
"Kalo gitu, Azzam harus jadi anak yang baik, selalu dengerin apa kata mama, dan jangan nakal. Sama satu lagi...."
"Apa Om?"
"Azzam jangan cerita sama siapa pun kalau kita ketemu hari ini, apa lagi cerita sama Mama."
"Mmm... emang kenapa kalau Azzam cerita sama Mama?”
"Kalau Azzam cerita sama Mama, nanti Mama Azzam sedih, Azzam kan nggak mau bikin Mama sedih."
"Iya, Azzam nggak mau bikin Mama sedih." Jawab Azzam mengiyakan, tapi ia masih tidak mengerti kenapa orang dewasa di depannya ini melarang ia untuk bercerita kepada mama nya tentang pertemuan ini. Tapi ya sudahlah... yang penting mama tidak sedih. Pikir Azzam.
Bian tersenyum, mendapatkan jawaban dari Azzam seperti yang ia inginkan. "Boleh om peluk kamu?" Bian meminta izin, karena sebentar lagi ia akan berpisah dengan Azzam.
Azzam mengangguk, merentangkan tangannya dan langsung disambut oleh Bian dengan senang hati.
Pelukan itu tak berlangsung cukup lama, karena ponsel Bian berbunyi. Bian melepaskan pelukan, mengambil ponselnya di dalam saku lalu mengangkatnya. Dan ternyata itu dari Rio, yang memberitahu bahwa seseorang telah datang untuk menjemput Azzam.
"Azzam, Om pergi dulu ya. Nanti hari kamis om datang lagi. Oke.”
"Iya, om.” Jawab Azzam girang, entah kenapa ia sangat senang dan bahagia jika berada di dekat Bian.
Bian mencium pucuk kepala Azzam dengan sayang, lalu melihat jam di pergelangan tangannya. Ia bergegas mencari tempat persembunyian, karena sudah tidak ada waktu lagi dan ia tidak ingin berpapasan dengan seorang yang akan menjemput Azzam.
Sesaat setelah Bian bersembunyi dari pohon besar yang dekat dengan kursi taman itu, Arumi muncul untuk menjemput keponakannya.
"Azzam." Panggil Arumi mengalihkan perhatian Azzam yang sedari tadi menatap pohon besar di belakang kursinya.
Azzam membalikkan tubuhnya, karena mendengar seseorang memanggil namanya. "Yeiii... Aunty datang." Azzam turun dari kursi, menghampiri Arumi dan langsung memeluknya. Arumi menyambut hangat pelukan itu.
"Apa Aunty kelamaan menjemput mu." tanya Arumi dan Azzam menggeleng.
Arumi baru menjemput Azzam karena ia harus kuliah terlebih dahulu, sebelum menjemput keponakannya ini. Jadwal kuliahnya yang bertentangan dengan jam kepulangan Azzam, membuat Arumi terpaksa harus menitipkan keponakannya ini pada wali kelasnya.
"Nggak kelamaan kok." Jawab Azzam melepas pelukannya.
"Ya sudah kalau begitu, sekarang kita...."
"let's go to home." Ujar Arumi dan Azzam bersama, sembari mengangkat salah satu tangan mereka ke depan.
Bian tersenyum dibalik pohon besar itu, melihat wajah Azzam yang berbinar bahagia.
*****
Dalam perjalanan pulang, banyak keceriaan yang menghiasi mobil yang tengah melaju menuju kediamannya itu.
Mereka bernyanyi, bertukar cerita, lalu tertawa mendengar cerita lucu yang mereka lalui hari ini. Dan itu sudah menjadi kebiasaan keduanya ketika Azzam mulai masuk sekolahnya.
Arumi awalnya hanya sekedar bertukar cerita untuk membuat Azzam melupakan hari lelahnya beraktivitas, sekaligus sebagai penebus atas ia yang tidak bisa menjemput keponakannya ini tepat waktu. Lambat laun itu menjadi kebiasaan keduanya, dan bukan hanya menghilangkan rasa lelah Azzam ataupun sebagai penebus Arumi, tetapi juga menjadi penghibur untuk keduanya dalam perjalanan menuju rumah.
"Aunty tahu." Azzam kini mulai bercerita setelah mendengar cerita Arumi yang membuat mereka sama-sama tertawa ngakak.
"Tidak... karena kamu belum bercerita." Jawab Arumi menggeleng, sembari fokus menyetir.
"Hehehe... iya, ya." Azzam tertawaan cengengesan, diikuti oleh Arumi.
"Tadi itu, di sekolah ada teman ku di kelas lain yang ngaku-ngaku ke aku, kalau tas yang ada di atas meja dekat lorong itu tasnya." Ujar Azzam mulai bercerita.
"Terus?" tanya Arumi penasaran akan kelanjutan cerita Azzam
"Terus dia bilang gini..., 'Heh Azzam! Lihat tas baru aku, bagus kan? Kemarin mama aku baru beli loh di Mal paling elite di kota ini.' katanya membanggakan diri, aku angguk-angguk percaya. Lalu beberapa saat kemudian teman aku dari kelas lain juga datang dan langsung pake tas itu. Dan bilang..., 'enak saja, ini tas aku!!!' katanya berjalan pergi. Terus, teman aku yang ngaku-ngaku tadi, wajahnya langsung memerah sudah kaya kepiting di rebus sampai matang... hahaha." Azzam bercerita sambil menahan tawanya di awal cerita, meniru-niru kan cara bicara temannya, lalu di akhir cerita ia tidak dapat menahan tawanya lagi, dan akhirnya ia pun tertawa ngakak.
"Hahahaha...." Arumi ikut tertawa ngakak mendengar cerita lucu Azzam.
Kruyuk... kruyuk....
Azzam membekap perutnya, karena mengeluarkan suara aneh itu. Untung hanya Aunty nya yang berada di mobil itu, kalau tidak! Pasti ia sudah mencari tempat persembunyian karena malu akan bunyi aneh yang keluar dari perutnya.
"Hehehe... lapar." Azzam tertawaan cengengesan menata Arumi.
Arumi tersenyum, mengusap pucuk kepala Azzam dengan satu tangannya. "Mau makan apa? Kita akan berhenti di restoran." Ujar Arumi, membuat senyum merekah di bibir mungil Azzam.
"Yeiii...." Ujar Azzam girang, lalu ia pun berpikir. "Mmm... aku mau makan nasi goreng spesial sama telur mata sapi aja, deh." Ujarnya memberitahu makanan yang ingin ia makan.
"Oke, meluncur ke restoran." Arumi menimpali dengan semangat.
"Go...." Ujar Azzam ikut semangat mengangkat tangannya ke depan, dan tidak lagi membekap perutnya.
Tak butuh waktu lama, Arumi memarkirkan mobilnya lalu turun bersama Azzam memasuki restoran.
"Mau makan di luar sini atau di dalam ruangan saja?" tanya Arumi meminta pendapat Azzam.
"Di luar aja Aunty, biar sambil lihat jalan." Jawab Azzam mengedarkan pandangannya melihat kursi kosong. "Nah... di situ Aunty." Tunjuk Azzam pada salah satu meja yang berada di pojok dan sangat cocok makan sambil lihat jalan.
"Oke... yuk." Ajak Arumi menggandeng tangan mungil Azzam.
Sesampainya di kursi yang mereka targetkan, mereka pun langsung duduk. Arumi mengangkat satu tangannya, memanggil pelayan untuk memesan makanan.
Pelayan itu datang, menghampiri meja Arumi dan Azzam.
"Eh... Mbak Arumi, Dede Azzam, mampir makan lagi ya?" tanya pelayan yang membawa buku menu.
"Ih... kakak Sri, jangan panggil Dede lagi! Aku kan udah besar." Ucap Azzam membekap kedua tangannya di dada, lalu menghembuskan napas gusar di pipi gembul nya. Melihat itu, pelayan yang tak lain bernama Sri, sangat ingin mencubit pipi gembul yang terlihat sangat imut itu. Kalau saja ia tidak mengingat pemilik dari pipi gembul nan menggemaskan adalah anak dari pemilik restoran tempat ia bekerja saat ini.
"Ihhh... gemes." Ucap Sri mencubit udara di dekat pipi gembul Azzam.
"Kakak...! Aku lapar nih." Ujar Azzam menatap perutnya.
"Eh.... Iya, iya. Lupa hehehe... habis kamu lucu banget." Ujar Sri masih gemas.
"Udah Sri, kasihan dia. Dari tadi perutnya udah bunyi." Kata Arumi menghentikan tingkah aneh Sri yang dilihat oleh banyak pelanggan restoran. Tapi, malah mengundang wajah merah padam Azzam yang malu akan aibnya di ceritakan kepada orang lain. Dan refleks saja, Azzam langsung menyembunyikan wajahnya dengan memeluk Arumi.
"Aunty...." Panggil Azzam mengeratkan pelukannya, agar Arumi tidak berkata apa-apa lagi.
"Hehehehe... maaf." Ucap Arumi cengengesan tanpa dosa. Sedangkan Sri yang melihat kejadian langka itu malah tertawa ngakak, lalu menutup mulutnya takut mengganggu pelanggan restoran.
"Eh... eh... mau pesan apa, Mbak Rum." Ujar Sri yang menyadari perlakuannya.
"Oh iya. Aku mau pesan nasi bebek goreng kremes, sama udang mentega, tapi udangnya di bungkus, ya." Arumi memberitahu pesanannya.
"Kalau Azzam?" tanya Sri beralih pada pesanan Azzam.
"Azzam pesan nasi goreng spesial sama telur mata sapi." Arumi memberitahu, karena Azzam masih setia menyembunyikan wajahnya.
"Minumannya." tanya Sri lagi.
"Minumannya seperti biasa aja." Kembali Arumi menjawab.
"Baik. Tunggu sebentar, yah." Sri undur diri, dan Arumi mengangguk.
"Untung aku cepat-cepat sadar, kalau tidak? Bisa di pecat aku, karena menertawakan anak bos sendiri." Gumam Sri, menghela napas aman sepanjang menuju dapur.
*****
Bersambung...