
Jam menunjukkan pukul 12:30, waktunya siswa sekolah untuk pulang. Termasuk Azzam, ia duduk di kursi taman menunggu seseorang yang akan menjemputnya pulang.
"Aku duluan ya Azzam, dadahhh...." Teman laki-lakinya melambaikan tangan, dia sudah dijemput oleh orang tuannya.
"Iya hati-hati, bye... bye...." Azzam ikut melambaikan tangan pada teman laki-lakinya itu.
Para siswa telah pulang satu persatu dijemput oleh orang tua mereka, menyisakan beberapa anak yang juga menunggu untuk dijemput.
Azzam memandang ke arah pintu gerbang, siapa tahu mobil jemputan nya sudah datang. Namun, nahas. Mobil orang tuannya, Arumi, atau mobil yang ia kenalin tak kunjung berada di depan pagar besi sana.
Azzam menghela napas, lama sekali orang-orang datang menjemputnya. Padahal ia sudah tidak sabar untuk pergi ke perusahaan Rangga seperti yang direncanakan, pergi mendapatkan mainan baru, serta eskrim gratis di sana.
Azzam kembali menghela napas, mendongak, melihat kembali pintu masuk sekolahnya. Dan mobil yang ia tunggu-tunggu sejak tadi pun datang, membuat ia terlonjak berlari mendekati mobil tersebut.
Arumi menghentikan mobilnya tepat di depan gerbang sekolah keponakannya, Arini keluar setelah mobil itu benar-benar berhenti.
"Mama...." Azzam berlari mendekati Arini yang sudah keluar dari mobil, sambil merentangkan kedua tangannya untuk memeluk Mamanya.
"Sayang." Arini ikut merentangkan tangannya, menyambut pelukan dari sang anak.
Sampai di depan Mamanya, Azzam tiba-tiba melipat kedua tangannya, tidak jadi memeluk Mamanya itu.
"Hm, Mama lama." Azzam mendengus, merajuk karena lama dijemput.
Arini kembali menurunkan tangannya, menggaruk kepalanya yang tak gatal. Bagaimana ini? Anak menggemaskannya ini tengah merajuk. Dan tak lama kemudian, Arumi ikut keluar dari mobil.
"Hmmm... maafin Mama ya sayang, tadi macet sekali." Arini mensejajarkan tingginya dengan sang anak.
"Iya, tadi macet sekali. Makanya lama menjemput mu ponakan ganteng." Arumi mencubit pipi Azzam yang gembul, membuat anak itu mengerucutkan bibirnya marah.
"Jadi, Mama sama Aunty... Papa mana? Kok nggak jemput?" Bukannya mengangguk mengiyakan alasan dari Mama dan Aunty nya, Azzam malah bertanya keberadaan Papanya yang biasa datang menjemputnya.
"Papa masih kerja sayang, tapi setelah itu akan langsung ke perusahaan Om Rangga." Ujar Arini, membuat mata Azzam berbinar-binar. Mengingat kembali rencananya untuk ke perusahaan Rangga.
"Kalau begitu ayo kita segera ke sana Mah, siapa tahu Papa sudah sampai duluan." Ucap Azzam tidak sabaran, kemarahannya pun seketika hilang entah kemana.
"Mmmm... giliran bahas begin---" Ucap Arumi terpotong.
"Hhmm, jadi Aunty mau Azzam marah lagi nih?" Azzam bercekak pinggang, memicingkan mata pada Arumi.
"Hhhhh, ya... nggak lah." Arumi tertawa patah-patah, melambaikan tangan pada Azzam. "Aunty cuman mau bilang, kalau bahas begini wajah kamu makin ganteng deh." Kilahnya.
"Oh yah?" Azzam bertanya untuk menyakinkan.
"Iya." Jawab Arumi mengangguk, menyakinkan.
"Yah, tentu saja. Wajah aku memang ganteng." Azzam senyum-senyum sendiri mendapatkan pujian itu, Arumi terngak-ngak mendengarkan, sedangkan Arini menggeleng-nggelengkan kepalanya mendengarkan pembicaraan mereka berdua.
"Dasar narsis." Gumam Arumi memutar jengah bola matanya, lalu masuk ke dalam mobil.
Azzam menautkan kedua alisnya, sempat mendengarkan gumaman Aunty nya itu. "Mah, narsis itu apa?" Tanya Azzam mendongak mamanya yang sudah kembali berdiri.
Arini lagi-lagi menggaruk kepalanya yang tak gatal, bingung harus menjawab apa atas pertanyaan anaknya ini. Ia melirik ke dalam mobil, memberi isyarat agar Arumi membantunya menjawab.
Arumi yang mengerti akan lirikan itu, menghela napas, menongolkan kepala ke luar jendela mobil. "Narsis itu...." Ucap Arumi dan Azzam mendengarkan dengan seksama. "Azzam ganteng sekaliiii." Lanjutnya membuat Azzam kembali senyum-senyum sendiri, tersipu malu.
"Benarkah Mah...?" Tanya Azzam masih senyum-senyum sendiri.
Azzam mengangkat satu alisnya, menunggu jawaban yang ia inginkan dari mamanya ini. "I-iya." Jawab Arini kemudian. Wajah Azzam tak terkira bahagianya mendengar jawaban itu.
"Kalau sudah selesai, ayo sekarang kita berangkat....." Arumi berkata di dalam mobil.
"Ayo...." Azzam menimpali dengan penuh semangat ajakan Aunty nya itu. Arini mengangguk, lalu naik ke dalam mobil bersama Azzam. Dan mobil itu pun dijalankan menuju perusahaan Rangga berada.
*****
Setelah menempuh perjalan dua puluh menit lebih, akhirnya mereka bertiga tiba di perusahaan Rangga. Arumi langsung memarkirkan mobilnya di tempat parkir, dan mereka bertiga pun berjalan ke lobi memasuki perusahaan itu.
"Wah... perusahan Om Rangga besar juga ya...." Azzam mengedarkan pandangan ke seluruh sisi perusahaan itu. Arini ikut mengedarkan pandangannya, ia terkagum-kagum menatap interiornya yang tersusun begitu rapi.
"Ayo kita ke sana." Ajak Arumi berjalan mendekati meja resepsionis. Azzam dan Arini mengangguk serentak mengikuti langkahnya.
Belum sempat mereka sampai di meja resepsionis itu, seorang ibu-ibu berjalan dengan tergesa-gesa dan tak sengaja menabrak Azzam dari belakang sehingga membukanya terjatuh.
"Aduhhh...." Azzam terpental ke lantai, membuatnya meringis kesakitan.
"Azzammm." Teriak Arini dan Arumi bersamaan, menghampiri Azzam yang terpental sedikit jauh dari mereka.
"Heh...! Kalau jalan itu hati-hati, jangan jalan kiri kanan, kiri kanan!" Ibu-ibu itu membentak Azzam dengan kasar, membuat Arumi menghentikan langkahnya, berbalik menatap ibu-ibu itu dengan tajam.
Mendengar bentakan itu membuat Azzam ketakutan, menahan rasa sakitnya. Matanya kini berkaca-kaca, siap menumpahkan air mata. "Mamaaa... Azzam takuttt." Lirihnya sangat pelan, bahkan Arini samar-samar mendengarnya.
Semua pegawai, orang-orang datang berkunjung, yang berada di lantai satu itu mendadak menghentikan aktivitas mereka, menonton adegan yang terpampang secara live di depan mata.
"Sayang, kamu nggak papa kan?" Tanya Arini panik, meraih tubuh mungil anaknya dan langsung menggendongnya.
"Azzam takut, lutut Azzam juga sakit." Lirih Azzam lagi, menyembunyikan wajahnya di ceruk leher mamanya.
"Tenang ya sayang, ada mama... sekarang lutut mana yang sakit?" Arini berusaha menenangkan anaknya.
"Kiri." Jawab Azzam mulai sesegukan, air matanya tak dapat ia bendung lagi. Arini merasakan basah area lehernya, membuat hatinya perih, teriris-iris. Tidak tega mendengar anaknya yang menangis ketakutan dan menahan rasa sakitnya.
"Apa?!" Ibu itu balas menatap Arumi tajam. "Kamu kira saya takut dengan tatapan mu itu?!" Lanjutnya lagi dengan suara tinggi.
"Dan anak itu jatuh bukan karena saya, tapi anak itu saja yang jalan kiri kanan menghalangi jalan orang!" Kilah ibu itu merasa tidak bersalah, Azzam semakin menyembunyikan kepalanya di ceruk leher mamanya, memeluknya erat.
Arumi semakin menatap tajam ibu itu, tidak terima atas semua perkataannya. "Heh... Bu! Jelas-jelas Anda yang salah karena menabrak anak orang dari belakang, mata Anda simpan ke mana? Sampai tidak melihat jalan. Dan lihat jalan samping kiri kanan Anda, lebar sekali, tidak ada yang menghalangi Anda untuk berjalan!" Arumi membalas semua ucapan ibu itu dengan nada penekanan. Orang-orang yang menonton itu mengangguk setuju dengan ucapannya, karena mereka juga melihat kejadian aslinya.
Arini yang melihat anaknya semakin ketakutan dan tidak tenang, berbalik memanggil Arumi yang tengah berdebat dengan ibu-ibu itu agar menjauhi tempat ini.
"Rum sudah, ayo kita pergi dari tempat in---" Ucapan Arini tertahan, tak kala matanya bersitatap dengan ibu-ibu yang telah menabrak anaknya.
Ibu itu mengernyit dalam menatap Arini yang terlihat kaget melihatnya, dan beberapa detik kemudian ia pun mengingat wajah perempuan yang tengah menatapnya dengan kaget ini.
"Ohh... jadi anak h***m yang kau kandung dulu sudah sebesar ini?!" Ujar ibu itu tersenyum merendahkan, mengeraskan suaranya agar terdengar oleh yang lain, menatap Arini dan Arumi bergantian. Orang-orang yang tengah menonton mereka, mulai berbisik-bisik satu sama lain. Arumi membulatkan matanya juga terlihat kaget menatap ibu itu.
"B-bu...."
*****
Bersambung...