
Hari sudah beranjak sore, Arini masih fokus menatap laptopnya. Mengerjakan sesuatu yang belum sempat ia kerjakan, sesekali memeriksa beberapa berkas lalu menanda tanganinya.
Setelah selesai melakukan pertemuan dengan beberapa kliennya, ia pun menyuruh Hana untuk langsung menuju perusahaan saja. Tidak seperti biasanya yang langsung pulang menuju rumah. Dan jadilah ia pun masih mengerjakan beberapa pekerjaan di ruangannya ini.
Tok... tok...
Terdengar suara pintu ruangan Arini diketuk, Arini menoleh, lantas menyuruh seseorang di sana untuk masuk.
"Selamat sore, Bu. Maaf mengganggu waktu Anda." Hana masuk, berjalan mendekati kursi Arini sekarang duduk seraya menenteng beberapa berkas di tangannya.
"Sore juga, Han. Yah, tidak apa-apa." Ujar Arini menoleh pada Hana. "Ada apa?" lanjutnya lagi bertanya.
"Ini, Bu. Saya membawa beberapa berkas yang harus Anda periksa dan tanda tangani." Hana menyodorkan beberapa berkas penting. "Berkas-berkas ini bisa Anda tanda tangani besok atau lusa." Lanjut Hana lagi, melihat berkas tertumpuk di meja kerja Arini.
"Baguslah kalau begitu, jadi aku bisa menyelesaikan beberapa berkas ini terlebih dahulu." Arini menerima beberapa berkas itu dari tangan Hana, dan menunjuk beberapa berkas lainnya dengan sorot matanya untuk ia kerja terlebih dahulu.
"Iya, Bu." Hana mengangguk. "Apakah Anda belum pulang?" Tanya Hana, melihat Arini masih enggan beranjak dari tempat duduknya.
"Sebentar lagi aku pulang, kamu pulanglah terlebih dahulu." Jawab Arini fokus pada kegiatannya.
"Apa mau saya temani?" Tanya Hana, mendapatkan penolakan dari Arini.
"Tidak usah, kamu pulang saja. Lagi pulang kamu pasti capek setelah mengantarku bertemu dengan beberapa klien tadi. Aku juga sebentar lagi akan pulang, mungkin sepuluh menit lagi." Ucap Arini menggeleng, dan menyuruh sekretarisnya untuk pulang terlebih dahulu. Karena ia tahu, pasti sekretarisnya membutuhkan istirahat sekarang.
"Baik, Bu. Kalau begitu saya pamit pulang terlebih dahulu." Hana mengangguk, undur diri, keluar dari ruangan Arini.
"Iya, hati-hati di jalan." Timpal Arini, dan sekali lagi di angguki oleh Hana sebelum ia keluar dari ruangan itu.
*****
"Tuan, apa Anda tidak merasa lelah bekerja terus di depan layar komputer itu? Saya khawatir kesehatan Anda akan terganggu, jika Anda bekerja memaksakan diri seperti ini." Ujar Rio khawatir melihat Tuannya Bian Andi Pratama terus bekerja, tanpa istirahat walaupun hanya untuk sekedar menyantap makanannya saja.
Bian terus fokus di depan layar komputernya, mengabaikan Rio serta suaranya yang mulai serak karena mengingatkannya untuk beristirahat.
"Tuan, Anda harus istirahat. Pekerjaan itu bisa Anda kerjakan lain waktu saja, lagi pula waktu untuk mengerjakannya masih banyak. Anda sudah bekerja sejak kemarin tanpa istirahat." Bujukan kembali Rio lontarkan, tapi seperti biasa bujukan itu tidak digubris oleh Bian.
"Anda belum makan, Tuan. Jadi cobalah cicipi beberapa makanan ini, siapa tahu selera makanan Anda kembali." Rio menyodorkan beberapa makanan di dekat meja kerja Bian, dengan menggunakan troli makanan. Tapi tetap saja, semua usaha yang Rio lakukan tidak mendapatkan tanggapan dari Bian. Meliriknya saja tidak.
Akhir-akhir ini, pikiran Bian sedang terganggu. Pikirannya banyak terpenuhi oleh Arini dan Azzam. Ia terus memikirkan perkataan Arini yang ingin mencari papa untuk Azzam, memikirkan Arini dan Azzam akan berpisah dengannya.
Jika ia jujur, mengatakan semua kebenarannya terhadap kedua orang tuanya nanti. Maka bisa di pastikan apa yang terjadi, ia akan benar-benar menjadi gelandangan di luar sana. Ia sangat tahu sifat papanya yang tidak pernah main-main dalam membuat sebuah peraturan.
Apalagi perusahaan tempatnya ini bekerja, Pratama Group, belum secara pasti dan resmi atas namanya. Ia hanya menjabat sebagai seorang CEO, menumpang namanya, dan di simpan di gelar tertinggi perusahaan ini.
Memikirkan semua itu membuat Bian tambah pusing, ia berusaha lari dari semua itu dengan bekerja tak kenal waktu seperti ini. Berharap ketika ia sudah sangat lelah, ia bisa beristirahat dan melupakan sejenak masalah-masalah nya. Dan bayang-bayang pikiran-pikiran menyebalkan itu, sejenak bisa ia lupakan.
Sungguh sulit untuknya mengambil keputusan, di satu sisi ia ingin Arini dan Azzam berada di sampingnya. Di sisi lain ia tak ingin menjadi orang miskin dan gelanggang di luar sana, karena bagaimana pun jika ia ingin Arini dan Azzam bersamanya pasti orang tuanya akan mengetahui perbuatannya.
Arrghh.... Sungguh keadaan sedang mengimpitnya sekarang.
Ia tidak tahu, apakah kedua orang tuanya nanti akan menerima Arini dan Azzam. Dan ia juga tidak tahu, apakah Arini akan menerimanya jika seandainya nanti ia menjadi miskin karena memilihnya dan Azzam.
"Tuan...." Panggil Rio setelah mulutnya berbusa membujuk Bian, dan di lihatnya... atasannya ini sedang melamun maka lagi-lagi ia memanggil nama atasannya. Yang perbuatannya ini langsung mendapat tatapan tajam dari Bian.
"Maaf, Tua---" Ucap Rio terpotong oleh bentakan Bian.
"BISAKAH KAU DIAM." Bentak Bian pada Rio yang langsung menunduk merasa bersalah.
"Kau tahu, diam ku sejak tadi berusaha menahan emosi agar tidak membentak mu seperti ini. Tapi, usaha ku itu ternyata sia-sia saja. Suara serak mu, layaknya kaset rusak itu sangat mengganggu telinga ku." Ujar Bian menghentikan pekerjaannya. Ia bersandar di kursi kebesarannya, berputar-putar di sana sambil memejamkan matanya, memijit ringan kedua sisi kepalanya dengan salah satu tangan.
Rio yang mendengar itu semakin diam membeku, tidak menjawab, tidak menanggapi walau dengan isyarat tubuh sekalipun. Ia merutuki dirinya dalam hati, seharusnya ia memberikan waktu untuk atasannya ini.
Waktu untuk sendiri, waktu untuk bisa memenangkan dirinya, waktu agar atasannya ini bisa menyelesaikan masalahnya yang entah apa itu. Rio pun tidak tahu, dan sepertinya ia tidak ingin tahu agar hidupnya bisa lebih tenang dan nyaman tidak seperti atasannya ini.
Tapi, jika ia terus membiarkan Bian seperti ini. Ia juga yang akan mendapatkan getahnya, mulai dari mengerjakan semua pekerjaan Bian, dan belum lagi mendapat pertanyaan demi pertanyaan dari Tuan Dean Pratama sebab dari Bian kenapa bisa seperti ini.
Puas berputar dengan kursi kebesarannya, Bian memberhentikannya, dan bangun dari kursi itu dengan sedikit sempoyongan karena tenaganya telah ia alihkan untuk bekerja dan bekerja sepanjang hari kemarin dan hari ini.
Ia berjalan menuju sebuah ruangan yang telah di persiapkan untuknya beristirahat, ruangan itu sudah seperti kamarnya sendiri. Karena telah dilengkapi dengan kasur king size, televisi ukuran besar yang langsung berhadapan dengan tempat tidur, nakas yang di atasnya telah tersimpan lampu hias, lalu di pojok dinding terdapat lemari es dengan dua pintu yang di dalamnya sudah terisi berbagai macam makanan. Mulai dari makanan ringan, buah-buahan, minuman, dan lain-lainnya. Namun, tidak pernah di sentuh oleh Bian sama sekali.
Dan tidak hanya itu, di ruangan itu juga terdapat toilet yang di dalamnya sudah dilengkap dengan produk mahal milik Bian dan barang lainnya yang memang semestinya berada di toilet.
Bian terus berjalan, mengabaikan Rio sang sekretaris yang masih setia menunduk di tempatnya berdiri.
*****
Bersambung...