My Son Is My Strength

My Son Is My Strength
Rencana Mencari Papa



"Papa." Ucap Azzam pelan serta malu-malu, karena baru pertama kali ini ia menyebut seseorang dengan sebutan papa.


Bian yang mendengar sebutan itu, merasa ada sesuatu yang menggelitik di hatinya. Namun, terasa sangat nyaman dan tenang. Rasa haru tak bisa di elak oleh Bian, ia meneteskan air mata. Lalu cepat-cepat menghapusnya takut Arini maupun Azzam melihat tingkah konyolnya ini


"Papa." Panggil Azzam lagi, masih terlihat malu-malu.


"Iya, sayang?" Bian menjawab panggilan Azzam dengan perasaan haru yang makin menyelimuti dirinya.


"Boleh papa pimpin doa, sebelum kita makan." Ucap Azzam pelan, langsung menunduk.


"Tentu saja boleh, sekarang ayo kita berdoa." Jawab Bian yang langsung di sambut senyum cerah oleh Azzam dan mereka pun mulai berdoa.


Setelah berdoa, mereka pun makan bersama-sama. Ada aura kehangatan yang menyelimuti ketiganya, sesuatu yang baru di rasakan mereka bertiga.


Sesekali Arini menyuapi anaknya itu, dan itu semua di perhatikan oleh Bian. Sungguh bodohnya ia dulu, telah menyanyikan dua orang ini. Dan kenapa pula ia baru menyadari semua kebodohannya itu sekarang.


"Papa mau disuapi?" tanya Azzam tiba-tiba membuyarkan lamunan Bian.


"Tidak usah sayang, papa bisa makan sendiri." Ucap Arini tak sadar menyebut Bian dengan sebutan papa, membuat hati Bian senang mendengarnya. "Eh... Om Bian bisa makan sendiri sayang, tidak usah disuapi." Arini memperbaiki perkataannya barusan, senyum di wajah Bian pun pudar mendengar itu.


"Iya, papa bisa makan sen---" Ucap Bian tertahan, karena sudah di sungguhi makanan oleh Azzam.


"Aaaa...." Azzam mendekatkan makanan pada mulut Bian, dan langsung di terima oleh Bian dengan senang hati.


"Terima kasih." Ucap Bian tulus memberikannya pada Azzam.


"Sama-sama papa." Azzam menerima ucapan terima kasih dari Bian yang kini menjadi papa sementaranya.


Arini yang melihat adegan itu merasa iri dengan muka yang cemberut. Menyadari mamanya juga ingin disuap, Azzam pun menyodorkan sesendok makanan di dekat mulut mamanya, dan itu juga di lakukan oleh Bian yang menyodorkan satu sendok makanan di dekat mulut Arini. Entah kenapa tiba-tiba saja ia melakukan itu.


"Eh... terima kasih." Ucap Arini salah tingkah, mendapatkan perlakuan itu dari Azzam maupun Bian.


Arini memakan suapan yang di berikan oleh Azzam anaknya saja, karena tidak mungkin ia harus memakan suapan dari Bian.


Bian ingin menyimpan kembali suapan makanan itu di piringnya, tapi langsung di tahan oleh tangan kecil Azzam. Azzam memakan suapan dari Bian untuk mamanya itu.


"Terima kasih." Ucap Azzam mengunyah makanan yang baru saja ia makan itu, Bian tersenyum mengangguk.


Setelah mereka selesai makan, mereka pun berniat untuk pulang. Karena hari juga sudah beranjak sore.


"Mau aku antar pulang?" tanya Bian yang menawarkan bantuannya.


"Mau pah... mau pah." Ucap Azzam berjingkrak senang. Karena ingin di antar pulang oleh Bian.


"Tidak sayang, Om Bian pasti masih punya kerjaan di kantor." Tolak Arini yang memang meyakini Bian memiliki banyak pekerjaan di kantornya. Tidak mungkin seorang CEO Pratama Group perusahaan yang besar itu memiliki waktu luang untuk berkeliaran seperti ini, apalagi ini tidak di rencanakan.


"Dan sudah cukup memanggil om Bian sebagai papa, yah." Ucap Arini memperingati anaknya, karena tidak mau Azzam tergantung pada Bian.


"Tidak apa-apa sayang, tapi sudah cukup panggil om Bian nya dengan sebutan papa." Ujar Arini menasihati Azzam. "Mama akan cari papa buat Azzam yang nanti bisa Azzam panggil terus dengan sebutan papa dan juga akan bisa tinggal bersama kita. Papa yang tulus tidak menyia-nyiakan kita dan tentunya akan selalu menjaga kita berdua. Azzam mau kan punya papa seperti itu?" tanya Arini pada Azzam, menyindir Bian yang berada di dekat mereka.


Bian yang mendengar itu seketika kaku di tempatnya. Hatinya mencelus, ia tidak terima jika Azzam memanggil orang lain dengan sebutan papa selain dirinya.


"Iya, mah. Aku mau...." Azzam mengangguk cepat berulang kali, sesekali berjingkrak kesenangan mengangkat kedua tangannya.


"Tidak boleh." Ucap Bian tiba-tiba, tidak suka mendengar jawaban dari Azzam. Arini maupun Azzam seketika fokus pada Bian yang sekarang sedang bertelepon dengan seseorang.


"Ya... aku akan segera ke sana." Ucap Bian pura-pura bertelepon, tidak ingin membuat Arini maupun Azzam tahu bahwa ia tidak suka dengan rencana Arini barusan. Ingin ia mengatakannya secara langsung, namun Bian tidak memiliki cukup keberanian untuk mengatakan hal itu.


Bian ingin terlebih dahulu memperbaiki sikapnya terhadap Arini, meminta maaf kepadanya, lalu melancarkan rencananya.


"Tukan... Om Bian punya banyak pekerjaan sayang, sekarang pulangnya sama mama aja, yah." Ucap Arini, mendapatkan anggukan kepala dari Azzam.


"Iya, mah." Kata Azzam mendekati mobil mereka, lalu naik bersama mamanya di mobil agar segera pulang ke rumah mereka.


"Terima kasih untuk hari ini." Ujar Arini sebelum menjalankan mobilnya kepada Bian, membunyikan klakson tanda segera menjalankan mobilnya.


"Sampai ketemu lagi papa." Azzam memberikan lambaian tangan kepada Bian yang sekarang tengah melihat kepergian mereka. Dan masih memanggil Bian sebagai papanya, Bian yang mendengar itu tersenyum walau tidak bisa mengantar Azzam dan Arini pulang. Ia pun membalas lambaian tangan dari Azzam.


“Dahh....” Ucap Azzam di dalam mobil yang melaju itu, menatap Bian yang masih berdiri di tempatnya.


"Tunggu sebentar lagi, Nak. Papa akan segera menjadi papa sungguhan mu." Bian masih melambaikan tangannya kepada Azzam.


"Sepertinya aku harus bergerak cepat, sebelum Arini melancarkan ucapannya tadi." Ucap Bian bersungguh-sungguh, melihat kepergian mobil Arini sampai hilang dari penglihatannya.


Ketika Bian masih melihat kepergian mobil Arini, tiba-tiba ponselnya bergetar untuk yang ke sekian kalinya. Sepertinya ada yang memanggil, ia sengaja tidak membuat ponselnya tidak berbunyi ketika telepon datang karena takut mengganggu acara makan siang mereka tadi. Ponsel itu bergetar sejak Bian menjalankan mobil untuk datang ke restoran tadi.


Bian menggeser tombol hijau, mengangkat telepon tersebut.


"Hummm... akhirnya di angkat juga." Gumam seseorang di seberang sana, yang tak lain adalah sekretaris Rio.


"Kebetulan sekali kamu menelpon, cepat jemput aku di restoran tempat yang sering kita gunakan untuk bertemu klien." Ucap Bian tanpa basa-basi. "Sepuluh menit kamu sudah berada di sini, mulai dari sekarang." Lanjutnya lagi langsung menutup teleponnya secara sepihak, tanpa mendengarkan apa yang ingin Rio sampaikan karena telah meneleponnya terlebih dahulu.


"Aaaakkkk... kenapa dia tidak menayangkan kabarku terlebih dahulu. Atau sekedar menanyakan mengenai pekerjaannya yang aku kerjakan semua hari ini." Ujar Rio kalang kabut menuju mobilnya untuk menjemput sang bos yang tak tahu etika bertelepon itu.


Sungguh ia sangat menyesal karena telah menelpon atasannya ini, yang hanya menambah dan mengganggu pekerjaannya saja. Tapi, kalau tidak di telepon ia mungkin akan mendapatkan amukan dari Bian karena tidak melaporkan pekerjaannya.


"Huuftt... semuanya serba salah." Gumam Rio melajukan mobilnya menuju restoran dengan kecepatan di atas rata-rata.


*****


Bersambung...