My Son Is My Strength

My Son Is My Strength
Rumah Baru



Mobil yang dikendarai oleh Bian berhenti tepat di sebuah pagar besar yang menjulang tinggi, dengan motif bunga berwarna gold di tengah-tengahnya.


Bian membunyikan klakson mobil, dan dua satpam yang sedang duduk di pos jaganya berlari membukakan pintu pagar itu. Pak satpam itu membungkuk hormat mempersilahkan mobil itu untuk masuk.


Mobil Bian melaju masuk di sebuah kompleks ter-elite di Jakarta, rupanya ia telah membeli satu rumah di kompleks tersebut. Arini dibuat terkejut oleh Bian yang membeli rumah di kawasan elit seperti ini. Tidak terbesit sedikit pun dibenaknya kalau ia akan tinggal di tempat seperti ini.


Azzam menatap takjub di sekitarnya, sungguh lingkungan yang asri, rumah-rumah mewah bernuansa cat putih gold berjejer dengan rapi sepanjang jalan.


Mereka melewati sebuah taman yang begitu indah, bunga-bunga bermekaran di sana. Rumput hijau membentang sepanjang mata memandang. Beberapa orang yang sepertinya berkeluarga kini tengah menikmati suasana sejuknya taman itu. Membuat Azzam iri melihatnya.


"Mah... Pah..., nanti kita ke sana ya...." Tunjuk Azzam pada taman itu, ia tidak sabar ingin bermain di sana. Bermain bersama kedua orang tuannya, seperti beberapa keluarga kecil itu.


"Tentu saja boy, papa dan mama akan mengajak mu bermain di sana. Tapi sebelum itu kita pergi melihat rumah kita dulu." Ujar Bian menjawab ajakan sang anak, ia sedikit terkekeh melihat Azzam yang tidak sabaran untuk bermain di taman itu.


"Benarkah?" Tanya Azzam, yang selalu ingin mendapatkan kepastian.


"Tentu saja sayang, nanti papa akan mengajak kita bermain di sana." Kini Arini yang menjawab pertanyaan dari sang anak.


"Yeiii... Azzam sayang kalian berdua." Ucap Azzam membalikkan tubuhnya, lalu mencium sang mama. Karena ia duduk di pangkuan Arini. Lalu Azzam berdiri mencium pipi Bian yang sedang menyetir. Membuat kedua orang tuanya terkekeh melihat tingkahnya yang sangat menggemaskan.


Mobil itu terus melaju, dan tiba di sebuah pagar yang tidak terlalu menjulang tinggi seperti pagar sebelumnya. Yang Arini tahu ini adalah rumah baru mereka.


Bian tidak perlu lagi membunyikan klakson mobilnya, karena ia sudah di tunggu oleh seorang di dalam sana dan membukakan mereka pintu pagar. Lagi-lagi Arini dibuat terkejut oleh rumah yang di beli oleh Bian ini, sungguh luas halamannya dan rumah besar bernuansa cat putih gold berdiri kokoh di depan sana. Membuat Arini menatap tidak percaya, sekaligus merasa sangat takjub.


Bian masuk ke dalam, dan tak lupa ia menurunkan kaca mobilnya untuk menyapa orang tersebut.


"Makasih Pak Bhanu ." Ucap Bian menyapa orang tersebut, yang ternyata adalah penjaga keamanan di rumah mereka.


"Sama-sama, Tuan. Dan selamat datang di rumah baru Anda." Ucap orang itu mengangguk hormat pada Bian atasannya.


Arini dan Azzam menyapa Pak Bhanu dengan senyuman, tapi sayang Pak Bhanu terus menunduk tidak melihat sapaan mereka berdua. Seolah dia tidak berani mengangkat kepalanya. Entah apa penyebabnya, Arini dan Azzam pun tidak tahu.


Karena lingkungan rumah itu yang luas membuat Bian menjalankan lagi mobilnya beberapa meter ke depan agar sampai tepat di depan teras rumah mereka.


Arini dan Azzam menatap sekeliling, melihat bunga mawar merah dan putih menghiasi sepanjang jalan menuju rumah mereka. Mata Azzam melihat air mancur di sisi kanan jalan, dan kolam renang yang sangat besar di sisi kirinya. Azzam tidak sabar ingin mandi di sana.


Ia kembali berceloteh pada kedua orang tuanya, ingin mandi di sana.


"Pah... Pah... Azzam boleh kan mandi di sana." Azzam menunjuk kolam renang itu, setengah kepalanya terlihat keluar di pintu mobil.


"Tentu saja." Jawab Bian melihat ke arah kolam renang, laju mobilnya ia perlambat agar keluarga kecilnya bisa melihat lingkungan rumah mereka.


"Hmmm... tapi Azzam tidak bisa berenang, gimana dong?" Azzam memasukkan kembali kepalanya dengan muka yang masam.


"Hahaha...." Bian terkekeh, lucu sekali melihat wajah anaknya seperti itu. Arini hanya tersenyum.


"Tenang boy, nanti papa akan mengajarimu. Iya kan, mah...." Jawab Bian dan bertanya pada Arini.


Arini terlihat malu-malu menjawab, karena mendengar panggilan Bian. Terasa asing di telinganya, namun nyaman didengar.


Azzam menoleh ke atas melihat wajah mamanya, menunggu jawaban. "T-tentu saja." Jawab Arini malu-malu.


Di teras rumah kini telah berdiri empat orang menunggu kedatangan mobil mereka. Dua orang tua yang terlihat seperti pasangan suami istri, dan dua gadis remaja di belakang mereka.


Bian menghentikan mobil mereka tepat di depan teras rumah. Keempat orang itu menghampiri mereka.


Bian keluar dari mobil, begitu juga dengan Arini dan Azzam. Empat orang itu serentak menunduk hormat, menyambut kedatangan Tuan mereka.


"Selamat datang, Tuan, Nyonya, dan Tuan Muda." Ucap seorang lelaki paruh baya menyapa Bian, Arini dan Azzam, serta mewakili ketiga perempuan di sampingnya.


Ah... Arini merasa tidak enak di panggil seperti itu, juga panggilan untuk anaknya. Sungguh terasa aneh dan berlebihan menurutnya. Tapi mau bagaimana lagi, begitulah menjadi seorang istri dari Bian Andi Pratama.


"Terima kasih Pak Yanto. Perkenalkan ini istri dan anak saya. Nama mereka Pak Yanto masih ingat 'kan?" Bian menyapa balik seraya memperkenalkan Arini dan Azzam, yang sebelumnya ia sudah memberitahu nama mereka pada Pak Yanto dan yang lainnya.


"Tentu saja Tuan, Nyonya Arini dan Tuan Muda Azzam." Pak Yanto menyebutkan nama istri dan anak tuannya.


"Sayang perkenalkan, dia Pak Yanto kepala pelayan di ruang kita. Di sampingnya Bi Minah, istri Pak Yanto, dan dua remaja perempuan ini Lia dan Lula anak dari Pak Yanto dan Bi Minah." Kini giliran Bian memperkenalkan Pak Yanto beserta keluarganya, dan orang yang diperkenalkan menunduk hormat. "Mereka semua orang kepercayaan Papa di mansion utama, termasuk Pak Bhanu yang membukakan pintu pagar tadi." Lanjut Bian.


"Salam kenal Pak Yanto, Bi Minah, dan adek cantik Lia Lula." Arini tersenyum hangat melihat keempat orang di depannya, ia menunduk sopan.


"Salam kenal kakak-kakak cantik." Azzam malah melambaikan tangannya pada kedua remaja cantik itu.


Lia dan Lula saling memandang, lalu mereka berdua tersenyum dan membalas lambaian tangan dari Azzam serta say hello. Menggemaskan sekali. Ucap mereka berdua dalam hati.


"Kalau begitu kami masuk dulu Pak." Ucap Bian setelah perkenalan mereka.


"Iya Tuan, silakan. Silakan Nyonya, Tuan Muda." Pak Yanto dan keluarganya memberikan jalan.


Bian, Arini dan Azzam memasuki rumah mereka. Arini tak henti-hentinya terkejut dan takjub. Rumah yang tampak besar di luar, juga sangat luas di dalamnya. Semua perabotan mewah nan mahal tersimpan rapi di tempatnya, mengisi sudut-sudut ruangan.


"Wahhh... rumahnya besar sekali. Apa ini benar akan menjadi rumah kita, Pah?" Tanya Azzam yang juga terlihat tidak percaya, sekaligus takjub seperti mamanya.


"Tentu saja boy, ini rumah kita dan sudah atas nama mu." Ucap Bian dengan entengnya, Arini yang mendengarkan berkali-kali lipat terkejut, ia menutup mulutnya, sungguh suaminya sudah berlebihan.


Arini yang masih terkejut dengan yang barusan ia dengar, suaminya malah santai mengangkat tubuh sang anak untuk di gendongnya.


"Apa itu tidak terlalu berlebihan Mas, maksud ku Azzam masih kecil." Ujar Arini mengingatkan suaminya, ia menghampiri dua pria itu.


"Tidak sayang, itu sama sekali tidak berlebihan." Bian menarik pinggang ramping Arini, lalu diciuminya pucuk kepala sang istri. "Sekarang ayo ke atas, kita lihat kamar kita." Ujar Bian lagi, membawa keduanya menaiki tangga. Arini diam tidak lagi banyak bicara, ia sepertinya lupa kalau suaminya ini seorang keturunan Pratama.


"Ayo... Pah." Ucap Azzam semangat, tidak sabar melihat kamar barunya.


*****


Bersambung...