
Bian tersenyum lebar, "Tentu saja sayang." Ucapnya membawa Arini mendekati ranjang dengan semangat empat lima. Entahlah apa yang sedang ia pikirkan sekarang. Wajah Arini semakin memerah mendengar suara Bian yang terdengar berbeda.
Bian menurunkan Arini di ranjang dengan sangat hati-hati, penuh kelembutan. Arini di baringkan di atas ranjang mereka sedangkan ia duduk di tepinya.
Bian menatap Arini dengan tatapan berbeda, mendambakan sesuatu. Arini yang di tatap seperti itu, berusaha menyembunyikan wajahnya, apalagi wajahnya yang memerah panas ini.
Diraihnya selimut untuk menutupi wajahnya, namun gerakannya kalah cepat dengan tangan kekar suaminya.
Bian menahan Arini yang ingin meraih selimut, tangannya dengan gesit sudah berada di samping pinggang ramping sang istri yang tengah berbaring, menahan pergerakannya.
Bian menatap Arini tanpa berkedip, menikmati wajah sang istri yang memerah malu. Apa istrinya ini sedang memikirkan apa yang sedang ia pikirkan. Batin Bian, tersenyum sangat tipis, bahkan Arini tidak bisa melihatnya.
Terbesit dalam keinginan Bian, ia ingin mengetahui isi pikiran sang istri. Bian terus menatap Arini dan Arini juga menatap Bian.
Arini tidak bisa berbuat apa-apa lagi, menyembunyikan wajahnya ini saja ia tak bisa. Ia pun menerka-nerka maksud dari tatapan dan perilaku suaminya.
Di tatapnya terus wajah Bian untuk mencari maksud itu, tapi apa yang ia dapatkan, wajah Bian seolah-olah mendekat ke arahnya. Arini berkedip-kedip, takut ia berhalusinasi. Tapi saat ia kembali membuka matanya, wajah sang suami semakin mendekat saja.
Arini kembali menatapnya lamat-lamat, entah terkena hipnotis atau apa. Melihat wajah sang suami semakin mendekat, ia perlahan menutup kelopak matanya.
Bian berhenti sejenak, ia memang mendekatkan wajahnya dengan wajah sang istri. Niat untuk mengetahui isi pikiran sang istri, malah membuat ia meneguk ludahnya susah. Diperhatikannya bibir merah ranum milik sang istri, membuat alam pikirannya yang tadi kembali berkobar.
Entak kesialan atau tidak, kini miliknya semakin menegang, berdenyut-denyut di sana. Bian menggigit bibir bawahnya.
Lalu tanpa aba-aba matanya sudah memburam, penuh gairah, ia semakin mendekatkan wajahnya pada sang istri, terutama pada bibir ranum itu.
Bian menutup matanya, kini kedua tangannya sudah mengunci bahu sang istri. Dan beberapa detik kemudian bibir mereka pun bertemu, membuat Arini refleks membuka kedua matanya lebar. Tersadar.
Bian mulai men***mi bibir ranum milik sang istri, mel***tnya dengan penuh kelembutan dan kasih sayang. Seolah-olah dengan hal tersebut ia berusaha menyampaikan semua rasa cinta yang dimilikinya hanya pada sang istri seorang.
Arini yang merasa kelembutan itu, dan c**man sang suami dengan penuh kasih sayang membuat tubuhnya yang tadi sempat bergetar ketakutan kini kembali tenang. Ia kembali menutup matanya, berusaha menikmati keinginan sang suami.
Bian yang merasa tubuh istrinya ini tidak bergetar seperti biasa, namun sedikit tegang, malah memperdalam ci***an mereka.
Ia terus melakukannya dengan kelembutan, melakukannya dengan pelan-pelan agar Arini dapat mengimbanginya.
Tiba Arini merasa kehabisan napas, Bian terpaksa melepaskan pungutan mereka. Arini menghirup udara dalam-dalam, permainan suaminya tidak bisa ia imbangi. Ia memang sangat buruk dalam melakukan hal seperti ini.
Bian menunggu istrinya ini menghirup udara sepuasnya, lalu pada saat Arini sudah kembali seperti biasa.
Bian mendekat ke telinga Arini seraya berkata, "Rileks sayang, jangan menahan napas mu." Ucap Bian dengan nada yang aneh, terdengar di telinga Arini.
Namun nada itu tidak terlalu ia hiraukan, tapi perkataan suaminya itu berhasil membuat wajahnya kembali bersemu merah. Ia memang tidak pandai dalam berc**man.
Sedetik kemudian, setelah mengatakan itu, Bian kembali merenggut rasa manis yang ada di bibir ranum sang istri. Sesuatu yang selalu ia dambakan.
Ia kembali menutup matanya, mengikutinya saran dari sang suami. Tidak lagi menahan napasnya dan berusaha rileks. Ajainya setelah ia mengikuti saran itu, tubuhnya yang tegang dan kaku bisa kembali seperti biasa.
Bian semakin memperdalam ciuman mereka, bahkan kini tangannya menjalar kemana-mana. Membuat Arini sedikit demi sedikit tidak bisa mengontrol tubuhnya sendiri.
Rasanya... sensasi yang sangat berbeda sehingga tubuhnya seperti itu, sensasi yang membuat tubuhnya mendambakan sesuatu, menginginkan yang lebih.
Puas menikmati dan mereguk manisnya bibir ranum itu, Bian berpindah menggigit telinga Arini, menjilatinya sekilas, lalu turun ke leher, meninggalkan tanda kepemilikannya di sana.
Arini merasa kegelian, namun n*kmat. Ia tidak tahan lagi, permainan Bian membawanya ke dunia yang lain. Tak sadar ia mengeluarkan suara yang aneh, membuatnya cepat menutup mulutnya dengan rapat.
"Keluarkan sayang...." Ucap Bian dengan nada yang bergairah. Arini tak tahan lagi, ia pun mengeluarkan suara aneh itu.
"Aaakhhh...." Desahannya tak tertahan.
Membuat Bian tidak tinggal diam saja, kini tubuh kekarnya perlahan tapi pasti sudah mengungkung tubuh mungil Arini di bawahnya. Tangannya sangat liar menjelajahi semua milik sang istri. Matanya terus menatap ke bawah mengikuti garis tulang selangka Arini, dan tiba pada dua gunung itu.
Ia tak tahan lagi untuk menikmatinya, Bian merenggutnya, mel***tnya, menggigitnya pelan. Membuat Arini semakin tak bisa mengendalikan tubuhnya. Mata keduanya buram menahan gairah, untuk orang seperti mereka dan berstatus halal tentu saja sama-sama menginginkan yang lebih.
Mata mereka berdua saling menatap, sama-sama mendambakan sesuatu, Bian semakin menatap Arini lamat-lamat. Seolah tatapan itu meminta ijin pada sang istri untuk melakukan lebih. Arini yang sudah sama seperti Bian, ia mengangguk patah-patah memberikan persetujuan pada sang suami.
Mendapatkan anggukan itu, Bian girang bukan main. Ia mulai melancarkan aksinya, mulai menanggalkan pakaiannya dan pakaian sang istri satu persatu. Dan tiba kancing terakhir baju sang istri, terdengar seseorang mengetuk pintu mereka.
Bian tidak mendengar, seolah telinganya sudah tersumpal oleh gairah. Ia terus melancarkan aksinya, sesekali kembali menciumi bibir ranum Arini, atau merenggut dua bulatan gunung sang istri. Pintu itu terus di ketuk dari luar, untung Bian sudah menguncinya terlebih dahulu.
Sejenak, tidak terdengar lagi suara pintu yang diketuk. Tapi beberapa menit kemudian, pintu itu kembali diketuk dengan suara yang semakin keras saja. Suara ketukan yang awalnya sama-sama kini terdengar sangat jelas. Membuat kegiatan dua insan itu terganggu.
"Mas...." Panggil Arini menyadarkan suaminya, dan kegiatan mereka pun terhenti.
"Arghhh... siapa itu, beraninya mengganggu." Bian berteriak geram, mengusap wajahnya kasar.
Menutup tubuh Arini dengan selimut, dan dirinya berjalan cepat menuju pintu kamar.
Dibukanya pintu itu, tidak terlihat seorang pun di sana. Padahal Bian sudah bersiap menumpahkan semua sumpah serapannya. Bila perlu dipecat detik itu juga.
Bian mendengus marah, dan saat itu juga tubuhnya terdiam kaku, tak kala mendengar satu suara yang berasal dari bawahnya.
Bian menunduk, menatap melongo, melihat Azzam sang anak yang tengah memegang satu sepatu di tangan kanannya.
*****
Bersambung...