
Bian menunduk, menatap melongo, melihat Azzam sang anak yang tengah memegang satu sepatu di tangan kanannya.
"Huft... akhirnya papa buka pintunya juga." Azzam menghela napas, memakai kembali sepatunya yang ia gunakan untuk mengetuk pintu. Tangan mungilnya sakit karena mengetuk pintu yang tak kunjung di buka, dan alhasil dengan otak encernya itu, ia pun menemukan cara praktis untuk mengetuk pintu tanpa membuat tangannya sakit, yaitu mengetuk pintu dengan sepatutnya.
Arini yang mendengarkan suara anaknya dari luar, cepat menyibak selimut, mengancing bajunya dengan kecepatan kilat. Ia bangun, turun dari ranjang, merapikan baju dan rambutnya yang berantakan, setelah itu memperbaiki ranjang mereka yang terlihat acak-acakan.
"Papa kenapa baru membuka pintunya?" Tanya Azzam mendongak, menatap wajah Bian.
Bian tersadar, gelagapan menjawab pertanyaan dari sang anak, menggaruk kepalanya yang tak gatal.
Azzam memicingkan mata, tidak biasanya ia melihat tingkah papanya seperti itu.
"Pah... Papa kenapa?" Azzam kembali bertanya, aneh melihat kelakuan papanya seperti itu yang kebingungan menjawab pertanyaan sederhana darinya.
"Eh... papa tidak apa-apa kok." Jawab Bian berbohong, padahal tubuhnya masih berdenyut-denyut, tidak mendapatkan apa yang ia inginkan karena anak menggemaskannya yang datang di waktu yang tidak tepat.
Azzam menggeser tubuhnya, melihat ke dalam mencari sosok mamanya, namun Bian ikut menggeser tubuhnya, menahan Azzam untuk melihat ke dalam. Takut sang istri masih dalam keadaan yang berantakan akibat perlakuannya tadi.
Azzam mengernyit, kembali mendongak. "Azzam mau ketemu sama mama pah." Ucapnya pada Bian, yang terus menghalanginya.
"Eh... mama kayanya lagi tidur boy." Ucap Bian mencari alasan, bagaimana pun ia masih ingin melanjutkan aktivitasnya yang tertunda itu.
"Hah... mama tidak biasanya tidur siang." Ucap Azzam terdiam sejenak, berpikir, mengingat kapan mamanya pernah tidur siang, tapi... sepertinya tidak pernah. Ya, mamanya tidak pernah tidur siang karena selalu pergi ke kantor.
Dan dari arah belakang punggung Bian, Arini menghampiri kedua pria itu. Azzam melihat mamanya dan langsung berlari menghambur memeluknya. Bian kembali menatap melongo, melihat Azzam yang sudah berlari masuk ke kamar mereka. Keinginannya untuk melanjutkan aktivitasnya bersama sang istri gagal total, membuat Bian meringis dengan wajah yang murung.
"Mama.... kata papa mama tidur siang." Azzam merentangkan tangannya, dan langsung diraih oleh Arini lalu menggendongnya.
"Eh... i-iya sayang, sekarang mama udah bangun." Arini gelagapan menjawab.
Dilihatnya sang suami yang menghampiri mereka dengan wajah yang masygul, berjalan sempoyongan seolah tidak ada tenaga pada dirinya.
"Aku pergi mandi sayang." Ujar Bian, mencium pipi Arini. Lalu berjalan menuju kamar mandi dengan sangat tidak bersemangat, namun langkahnya ditahan oleh sang anak.
"Pah...." Panggil Azzam, menghentikan langkahnya Bian.
"Ya, boy?" Bian membalikkan badannya.
"Azzam juga mau...." Ucap Azzam.
"Mau apa?" Tanya Bian mengernyit, Azzam menunjuk pipi tembemnya, mengisyaratkan ia juga ingin dicium oleh sang papa.
Oalah... Bian menepuk jidatnya sendiri, lupa memberikan ciuman juga pada anak menggemaskannya. Azzam bersungut, pipinya yang gembul semakin gembul, dan bibirnya mengerucut lucu.
"Hehehe... papa lupa, jangan marah ya boy." Bian cengengesan, menghampiri anaknya yang tengah di gendong oleh istrinya, lalu ia pun mendaratkan ciuman bertubi-tubi di sana.
"Ahahaha... cukup pah... geliiii." Azzam tertawa kegelian akibat ulah Bian. "Ahahaha...." Iya menutup pipinya dengan satu tangan, satu tangan lainnya menutup mulut Bian, menahan.
Arini ikut tersenyum, melihat tingkah dua orang pria ini. "Cukup mas... udah mandi sana." Mendengar perintah dari sang istri Bian langsung menghentikan kegiatannya menjahili sang anak.
"Ok, sayang. Tapi nanti ada bayarannya yah...." Ucap Bian mengedipkan satu mata, berlalu menuju kamar mandi. Wajah Arini memerah, ia cepat mengajak anaknya menuju meja makan.
*****
"Papa lama sekali mandinya." Ucap Azzam yang sudah duduk dengan rapinya di meja makan sampai kanan Arini. Melihat kedatangan papanya dengan rambut yang masih basah.
Bian menghampiri keluarga kecilnya, "Hehehe... iya, sekarang ayo kita makan." Ucapnya duduk di samping kiri sang istri.
Arini menyendok nasi untuk Bian dan Azzam, serta lauknya, dan memberikan kepada mereka berdua. Lalu ia menyendok untuknya sendiri, dan kembali duduk di tengah-tengah dua pria itu.
Arini memerhatikan, lantas mengernyit. "Kenapa mah?" Tanyanya pada sang suami yang belum menyentuh makanannya.
"Hmm...." Bian diam sejenak, bertingkah kikuk. "Suapin." Satu kata itu lolos keluar dari mulutnya.
Arini dan Azzam berhenti sejenak menyendok makanan mereka berdua, mereka menoleh pada Bian serentak.
"Ih... apa'an sih mas, makan sendiri! Azzam saja makan sendiri tuh...." Ucap Arini menoleh pada sang anak. Azzam kini kembali menyendok makanannya sendiri, perlahan-lahan, berusaha menunjukkan bahwa ia saja bisa makan sendiri seperti yang dikatakan oleh mamanya apalagi papanya yang sudah besar.
Bian menoleh pada anaknya sekilas, tidak peduli dengan perkataan sang istri, ia tetap mau disuapi. Azzam sesekali memerhatikan tingkah kedua orang tuannya.
"Mau disuapin sayang...." Nada Bian hampir merengek, membuat Arini ternganga mendengarnya, Azzam tersenyum lucu, menahan tawanya yang ingin keluar kalau saja mulutnya ini tidak penuh dengan makanan.
"Sayang...." Bian kembali memanggil istrinya, menatapnya penuh harapan. Sangat ingin disuapi oleh sang istri.
"Huft...." Arini menghela napas, ia mengambil makanan milik suaminya, dan mulai menyendok nya. Didekatkan sendok itu di mulut Bian, dan langsung diterima oleh Bian dengan senang hati dan senyuman yang lebar.
Bian menguyah makanan dengan senyam-senyum memandang wajah cantik sang istri. Arini setelah menyuapi sang suami, ia pun menyuapi dirinya sendiri.
Azzam yang melihat itu, tentu saja sangat iri. Ia tidak mau kalah dengan papanya, disimpannya sendok makannya. Ya... walau pun ia bisa makan sendiri, tapi ia juga mau disuapi oleh mamanya seperti sang papa.
"Kenapa boy?" Tanya Bian, melihat anaknya berhenti makan. Otaknya tidak dapat menerka-nerka apa yang diinginkan oleh sang anak karena kesenangan disuapi oleh istrinya.
Arini menoleh ke kanan, melihat anaknya yang menyimpan sendok, berhenti makan.
"Kenapa sayang?" Tanya Arini pada Azzam yang menata iri pada papanya.
"Azzam mau disuapin kaya papa." Ucap Azzam menunjuk papanya. Kini giliran Bian yang mengernyit, mendengar ucapan dari anaknya.
"Kan Azzam bisa makan sendiri, masa mau disuapin?" Ucap Bian, tidak melihat dirinya yang juga disuapi oleh sang istri.
"Papa juga bisa makan sendiri, kenapa mau disuapin sama mama?" Azzam malah balik bertanya, membuat wajah Bian meringis, dipukul telak oleh sang anak.
"Hmhmhmhm...." Arini tertawa menutup mulutnya.
Ah... anaknya ini, sungguh tidak bisa melihat momen romantis orang tuannya. Batin Bian tak terucap, wajahnya masih meringis.
"Azzam mau disuapin kan?" Tanya Bian setelah beberapa detik kemudian.
"Ummm...." Azzam mengangguk mengiyakan.
"Kalau begitu, sini... duduk di samping papa." Lanjut Bian menepuk kursi di samping kirinya, ia tersenyum muslihat.
"Buat apa?" Tanya Azzam tidak mengerti, Arini menggeleng-nggelengkan kepalanya, mengerti maksud sang suami.
"Tadi Azzam mau disuapin kan? Jadi sini, papa yang suapin." Ucap Bian menyunggingkan seulas senyum.
"Tapi Azzam mau disuapin sama mama." Azzam menolak, membuat senyuman di bibir Bian pudar. Tapi ia tidak kehabisan akal.
"Kan mama lagi nyuapin papa, Azzam juga nggak pernah kan papa suapin." Ucap Bian yang langsung membuat Azzam berpikir dua kali.
"Iya juga ya... Azzam nggak pernah disuapin sama papa. Kalo gitu Azzam mau pah, disuapin sama papa." Azzam girang mendapatkan ide cemerlang dari papanya, ia berganti posisi, membawa piring makanannya menuju samping kiri Bian. Bian tersenyum lebar. Yes. Rencananya berhasil. Arini kembali menggeleng-gelengkan kepala, melihat tingkah sang suami.
Akhirnya keluar kecil itu pun makan dengan damai. Arini menyuapi Bian, dan Bian bergantian menyuapi Azzam.
*****
Bersambung...