My Son Is My Strength

My Son Is My Strength
Teraniaya



Kini Dian dan Marvel tiba di suatu tempat, tempat yang menjadi saksi pertemuan kedua mereka. Dian melemparkan pandangan, air dengan gelombang ringan mendayu-dayu sepanjang mata memandang. Angin berembus menerpa anak rambutnya, seolah mengajak bermain-main.


Dian menoleh pada Marvel yang kini memejamkan matanya menikmati suasana. Sinar senja menerpa wajah mereka di ujung cakrawala. Pemandangan yang sangat indah untuk dilalui bersama kekasih. Dan sayangnya, mereka dua orang yang jauh dari kata itu, tepatnya menganggap diri mereka orang asing untuk satu sama lain.


"Kenapa membawa ku ke sini?" tanya Dian tanpa menoleh pada Marvel, ia tengah menyaksikan matahari yang perlahan-lahan mulai tenggelam. Gaya bicaranya pun tidak terlalu formal lagi seperti tadi.


Marvel tidak langsung menjawab, ia menghela napas terlebih dahulu. Dian menoleh mendengar helaan napas panjang Marvel, laki-laki di sampingnya.


"Gelagat mu seperti orang merana saja, kesepian tidak tahu arah dengan tujuan hidup." Sahut Dian, keluar begitu saja.


"Begitukah?" Marvel kembali menghembuskan napas perlahan. Membuat Dian semakin yakin kalau laki-laki ini memang sedang merana.


"Ya sangat terlihat, sekarang apalagi masalah mu?"


Marvel diam.


"Berhentilah mendramatiskan keadaan." Nasehat Dian bijak, melihat sikap Marvel mulai dari awal pertemuan sampai akhir ini.


"Aku tidak mendramatiskan keadaan!" elak Marvel, suaranya langsung jengkel.


"Oh ya?!" Dian mengangkat satu alisnya. "Sekarang jujur saja, aku orangnya peka kok dan sangat pandai menyimpan rahasia. Ya kau bisa bercerita, dan aku akan mendengarkan. Setidaknya itu akan menjadi berguna dari pada kau membawaku di sini hanya untuk membuang waktuku."


"Aku tidak ingin curhat, tapi aku memiliki masalah yang tak bisa ku selesaikan."


"Ya, katakan saja." Kini mereka berdua duduk di pantai itu tanpa alas, pasir putih menempel di beberapa bagian. Namun tak menjadi masalah untuk keduanya.


Marvel sebenarnya ragu untuk mengatakan, tapi apa salahnya untuk mencoba. Ia juga merasa sudah sangat terpuruk dengan perasaannya sendiri.


"Bagaimana cara menghilangkan perasaan kita kepada seseorang."


"Emangnya siapa lagi yang kau suka?" Dian ingat betul cerita Marvel, terakhir kali laki-laki ini menceritakan perasaannya untuk sang sahabat. Arini.


"Jawab saja." Tak ada niat Marvel untuk menanggapi pertanyaan dari Dian.


"Ya, sebenarnya tergantung sih. Kalau orang itu sering kita temui tentu saja perasaan itu sulit untuk dilupakan apalagi dihilangkannya. Tapi walaupun begitu, menurutku perasaan mendalam sekalipun akan hilang seiring berjalannya waktu jika orang yang kau suka itu tidak membalas perasaan mu." Dian menggambar bentuk hati di atas pasir, lalu membelah nya dengan garis retakan. "Jadi apa dia membalasnya?"


Marvel melihat garis retakan itu, sejatinya memang tidak bisa bersatu. Ia menunduk, "Tidak, dia tidak membalasnya. Ada orang lain yang mengisi penuh hatinya." lirihnya, namun masih terdengar oleh Dian.


Hmmmm... sekarang Dian mengerti, "Kalau begitu kau berusahalah menerima keadaan, kalau kenyataannya dia sudah ada yang punya, kenyataannya kalian memang tidak berjodoh. Dan kau cari saja seseorang yang bisa mengisi hatimu sendiri, seseorang yang bisa mengalihkan perasaan mu padanya. Karena perasaan itu akan hilang jika ada orang baru yang menggantinya, yang akan menghapuskan kenangan dan menggantikannya dengan hal-hal baru darinya."


"Kau tahu hidup ini berlanjut, jadi jangan biarkan perasaan mempengaruhi dirimu, jangan jadi budak cinta! Kau juga pantas bahagia, seperti orang yang kau cintai itu. Pasti dia sudah bahagia." Nasehat Dian bijak, melerai benang kusut pada pikiran Marvel. Ia jadi sedikit bersemangat untuk segera melepaskan perasaan tidak bergunanya, perasaan yang membelenggunya hingga kini.


"Kau sudah punya pasangan?" tanya Marvel tiba-tiba.


"Belum," jawab Dian mendongak langit malah diterangi sinar bulan. "Tapi bukan berarti tidak punya pasangannya!" dia menatap sinis pada Marvel yang tiba-tiba menanyakan hal itu. Apakah berniat mengejek, setelah ia melihat senyum tipis laki-laki itu.


"Kau mengejekku?!" ketus Dian. "Asal kau tahu ya, hidupku bahagia dan jauh lebih baik dari pada dirimu yang merana dengan cinta bertepuk sebelah tangan."


Senyuman tipis Marvel berganti dengan tawa kecil, ia membenarkan ucapan perempuan yang memberikannya nasehat bijak ini. "Ya kau benar."


"Sekarang ayo, akan aku traktir sebagai tanda permintaan maaf dan terima kasih karena telah menemani ku hari ini."


"Ya permintaan maaf mu akan di terima setelah melihat jumlah tagihan nanti, hampir saja kau membuat nyawa ku melayang." Sahut Dian bercanda. Mereka berdua pun menuju restoran di dekan pantai itu.


*****


"Besok Papa belikan mobil itu bagaimana?"


"Mm... Mm...." Geleng Azzam.


"Papa belikan malam ini juga," tawar Bian sudah puluhan kali, dengan berbagai hal yang Azzam sukai. Namun anaknya ini tetap saja menolak, bahkan mengabaikan semua tawaran menggiurkan darinya.


"Tetap tidak mau, pokoknya Azzam tetap mau tidur di kamar Mama." Putusnya begitu mutlak.


Bian menghela napas, entah cara apalagi yang bisa ia gunakan. "Nanti tidur di sana gimana? Nggak mungkin sekasur bertiga ‘kan?" alasan Bian terdengar konyol. Tapi bukan Azzam yang tak bisa menjawab.


"Nggak gimana-gimana kok, kan kemarin-kemarin kita tidur bertiga." Balas Azzam mengganti siaran teve karena mereka sedang berada di ruang tamu. Sedangkan mamanya masih di dapur, entah apa yang dilakukan.


"Iya, itu kemarin-kemarin dan sangat membuat Papa tersiksa," runtuk Bian dalam hati dengan mimik wajah bak teraniaya. Azzam menoleh.


"Muka Papa jangan begitu, nanti orang mengira kalau anak menganiaya ayah sendiri."


"Memang kenyataannya." Gumam Bian tak jelas.


"Kenapa Pah?"


"Tidak ada, tapi kalau masih bersikeras tidur di kamar mama, Papa nggak akan kasih jajan." Ancam Bian. Hormon kehamilan yang juga ia tanggung membuatnya menjadi sensitif, bahkan dengan anak sendiri.


"Oohhh, Papa ngancam ya." Senyum Azzam menaikkan satu bibirnya, terlihat jelas sudah kekalahan dari papanya. "Sebenarnya aku juga tidak perlu uang jajan dari Papa sih, secara Papa tahu sendiri Alvaro Group itu sudah membuat ku jadi crazi rich di usia sangat muda ini." Azzam membusungkan dadanya yang tak bidang itu. Ia menoleh lagi pada papanya yang kini menghela napas panjang dengan wajah pias, membuatnya terbahak-bahak dalam hati.


"Kalian sedang apa?" tanya Arini menghampiri keduanya, terlihat sangat aneh karena televisi yang dinyalakan tidak di tonton.


Bian dan Azzam menoleh bersamaan, mendapati perempuan yang sama-sama mereka sayangi itu membawa nampan berisi es krim.


"Ada yang mau?" tanyanya pada laki-laki beda usia itu.


"Aku mau sayang, suhunya memang panas." Bian langsung mengambil salah satu es krim dan mencomotnya.


"Perasaan sejuk kok," ujar Azzam. Arini mengangguk, ia makan es krim bukan karena suhunya panas seperti yang dikatakan sang suami, tapi karena lagi pengen. Mungkin bawaan janin.


"Papa sama Mama belum tidur?" tanya Azzam, kini ia mulai merasa mengantuk. Mendengar pertanyaan sang anak membuat Bian berhenti dari acara makannya.


"Belum, Mama masih mau makan es krim." Sahut Arini di angguki cepat oleh Bian.


"Ya sudah kalau begitu Azzam mau tidur."


"Iya, jangan lupa gosok gigi cuci muka." Arini mengingatkan.


"Siap Mah." Azzam hormat, patuh. Lalu balik kanan menuju kamarnya sendiri di lantai dua.


Bian yang harap cemas membuntuti kepergian sang anak, dan ternyata Azzam memang masuk di kamarnya sendiri. Ia bernapas lega, sekaligus kesal karena merasa dibohongi oleh anaknya itu. Adu mulut yang mereka lakukan sejak tadi seolah percuma saja.


*****


Bersambung...