My Son Is My Strength

My Son Is My Strength
Ke Sekolah Azzam



"Aaaah... kenapa dia terus tidak menghadiri rapat." Ujar Bian frustrasi, menghempaskan tubuhnya pada sofa.


Pasalnya, sudah beberapa kali ia melakukan rapat dengan perusahaan Arini. Berharap ia dapat bertemu kembali dengannya, namun beberapa kali itu juga Arini tidak menghadiri dan selalu Hana yang menjadi penggantinya.


Bian juga tidak terlalu memahami dengan apa yang ia rasakan, kenapa pikiran selalu terpaku pada kedua orang itu, yang tak lain Arini dan Azzam. Ketika melihat Arini kembali untuk sekian lama, ada getaran hati yang selalu hadir, ada perasaan bersalah yang sangat besar menyelimuti hatinya. Dan ketika melihat Azzam, perasaannya selalu menjadi hangat, dan perasaan selalu ingin melindungi anak itu.


"Bagaimana keadaan mereka?" Bian menelpon seseorang yang telah ia minta untuk menjaga Arini dan Azzam.


"Saat ini mereka baik-baik saja, Tuan." Jawab orang di seberang telepon.


"Selalu awasi mereka, aku tidak ingin terjadi sesuatu pada keduanya. Kalau sampai itu terjadi, maka kamu tahu sendiri apa yang akan kamu dapatkan." Ujar Bian dengan suara tajamnya, dan langsung menutup telepon tanpa menunggu jawaban dari lawan bicaranya. Membuat seseorang di seberang telepon merasa terintimidasi akan hal itu.


Bian selalu menanyakan kabar keduanya dari orang-orang yang ia suruh, tapi walaupun begitu, hatinya masih tidak tenang. Ia ingin bertemu langsung dengan Arini maupun Azzam, ingin mengatakan sesuatu, ingin melakukan sesuatu, yang entak apa itu, Bian juga belum tahu. Tapi yang penting, ia ingin bertemu dengan keduanya. Ya... bertemu.


"Rio ke ruangan ku." Bian menelpon, dan langsung menutup tanpa menunggu jawaban dari Rio terlebih dahulu.


Setelah mendapatkan telepon dari atasannya, Rio langsung menghentikan pekerjaannya.


Dan tak butuh waktu lama, Rio masuk ke ruangan atasannya dan langsung berdiri di hadapan wajah suram yang kini tengah menatapnya tajam.


"I... iya, Tuan. Ada yang bisa saya bantu?" tanya Rio gugup, mendapatkan tatapan tajam dari Bian. Entah kenapa walaupun ia sering mendapatkan tatapan itu berulang kali, tapi tetap saja ia akan gugup jika di hadapkan kembali dengan tatapan seperti itu.


"Kamu susun kembali jadwalku untuk melakukan rapat di perusahaan Azzam Alvaro Group, dan kali ini jangan memberitahu mereka terlebih dahulu, beritahu saja ketika kita sudah sampai di perusahaannya." Ujar Bian memberi perintah.


"Baik, Tuan." Rio mengangguk.


"Hm... kapan Azzam dijemput di sekolah." tanya Bian mengalihkan pandangannya untuk melihat foto Azzam, yang baru saja dikirim oleh orang suruhannya.


"Biasanya hari Senin dan Kamis Azzam akan dititip pada gurunya dan akan dijemput jam 12:00, lalu di hari selain Senin dan Kamis Azzam akan dijemput jam 11:30, lima belas menit dari jam pulangnya." Rio memberitahu.


"Hm...." Bian melihat jam di pergelangan tangannya, sudah jam 11:17. Pantas saja foto Azzam sedang duduk di kursi taman bersama gurunya.


"Ikut aku." Kata Bian bangun dari duduknya.


"Kemana, Tuan?" tanya Rio yang belum tahu arah tujuan tuannya untuk pergi.


"Sekolah Azzam." Jawab Bian terus berjalan, tanpa menoleh pada Rio. Mumpung hari ini hari Senin.


"Tapi, Tuan. Sebentar lagi Anda harus meeting dengan pe---" kata Rio tertahan.


"Undur, saja. Bila perlu batalkan." Timpal Bian tidak ingin dibantah.


"Baik, Tuan." Jawab Rio mengangguk, mengikuti atasannya dari belakang.


*****


"Bagaimana? Apa dia mencari ku lagi?" tanya Arini di kursi kerjanya.


"Benar, Bu. Tuan Bian mencari Anda, sepertinya ia sangat ingin bertemu." jawab Hana berdiri di samping meja kerja Arini.


"Hmm... lalu bagaimana dengan rapatnya?" tanya Arini beralih pada rapat yang tidak ia hadiri itu.


"Rapatnya berjalan dengan lancar, Bu. Dan ini berkas-berkas hasil dari rapat tadi." Hana menyodorkan beberapa berkas pada Arini.


Arini mengambil berkas-berkas itu, lalu membukanya.


"Hm." Dehem Arini melihat hasil rapat pada berkas-berkas yang ia buka.


"Hari ini dan seterusnya, kamu saja yang menggantikan ku untuk menghadiri rapat bersama perusahaan Pratama Group." Ujar Arini menyimpan berkas-berkas hasil rapat itu.


Terlihat Hana sedang berpikir, 'kenapa atasannya ini selalu tidak menghadiri rapat dengan perusahaan Pratama Group?' dan belum menjawab pertanyaan dari Arini.


"Hana, apa kamu mendengarkan ku?" tanya Arini, membuyarkan lamunan Hana.


"Kalau mereka bertanya tentang ku lagi, bilang saja seperti biasa, atau aku sedang tidak ada di kantor." Ujar Arini memberi solusi.


"Baik, Bu." Hana mengangguk. "Apa ada lagi yang bisa saya bantu?" lanjut Hana.


"Tidak ada, kamu boleh keluar dan melanjutkan pekerjaan mu." Jawab Arini menggeleng, dan mempersilahkan Hana untuk melanjutkan pekerjaannya.


Hana mengangguk, lalu undur diri dari ruangan atasannya.


"Kenapa lelaki itu selalu mencari ku? Apa ada sesuatu yang ingin dia lakukan? Tapi aku tidak akan membiarkannya begitu saja, jika menyangkut keselamatan dari Azzam maupun keluarga ku." Gumam Arini bermonolog, setelah Hana keluar dari ruangannya.


*****


Bian sekarang berada tepat di gerbang masuk sekolah Azzam, ia melihat jam di pergelangan tangannya. Sudah pukul 11:32, itu berarti 28 menit lagi Azzam akan segera dijemput.


"Rio, kamu jaga di sini. Beri tahu aku segera, jika ada yang akan menjemput Azzam." Pinta Bian.


"Baik, Tuan." Rio mengangguk.


"Huft...." Rio menghela napasnya, entah apa lagi yang akan dilakukan oleh tuannya ini.


"Hai...." sapa Bian kepada Azzam, yang sekarang duduk sendiri memangku buku gambarnya.


Azzam menoleh ke sumber suara, dilihatnya Bian di sana tengah berjalan mendekatinya.


"Hai juga om." Balas Azzam tersenyum ramah pada Bian. Kini ia tidak terlalu canggung lagi, karena ini adalah pertemuan untuk ketiga kalinya dengan orang dewasa di hadapannya ini.


Bian yang melihat senyuman Azzam, juga ikut tersenyum. Hatinya serasa sangat bahagia, tenang, mendapatkan senyuman itu dari Azzam.


"Kamu apa kabar?" tanya Bian duduk di kursi samping Azzam, basa-basi memulai pembicaraan.


"Aku baik." Azzam menjawab. "Om sendiri, apa kabar?" tanya Azzam balik.


Bian kembali tersenyum, hatinya menghangat, mendapatkan pertanyaan tersebut dari anaknya. Ya, anaknya!


"Om juga baik." Jawab Bian masih dengan senyumannya. "Oh ya, gambar kamu bangus sekali." Bian tak sengaja menoleh pada buku gambar yang sedari tadi Azzam pangku.


"Makasih om." Ucap Azzam karena mendapatkan pujian.


"Mmm... kalau boleh tahu, ini gambar siapa?" tunjuk Bian pada buku gambar Azzam, melihat tiga orang yang berdiri berdampingan.


"Ini gambar keluarga aku, ini mama, ini aku dan... ini pa-pa." Tunjuk Azzam satu-satu, memberitahu. Lalu seketika itu wajahnya tertunduk, senyum di wajahnya yang sedari tadi ia tunjukkan pada Bian pun hilang.


Melihat Azzam tertunduk dengan wajah yang sedih, membuat hati Bian seperti teriris.


"Kamu kenapa hmm, apa om ada salah bicara dan membuatmu sedih?" Bian membelai lembut kepala Azzam. Sungguh ia tak bisa melihat Azzam seperti ini.


Azzam mendongak melihat manik mata Bian, "Nggak kok om. Aku sedih karena ingat wajah mama. Mama selalu sedih kalau aku sebut kata papa." Azzam memberitahu.


Hati Bian kembali terasa seperti teriris, ia tak menyangka jika perbuatannya di masa lalu, sampai berdampak untuk masa depan dua orang yang selalu memenuhi pikirannya ini.


"Kalau begitu, Azzam pasti nggak mau kan bikin Mama Azzam sedih?" tanya Bian.


"Iya, Azzam nggak mau."


"Kalo gitu, Azzam harus jadi anak yang baik, selalu dengerin apa kata mama, dan jangan nakal. Sama satu lagi...."


*****


Bersambung...