My Son Is My Strength

My Son Is My Strength
Berpisah dengan Sahabat



"Maaf... maafkan aku, Rin." Kata Dian sesenggukan, tampaknya ia mulai menangis.


"Kamu tidak boleh meminta maaf, Din. I... ini bukan salahmu." Arini membantah perkataan Dian.


"Tidak. Bagaimanapun ini adalah salahku, Rin. Salah, ketika aku menumpahkan es tebu mengenai sepatu Bian. Mungkin saja, karena hal itu Bian ingin membalas dendam terhadapmu. Dan salah, ketika aku tidak bisa membantumu mencarikan uang untuk biaya operasi ibumu." Kata Dian menyalakan dirinya. "Maaf... maafkan aku, Rin." Dian kembali meminta maaf, dalam pelukan Arini. Sesekali sesenggukan.


"Ini bukan salah mu, Din. Ini... ini sudah menjadi takdir ku." Jawab Arini tidak ingin Dian merasa bersalah atas apa yang telah menimpanya.


"Ta... tapi, kenapa harus kamu, Rin?" Dian bertanya sesenggukan.


"Mungkin, karena aku kuat untuk menjalani ujian ini. Atau mungkin karena Allah ingin mengujiku, menguji seberapa sabar dan tegarnya aku dalam menghadapi ujiannya. Aku sudah ikhlas atas semua ujian ini, Din." Jawab Arini berusaha tegar agar sahabatnya bisa tenang dan tidak menyalahkan dirinya lagi.


Mendengar itu, membuat Dian merasa terharu. Ia melepaskan pelukannya dari Arini, lantas berkata, "kamu memang kuat, Rin. Bahkan sangat kuat, aku yakin kamu pasti bisa menjalani semua ujian ini. Dan semoga di hari-hari mu yang akan datang, hanya kebaikan dan kebahagiaan lah yang datang menghampiri mu." Do'a Dian dengan tulus untuk sang sahabat.


Arini yang mendengar doa dari sahabatnya mengucapkan 'aamiin' lalu kembali memeluk Dian, dan mereka menangis bersama-sama.


Pelukan itu tidak bertahan lama, karena ada seseorang yang datang memanggil mereka berdua.


"Kak Arin, kak Dian, ternyata kalian berdua ada di sini. Ibu sama orang tua kak Dian, cari in kalian sudah sejak tadi. Katanya sudah mau pulang." Arumi datang, mencari Arini dan Dian atas perintah ibunya dan mamanya Dian.


Arini dan Dian melepaskan pelukannya, lalu menghadap Arumi yang berdiri agak jauh dari mereka.


"Loh, kalian habis nangis ya? Kenapa?" tanya Arumi khawatir, menghampiri dua orang yang baru saja melepaskan pelukannya.


"Eh... kita nggak papa kok, Rum." Jawab Arini menenangkan adiknya.


"Nggak papa, tapi kok nangis?" Arumi menimpali perkataan kakaknya.


"Kami nangis karena sebentar lagi kami akan berpisah, iya kan Rin?" sekarang giliran Dian yang menjawab pertanyaan dari Arumi. Arini mengangguk mengiyakan perkataan Dian.


"Huft... aku kira terjadi sesuatu pada kalian berdua." Arumi bernapas lega, mendengar jawaban dari Dian dan anggukan Arini.


Arini dan Dian menggelengkan kepalanya bersamaan, sembari menghapus air mata masing-masing.


"Ya sudah kalau begitu." Kata Arumi merespon gerakan kepala dari dua manusia di depannya. "Oh iya, ibu sama orang tua kak Dian cari in kalian. Katanya mau pulang." Arumi menyampaikan ulang tujuannya untuk mencari kedua manusia di depannya ini. "Ayo, mereka sudah nunggu sejak tadi." Ajak Arumi.


Arini dan Dian mengangguk, tetapi sebelum mereka mengikuti langkah Arini. Mereka izin ke toilet terlebih dahulu, untuk merapikan penampilan mereka masing-masing. Tidak mungkin kan mereka menghadap orang tua mereka dengan keadaan seperti ini. Bisa-bisa orang tua mereka mengira bahwa telah terjadi sesuatu yang buruk pada keduanya.


*****


"Nah, itu mereka." Ujar mamanya Dian melihat anaknya beserta Arini dan Arumi, berjalan mendekat.


"Iya, syukurlah mereka baik-baik saja." Ibu Syahra menimpali, sedangkan ayah Dian hanya mengangguk.


Ketika mereka bertiga sampai dan berhadapan di depan orang tua masing-masing, langsung saja mereka mendapatkan omelan dan pertanyaan beruntun dari orang tuanya.


"Kalian ini dari mana saja? Ngapain saja? Kalau hilang bagaimana? Kalian tahu seberapa khawatirnya kami? Sampai-sampai menyuruh Arumi untuk mencari kalian, untung saja kami belum menyuruh orang untuk membantu kami mencari kalian berdua. Karena sudah sejak tadi kami mencari kalian." Mamanya Dian bertanya beruntun pada dua orang yang telah membuatmu mereka semua khawatir. Sedangkan Dian dan Arini yang di tanya seperti itu, hanya diam menunduk.


"Mereka habis duduk di kursi sana, Tante." Kata Arumi seraya menunjuk tempanya. "Di depan toilet, saling berpelukan dan menangis. Katanya sedih karena sebentar lagi mau berpisah." Terang Arumi tanpa merasa bersalah dengan apa yang ia katakan.


Arini dan Dian membulatkan matanya menatap Arumi, sedangkan Arumi yang di tatap seperti itu hanya mengedikan bahu. Menandakan 'apa salahnya' ia hanya menjawab pertanyaan dan tentunya itu sesuai fakta, bukan?


"Menangis di depan toilet! Untuk perpisahan!" ucap mamanya Dian, mengulangi apa yang di katakan Arumi. Arumi mengangguk mengiyakan. Sedangkan Arini dan Dian kembali menunduk.


"Apa tidak ada tempat yang lebih baik lagi, selain di depan toilet?" tanya mamanya Dian tak percaya.


"Iya, Tante. Itu juga yang aku pikirkan." Jawab Arumi.


"Iya loh, Rum. Baru kali ini Tante mendapatkan hal seperti ini. Biasanya kan, orang memilih tempat untuk perpisahan itu, di tempat-tempat yang bagus gitu, biar ada kesannya. Tapi ini, malah di depan toilet." Lanjut mamanya Dian, mendapatkan dukungan dari Arumi.


"Iya. Aku juga sependapat sama Tante. Baru kali ini, aku dapat hal seperti ini. Sungguh memalukan, untung hanya aku yang lihat, kalau ada orang lain yang lihat, gimana coba?" lagi-lagi Arumi menimpali perkataan mamanya Dian.


"Hum...." Mamanya Dian berdehem, seraya mengangguk setuju dengan perkataan Arumi.


"Huft... sepertinya mama sama Arumi sangat nyambung, jika berbicara masalah seperti ini." Kata Dian berbisik pada telinga Arini, ia menghela napas pasrah mendengar ocehan dari keduanya. Arini mengangguk juga menghela napas pasrah.


"Apa yang kamu bisikkan?" tanya mamanya Dian, memicingkan matanya pada sang anak.


"Ng... nggak ada kok, mah." Dian mengelak, pertanyaan dari mamanya.


"Beneran, Rin?" tanya mamanya Dian beralih pada Arini, karena masih tidak percaya dengan pengakuan anaknya.


Sebelum Arini menjawab, papanya Dian terlebih dahulu mengeluarkan suaranya, "sudah-sudah."


Ia menengahi, sekaligus menghentikan acara interogasi sang istri. Kalau tidak di hentikan seperti ini, pasti sang istri akan memakan waktu dua sampai tiga jam hanya untuk hal seperti ini.


Arini maupun Dian, sama-sama bernapas lega akan hal itu. Arini bernapas lega, karena ia tidak harus menjawab dan berbohong. Sedangkan Dian, ia bernapas lega karena ia tahu jika mamanya tak dihentikan, maka akan berbicara dengan jangka waktu dua sampai tiga jam ke depan.


"Ya penting mereka berdua dalam keadaan aman dan tidak kekurangan sesuatu pun." Lanjut papanya Dian. Ibu Syahra mengangguk setuju.


"Ya memang, mereka aman dan tidak kekurangan sesuatu pun, pah. Tapi, mereka sudah buat kita khawatir. Coba lihat sekeliling kita, sepi kan? Semua orang sudah pulang." Mamanya Dian masih tidak terima akan perbuatan Arini dan Dian.


Arini maupun Dian mendongak, melihat sekeliling. Dan benar saja, suasana kampus sudah terlihat sepi, walaupun masih ada satu atau dua orang yang berlalu lalang. Tapi, tidak seramai seperti tadi.


"Maaf." Ucap Arini dan Dian hampir bersamaan.


Setelah acara interogasi yang memakan waktu cukup lama, akhirnya mereka pun berpisah. Pulang ke tempat masing-masing.


Tetapi, sebelum mereka benar-benar berpisah. Telah terjadi acara perpisahan yang juga memakan waktu cukup lama. Mamanya Dian, memeluk ibu Syahra dengan deraian air mata. Mungkin, ia tak rela berpisah dengan ibu Syahra secepat ini. Karena sudah merasa sangat cocok dengan kepribadian ibu Syahra. Hal yang sama juga dilakukan oleh Arini dan Dian. Sedangkan Arumi dan papanya Dian, hanya menjadi penonton setia adegan perpisahan itu.


*****


Bersambung...