" tanya Arini lagi.
Azzam tersenyum lebar lalu menggeleng. "Sudah tidak gugup lagi mah." Kata Azzam melepas genggaman tangan sang mama, bersiap untuk masuk ke sekolah.
"Sudah siap masuk sekolah?" tanya Arini meyakinkan.
"Siap mama." Kata Azzam memberi hormat pada mamanya.
"Good boy." Puji Arini, seraya mencium pucuk kelapa anaknya. "Nanti siang aunt Arumi yang jemput ya...." Kata Arini sebelum bangkit dari menunduknya.
"Iya, mah. Kalau begitu Azzam masuk ke sekolah dulu." Kata Azzam menciumi kedua pipi mamanya bergantian, lalu berlari masuk ke dalam sekolah dan tak lupa pula ia melambaikan tangan pada Arini sang mama. Arini terkekeh melihat tingkah lucu Azzam lalu membalas lambaian tangan dari pangeran kecilnya itu.
Setelah memastikan Azzam benar-benar masuk ke sekolah, Arini kembali masuk ke mobilnya. Menjalankannya menuju kantornya.
*****
Bersambung...