
"Mamah... Papa...." Azzam berlari menghampiri kedua orang tuanya yang baru saja keluar dari ruang poli kandungan. Arumi mengikutinya dari belakang, bergegas, ia tidak sabar menanyakan hasil pemeriksaan kakaknya.
"Kata Aunty... Azzam bakalan punya dedek, tapi dedeknya mana?" Azzam celingak-celinguk mencari sesuatu di belakang kedua orang tuannya. "Kok nggak sama Mama?" tanyanya lagi membuat Arumi menggaruk kepalanya. Kapan dia mengatakan itu, tadi kan hanya bilang kalau Mama dan Papanya sedang melakukan pemeriksaan agar memastikan apakah dia akan memiliki dedek bayi atau tidak.
Sontak kedua orang tuanya menggeleng, "Tentu saja tidak sama Mama, kan dedeknya masih di perut sayang." ujar Arini membuat anaknya berhenti mencari, dan itu membuat Arumi mencerna dengan baik perkataan kakaknya.
"Kok masih di perut Mama? Suruh keluar dong, Azzam mau lihat biar bisa say hallo gitu...." tanyanya polos, membuat ketiga orang dewasa itu tercengang.
"Eh... berarti kakak hamil dong?" Arumi mencela sebentar, penasaran.
"Iya, Rum. Alhamdulillah." jawab Arini tersenyum pada adiknya, seraya mengusap perutnya yang masih rata.
"Asikkk... dapat ponakan kedua nih."
"Jadi kapan dedek bayinya keluar, Azzam udah nggak sabar mau lihat." Anak itu merengek dengan bibir lucu. "Padahal Azzam udah minta dari lama." sungutnya.
"Ponakan tante yang ganteng nggak sabar banget." Arumi mentoel pipi Azzam, mencoba menghibur. "Tuuh... lihat Ibu itu, perutnya udah besar 'kan? Tapi anaknya belum keluar, tunggu sembilan bulan baru bisa keluar." lanjut Arumi menjelaskan.
"Ya... lama." gumam Azzam dengan wajah sedih dan bibir yang tampak jelas cemberut.
"Ah... anak papa, kok mukanya gitu. Nanti kegantengnya hilang." Bian menyejajarkan tingginya dengan sang anak. "Sini... sini... Papa gendong." Azzam menghampiri Papanya dengan tak semangat.
"Tapi tangan Papa masih ada itu." tunjuk Azzam pada tiang infus Papanya.
"Tangan Papa satunya masih bebas." Bian menarik tubuh anaknya, ia tidak tega melihatnya bersedih.
"Mas---"
"Tidak apa-apa sayang." Bian kini sudah menggendong anaknya, dan Arini membantu membawa tiang infus suaminya.
"Kata Rangga administrasinya sudah diurus."
"Ya sudah, ayo kita ke ruang rawat." ajak Bian, dan mereka pun mengangguk serentak.
Di depan ruang rawat VVIP sudah ada Rio dan Rangga di sana, melihat sang bos sekaligus sahabatnya mereka pun bangkit menyambut.
"Selama datang di ruang VVIP, Tuan." sambut Rio langsung mendapatkan cebik kan dari Bian. Tentu saja ia tahu, tak perlu diperjelas. Tapi walaupun begitu Bian tetap mengangguk, dan mereka semua pun masuk ke ruang rawat kecuali Arumi yang ditahan oleh Rangga.
"Yang...." Rangga menarik tangan Arumi, menahan. Membiarkan mereka masuk duluan.
"Apa?" Arumi menoleh ke belakang.
"Aku juga pengen dong kaya mereka, punya dedek bayi." Rangga sudah mengetahui kalau Arini hamil lagi.
"Makanya cepat lamar." Arumi memutar jengah bola matanya.
"Tentu saja, minggu depan aku lamar."
"Serius?!" tanya Arumi memastikan, wajahnya berbinar bahagia, tak bisa dibohongin.
"Dua rius sayang...." Rangga tersenyum, tentu saja ia bisa melihat binar bahagia sang kekasih.
"Ah yayang." Dua sejoli itu sudah ingin berpelukan, mengekspresikan kebahagiaan mereka. Namun...
"Hm...." dehem Rio membuat dua sejoli itu tak jadi berpelukan.
"Dasar perenggut kebahagiaan orang." runtuk Rangga dalam hati.
"Dipanggil Tuan Bian."
"Huuuft... kalian menyebalkan sekali." Sungut Rangga, namun tetap masuk bersama sang kekasih juga Rio.
"Ada apa?" tanpa basa-basi Rangga langsung bertanya pada pria menyebalkan itu yang sayangnya sahabat sekaligus sepupunya.
"Aku ingin makan buah, tolong belikan." Bian meminta tolong, tapi nadanya seolah memerintah. Arini geleng-geleng kepala melihat kelakuan suaminya.
"Kenapa kau tidak menyuruh sekretaris mu saja?!" Rangga menoleh pada Rio, menatapnya tajam.
"Hanya karena ini kalian mengganggu ku?!" Rangga berucap tanpa suara, namun bibirnya bergerak. Rio mengangkat bahu, sebagai jawaban. Yang intinya dia hanya menjalankan perintah.
"Karna aku mau menyuruh mu." jawab Bian sekenanya.
"HAH?!" Rangga ternganga mendengarkan jawaban itu. "Kalau begitu apa bedanya kau menyuruhnya?" Rangga kembali menunjuk Rio. Terlihat Azzam menahan tawa melihat reaksi Rangga.
"Tentu saja beda, kau kan calon adik ipar ku. Jadi harus berbakti sedikit pada calon kakak ipar, bukan begitu Rum?" Bian melemparkan pertanyaan pada Arumi. Arumi hanya bisa mengangguk patah-patah, mengiyakan perkataan kakak iparnya.
Wajah Rangga tak bisa diartikan lagi, tapi yang jelas ia tentu marah pada pria ini, yang sayangnya memang calon kakak iparnya.
"Hihihi... Om Rangga lucu." tawa Azzam tak terelakkan ketika Rangga sudah benar-benar keluar dari ruangan.
"Ada yang bisa saya bantu lagi, Tuan?" tanya Rio karena dia ingin beranjak pergi.
"Tidak ada, kau boleh pergi."
"Baik, Tuan." Rio pun pamit, mengangguk sedikit pada Arini yang duduk di dekat ranjang bosnya, dan Arumi yang kini sudah duduk di sofa. Arini dan Arumi balas mengangguk, dan berkata agar Rio berhati-hati.
"Bye bye, Om Rio." Azzam melambaikan tangannya.
Beberapa saat setelah Rio pergi, pintu ruangan itu di ketuk. Dan Arumi menawarkan diri untuk membukanya.
"Tante, Om, silakan masuk."
"Siapa Rum?" tanya Arini dan muncullah Mama dan Ayah mertuanya di sana.
"Mama... Papah...." Arini segera menghampiri keduanya, lalu menyalami tangan mereka. Tadi ia sempat mengabari keduanya kalau Bian masuk rumah sakit.
Azzam yang melihat Nenek dan Kakeknya segera turun dari ranjang, dan berlari berhambur menghampiri keduanya.
"Nenek, Kakek, Azzam kangen...." Azzam langsung memeluk kaki Nenek dan Kakeknya bergantian, sudah lama mereka tidak bertemu.
"Cucu Nenek... Nenek juga kangen." Mama Mira langsung berjongkok untuk menyejajarkan tingginya dengan sang cucu. Ia pun menghujani Azzam dengan ciuman bertubi-tubi, membuat cucunya itu menghindar kegelian.
Tuan Dean mengusap kepala cucunya sebentar, lalu menghampiri ranjang Bian untuk melihat keadaan anaknya itu.
"Kamu sakit apa?" tanya Tuan Dean menatap anaknya, namun anaknya ini terlihat baik-baik saja. Hanya tangannya saja yang terpasang infus.
"Biarkan dia sakit Pah, siapa suruh jadi anak durhaka yang tidak menjenguk orang tua." sungut Mama Mira juga menghampiri ranjang Bian, ia bergandengan dengan cucunya.
"Maaf Mah, kami belum sempat menjenguk kalian." Arini merasa bersalah pada mertuanya.
"Aduh sayang... ini bukan salah kamu, tapi salah anak ini yang tidak mengajak kalian untuk menjenguk kami." Mama Mira menunjuk Bian yang acuh tak acuh saja mendengarkan celotehnya.
"Bagaimana mana bisa jenguk kalau sedang menjalankan misi dari Ibu negara?" sindir Bian pada Mamanya, dan dibalas tatapan tajam oleh Mama Mira.
"Misi apa?" tanya Tuan Dean tak mengerti, dijawab kedipan mata oleh sang istri. Dan itu membuka Tuan Dean semakin bingung.
Tok... tok....
Kembali pintu di ketuk, namun orang itu tidak menunggu dibukakan. Ia langsung masuk begitu saja dengan menenteng plastik buah-buahan.
"Tante, Om, sejak kapan?"
"Baru saja." jawab mama Mira. "Bawa apa?"
"Buah, untuk calon kakak ipar terhormat." Raut wajah Rangga masih terlihat tak enak di pandang, namun dihiraukan oleh Bian. Ia mengambil buah-buahan itu tak sabar untuk memakannya.
Baru saja Bian ingin menggigit buah apel, sang istri langsung mencegahnya. "Cuci dulu, Mas." Dan Arini pun pergi mencuci buah-buahan itu.
"Tumben kamu mau makan buah." tanya Mamanya heran.
"Lah iya, kan dia lagi ngidam Tante." Rangga yang menjawab, membuat Mama Mira terkejut.
"Misi dari Mama berhasil?!" tanya Mama Mira memastikan.
"Berhasil dong...." jawab Bian bangga, dan terjawab sudahlah pertanyaan Tuan Dean.
"Ah... akhirnya Mama punya cucu kedua." jerit Mama Mira senang, Arini yang baru datang setelah mencuci buah terharu melihat Mama mertuanya yang bahagia.
"Sayang... sini-sini." Mama Mira membawa Arini duduk ke sofa dengan hati-hati. "Pokoknya kamu harus jaga kesehatan, makan yang banyak, biar kamu dan janinnya sehat."
"Iya, Mah." angguk Arini, mendengarkan dengan seksama nasehat Mama mertuanya. Ia merasa begitu senang melihat Mama dan lainnya bahagia dengan kehamilannya.
"Oh ya, Ibu kamu sudah diberi tahu belum?"
"Sudah Tante, katanya juga mau datang ke sini." jawab Arumi.
Mama Mira mengangguk, dan kembali ia memberikan beberapa nasehat lagi untuk Arini. Sesekali ia mengusap punggung Arini penuh perhatian.
"Siapa yang sakit, siapa yang butuh perhatian di sini? Oh... sungguh merana nya hidup ku...." sontak ucapan Bian mendapatkan gelak tawa dari semuanya.
*****
Bersambung...