My Son Is My Strength

My Son Is My Strength
Mencari Pekerjaan



Setelah mendapatkan ijazahnya, Arini mencoba untuk mencari pekerjaan. Ada beberapa perusahaan yang membuka lowongan kerja, tapi tak sesuai dengan keinginan Arini. Lowongan pekerjaan itu, kebanyakan sebagai cleaning servis. Kalau bukan sebagai cleaning servis, lowongan itu tak lain adalah pekerjaan yang berat-berat.


Maka dari itu, Arini tidak menginginkannya. Bukan karena ia gengsi untuk menjadi cleaning servis ataupun melakukan pekerjaan yang berat-berat itu. Lantaran karena ia sudah menyelesaikan bidang studinya, bukan. Bukan karena itu! Tetapi, karena ia memikirkan kandungannya. Ia takut, terjadi sesuatu dengan janinnya jika ia memaksakan untuk melakukan pekerjaan seperti itu.


Sampai pada suatu hari, ia kembali mendapatkan lowongan pekerjaan pada salah satu perusahaan. Dan lowongan pekerjaan kali ini sesuai dengan keinginan Arini. Arini memasukkan lamarannya pada perusahaan tersebut dan tinggal menunggu panggilan dari pihak perusahaan jika berkas-berkasnya lolos direview oleh pihak perusahaan tersebut.


"Kak." Panggil Arumi, melihat kakaknya sedang membuat susu ibu hamil di dapur.


"Iya, kenapa Rum?" tanya Arini. Berbalik sebentar melihat Arumi yang mendekat ke arahnya, lalu kembali fokus pada kegiatannya.


"Kata ibu, kakak sudah ajukan lamaran untuk kerja." Kata Arumi, berdiri di samping kakaknya yang masih sibuk dengan kegiatannya.


"Iya." Jawab Arini, sambil berjalan membawa susu di tangannya dan menuju kursi yang berada di dapur lalu duduk di kursi tersebut.


Arumi mengikuti kakaknya, dan duduk di salah satu kursi di dekat sang kakak. Wajahnya gelisah, sepertinya ia sedang menghawatirkan sesuatu. Ia ingin mengatakannya pada sang kakak, tapi tunggu ketika sang kakak selesai meminum susu ibu hamilnya.


Ketika Arini selesai minum, Arumi pun membuka suara. "Kak, kakak lamar pekerjaan bukan pekerjaan yang berat-berat kan? Bukan kaya pekerjaan yang kakak kerja kemarin di kafe, kan?" tanya Arumi, ia sangat khawatir jika kakaknya melakukan pekerjaan yang berat-berat, karena sang kakak sedang mengandung. Ia takut jika terjadi sesuatu pada janin sang kakak, dan bukan hanya itu ia juga takut jika terjadi sesuatu pada kakaknya.


Arini menoleh, tersenyum menghadap adiknya. Ia tahu, pasti Arumi sangat khawatir akan keputusannya untuk kembali bekerja setelah ia keluar dari pekerjaannya di kafe itu. "Bukan." Jawab Arini menggeleng pelan kepalanya. "Kamu nggak usah khawatir, kakak lamar kerja bukan pekerjaan yang berat-berat kok." Lanjut Arini, menenangkan sang adik.


"Serius?" tanya Arumi belum yakin dengan jawaban dari kakaknya.


"Dua rius deh, biar kamu percaya." Arini meyakinkan sang adik, seraya mencubit hidung Arumi.


"Aaaaaah iya, tapi nggak usah pake cubit hidung begini. Kan sakit tau!" kata Arumi, mengelus hidungnya. Ia sedikit ngambek, tapi ia juga lega mendengar jawaban dari kakaknya.


"Habis muka kamu lucu banget, kalau lagi gitu." Jawab Arini tanpa dosa, dengan perlakuannya barusan.


*****


Tibalah hari dimana perusahaan itu meminta Arini untuk datang ke perusahaan dan melakukan wawancara. Berkas-berkas yang Arini masukkan lolos direview oleh pihak HRD.


Arini berpamitan pada ibu dan adiknya, meminta do'a restu semoga ia dimudahkan dalam wawancaranya nanti. Lalu memesan ojek online, menuju perusahaan yang memanggilnya untuk wawancara.


Arini turun dari ojek online, lalu membayarnya dan tak lupa mengucapkan terima kasih.


Arini terteguk melihat gedung tinggi pencakar langit di depannya. Ia sedikit gugup, karena baru kali ini ia menginjakkan kakinya di perusahaan yang tinggi dan besar seperti ini.


"Do'ain, mama ya. Semoga mama di terima di perusahaan ini." Arini berkata pelan, sambil mengelus perutnya yang masih datar. Lalu melangkah masuk menuju meja resepsionis.


Terlihat, banyak sekali orang yang duduk di dekat salah satu pintu ruangan di ujung lorong sana. Mungkin mereka adalah orang-orang yang sama dengan Arini, yaitu datang untuk diwawancarai.


"Huft...." Arini menghembuskan napasnya, berusaha menghilangkan rasa gugupnya sendari tadi. Ia melangkah, mendekati orang-orang di lorong tersebut dan ikut duduk di kursi yang sudah disiapkan oleh pihak perusahaan.


Lama mereka semua menunggu, dan akhirnya datang seseorang memberitahukan bahwa sebentar lagi akan dilangsungkan wawancara. Dan nama mereka akan di panggil satu persatu untuk masuk ke ruangan dan menjalani wawancara.


Kira-kira ada 50 peserta yang berkas-berkasnya lolos direview termasuk Arini. Dan dari 50 peserta tersebut namanya akan dipanggil satu persatu. Pada urutan ke tiga puluh delapan, Arini pun dipanggil untuk diwawancarai.


Arini masuk ke dalam ruangan dan duduk di salah satu kursi menghadap beberapa orang yang akan mewawancarainya. Arini menjawab semua pertanyaan dari orang-orang tersebut dengan baik dan benar.


Tampaknya, orang-orang tersebut kagum akan kemampuan Arini dalam menjawab semua pertanyaan mereka dan kemampuan Arini dalam menyelesaikan semua tes yang mereka berikan. Mereka saling menoleh, lalu mengangguk-anggukan kepalanya masing-masing.


Salah satu dari mereka, menyodorkan sebuah kertas berukuran kecil kepada Arini. Arini melihat kertas tersebut, yang hanya tertera angka di sana. Arini bingung, namun tetap menerima kertas berukuran kecil itu.


"Ini adalah nomor antrian Anda untuk melakukan interview tahap selanjutnya, silakan menuju ruangan ketua HRD kami yang berada di lantai tiga. Seseorang akan mengantarkan Anda ke sana." Ujar orang yang baru saja menyodorkan kertas pada Arini.


Oh, sekarang Arini mengerti maksud dari kertas yang berisi angka ini. Ia mengangguk, lalu berdiri, dan sedikit menunduk tanda hormat kepada beberapa orang di depannya. Lalu ia pun keluar sesuai instruksi yang mereka arahkan.


Arini tiba di lantai tiga dimana ruangan ketua HRD itu berada, sudah tampak beberapa orang di sana. Sepertinya, mereka adalah orang-orang yang terpilih untuk tahap interview selanjutnya.


Sekarang, Arini kembali menunggu gilirannya untuk di panggil. Satu persatu, orang-orang tersebut keluar dari ruangan ketua HRD. Dan tak lama kemudian, nomor antrian Arini pun dipanggil. Arini masuk dan melihat seorang perempuan paruh baya duduk di kursi singgah sananya.


Mereka saling sapa, lalu memperkenalkan dirinya masing-masing. Di ketahui, perempuan paruh baya tersebut adalah ibu Diana, selaku ketua HRD di perusahaan ini. Dan tanpa membuang waktu, ibu Diana langsung memberikan serangkaian tes pada Arini. Arini mengerjakan semua tes yang di berikan oleh ibu Diana dengan baik dan benar. Ibu Diana pun, kagum akan kemampuan Arini dalam menyelesaikan semua tes yang telah ia berikan.


Benar apa yang di katakan oleh bawahannya, Arini memiliki kemampuan yang tidak di miliki oleh peserta lainnya.


"Baik, Arini. Semua tes telah kamu kerjakan, tapi masih ada beberapa pertanyaan lagi yang harus kamu jawab." Ucap ibu Diana dengan suara tegasnya. Arini mengangguk, seraya menunggu kelanjutan dari ucapan ibu Diana.


"Di sini, tertera bahwa kamu belum menikah." Ibu Diana berkata sambil melihat-lihat kembali berkas-berkas Arini. "Ini akan menjadi nilai plus bagi kamu sendiri. Sebab, salah satu syarat untuk bergabung dalam perusahaan kami adalah kamu tidak sedang mengandung atau hamil. Syarat ini baru saja dibuat oleh perusahaan kami ketika atasan kami yang lama, digantikan oleh atasan baru beberapa hari yang lalu." Kata ibu Diana sambil memandang Arini.


Deg...


*****


Bersambung...