My Son Is My Strength

My Son Is My Strength
Jebakan



Sudah lima jam lebih Arini membersihkan apartemen milik Bian, tapi pekerjaannya masih jauh dari kata selesai.


Arini menyimpan semua barang-barang yang berserakan di lantai pada tempatnya, lalu ia mencuci piring, mencuci baju, mengepel lantai, membersihkan kamar tamu, hingga dua ruangan lagi belum ia bersihkan, yaitu tempat kerja Bian dan kamar pribadinya.


Arini memilih untuk membersihkan kamar Bian terlebih dahulu, karena ia tak ingin bertemu dengan Bian yang berada di ruangan kerjanya.


Arini membuka pintu kamar. Ia melihat kamar Bian yang begitu luas, bahkan saking luasnya rumah Arini tidak ada apa-apanya di banding kamar ini.


Arini melangkah masuk, mulai membersihkan kamar Bian yang tidak jauh berbeda dengan ruang yang lain, yaitu seperti kapal pecah.


Belum selesai Arini membersihkan kamar Bian, tiba-tiba saja ponselnya berbunyi. Arini menghentikan kegiatannya dan mengambil ponsel yang berbunyi di saku celananya. Ia melihat layar ponselnya, ternyata Arumi yang menelepon. Lalu cepat-cepat ia mengangkat telepon tersebut.


"Assalamu'alaikum... Rum, ada apa? Apa ibu baik-baik saja? Kakak sedang mengusahakan biaya operasi Ibu, kamu bilang sama ibu 'untuk bertahan' ya, kakak akan membawakan uang operasi ibu secepatnya." Ujar Arini panik tanpa menjeda kata-katanya.


"Wa'alaikumussalam... kak, kakak tenang dulu ya. Masalah biaya operasi Ibu sudah lunas, ada orang baik yang membayarkannya. Ibu baik-baik saja, dan sekarang sedang istirahat karena baru saja selesai di operasi. Alhamdulillah operasinya ibu berjalan dengan lancar." Jawab Arumi senang di seberang sana.


Arini diam, ia mencerna semua yang di katakan adik semata wayangnya itu. Apakah ini mimpi? Ataukah angan-angannya saja? Tanya Arini dalam hati. Hingga suara Arumi membuyarkan lamunannya itu.


"Kak? Apa kakak masih di sana?" Tanya Arumi karena tidak mendapatkan respons dari sang kakak.


"Apa yang kau katakan itu benar? Ini bukan mimpi kan?" Tanya Arini balik dan tidak menjawab pertanyaan dari adiknya itu.


"Tentu saja ini benar kak, ini bukan mimpi dan ini kenyataan. Ibu sudah di operasi dan operasinya berjalan dengan lancar." Kata Arumi menjawab pertanyaan kakaknya yang malah balik bertanya.


Arini meneteskan Air mata bahagia mendengar kabar baik tentang ibunya, yang di sampaikan oleh sang adik. Arini mengucapkan syukur kepada Yang Maha Kuasa, dan akan berterima kasih kepada Bian yang telah membantu membayarkan biaya operasi ibunya. Lalu ia berbicara kembali dengan adiknya sepatah dua kata, sebelum teleponnya terputus.


*****


Karena Arini sedang berbicara dengan adiknya lewat telepon, ia sampai tidak mendengarkan bunyi bel apartemen yang dibunyikan berulang kali.


Ting tong.... Ting tong....


Ting tong.... Ting tong....


Bunyi bel apartemen itu berulang kali.


Bian mendengus kesal mendengar bunyi bel apartemennya dibunyikan berulang kali dan tidak ada yang membukakannya.


"Husf....di mana anak itu? Kenapa ia tidak membukakan pintunya?" tanya Bian beruntun dalam hatinya.


Bian bangun dari kursi kerjanya, lalu keluar dari ruangan itu. Ia menyapu pandangannya ke seluruh sudut ruang tamu apartemennya. Dan ia tak melihat batang hidung Arini di sudut mana pun. Mungkin dia sedang membersihkan ruangan lain. Pikir Bian dan tak ingin ambil pusing. Sebab ia tahu Arini tidak akan kabur, karena jika Arini kabur maka biaya operasi ibunya akan di anggap hutang oleh Bian.


Bian berjalan ke arah pintu apartemen dan melihat siapa yang datang. Ia mengumpat dalam hati, karena bel apartemen itu tidak berhenti berbunyi.


Ceklek...


Bian membuka pintu apartemennya dan terlihat seorang pelayan laki-laki membawa makanan di sebuah meja troli. Bian menatap marah pada pelayanan itu, dan berkata...


"Kenapa membunyikan bel berulang kali?" Tanya Bian dingin dan sorot mata tajam mengintimidasi pelayanan itu.


"Ma... m... maaf Tuan, saya kira Anda tidak mendengarkan bunyi bel tadi." Jawab pelayanan laki-laki itu gugup dan ketakutan melihat raut wajah dari Bian yang dingin dan sorot mata yang mengintimidasinya.


"Jadi, kau mengatakan aku tuli!?" tanya Bian lagi, dengan suara naik satu oktaf dan sorot mata yang sangat tajam.


"Tidak Tuan, saya tidak berani, mohon maaf kan saya." Jawab pelayan itu cepat-cepat, sambil menggelengkan kepalanya yang tengah menunduk dalam.


Bian acuh tak acuh saja dengan permohonan maaf pelayanan itu. Ia berjalan masuk dan memerintahkan pelayanan laki- laki itu untuk membawa masuk makanannya, yang telah ia pesan tadi.


Pelayan itu mengiyakan perintah Bian. Ia membawa masuk makanan tersebut dan meletakkannya di meja yang di tunjuk oleh Bian, setelah itu ia pun berlalu pergi dari apartemen Bian.


Bian melihat makanan itu, dan seketika perutnya merasa lapar. Ia ingat belum makan apa-apa hari ini, sebab di kafe tadi ia hanya memesan jus buah saja.


Tanpa menunggu waktu lama, Bian mengambil makanan itu dan memakannya. Beberapa saat ia memakan makanan itu, ada gelagat aneh yang menjalar di seluruh tubuhnya. Tubuhnya panas, dan sangat menyiksanya.


"Shiit... dasar bedebah, siapa yang berani menjebak ku?" tanya Bian di tengah ketidaknyamanan tubuhnya. Ia bangun dan segera berlari ke kamar mandi untuk dapat mendinginkan tubuhnya.


Sebelum ia sampai di kamar mandi, ia melihat Arini yang tengah membersihkan kamarnya. Bian meneguk air liurnya susah, melihat tubuh Arini yang seksi dan menggoda di matanya. Tubuh Bian semakin panas tak tertahankan, ia ingin menuntaskannya sekarang juga dan dengan cara apapun. Asalkan ini tidak menyiksanya lagi. Bian berjalan perlahan mendekati Arini.


Arini membalikkan badannya, dan seketika itu ia kaget melihat Bian berada di hadapan dengan jarak yang begitu dekat. Ia menatap mata Bian, Bian juga menatap Arini dengan sorot mata yang aneh dan terlihat sedang menahan sesuatu.


Arini merasa risi dengan Bian yang menatapnya seperti itu, tapi ia menyembunyikannya. Ia tersenyum tulus kepada Bian dan ingin mengatakan terima kasih kepada Bian karena telah melunasi biaya operasi untuk Ibunya.


Bian tertegun melihat senyum manis yang tercipta dari bibir mungil nan merah alami dari Arini, terlihat sangat menggoda baginya.


Arini ingin mengucapkan terima kasih kepada Bian, tetapi sebelum kalimat itu keluar dari bibirnya. Bian sudah membungkam bibir Arini dengan menciuminya dan terkesan secara paksa.


Arini diam membeku, matanya melotot menatap Bian. Lalu sesaat kemudian ia tersadar dari keterkejutannya itu. Ia memberontak berusaha melepaskan ciuman itu, tapi kekuatannya kalah jauh dengan kekuatan Bian. Arini berteriak, menangis, saat Bian mengangkat tubuhnya dan menjatuhkannya di ranjang, tapi itu tidak di hiraukan oleh Bian.


Arini memberontak sekuat tenaga, menangis, tangisan yang jika di dengar oleh orang sungguh memilukan. Tapi, tidak dengan Bian yang sudah dikuasai oleh gairah nafsunya.


*****


Bersambung...