
Seperti pasangan lainnya Tuan Dean menemani istrinya mama Mira untuk berjalan-jalan, berbelanja, dan lain sebagainya.
Semenjak perusahaannya dialihkan kepada anak pertamanya Bian, kini ia lebih banyak menghabiskan waktunya bersama sang istri.
Seperti saat ini, ia menemani istrinya untuk datang berbelanja sekedar menghabiskan waktu libur katanya, padahal setiap hari adalah waktu liburan untuk mereka berdua.
Karena mama Mira yang bosan tinggal di rumah, malas bertemu dengan teman-teman sosialitanya yang terus mengejeknya tidak memiliki cucu. Maka jadilah ia menghabiskan waktunya bersama sang suami di mol ini.
"Mah... Papa ke toilet dulu sebentar." Ijin Tuan Dean.
Mama Mira mengangguk, sambil memotong steak yang tinggal setengah itu. Setelah mengelilingi dan membeli cukup banyak barang, mereka berdua memutuskan untuk mengisi perut mereka terlebih dahulu di salah satu restoran mol itu sebelum pulang ke rumah.
Sembari menguyah makanannya, pandangan mama Mira tak sengaja jatuh pada sosok Bian anaknya yang juga tengah menikmati hidangannya di salah satu meja yang cukup jauh dengan mejanya sekarang.
"Eh, itu kan Bian?" Mama Mira memfokuskan pandangannya pada sosok sang anak. Ia melihat satu persatu orang yang duduk di satu meja dengan anaknya yang tak lain adalah Arini dan juga Azzam.
"Tunggu, bukankah itu Bian waktu dia kecil. Dan siapa perempuan yang duduk bersama mereka?" Mama Mira terus bertanya-tanya, tanpa membuang pandangannya pada meja yang di duduki Bian. Terutama pada sosok Azzam dan Arini yang duduk membelakanginya. Membuat mama Mira tidak bisa melihat wajah Arini.
"I-itu benar...!" Mama Mira mengucek matanya berulang kali takut-takut ia salah lihat.
"Be- benar Bian waktu kecilnya!" Ucapnya kemudian, merasa penglihatannya benar-benar melihat sosok Bian kecil. Dan ia juga sangat yakin, bahwa penglihatannya masih berfungsi dengan sangat baik.
Setelah mengatakan itu, mama Mira terdiam. Ia mencerna apa yang baru saja di lihatnya itu.
"Papa harus tahu ini. Yah... Papa harus tahu." Ucap Mama Mira merogoh tasnya, mencari ponselnya untuk memanggil sang suami yang masih berada di toilet restoran.
"Ah... lowbat." Decak mama Mira bangun dari kursinya, menyusul sang suami yang masih belum kembali.
*****
"Mana mah...?" Tanya Tuan Dean mengedarkan pandangannya, setelah istrinya memberitahu kalau ia melihat Bian yang juga tengah makan di restoran ini bersama sosok anak kecil yang diyakini sangat mirip dengan Bian masa kecilnya.
"Tadi di situ, Pah...." Tunjuk mama Mira pada meja yang digunakan oleh Bian tadi.
"Mana? Di sana kosong kok, jangan-jangan mama salah lihat lagi." Ucap Tuan Dean melihat ke arah yang di tunjuk istrinya.
"Sekarang memang kosong, tapi tadi mama tidak salah lihat, Pah! Mama benar-benar melihat Bian di sana dan anak kecil yang sangat mirip dengannya serta seorang perempuan." Ucap mama Mira berusaha meyakinkan suaminya, bahwa ia benar-benar melihat Bian.
"Papa sih, pake ngobrol sama teman dulu. Coba tadi pas mama ajak ke sini, kita pasti masih bisa melihat mereka bertiga." Ucap mama Mira geram, menyalahkan suaminya.
"Iya-iya papa minta maaf." Ucap Tuan Dean mengangguk, mengalah saja pada istrinya.
Tidak mungkinkan ada seorang anak kecil yang sangat mirip dengan Bian, secara Bian kan belum menikah. Pasti istrinya ini salah lihat karena ia sangat terobsesi ingin mempunyai cucu.
"Pasti papa tidak percaya kan? Dan menganggap mama salah lihat." Mama Mira memicingkan matanya melihat ekspresi yang di tunjukkan oleh suaminya ini. Yang terlihat sangat jelas ia tidak mempercayainya.
Tuan Dean menghembuskan napasnya pelan, "Nggak, papa percaya kok, Mah." Lirih Tuan Dean tidak ingin istrinya marah.
"Kalau percaya kenapa ekspresinya begitu!" Sarkas mama Mira, tidak percaya dengan pengakuan suaminya.
"Eh... emang ekspresi papa gimana, Mah." Tanya Tuan Dean tanpa bersalahnya, membuat wajah mama Mira semakin memerah. "Tapi serius, Mah. Papa percaya kok." Tegas Tuan Dean lagi dengan wajah yang bertolak belakang dengan perkataannya.
"Ihhh... Papaaaaa! Sekarang ikut mama." Mama Mira menarik lengan suaminya.
"Ikut kemana?" Tanya Tuan Dean, tetapi tidak di jawab oleh mama Mira. Jadilah Tuan Dean menurut saja, dan mengikuti dimana langkah istrinya membawanya.
Mama Mira membawa suaminya pada suatu tempat yang bisa membuat suaminya itu percaya dengan perkataannya sejak tadi. Ia membawa Tuan Dean pada ruangan sisi TV yang terdapat di restoran tersebut.
"Permisi, Pak." Ucap mama Mira menyapa penjaga CCTV restoran tersebut.
Penjaga itu menoleh dan refleks saja ia berdiri melihat kedatangan Tuan Dean dengan Istrinya.
"Ada yang bisa saya bantu Nyonya, Tuan?" tanyanya sopan menunduk.
Penjaga itu mengenal Tuan Dean dan istrinya karena Tuan Dean merupakan salah satu orang terpenting di negara itu karena kekayaannya. Ya... walaupun Tuan Dean bukanlah pemilik restoran itu, tetapi semua orang tetap mengenal dan menghormatinya.
"Bisa kami lihat rekaman CCTV restoran ini?" tanya mama Mira mendekati penjaga itu yang di belakangnya sudah terpampang layar dengan kesibukan area restoran.
"Tentu saja, Nyonya." Ucap penjaga itu duduk di kursinya, mulai memutar ulang rekaman CCTV restoran bagian tempat duduk untuk para pelanggan yang tidak menggunakan layanan VIP dan lebih memilih layanan umum restoran itu sesuai perintah mama Mira.
"Berhenti, Pak." Ucap mama Mira tiba-tiba, membuat penjaga itu mem-pause rekaman CCTV nya.
"Papa lihat, itu Bian dan lihat anak laki-laki yang di gandengnya." Ucap mama Mira heboh, menunjuk layar yang di sana terpampang Bian sedang masuk restoran dan menggandeng seorang anak laki-laki yang kira-kira berusia enam tahun.
"Bisa di perbesar gambar itu." Tunjuk Tuan Dean, ingin melihat lebih jelas lagi wajah anak kecil itu.
"Baik, Tuan." Penjaga itu mengangguk, mengiyakan perintah Tuan Dean dan mulai memperbesar gambarnya.
"Astaga." Ucap mama Mira menutup mulutnya dengan kedua tangan. Shock melihat wajah Azzam yang sangat mirip dengan wajah anaknya, padahal ia sudah melihat wajah Azzam yang duduk bersama Bian tadi. Tapi tetap saja shock melihat kemiripan itu.
Tuan Dean terdiam, mengamati wajah Azzam secara teliti. Ternyata benar apa yang di katakan istrinya, wajah anak kecil ini memang sangat mirip dengan Bian. Hanya saja warna bola mata mereka yang berbeda. Tuan Dean terus mengamati, sampai ujung matanya tertarik ingin melihat sosok perempuan yang bersama Bian dan anak kecil itu.
"Coba perbesar gambar perempuan itu." Tunjuk Tuan Dean lagi, pada gambar Arini yang terpampang di layar. Penjaga itu kembali mengangguk, memperbesar gambar Arini.
"Astaga." Lagi-lagi mama Mira menutup mulutnya dengan kedua tangan, shock melihat wajah Arini.
"Kenapa, Mah?" tanya Tuan Dean menoleh pada istrinya.
"Ini Pah, ini Arini." Ucap mama Mira menunjuk wajah Arini. "Pemilik toko kue yang selalu mama pesan untuk acara-acara." Mama Mira menjelaskan.
"Jadi, mama kenal orangnya?"
"Tentu saja mama kenal, tapi mama tidak pernah melihat anak yang mirip sekali dengan Bian bersamanya." Jelas mama Mira yang memang tidak pernah melihat Arini bersama Azzam ketika menemuinya. Tuan Dean mengangguk mendengar penjelasan istrinya.
"Sudah, Pak. Terima kasih." Ucap Tuan Dean kemudian, penjaga itu bangun dan mengangguk hormat pada Tuan Dean juga istrinya. Mama Mira merogoh sesuatu pada dompetnya, lalu menyodorkan pada penjaga itu.
"Eh... ini apa, Nyonya." tanya penjaga itu pura-pura tidak mengerti.
"Sudah Pak, tidak usah sungkan-sungkan. Terima saja sebagai tanda terima kasih kami karena telah membantu." Ucap mama Mira masih menyodorkan uang merah beberapa lembar.
"Eh...." Ujar penjaga itu tidak enak, tapi tetap menerima uang yang di berikan mama Mira. Rezeki mah tidak boleh di tolak. Pikirannya. Tersenyum riang dalam hati.
"Terima kasih, Tuan, Nyonya." Ucapnya dan kembali menunduk. Tuan Dean dan mama Mira mengangguk, lalu keluar dari ruangan itu.
"Pah... sepertinya ini takdir." Ujar mama Mira berjalan beriringan dengan suaminya.
"Takdir?"
"Iya, takdir. Papa nggak sadar, baru kali ini kita makan tidak di ruangan VIP dan tak sengaja bisa bertemu dengan mereka." Ucap mama Mira menjelaskan maksudnya, Tuan Dean mengangguk setuju.
*****
Bersambung...