My Son Is My Strength

My Son Is My Strength
Hari yang Berjalan Biasa



Hari-hari berjalan seperti biasa, pagi-pagi Arini bangun dari tidurnya. Menyiapkan sarapan untuk yang lain. Mandi bersiap ke kantor, membantu Azzam untuk bersiap ke sekolah, lantas sarapan bersama-sama dengan keluarganya.


Setelah usai sarapan, ia melihat kembali keperluannya, siapa tahu ada yang tertinggal.


Ketika melihat semua keperluan yang akan dibawanya itu lengkap, Arini dan Azzam pun pamit pada ibu Syahra dan Arumi yang selalu melepas kepergian mereka di ruang tamu. Arini menciumi tangan ibu Syahra, Azzam menciumi tangan neneknya bergantian dengan menciumi tangan Aunty Arumi yang tidak jauh keberadaannya dari sang nenek. Setelah itu mereka berdua mengucapkan salam, keluar dari bingkai pintu itu menuju mobilnya berada.


Seperti yang dikatakan tadi, hari-hari Arini berjalan seperti biasa. Ia melajukan mobilnya bergabung dengan mobil lain yang berlalu lalang di jalanan besar sana, membawanya dengan kecepatan normal.


Mobil itu berhenti tepat di gerbang besi yang sudah terbuka lebar, tempat tujuan pertamanya. Yaitu, sekolah Azzam. Arini kembali melajukan mobilnya, membelah jalan yang mulai padat dengan kendaraan yang sibuk hilir mudik.


Tapi, sebelum itu. Ia sudah menurunkan pangeran kecilnya, mengantarnya menuju gerbang sekolah. Lantas melakukan kegiatan rutin sebelum berpisah, dengan Azzam yang mencium wajahnya.


Arini menasihati pangeran kecilnya itu, lalu melambaikan tangan. Tanda, mereka benar-benar akan berpisah dan bertemu kembali di rumah nanti.


Arini berdiri dari duduknya ketika selesai bercengkerama dengan sang anak, ia belum beranjak pergi. Karena harus benar-benar memastikan Azzam sudah memasuki kelasnya.


Kelas Azzam tidak begitu jauh dari tempat Arini berdiri, jarak Arini dan kelas itu hanya di pisahkan oleh lapangan dengan rumput hijau yang di potong rapi sejajar. Dari sini, tempat Arini berdiri, ia dapat secara jelas melihat pangeran kecilnya memasuki ruang kelasnya.


Ketika melihat Azzam sudah memasuki kelasnya, Arini merasa lebih tenang. Sekarang ia bisa pergi, melanjutkan perjalanan menuju kantor.


*****


Pagi yang sibuk di kantor, jam tujuh tepat para karyawan yang bekerja di perusahaan Azzam Alvaro Group itu, sudah memulai aktivitas mereka. Ya, itu adalah jam kerja yang di tetapkan oleh Arini.


Jam kerja paling cepat dari perusahaan yang lain, dan para karyawannya menyetujui peraturan yang ditetapkan oleh atasannya itu.


Para karyawan, orang-orang yang berkepentingan, baik itu sudah melakukan janji temu terlebih dahulu, atau belum melakukan janji. Semuanya hilir mudik, memenuhi lobby perusahaan Arini.


Arini tiba di perusahaannya pukul tujuh tiga puluh, tiga puluh menit dari jam datang para karyawannya. Ia memberhentikan mobilnya dan langsung diambil alih oleh satpam penjaga keamanan untuk diparkirkan di tempat parkir yang telah tersedia.


Ia melangkah, memasuki lobby dan langsung di sambut bungkukkan hormat dari para karyawan yang tak sengaja berpapasan dengannya. Arini membalas sapaan itu dengan tersenyum tipis, menganggukkan kepalanya singkat.


"Pagi, Bu." Sapa Hana berdiri dari kursi kerjanya, membungkuk hormat, melihat atasannya mendekat ingin memasuki ruangannya.


"Pagi, Han." Arini balas menyapa. "Bagaimana kabar mu? Apa semua baik-baik saja?" Lanjut Arini, bertanya tentang Hana dan pekerjaannya. Terus berjalan, mendekati pintu ruangan kerjanya.


"Saya baik, Bu. Dan semoga ibu juga baik. Masalah pekerjaan semuanya juga baik-baik saja." Hana menjawab semua pertanyaan dari atasannya ini. Melihat Arini terus berjalan, semakin mendekati ruangan dan tempatnya berdiri.


"Ya, aku juga baik. Lalu apa agenda ku hari ini?" Arini memegang kenop pintu, membukanya, lalu masuk ke dalam ruangan diikuti oleh Hana yang membacakan agenda kegiatannya hari ini.


"Kegiatan Anda hari ini cukup padat, Bu." Ujar Hana, selesai membaca list pekerjaan Arini hari ini.


"Hhmm... kau benar. Ya sudah, ingatkan aku tiga puluh menit sebelum pertemuan itu." Arini mulai membuka laptopnya, menggerakkan jarinya dengan lincah di sana.


Setelah ia duduk nyaman di kursinya.


"Baik, Bu." Hana mengangguk, mengiyakan. "Apa ada sesuatu yang Anda butuhkan?" Tanyanya, sebelum ia keluar dari ruangan atasannya.


"Sama-sama, Bu. Kalau Anda membutuhkan sesuatu nanti, Anda bisa langsung menelpon saya." Hana mengangguk, undur diri keluar dari ruangan kerja Arini.


"Iya." Jawab Arini singkat, mengangguk.


*****


Di Mansion utama, terlihat Tuan Dean dan istrinya sedang menikmati suasana pagi yang cerah. Di taman belakang Mansion yang sudah di desain sedemikian rupa. Rumput hijau terbentang indah dengan potongan yang sejajar dan rapi, ditambah lagi dengan sinar matahari yang bersinar di rumput-rumput, membuat embun berkelap-kelip di sekitarnya. Bunga-bunga yang indah nan mahal juga ikut menghiasi taman belakang itu. Sungguh indah dan tak bosan untuk di pandang mata.


Tuan Dean dan istrinya Mira duduk di sebuah kursi dengan dilengkapi meja ukuran mini untuk mereka menyimpan kopi, teh dan lainnya.


Tuan Dean menghirup kopinya, seraya menikmati keindahan pagi ini. Lalu mengambil koran yang ada di atas meja dan mulai membacanya. Mama Mira, ia sedang berceloteh banyak hal di samping sang suami. Mengira, semua perkataannya sejak tadi di dengar oleh sang suami dengan hikmat.


"Pah...." Panggil Mama Mira, menyadari semua perkataannya sejak tadi tidak mendapatkan respon dari suaminya.


"Pah.... Papa dengar nggak sih, apa yang Mama bilang dari tadi." Ucap Mama Mira mulai emosi, menatap jengkel suaminya. Bagaimana tidak, ia telah di abaikan oleh sang suami. Membiarkannya berbicara sendiri.


Mulutnya hampir berbusa menyampaikan ide-ide cemerlang di pikirannya, tapi sang suami tidak pernah merespon dan terus membaca koran yang ada di tangannya.


"Pah...." Panggil Mama Mira lagi, menggerakkan bahu Tuan Dean.


"Hmmmm...." Dehem Tuan Dean, sebagai respon untuk istrinya. Yang malah membuat Mama Mira semakin emosi, ia merampas paksa koran yang masih dibaca oleh suaminya ini. Lalu menyembunyikannya di belakang punggungnya.


"Mah... koran papa." Ucap Tuan Dean, mengulurkan tangannya meminta kembali koran itu.


"Sekarang mama tanya, tadi papa dengar apa yang mama bilang?" Mama Mira mengulangi pertanyaan.


"Hm...." Dehem Tuan Dean singkat, karena memang ia mendengar semua apa yang di bicarakan istrinya sejak tadi. Cuman ia malas menanggapi.


"Lalu bagaimana, papa setuju 'kan?" Ucap Mama Mira, mulai heboh sendiri. Melupakan kemarahannya yang sudah ingin memuncak.


"Walau pun papa setuju, belum tentu Bian setuju. Mama tidak dengar sendiri apa yang di katakan Bian, kalau dia tidak mau mama carikan calon istri. Dia bisa cari sendiri." Jawab Tuan Dean, menurunkan tangannya yang terulur. Lalu menyambar cangkir kopi dan menghirupnya kembali.


"Cari sendiri gimana pah? Usia dia itu sudah dua puluh delapan tahun, udah mau kepala tiga. Kalau di biarkan seperti itu terus, mana bisa mama gendong cucu." Wajah mama Mira gusar, menatap kecewa ke depan. Menyimpan kembali koran di atas meja.


Tuan Dean menyimpan cangkir kopinya, ikut memandang ke depan. Sebenarnya ia juga menginginkan cucu seperti teman-temannya yang lain. Yang bisa bercanda tawa dan bermain bersama cucunya sepuas hati.


"Pokoknya mama tidak mau tahu, Bian harus menikah secepatnya dan memberikan cucu untuk mama bagaimana pun caranya." Ucap Mama Mira, ingin suaminya melakukan sesuatu.


Tuan Dean diam, kembali tidak menanggapi perkataan istrinya. Ia sedang memikirkan sesuatu.


*****


Bersambung...