
Deg...
Jantung Arini berdegup, mendengar perkataan dari ibu Diana.
"Jika kamu di terima oleh perusahaan kami dan suatu saat nanti kamu ingin menikah, tentu saja itu boleh-boleh saja. Tapi, saya harap kamu melakukan keluarga berencana ketika masih terikat kontrak kerja dengan perusahaan kami. Karena atasan kami yang baru, tidak menerima para pekerjanya cuti dalam jangka waktu yang lama... salah satunya, cuti untuk melahirkan. Jadi, apakah kamu setuju?" kata Ibu Diana, menjelaskan syarat dari atasannya. Sekaligus bertanya pada Arini, apakah ia setuju dengan syarat tersebut.
Arini terdiam, masih mencerna semua perkataan dari ibu Diana.
Melihat Arini yang diam, tidak menanggapi perkataannya. Ibu Diana kembali menanyakan kesetujuan dari Arini.
"Arini? Apakah kamu setuju?" tanya ibu Diana kembali.
Arini tersadar, mendengar suara dari ibu Diana. Lalu ia menunduk, seraya mengatakan... "Maaf Bu, saya tidak setuju. Saya tidak bisa menerima syarat ini, sebaiknya saya permisi." Arini menolak dan langsung bersiap untuk bangun dari duduknya. Tidak ada lagi kesempatan untuk ia bisa diterima di perusahaan ini, karena kenyataannya... ia sekarang sedang mengandung.
Ibu Diana tercengang mendengar penolakan dari Arini, baru kali ini ia mendapat penolakan dari seseorang selama ia bekerja di perusahaan ini, dari ia menjadi karyawan biasa sampai menjadi ketua HRD seperti sekarang. Karena memang, belum ada satu orang pun yang menolak bekerja di perusahaan ini. Yang ada orang-orang memohon untuk bekerja sama dengan perusahaan tempat ia bekerja saat ini.
Secara, perusahaan ini adalah perusahaan terbesar dan nomor satu di Indonesia. Jadi, menolak hanya karena sebuah syarat, yang syarat itu tidak sebanding dengan gajinya nanti. Ibu Diana tidak habis pikir akan hal tersebut.
"Tunggu Arini." Ibu Diana menghentikan kegiatan Arini. "Silakan duduk kembali." Lanjutnya lagi, melihat Arini yang sudah berdiri dari kursinya. Arini kembali duduk, sesuai instruksi dari ibu Diana.
"Apa kamu yakin dengan keputusan mu? Apa kamu tidak akan menyesal karena menolak pekerjaan ini hanya karena satu syarat tersebut?" tanya ibu Diana meyakinkan, takut-takut Arini akan menyesal dengan keputusannya.
Arini memandang ibu Diana dengan sorot mata yang tidak bisa di artikan oleh ibu Diana, yang juga sedang memandangnya.
"Saya yakin dengan keputusan saya, Bu. Dan saya tidak akan menyesal karena telah menolak pekerjaan ini." Arini berkata lirih pada ibu Diana.
Ibu Diana memutar otaknya, mencari ide yang dapat membuat Arini bekerja sama dengan perusahaannya, sampai...
"Apa kamu tahu, berapa kisaran gaji para karyawan di perusahaan ini?" Ibu Diana kembali bertanya. Arini pun menggeleng pelan.
"Kalau begitu, apakah kamu tahu kisaran gaji untuk karyawan yang bekerja di perusahaan terbesar dan terkenal?" Ibu Diana terus bertanya, dan Arini pun kembali menggeleng.
"Oh Arini, ternyata kamu belum tahu tentang gaji para karyawan di perusahaan ini. Maka dari itu kamu menolak bekerja di sini, hanya karena satu syarat tadi." Kata ibu Diana tersenyum misterius.
"Baiklah, aku akan menjelaskannya hanya untukmu." Ibu Diana mengambil selembar kertas, yang entah apa isinya. Arini pun tidak tahu.
"Perusahaan ini merupakan perusahaan terbesar, terkenal, bahwa menjadi perusahaan nomor satu di negara ini. Cabang-cabangnya sudah menyebar di berbagai negara, perusahaan ini juga bekerja sama dengan perusahaan-perusahaan ternama di berbagai negara." Ibu Diana membaca isi kertas tersebut dan menjelaskannya. Lalu ia berhenti sejenak melihat reaksi dari Arini. Tampaknya Arini kagum akan penjelasan darinya.
"Maka, tidak heran bila perusahaan ini masuk dalam daftar perusahaan bergaji tinggi di negara ini. Dan kisaran gaji yang diterima oleh para karyawan di perusahaan ini adalah kisaran Rp 10.000.000 hingga Rp 30.000.000. setiap bulannya. Itu baru karyawan biasa, kalau karyawan yang bekerja di bidang yang penting, gajinya bisa mencapai ratusan bahkan triliunan tiap bulannya. Dan nominal tersebut, belum mencakup tunjangan serta bonus yang diterima." Ibu Diana menjelaskan panjang lebar, entah kenapa ia harus menjelaskan secara terperinci seperti ini hanya untuk menarik perhatian seorang Arini.
Arini menelan ludahnya susah, mendengar semua penjelasan dari ibu Diana. Siapa coba yang tidak tergiur dengan semua penjelasan itu. Tapi, mau bagaimana lagi? Ia tetap tidak bisa mengubah keputusannya karena satu syarat yang diajukan oleh atasan perusahaan ini.
"Bagaimana, Arini? Apakah kamu masih tetap dengan keputusanmu?" tanya ibu Diana setelah ia mengamati tingkah Arini, tampaknya Arini tergiur dengan apa yang ia jelaskan barusan."Tidak mungkin Arini menolak pekerjaan ini, dengan gaji sebanyak itu hanya karena satu syarat tadi." Gumam ibu Diana dalam hatinya.
Lagi-lagi ibu Diana tercengang melihat penolakan dari Arini, bisa-bisanya jurus terampuhnya tidak bisa mengubah keputusan Arini. Padahal, besarnya gaji yang dijanjikan oleh sebuah perusahaan kerap kali menjadi daya tarik utama bagi para pencari kerja. Pikir Ibu Diana, yang selalu benar dan terbukti kebenarannya selama ia bekerja di perusahaan ini.
Tapi, kali ini pikirannya itu salah. Buktinya, semua gaji yang di janjikan tidak bisa mengubah keputusan seseorang yang duduk di hadapannya ini. "Huft... sungguh di luar dugaan." Batin ibu Diana.
"Kalau boleh saya tahu, kenapa kamu menolak bekerja di perusahaan ini hanya karena satu syarat tadi?" tanya ibu Diana lirih, kali ini hilang sudah suara tegasnya yang selalu ia tampilkan pada para peserta yang biasa ia wawancarai. "Saya yakin dan percaya, tidak ada seorang pun yang bisa menolak tawaran gaji dari perusahaan ini. Jika tidak ada suatu alasan yang kuat!" Ibu Diana menebak-nebak. "Apakah saya boleh tahu alasan itu?" lanjut ibu Diana lagi dengan bertanya.
Arini menunduk semakin dalam. Ia tidak enak pada ibu Diana, sekaligus tidak ingin menceritakan alasannya menolak bekerja di perusahaan ini.
"Mungkin saja, saya memiliki jalan keluar untuk alasanmu tidak bekerja di sini ini." Ibu Diana masih mewanti-wanti, agar Arini mau bekerja sama dengan perusahaannya. Karena ia sudah terlanjut suka, akan kemampuan Arini dalam menyelesaikan semua tes yang di berikannya tadi.
Arini masih menunduk diam, belum menjawab perkataan dari ibu Diana. Mulutnya terasa kaku untuk dibuka. Tapi, jika ia terus diam seperti ini, juga tidak akan menyelesaikan masalah. Ibu Diana akan terus tetap bertanya padanya. Jadi lebih baik jujur saja biar semuanya cepat selesai dan ibu Diana tidak akan bertanya-tanya kepadanya lagi. Lagi pula masih ada beberapa peserta lagi yang harus ibu Diana wawancarai.
"Arini." Panggil ibu Diana membuyarkan lamunan Arini.
"Ah... i... iya, Bu." Jawab Arini terbata-bata karena terkejut.
"Jadi, apakah saya boleh tahu tentang alasan mu?" timpal ibu Diana.
Baiklah, sekarang Arini akan menjawab pertanyaan dari ibu Diana, yang sudah beliau pertanyakan berulang-ulang.
"Sebenarnya---" Arini menjeda perkataannya, lalu menarik napas. Guna mengumpulkan keberaniannya, untuk menjelaskan alasan ia menolak bekerja di perusahaan ini.
"Sebenarnya saya tidak menolak bekerja di perusahaan ini, Bu. Tapi, syarat dari atasan Anda tidak bisa saya penuhi...." Arini kembali terdiam.
"Kenapa?" tanya ibu Diana tidak sabaran. Hilang sudah sifat profesionalnya dalam bekerja.
"Karena... karena, saya sedang hamil." Jawab Arini kemudian.
Cetar... Ibu Diana kaget akan jawaban sekaligus pengakuan dari Arini. Jujur, ia tidak menyangka jika Arini sedang hamil, apalagi di luar nikah. Karena dilihat dari penampilannya ia gadis baik-baik.
*****
Terima kasih untuk para Reader, yang telah bersedia memberikan waktunya untuk membaca karya baru Author.
Jangan lupa dukung Author dengan memberi vote, Gift, like, and comment, agar makin semangat dalam menulis karya ini. Makasih sekali lagi.
I Love You All...
*****
Bersambung...