
Alysha melipat kedua tangannya di dada, memalingkan wajahnya. Lupakan, perutnya yang meronta minta di isi itu. Bian santai saja, kembali mengedipkan bahu.
"Sudah-sudah." Tuan Dean angkat bicara, membuat kedua anaknya menoleh kepadanya. "Aku mengajak mu untuk datang makan malam hari ini, bukan untuk bertengkar dengan adikmu Alysha seperti ini." Lanjutnya lagi, menatap Bian.
Membuat Alysha di atas awan karena ada yang mendukungnya, ia menjulurkan lidahnya pada Bian. Mengepalkan satu tangannya. Yes. Tanda kemenangan kali ini, di menangkan olehnya. Bian memutar jengah bola matanya. Dasar anak kecil, demikian maksudnya.
Usai pertengkaran dua orang itu, makanan yang ada di atas meja pun boleh di sentuh. Alysha girang bukan main, karena perutnya sudah meronta-ronta sejak tadi. Dan akhirnya dia sekarang bisa makan.
"Pelan-pelan Alysha, kamu makan berebut dengan siapa?" tanya mama Mira, melihat anak perempuannya lahap sekali makan. Belum habis makanan di mulut, sudah menyendok memasukan makanan lagi.
"Iya, mah. Lapar soalnya." Timpal Alysha pada mamanya, dengan makanan memenuhi ruang mulutnya.
"Ih...." Bian menggeleng-gelengkan kepala, tidak suka melihat cara makan Alysha.
Sebenarnya Alysha memang sangat lapar, tapi cara makannya ini ia sengaja kan. Karena ia tahu bahwa Bian tidak suka dengan cara makannya, melihatnya seperti ini membuat Bian tidak ***** makan. Dan rencananya berhasil, Bian tak ***** makan.
"Kenapa makanan hanya di aduk-aduk seperti itu? Apa kamu tidak menyukai makanannya? Biar pelayanan bisa membuatkan yang baru dan sesuai dengan selera mu sekarang." Ucap Tuan Dean, mengamati anak laki-lakinya. Alysha tersenyum.
"Nggak usah, pa. Aku suka makanan ini." Ujar Bian, memakan makanan dengan sangat malas tak selera. Ia tak selera makan bukan karena Alysha, tapi sedang memikirkan sesuatu dan bagaimana cara menyelesaikannya.
Makan dengan ogah-ogahan oleh Bian, makan dengan lahap bahkan hampir tersendat oleh Alysha. Di bawah perhatian Tuan Dean dan mama Mira, akhirnya selesai. Mereka membersihkan mulut mereka dengan tisu yang sudah tersedia di meja panjang itu.
Selesai me-lap membersihkan mulutnya dengan tisu itu, Bian bangun dari kursinya. Menaiki anak tangga menuju kamarnya berada. Tapi belum dua langkah menuju anak tangga itu, Bian sudah di panggil oleh mamanya.
Bian berhenti, balik kanan, mendengar apa yang ingin mamanya sampaikan.
"Kapan kamu akan menikah, Bian?" tanya mamanya, yang sudah di duga oleh Bian. Pertanyaan itu sudah sangat sering terlontar, dan di dengar oleh Bian berulang kali. Sudah bagaikan kaset yang rusak, wajib untuk ia dengarkan setiap datang ke Mansion.
Untuk ke sekian kalinya, Bian memutar jengah bola matanya. Sebagian jawaban untuk pertanyaan dari mamanya, ia hanya mengedikan bahu. Lalu melanjutkan langkahnya menaiki anak tangga menuju kamarnya.
"Berhenti Bian!" Tuan Dean angkat bicara, lagi-lagi menghentikan langkah Bian menuju kamarnya. Bian baru saja menginjakkan kakinya di anak tangga kelima. Ia memutar badannya, menghadap meja makan tempat ketiga keluarganya belum beranjak pergi dari kursinya masing-masing.
Tuan Dean memberhentikan Bian, bukan ia ingin ikut campur masalah istri dan anaknya yang membahas tentang kapan pernikahan itu. Bukan! Tapi, karena ia tidak ingin ada seorang pun yang bersikap tidak sopan pada istrinya. Apalagi anak-anaknya sendiri yang dididiknya untuk selalu bersikap sopan pada orang lain. Baik kecil maupun tua usia mereka, kedua anaknya ini harus tetap bersikap sopan. Tapi, sepertinya Bian mengabaikan semua didikan itu.
"Kamu harus menjawab pertanyaannya mama mu!" Ujar Tuan Dean dingin, melihat Bian yeng tengah membalikkan badannya di sana.
"Bukankah aku sudah menjawabnya!" Bian mengikuti intonasi dari Tuan Dean. "Dengan mengedikan bahu." Lanjutnya lagi, mengetahui mimik wajah papanya. Yang seolah bertanya 'men-jawab dengan apa?'.
Tuan Dean tidak terima dengan jawaban Bian. "Bersikaplah sedikit sopan Bian, apalagi di hadapan orang tua mu sendiri." Ucap Tuan Dean tegas, dan lantang. Membuat istrinya, mama Mira memegang tangan sang suami agar dapat menenangkannya.
"Sepertinya, apa yang aku ajarkan selama ini sia-sia saja." Ucap Tuan Dean lagi, mengunci tatapannya pada manik mata hitam pekat milik Bian.
"Jadi kapan kamu akan menikah Bian? Mama sudah sangat ingin menimang cucu." Mama Mira masih kekeh dengan pertanyaan itu, walaupun suasananya sekarang tidak tepat. Karena mau bagaimana lagi, Bian jarang sekali bertemu dengan mereka.
"Aku tidak tahu, mah." Jawab Bian dengan lebih baik, ia mengusap wajahnya pelan menyadari perlakuan barusan.
"Dan mama tidak usah mencarikan ku calon, aku bisa mencarinya sendiri. Tidak perlu kalian ikut campur masalah aku menikah dengan siapa." Ujarnya lagi, sebelum mamanya kembali berkata ingin mencarinya calon istri seperti biasanya.
"Tapi mama sangat ingin meminang cucu, Bian." Timpal mama Mira, menatap Bian.
"Sebenarnya mama sama papa sudah mempunyai banyak cucu sekarang. Jika saja, kalian tidak membuat peraturan itu pada kami." Ujar Bian ambigu.
"Dan bukan hanya aku yang bisa memberikan cucu untuk kalian." Ucap Bian menatap adiknya, orang yang di tatap bingung sendiri. Apa maksudnya itu. "Alysha juga bisa memberikan cucu untuk kalian!" Ucap Bian lagi, membuat mata Alysha terbuka lebar.
"Apa maksud mu, Bian." Tanya mama Mira yang tidak mengerti dengan maksud jawaban dari sang anak yang terlihat ambigu itu.
"Aku tidak bermaksud apa-apa." Jawab Bian berbalik, kembali menaiki anak tangga. Tidak memedulikan perkataan Alysha yang tertuju padanya.
Protes akan perkataannya tadi.
"Eh... kenapa pula aku jadi ikut-ikutan. Seharusnya kakak yang memberikan cucu untuk mama sama papa, karena kakak yang lebih tua dan umur sudah hampir memasuki kepala tiga." Ujar Alysha mengeraskan suara agar didengar oleh Bian. Namun, tidak mendapatkan tanggapan dari Bian walaupun mendengarkan perkataan adiknya itu.
"Masa mau aku kalah kan dalam hal memberi cucu." Teriak Alysha lagi menantang, tapi tetap tidak di pedulikan oleh Bian yang kini sudah membuka pintu kamarnya dan kembali menutup pintu itu.
"Kakak kenapa?" Tanya Alysha menoleh bergantian kepada kedua orang tuanya. "Sepertinya suasana hatinya tidak baik." Lanjutnya lagi, mendapat respon galengan kepala dari mamanya.
Tuan Dean tidak menanggapi perkataan sang anak, ia bangun dari kursinya. Lalu beranjak pergi dari meja makan itu di ikuti sang istri yang juga beranjak pergi, menuju kamar mereka. Menyisakan Alysha di sana, yang terpelongo melihat wajah tidak bersahabat dari kedua orang tuanya, serta kakaknya Bian.
"Mereka semua kenapa?" Tanya Alysha memandang punggung kedua orang tuanya, dan pintu kamar Bian yang berada di atas sana.
Suasana hati Tuan Dean sedikit berubah akibat perlakuan Bian, ia sungguh tidak menyukai sikap yang di tunjukkan oleh Bian tadi. Sedangkan mama Mira, ia kecewa sekaligus bingung mendengar jawaban dari Bian. Apalagi kalimat ambigu nya itu, yang membuat ia memikirkannya sampai sekarang.
Bian sendiri, pikirannya tak kalah kacaunya dengan kedua orang tuanya itu. Ia bingung, gelisah, takut, dan entah kalimat apa lagi lah yang bisa menggambarkan kondisinya sekarang.
Sejak mendengar perkataan Arini, sungguh di lema tak henti-hentinya menghampiri Bian. Ia tidak mau Azzam memanggil orang lain dengan sebutan papa, dan kalau itu sampai terjadi. Maka, Bian akan benar-benar kehilangan keduanya. Ya, keduanya. Bian sepertinya sudah mulai mencintai Arini.
*****
Bersambung...