
Arini keluar dari rumah menuju jalan raya, dan memanggil salah satu ojek untuk ia naiki ke pasar.
Beberapa saat kemudian, ia sampai di pasar dan turun dari ojek tersebut lalu membayarnya dan tidak lupa mengucapkan terima kasih.
Arini berjalan keliling pasar, mencari bahan-bahan yang akan ia gunakan untuk membuat kue dan membelinya. Ketika ia melewati para penjual daging, perutnya terasa kembali mual mencium bau amis yang sangat menyengat di hidungnya.
Cepat-cepat Arini menutup hidungnya dengan satu tangan, sedangkan tangan lainnya memegang belanjaan yang baru saja ia beli. Dan ia pun berjalan cepat setengah berlari, melewati para penjual daging tersebut.
Kalau tidak mengingat ini adalah tempat umum, terlebih lagi menjual makanan, pasti Arini sudah memuntahkan kembali isi perutnya sejak ia mencium bau itu. Tapi, karena mengingat hal itu. Arini sebisa mungkin menahan dirinya, untuk tidak memuntahkan isi perutnya kembali seperti tadi pagi.
"Huft...." Arini menghela napas kuat, setengah ngos-ngosan.
"Untuk nggak jadi muntah." Arini berkata lirih pada dirinya sendiri, setelah dapat mengatur napasnya yang sempat sedikit tidak beraturan, sambil mengelus dadanya. Lalu kembalikan berjalan menyusuri pasar.
"Arin, tunggu!"
"Rin, tunggu!"
Terdengar suara seseorang yang memanggil Arini dari belakang. Namun, karena keramaian pasar saat ini, membuat suara itu tidak terdengar oleh Arini.
"Arin, hei!"
Tarikan belanjaan yang Arini bawa, nyaris saja membuat Arini berteriak 'pencuri' kalau saja pelakunya tidak cepat-cepat menampakkan wajahnya.
"Naya." Ucap Arini, kemudian menghela napas lega. Sedangkan orang yang baru saja ia panggil namanya, yang tak lain adalah Naya tetangga kosnya dulu, masih mengatur napasnya yang ngos-ngosan, akibat berlari dan berteriak memanggil nama Arini.
"Huft... huft... kamu kenapa nggak berhenti, padahal sudah aku panggil berulang kali?" Naya bertanya pada Arini masih ngos-ngosan.
"Ah... maaf. Tadi aku nggak dengar, karena suara kamu kekecilan." Arini menjawab pertanyaan dari Naya.
"Kekecilan?" Naya melotot, mendengar jawaban Arini. Pasalnya, dia sudah berteriak sekeras mungkin, sampai pita suaranya ingin copot karena memanggil nama tetangga kosnya ini.
"I... iya." Jawab Arini ragu-ragu, sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal lalu tersenyum cengengesan.
"Ah... sudahlah, lupakan saja." Lirih Naya kemudian, lalu mengajak Arini kembali menyusuri pasar.
"Kamu sekarang apa kabar? Ibu sama adek mu juga gimana kabarnya?" Tanya Naya, sambil berjalan beriringan dengan Arini.
"Alhamdulillah aku baik-baik saja, seperti yang kamu lihat sekarang. Ibu dan juga adek ku juga baik-baik saja." Jawab Arini. "Kamu sendiri gimana kabarmu?" Arini balik bertanya.
"Alhamdulillah aku juga baik-baik saja." Naya menjawab pertanyaan Arini. "Oh iya, kamu tahu nggak? Aku sudah pindah kos karena tidak ada lagi penghuni di kos kita dulu. Semuanya sudah pulang kampung, jadi aku pindah deh. Soalnya aku takut kalau tinggal kos sendirian, mana yang punya kos juga sudah kasi naik sewanya." Naya menjelaskan kegundahannya selama ini, setelah Arini keluar dari kos itu.
Tidak terdengar suara Arini menanggapi perkataannya, membuat Naya menoleh kepalanya ke samping, di mana Arini tadi berada. Namun, tidak ada Arini di sampingnya.
"Eh... Arini ke mana? Kan tadi ada di sini! Tapi kemana? Masa sih, aku halusinasi ketemu sama dia. Menyedihkan sekali hidupku ini, kalau begitu. Saking menyediakannya sampai-sampai halusinasi ketemu dengan Arini." Gumam Naya menatap bengong di sampingnya.
Naya menepuk jidatnya sendiri, saat melihat keberadaan Arini yang tengah mengantri untuk membeli rujak, di penjual kaki tiga di seberang sana. Lalu ia berjalan menghampiri Arini, sambil mengoceh tidak jelas karena sebal pada Arini yang meninggalnya berbicara sendirian. “Sudah seperti orang gila saja.” Gumam Naya dalam hati.
"Astaga Arin, ternyata kamu ada di sini. Tadi itu aku ngomong sendiri sudah kaya orang gila tahu." Naya berkata ketika sudah menghampiri Arini. Ia menggelengkan kepalanya melihat kelakuan dari tetangga kosnya yang tega meninggalkannya berbicara sendirian demi memakan rujak.
"Tadi aku kira, aku itu sedang halusinasi karena tiba-tiba kamu menghilang begitu saja di samping ku." Kata Naya lagi dengan bibir yang mengerucut sebal.
Arini menepuk jidatnya sendiri. Ia baru ingat, bahwa sedang mengobrol dengan Naya dan langsung main pergi begitu saja, tanpa mengajak Naya untuk ikut serta dengannya. karena saking tergiur ia melihat rujak, dan tidak sabar untuk mencicipinya. Bahkan ia sudah berulang kali menelan air liurnya.
"Astaga, maafkan aku Naya. Aku tidak berniat untuk membiarkan mu berbicara sendiri. Tadi aku lupa untuk mengajak mu, hehehe...." Arini meminta maaf kepada Naya karena telah mengabaikannya, lalu tersenyum cengengesan di hadapan Naya.
Naya hanya mengembuskan napasnya sebal, mendengar penuturan Arini yang tidak masuk akal menurutnya. Bisa-bisanya Arini lupa untuk mengajaknya, sedangkan ia dan Arini sedang mengobrol, dan berjalan beriringan pula. Tapi mau bagaimana lagi? Naya tidak akan bisa marah pada Arini, kalau dia sudah meminta maaf padanya.
"Ya... ya... kau memang selalu lupa akan diriku, aku kan bukan kekasihmu yang harus selalu kau ingat." Naya berkata dengan nada yang ketus, pura-pura marah pada Arini dan mengalihkan pandangannya.
"Emmm... apakah kau marah padaku?" Arini ragu-ragu bertanya, takut Naya akan tambah marah. Lalu ia pun menundukkan kepalanya, merasa sangat bersalah pada Naya.
Naya yang melihat Arini menganggap serius ucapan, merasa bersalah. Dan ia pun segera meralat perkataannya itu.
"Eh... nggak kok, aku nggak marah. Tadi itu hanya bercanda, kamu nggak usah anggap serius perkataan ku tadi." Naya menjawab pertanyaan Arini, sekaligus meralat perkataannya.
Arini mendongak lalu berkata, "Kamu serius nggak marah sama aku?" tanya Arini meyakinkan.
"Iya, aku serius." Jawab Naya.
"Ah... alhamdulillah, tadi aku kira kamu marah betulan." Arini bernapas lega, mendengar jawaban dari Naya seraya tersenyum sumringah.
"Iya... aku nggak marah kok. Tadi cuman bercanda doang." Naya menimpali perkataan Arini.
Naya pun, menceritakan kembali kegundahannya tadi yang tidak sempat Arini dengarkan. Dan sekarang, Arini mendengarkannya dengan seksama. Sesekali menimpali, lalu bertanya. Hingga pesanan rujak Arini pun tiba.
"Permisi mbak, ini rujaknya." Penjual rujak membawakan pesanan Arini, sehingga menghentikan percakapan Arini dan Naya yang sedang berlangsung.
"Iya kang, makasih." Jawab Arini dan memberikan uang sepuluh ribu pada akang penjual rujak.
Arini menawarkan rujak pada Naya, dan Naya pun ikut memakan rujak yang di beli oleh Arini.
Setelah selesai memakan rujak, Arini dan Naya melanjutkan untuk membeli bahan-bahan yang belum sempat mereka beli, lalu setelah selesai dengan belanjaan masing-masing. Mereka pun berpisah dan pulang ke tempat masing-masing.
*****
Bersambung...