My Son Is My Strength

My Son Is My Strength
Aku Kangen Kamu Sayang



Makan malam dengan nasi goreng spesial telur mata sapi ala-ala Azzam dan Bian telah selesai.


Arini meneguk air berulang kali, rasa masakan sang suami dan anaknya sangat luar dari biasa. Nasi goreng yang begitu banyak garam serta mericanya, Arini bahkan tidak dapat membayangkan seberapa banyak garam dan merica yang mereka masukan. Ia memakan nasi goreng di piringnya sampai habis untuk menghargai jeri payah suami serta anaknya.


Azzam dan Bian memakan nasi goreng buatan mereka sendiri dengan lahap dan penuh nikmat sepertinya, karena Arini melihat keduanya melahap nasi goreng telur mata sapi itu dengan wajah yang sangat menikmati seolah-olah nasib goreng itu adalah nasi goreng ternikmat yang pernah mereka makan.


"Ah... kenyangnya." Azzam mengusap perutnya yang buncit penuh nasib goreng buatannya. Bian mengangguk setuju, juga mengusap perutnya yang terasa kenyang. Sepertinya masakan sendiri adalah masakan ternikmat menurut Azzam dan Bian. Arini menggeleng-nggelengkan kepalanya melihat tingkah ayah dan anak yang tidak bedah jauhnya.


"Hoam...." Azzam menguap, tampaknya ia mengantuk. Menjalankan semua rencana mereka membuat ia sedikit lelah dan ingin cepat tidur.


"Ngantuk?" Tanya Bian dan diangguki Azzam. "Ya sudah, tidur gih..., atau mau papa antar?" Tanya Bian menawarkan bantuan.


"Jangan dulu, kan baru saja selesai makan, masa mau langsung tidur." Arini berucap agar anaknya tidak langsung tidur, karena bagaimanapun tidur setelah makan itu tidak baik.


"Eh, iya juga. Ya sudah kita ke ruang tamu saja nonton televisi." Ucapan Bian langsung diangguki oleh Azzam, ia merentangkan kedua tangannya untuk di gendong oleh sang papa.


Bian tersenyum, meraih tangan anaknya, lalu mereka bertiga pun menuju ruang tamu setelah Bian meminta Pak Bhanu untuk menyalakan kembali lampunya.


Di ruang tamu mereka bertiga duduk dalam satu sofa, Azzam duduk di tengah dengan bersandar pada dada bidang papanya, Bian merentangkan satu tangannya dan menyandarkan di bahu sang istri, dan Arini yang mengusap lembut kepala Azzam.


Mereka duduk dengan menonton televisi berukuran 50 inch, menonton channel kesukaan Azzam, film kartun.


Azzam tidak terlalu memperhatikan acara film favoritnya, ia menguap berulang kali, ingin tidur tapi teringat dengan perkataan mamanya. Ia pun mencari cara agar menghilangkan rasa kantuknya.


"Pah...." Panggil Azzam pelan, ia akan berbicara saja dengan papanya agar mengalihkan rasa kantuknya.


"Ya." Jawab Bian mengusap-usap punggung Azzam, mencium pucuk kepalanya, dan sempat-sempatnya ia meraih tangan Arini lalu menciumnya sekilas.


Arini memukul tangan suaminya yang melingkari bahunya, melotot, memberi isyarat kalau perbuatannya itu nanti dilihat oleh anak mereka. Bian hanya membalas dengan senyuman, mengangkat baju, tatapannya penuh dengan muslihat, membuat Arini memicingkan mata.


"Papa sayang sama Azzam?" Kalimat itu lolos di mulut Azzam, membuat perhatian kedua orang tuanya teralihkan pada dirinya.


"Kenapa bertanya begitu?" Bian malah balik bertanya, perasaannya mulai tidak enak, apakah anaknya ini kurang kasih sayang darinya.


"Heheh... mau tahu aja." Jawab Azzam dengan kekehan.


"Kalau mau tau aja, papa nggak mau jawab deh." Bian pura-pura ngambek, ia menghela napas, ternyata yang dipikirkannya salah.


"Ih... berarti papa nggak sayang dong sama Azzam." Azzam mengerucutkan bibirnya. Arini tidak berkomentar, ia hanya mendengar percakapan ayah dan anak ini.


"Siapa bilang? Papa sayang kok sama Azzam." Bian langsung mencium pucuk kepala anaknya kembali.


"Oh ya?" Tanya Azzam untuk meyakinkan.


"Kalau sama mama?" Kembali Azzam bertanya, untuk menghilangkan rasa kantungnya, tapi apa yang terjadi, matanya mulai berat ingin ditutup, ia tak dapat lagi membendung rasa kantungnya. Kelopak mata Azzam perlahan mulai tertutup.


"Sama mama tentu saja sayang dong, sayang papa ke kalian berdua itu sangat beeesar sekali. Tapi papa lebih sukanya ke mama, hehehhe...." Ucap Bian menggelitiki leher istrinya, lalu perlahan tangannya bergerak mengikuti garis dada sang istri. Arini tidak tinggal diam, ia langsung memukul tangan suaminya yang mulai bertingkah tidak senonoh, apa lagi masih ada Azzam di samping mereka.


"Hm." Tingkah kedua orang tua itu membuat sedikit pergerakan, Azzam yang sudah mulai tertidur kembali terjaga. Ia menguap lebar, menutup mulut dengan tangan mungilnya, lalu memosisikan kepalanya mencari rasa nyaman di dada bidang papanya. Ia pun kembali tertidur, melupakan pertanyaannya yang sudah di jawab oleh sang papa.


Bian menyimpan telunjuknya di bibir, memberi isyarat pada sang istri agar tidak bergerak lagi, ia pun menoleh ke bawah, melihat wajah anaknya yang kini telah tertidur pulas. Sungguh keadaan berpihak padanya sekarang. Batin Bian tersenyum.


Bian bangun, berjalan menuju lantai dua untuk membaringkan anaknya. Arini juga ikut bangun, ia meraih remot televisi, lalu mematikan televisi itu. Dan berjalan mengikuti langkah suaminya yang tengah menggendong anak mereka.


Sampainya di kamar, Bian langsung membaringkan tubuh anaknya, lalu menutupnya dengan selimut. Bian mencium dahi Azzam, mengusap pucuk kepalanya, lalu ia pun berbalik.


Bian menyunggingkan senyum, lalu berjalan menghampiri istrinya yang berdiri di ambang pintu kamar anak mereka. Arini mengernyit, merasa aneh dan risih dengan tatapan suaminya.


"Sayang...." Panggil Bian dengan nada menggoda, ia langsung meraih tubuh ramping istrinya dan mulai menggendongnya.


"Mas...." Arini kaget, karena langsung diangkat oleh suaminya, ia refleks melingkarkan tangannya di leher Bian karena takut jatuh.


"Aku kangen kamu sayang." Bian mendekatkan wajah mereka, menggesekkan hidupnya dengan hidung Arini. Lalu Bian pun berjalan menuju kamar mereka, tapi sebelum itu ia menutup pintu kamar anaknya terlebih dahulu.


Arini diam terpaku mendengar kalimat yang terucap dari mulut suaminya, dan wajahnya kemudian memerah merona karena sudah mengetahui maksud dari perkataan suaminya.


"Ummm... wajah mu semakin cantik sayang, membuatku semakin tak tahan saja." Bian kembali mendekatkan wajah mereka, mencium bibir Arini dan ********** sekilas. Ia pun semakin mempercepat langkahnya, karena adiknya kini telah bangun dan berdiri tegak.


Ahh... wajah Arini semakin memerah merona, ia menyembunyikan wajahnya di dada bidang sang suami, tidak mau suaminya ini melihat lagi wajahnya yang tengah merona panas. Bian terkekeh, merasa lucu dengan tingkah istrinya.


Tiba di kamar mereka, Bian langsung saja membaringkan tubuh istrinya. Arini mengambil selimut untuk menutupi wajahnya, tapi langsung dicegah oleh Bian.


"Kamu cantik sayang, bahkan lebih cantik jika wajah mu seperti ini." Ucap Bian langsung meraih bibir ranum istrinya. Ia tidak dapat lagi membendung gairahnya yang tengah meronta-ronta.


Bian mencium bibir Arini, ********** lembut. Arini membalas ciuman suaminya, kelembutan yang diberikan oleh suaminya menuntun ia untuk membalasnya, memberikan kelembutan yang lebih untuk sang suami.


Bian semakin bergairah, tanpa di sadari ia sudah berada di atas tubuh istrinya, ia mulai menanggalkan satu persatu kain di tubuh mereka hingga tak menyisakan satu benang pun.


Keduanya mulai berjelajah menuju tujuan yang sama, merenggut kenikmatan dunia untuk percintaan umat manusia yang paling hakiki. Alunan melodi senantiasa mengiringi langkah mereka, membuat keduanya bersemangat dan mencapai pelepasan paling nikmat.


*****


Bersambung...