My Son Is My Strength

My Son Is My Strength
Mamaaa...



"Jadi, kalau dia bukan anakku. Kalian tetap akan melontarkan kata-kata kasar seperti tadi?" tanya Bian dengan tatapan tajamnya, aura kemarahannya memenuhi kerumunan itu yang membuat semua orang melihatnya menjadi takut dan mundur perlahan.


Tanpa di sadari ada sesosok perempuan yang tengah memperhatikan semua adegan itu dari belakang.


"Bu-bukan begitu, Tuan." Ujar ibu itu gemetar, tidak berani menatap sosok Bian yang sangat mendominasi kerumunan itu.


"Lalu, apa maksud mu mengatakan semua itu pada anakku? Sampai-sampai membuatnya seperti ini! Aku saja tidak pernah memarahinya, apalagi membentaknya seperti tadi." Tatapan tajam menghunus dari Bian tidak pernah ia lepaskan dari ibu itu. Ia tak bisa menerima kalau seseorang yang ia sayangi diperlakukan seperti ini.


"Ma-maaf, Tuan." Kembali ibu itu hanya bisa meminta maaf, dengan suaranya yang masih gemetar.


"Permohonan maaf mu tidak seberapa dengan apa yang anakku alami sekarang, dan aku tidak ingin kau yang meminta maaf." Ujar Bian beralih menatap anak yang sekarang bersembunyi memegang baju ibunya dari belakang. Ia sangat takut melihat aura kemarahan dari Bian. "Tapi anak itu yang harus meminta maaf kepada anakku!" Lanjut Bian tegas, menunjuk anak itu dengan sorot matanya.


"Cepat kamu meminta maaf." Bisik ibu itu, menarik anaknya untuk maju dan meminta maaf kepada Azzam anak dari bos suaminya itu.


Anak itu maju, namun belum meminta maaf kepada Azzam. Ia menunduk takut, melihat ekspresi dari Bian.


Bian yang melihat anak itu belum meminta maaf, langsung melontarkan pertanyaan kepadanya.


"Apa yang membuat mu melontarkan semua perkataan kasar itu pada anakku? Apa kamu sudah merasa sangat baik, sehingga mudah sekali mengatakan semua itu?" tanya Bian menelisik sosok anak itu dari atas ke bawah.


"Ti-tidak." Ucapnya mengeluarkan suara itu dengan sangat susah, rasanya... menelan ludahnya pun sangat sulit jika berhadapan dengan orang dewasa yang berada di hadapannya ini.


"Lalu?" tanya Bian mengangkat satu alisnya.


Anak itu diam, bungkam, tidak mengatakan sesuatu. Tidak mungkin kan, ia harus jujur apa yang sebenarnya membuat ia mengatakan dan melakukan semua ini kepada Azzam.


Tidak mungkin kalau ia mengatakan bahwa dirinya iri akan kepintaran dan Azzam yang memiliki banyak teman, tidak seperti yang memiliki sedikit teman.


Jadilah ia mulai menghasut temannya dan juga temannya Azzam yang lain. Dengan dalil Azzam tidak punya Ayah seperti mereka, agar temannya maupun temannya Azzam tidak mau lagi berteman dengan Azzam.


Bian menatap tajam ibu itu, bergantian dengan anaknya. Membuat ibu itu bertindak sebelum Bian melakukan sesuatu yang buruk kepada mereka dan juga keluarganya nanti, terutama pekerjaan sang suami.


"Cepat kamu minta maaf." Desak ibunya, mencubit pelan sang anak supaya cepat meminta maaf pada Azzam yang sekarang ada di gendongan Bian. Anak itu yang tadinya diam, bungkam, tidak mengatakan sesuatu, kini mulai meminta maaf.


"Ma-maafkan aku." Ucapnya pelan, meminta maaf pada Azzam.


"Apa kamu mendengarkannya, boy?" tanya Bian pada Azzam yang sekarang sudah lebih tenang tidak seperti tadi. Seraya mengusap kepala Azzam dengan sayang, aura kemarahannya yang tadi sempat memuncak. Entah hilang kemana, digantikan dengan aura lembut dan kasih sayang. Layaknya seorang ayah yang sangat menyayangi anaknya.


Azzam menggeleng, karena memang ia tidak mendengar ucapan maaf dari teman kelasnya itu.


"Lihat! Anakku tidak mendengarkan ucapan permintaan maaf mu." Bian kembali menatap anak itu dengan tidak bersahabat.


"Minta maaf yang benar, besarkan suaramu itu." Bisik Ibu itu mencubit anaknya lebih keras dari sebelumnya.


"Akkhhh." Rintihnya mengangguk cepat, mengiyakan permintaan sang ibu.


"A-Azzam, ma-maafkan aku. A-aku sungguh menyesal karena telah mengatakan kata-kata kasar itu pada mu, a-aku tidak akan pernah mengulanginya." Ucapnya meminta maaf, entah tulus atau tidak, yang penting ia meminta maaf karena takut akan sosok Bian dan agar ibunya tidak mencubitnya lagi.


"Apa kau menerima permohonan maafnya?" Bian menatap Azzam lekat, penuh kasih sayang.


Azzam mengangguk, menerima permohonan maaf dari temannya itu. Ia sudah di ajari baik oleh Arini mau neneknya untuk selalu memaafkan seseorang yang berbuat salah kepadanya, walaupun mereka belum meminta maaf apalagi sudah meminta maaf seperti ini.


Melihat anggukan Azzam, Bian pun ikut mengangguk. Ia mengusap kepala Azzam lagi dengan sangat lembut, bangga akan sikapnya yang mudah memaafkan orang lain.


"Pasti ini di ajarkan oleh Arini." Gumam Bian dalam hati, tersenyum. "Apa dia bisa memanfaatkan semua kesalahanku, seperti Azzam memaafkan kesalahan orang lain?" tanyanya dalam hati.


"Bagaimana, Tuan? Apakah Anda memaafkan saya dan anak saya?" tanya ibu itu takut-takut, memberikan dirinya untuk bertanya karena tidak melihat aura kemarahan lagi dari Bian.


Bian menghentikan kegiatannya mengusap kepala Azzam, menatap ibu dan anak itu bergantian.


"Karena anakku sudah mengangguk. Maka, hari ini kalian dimaafkan." Ujar Bian yang membuat ibu dan anak itu merasa lega, sebelum ia kembali berkata dan membuat mereka kembali merasa resah bahkan lebih dari tadi. "Dan bersiaplah menerima hadiah dari ku! Suami mu sendiri akan membawanya untuk kalian." Ujar Bian tersenyum miring, yang membuat semua orang tercengang apalagi ibu dan anak itu.


Bukan Bian namanya, jika tidak memberi pelajaran kepada seseorang yang berani mengusik kehidupannya dan juga orang-orang yang ia sayangi.


"Ayo boy, sekarang kita pulang." Ujar Bian membalikkan badannya, masih menggendong Azzam.


Azzam mengangguk, tidak menjawab. Karena ia masih memikirkan hadiah yang di katakan oleh Bian, orang yang sudah menolongnya ini, orang yang selalu menemaninya di hari-hari Aunty Arumi telat menjemputnya.


"Apakah orang yang melakukan kesalahan harus diberikan hadiah?" tanya Azzam polos, pusing memikirkan hadiah itu. Jadilah ia pun bertanya kepada Bian.


"Iya, mereka harus di berikan hadiah." Bian menjawab pertanyaan polos dari Azzam, seraya tersenyum.


"Kenapa?" tanya Azzam lagi, masih tidak mengerti.


"Karena telah memerhatikan kita, lebih dari memerhatikan dirinya sendiri." Bian menjelaskan, membuat Azzam mengangguk sedikit paham.


"Oh... jadi mereka melakukan semua itu karena perhatian sama kita?" tanya Azzam memastikan, dan Bian mengangguk.


"Hmmm... kalau begitu, aku akan membelikan banyak coklat untuk teman-teman yang pernah jahat kepadaku." Ujar Azzam tersenyum manis memikirkan itu, seraya memikirkan wajah teman-temannya rakus akan coklat.


"Tentu saja, dan jangan lupa mengatakan terima kasih karena telah memerhatikan mu." Ucap Bian terkekeh kecil melihat tingkah polos Azzam.


"Hm, aku akan mengatakan itu." Azzam mengangguk mantap.


Kembali Bian terkekeh kecil, melihat tingkah kepolosan ini. Ia mengacak rambut Azzam gemas.


"Azzam." Panggil seorang perempuan, yang membuat kedua orang yang sibuk dengan kegiatannya teralihkan ke sumber suara itu.


Deg...


Deg...


Deg...


"Aakhh... kenapa jantung ku selalu terpacu cepat seperti ini, jika bertemu dengannya? Apa ini adalah hukuman dari alam, karena banyak melakukan kesalahan padanya?" gumam Bian dalam hati, tidak bisa mengontrol jantung yang terpacu begitu cepat jika selalu bertemu dengan Arini.


"Mamaaa...." Teriak Azzam girang, karena hari ini mamanya lah yang menjemputnya.


*****


Bersambung...