My Son Is My Strength

My Son Is My Strength
Cinta Pandangan Pertama



"Jadi percayalah, perempuan itu bukanlah pacar atau pun calon istri ku." Ucap Rangga lagi.


"Bagaimana aku bisa percaya, kalau dia buka calon istri mu dan yang mengandung anak mu?! Bukankah tadi kau bilang sedang mabuk berat? Semua laki-laki tanpa sadar bisa melakukan apa saja di saat seperti itu!" Arumi tentu saja tidak mau percaya begitu saja dengan semua ucapan Rangga.


"Kau bisa menanyakannya kepada kakak ipar mu Bian, karena dialah yang juga membantu ku menyelesaikan masalah ini." Ujar Rangga. "Dan aku juga memiliki rekaman CCTV pada saat kami di ruangan itu." Lanjut Rangga, merogoh saku celananya mengambil ponsel untuk menunjukkan rekaman CCTV itu pada Arumi.


Arumi menerima ponsel yang di sodorkan oleh Rangga padanya. Lalu ia memutar video rekaman itu, dan mulai menontonnya.


Ternyata memang tidak terjadi apa-apa dengan mereka berdua, Arumi mengembalikan ponsel Rangga usai ia menonton video rekaman itu.


"Bagaimana? Apa sekarang kau percaya padaku?" Tanya Rangga menatap harap pada Arumi, Arumi pun mengangguk pelan. Membuat Rangga seketika bahagia melihat anggukan darinya.


"Nah, sekarang... apa kau sudah mau menerima cinta ku?" Tanya Rangga, penuh dengan nada binarnya. Ia sangat percaya kalau Arumi akan menerima cintanya sekarang.


Arumi diam, belum menjawab, ia melihat wajah Rangga yang berbinar penuh dengan cahaya pengharapan. Dalam hati, ia berniat membalas perlakuan Rangga pada dirinya yang tidak mau jujur akan identitasnya dari awal. Arumi pun tersenyum, ia mendapatkan ide untuk membalasnya.


"Tunggu, akan ku pikir-pikir dulu." Ujar Arumi kemudian, membalikkan badannya, meninggalkan Rangga dengan senyum tersungging di bibirnya.


Rangga menatap kecewa sekaligus tidak percaya dengan kepergian Arumi. Seumur-umur, baru Arumi perempuan yang pertama kali mendapatkan banyak ungkapan cinta darinya dan itu pun masih di pikirkan lagi!? Biasanya... satu kali ungkapan cinta saja yang terlontar di bibir seksinya ini, sudah bisa meluluh lantakkan hati semua perempuan.


"Ah... mungkinkah menjadi playboy selama ini sudah membuat pesona ku berkurang?" Batin Rangga, bertanya.


*****


Arumi terus berjalan tanpa menoleh sedikit pun pada Rangga, ia benar-benar memberikan pelajaran pada laki-laki itu. Sekaligus melihat seberapa cintanya Rangga pada dirinya, dan apakah Rangga tidak akan melakukan kebiasaannya lagi seperti dulu, menjadi laki-laki playboy.


Dan tak sengaja Arumi melihat sosok Hana sekretaris kakaknya, yang sedang bersama dengan seorang laki-laki di lobi hotel. Dua orang itu berdiri di sana, tanpa banyak mengundang perhatian dari orang-orang yang berlalu-lalang sedikit pun. Tapi mata Arumi yang tajam, tidak akan mungkin melewatkan itu.


Ya... Rangga membawa Arumi keluar dari tempat acara pernikahan kakaknya, tempat yang dianggap nyaman oleh Rangga untuk membicarakan tentang hal tadi.


Arumi berjalan mendekat, ingin mendengar percakapan mereka, sekaligus melihat apa yang sedang laki-laki itu pegang di belakang punggungnya. Keadaan yang sedikit gelap, membuat Arumi tidak jelas melihatnya.


Arumi semakin dekat, ia berjalan mengendap-endap dalam remangnya cahaya, lalu mencari tempat yang tempat untuk melihat interaksi dua orang itu.


Setelah di dapatkannya tempa yang tepat, Arumi memicingkan mata melihat perawakan laki-laki yang sedang bersama Hana. Dan ternyata itu adalah Rio sekretaris kakak iparnya.


"Sedang apa mereka berdua di sini? Dan apa yang sekretaris Rio sembunyikan di belakang punggungnya itu?" Batin Arumi bertanya. "Awas saja kalau dia melukai Hana!" Lanjut Arumi lagi, fokus melihat dua orang itu. Ia sudah seperti pengintai yang ulung saja.


"Hana...." Panggil Rio pelan, sepertinya ia ingin mengatakan sesuatu dan sedang mengumpulkan keberaniannya.


Hana yang sedari tadi menunduk ketika Rio mengajaknya ke sini, kini mendongak melihat wajah Rio yang di sinari cahaya seadanya.


"Aku tahu memang ini terlihat sangat buru-buru, tapi tahukah kau... aku sudah menyiapkan hati ku jauh-jauh sebelumnya untuk mengatakan sesuatu yang berhasil merebut sepotong hati ku ini." Rio mulai menyampaikan maksudnya, Hana mendengarkan secara seksama dengan hati yang terpacu kuat.


"Apa kau percaya cinta pada pandangan pertama?" Tanya Rio, dan Hana mengangguk. Ia meneguk susah ludahnya, tahu akan maksud pembicaraan Rio yang pasti mengarah ke sana.


"Ya... aku juga sama, aku memercayai itu. Karena aku mengalaminya sendiri." Ujar Rio memandang lekat perempuan di depannya ini.


"Kau masih ingat kan? Waktu pertama kali kita bertemu di perusahaan Azzam Alvaro Group, saat itu kau menemani Nona Arini dan aku menemani Tuan Bian untuk membahas masalah kerja sama antara dua perusahaan. Saat itulah aku mulai menyukai mu, dan menunggu saat-saat ini datang untuk aku menyampaikannya isi hati ku." Ujar Rio dari hatinya yang paling dalam, dan Hana kembali mengangguk patah-patah.


Alhasil ia hanya bisa memandangi, mengagumi, dan menjaga Hana dari jauh saja sembari mengumpulkan keberanian untuk menyampaikannya secara langsung seperti malam ini.


Setiap kali bertemu dengan Hana, hati Rio selalu berdegup tak karuan. Jika selama ini Hana melihat Rio biasa-biasa saja saat mereka bertemu, tentu saja itu hanya terlihat dari luar saja, di dalam sana... sebenarnya Rio sedang mati-matian menenangkan dirinya. Menahan kegugupan, menahan detak jantungnya yang terpacu begitu cepat.


"Hana...." Panggil Rio lagi, semakin menatap lekat perempuan ini. Hana balas menatap Rio, menunggu kalimat apa yang akan di ucapkan Rio selanjutnya.


"Hana, aku...." Mulut Rio mendadak kaku mengucapkan kalimat itu, karena ini adalah yang pertama kali baginya mengutarakan perasaannya pada orang yang ia cintai. Hana sabar menunggu.


Rio menarik napasnya dalam-dalam, lalu menghembuskan nya perlahan. Ia kembali mencoba mengutarakan apa yang diinginkan oleh hatinya.


"Hana aku mencintaimu." Ucap Rio langsung berlutut di depan Hana, lalu menyodorkan bunga pada Hana yang sedari tadi ia sembunyikan di belakang punggungnya.


Hana menutup mulutnya, kalimat yang ia tunggu sedari tadi, akhirnya dilontarkan juga oleh mulut Rio. Ya, walaupun ia sudah mengetahui maksud pembicaraan Rio yang akan mengarah ke sini, Hana tetap saja shock mendengarkannya langsung dari mulut Rio.


"Maukah kau menjadi istriku? Ibu dari anak-anak ku nanti?" Tanya Rio masih menyodorkan bunga pada Hana.


Hana menitikkan air mata, rasa bahagia, senang, gembira, dan entahlah kata-kata apalagi yang bisa menggambarkan kebahagiaan yang menjalar di tubuhnya ini.


Ya... dia bahagia, karena selama ini. Ia memang menyukai Rio, dan berdoa semoga Rio memiliki rasa yang sama dengannya. Dan akhirnya semua doa Hana terkabulkan.


"Aku mencintaimu, sungguh mencintaimu. Jadi, maukah kau menjadi istriku? Ibu dari anak-anakku nanti." Ulang Rio melihat Hana tidak merepotkan ucapan.


Hana pun tersadar, dan ia pun cepat-cepat mengangguk. "Ya, aku mau. Aku mau menjadi istri mu, dan ibu dari anak-anak kita nanti." Ucap Hana sembari menerima bunga yang di sodorkan oleh Rio.


Mendengar itu, hati Rio serasa di terbangi oleh banyak kupu-kupu, cintanya di terima oleh perempuan yang telah ia cintai dalam diam ini.


Rio bangun, kembali berdiri. Lalu merogoh saku celananya, mengambil sebuah kota kecil. Kota kecil itu berisi cincin yang sangat cantik nan elegan, sepertinya sudah di siapkan oleh Rio jauh-jauh hari.


Rio mengambil cincin di kotak kecil itu, lalu disematkannya di jari manis milik Hana. Hana tersenyum menerima cincin itu.


"Apa kau suka?" Tanya Rio masih memegang jari lentik Hana.


"Ya, aku sangat suka." Ucap Hana, melihat cincin yang baru saja disematkan oleh Rio di jari manisnya.


"Terima kasih." Ucap Hana, melihat laki-laki yang sangat ia cintai ini.


"Sama-sama." Ucap Rio tersenyum manis, mendekat wajahnya pada wajah Hana, berniat ingin mencium keningnya. Hana menutup matanya, bersiap menerimanya.


Jarak antara wajah mereka semakin dekat, semakin dekat, lima senti, tiga senti, satu senti....


"Selamat untuk hubungan baru kalian berdua...." Arumi keluar dari persembunyiannya, menarik Hana lalu memeluknya.


Tubuh Hana tiba-tiba terasa kaku, wajahnya memerah bak kepiting rebus, sedangkan Rio ia menatap dingin kedatangan Arumi yang tak di undang itu.


*****


Bersambung...