My Son Is My Strength

My Son Is My Strength
Ayang?



Arumi dan Hana berada di daun pintu, mereka berdua mengucapkan salam dan langsung disambut gembira oleh Rio dan Azzam.


"Wa'alaikumussalam...." Jawab Rio menghampiri pujaan hatinya.


"Wa'alaikumussalam.... Aunty, Tante Hana...." Azzam menjawab, berlari menghampiri keduanya dengan membawa salah satu mainan barunya.


"Ummm... Azzam maki ganteng aja." Hana merentangkan kedua tangannya untuk menyambut anak atasannya ini yang sudah beberapa hari tidak ia temui. Menghiraukan Rio yang datang menghampirinya dengan mata berbinar-binar.


"Iya dong... kan ponakannya Aunty Arumi." Arumi menimpali. Azzam sudah berada dalam gendongan Hana.


"Hehehe... Aunty sama Tante bisa aja." Azzam tertawa malu-malu, pipinya bersemu karena di puji. Hana dan Azzam serta Arumi berjalan menuju sofa melewati Rio yang kini berwajah murung, menatap melongo kepergian mereka bertiga.


"Apa aku tidak terlihat?" Rio meraba-raba tubuhnya, karena tidak di sapa oleh mereka berdua, bahkan dilirik pun tidak. Ia pun ikut berjalan dengan wajah masam mengikuti langkah mereka.


"Aunty... Tante... lihat deh, ini mainan Azzam semua. Baru di beli sama papa di Hong Kong." Azzam menunjukkan semua mainan barunya pada kedua wanita cantik ini ketika mereka sudah sampai di sofa.


"Benarkah...." Tanya Hana mengambil satu mainan Azzam untuk di lihat.


"Iya, itu benar." Jawab Rio, berusaha mendapatkan perhatian dari kekasihnya. Namun, Hana seolah-olah tidak mendengar dan melihatnya.


"Iya, Tante. Itu benar, papa membelikan semua ini untukku." Azzam membanggakan diri.


"Hehehe... papa kamu baik banget belikan ini semua untuk kamu, nggak kaya Tante nggak ada yang belikan, kabar pun tidak ada." Ujar Hana tersenyum menyinggung seseorang.


"Apa dia marah padaku karena tidak mengabarinya selama di Hong Kong." Rio menerka-nerka perubahannya sikap pujaan hatinya. "Astaga, seperti begitu." Rio merutuki dirinya dalam hati. Kenapa ia begitu bodoh dan lupa mengabari kekasihnya ini sewaktu di sana? Rentetan penyesalan mulai Rio rasakan.


Ketika kedua wanita itu sibuk berbicara dengan Azzam, dan mengabaikan Rio yang berada di tengah-tengah mereka. Pintu utama kembali diketuk.


"Biar aku saja yang buka, kalian lanjut saja bermain." Arumi bangun, menawarkan diri untuk membukakan pintu tersebut. 


Arumi yang pergi membukakan pintu untuk seseorang yang entah siapa itu, memberikan kesempatan untuk Rio berbicara dengan Hana.


"Ayang... kamu marah? Aku minta maaf karena tidak mengabari mu waktu di sana." Rio berkata memelas, duduk di hadapan Hana. Namun, Hana acuh saja. Ia memalingkan pandangannya agar tidak berpapasan dengan mata memelas Rio.


Panggilan Rio untuk Hana barusan membuat Azzam mengernyit, berpikir keras. Kenapa sekretaris ayahnya yang sudah ia anggap Om sendiri ini memanggil Tante Hana dengan sebutan ayang? Batin Azzam berpikir keras. Karena penasaran, ia pun bertanya pada dua orang dewasa ini.


"Tante... Tante... kenapa namanya diganti? Padahal nama Tante Hana udah bagus." Azzam bertanya polos.


"Eh...." Hana mengernyit dengan pertanyaan Azzam. "Tante nggak ubah nama kok, nama Tante tetap Hana." Hana menjawab dengan bingung.


"Tapi kenapa tadi Om Rio panggil Tante pake sebutan 'Ayang'? Ayang kan hampir mirip sama nama ayam yang bisa kokok-kokok itu...." Azzam mencontohkan bentuk sayap ayam dengan kedua tangannya di gerak-gerak kan menyerupai sayap.


Pertanyaannya polos Azzam membuat Hana menatap tajam Rio, Rio menelan salivanya susah, melihat aura tatapan dari pujaan hatinya yang semakin jengkel padanya. Ia menepuk bibirnya karena telah melontarkan panggilan itu di hadapan anak kecil.


"Wuhahahaha.... Ayang lo peyang!" Tawa seseorang menggelegar, mendengar percakapan orang-orang di sofa. Orang itulah orang yang Arumi bukakan pintunya, dan dia tak lain adalah Rangga yang datang atas panggilan dari Rio.


"Of course, boy." Rangga mengangguk, duduk di sebelah Rio.


Mata Azzam mengikuti arah gerak Rangga, dan di saat ia melihat Rangga sudah duduk dengan rapi. Ia pun tak sabar menanyakan lagi kata yang barusan ia dengar.


"Ayang itu peyang ya, Om?" Tanya Azzam pada Rangga dan langsung membuat semua orang di ruang tamu itu terdiam. "Ja-di, Om Rio bilang Tante Hana itu peyang dong?" Lanjut Azzam berkata lirih, memaknai kata ayang. Dan kembali semua orang terdiam, lalu sesaat kemudian Rangga kembali tertawa ngakak, perutnya sampai sakit mendengarkan pertanyaan polos itu.


Hana menoleh pada Rio, matanya menatap dingin, bibirnya mengantup kuat, aura kemarahan mulai tercipta. Rio menghela napasnya susah, ia menggeleng kuat.


"I-itu tidak benar sayang." Rio kembali menggeleng kuat, tidak membenarkan pertanyaan polos dari Azzam. Dan Hana tentu saja tahu, tapi kekasihnya ini sungguh semakin menjengkelkan.


Saat Rio berusaha mendapatkan permohonan maaf dari kekasihnya, Rangga masih saja sibuk tertawa, membuat Arumi yang duduk dekat Azzam bangun dan langsung mencubit perutnya kuat agar pria itu berhenti tertawa di saat yang lainnya merasa susah.


"Ak-ak... auf... sakit sayang...." Rangga meringis kesakitan, mendapatkan jubitan kuat dari Arumi. Azzam, si mungil itu menjadi penonton satu-satunya adegan yang dipertontonkan orang-orang dewasa ini.


Pertanyaannya yang tadi tidak ada satu pun yang terjawab, membuat ia mengangkat bahu, tidak peduli lagi. Azzam pun kembali memainkan permainannya di tengah kebisingan orang-orang dewasa ini.


"Sayang, maafin aku. Lain kali aku janji bakalan ngabarin kamu, kamu jangan marah lagi ya...." Rio masih saja memelas, meminta maaf pada Hana.


"Siapa yang marah?!" Hana mengelak. "Dan tidak usah mengabari ku, memangnya aku kekasih mu?" Lanjutnya berkata sinis.


"Sayang jangan ngomong seperti itu, aku ini memang kekasih mu." Rio meraih tangan Hana. "Tapi kalau kau memang tidak ingin menjadi kekasih ku, ok!" Rio menyimpan kembali tangan Hana yang tengah ia genggam. Perlakuan itu membuat mata Hana membulat, apa maksudnya. Bahkan perhatian Rangga dan Arumi jadi terfokus kan pada keduanya, Azzam masih sibuk dengan permainannya, menghiraukan saja sekitarnya.


"Ya... aku ikhlas kau tidak menjadi kekasih ku." Ucap Rangga menunduk, Hana mulai menebak-nebak, hatinya tidak tenang. Niat untuk memberi pelajaran pada sang kekasih malah menjadi seperti ini, seharusnya ia terima saja Rio yang tidak memberikannya kabar, karena mungkin saja dia sangat sibuk. Hana mulai menyesali perbuatannya. Matanya mulai berkaca-kaca menunggu perkataan Rio selanjutnya.


"Aku ingin kita putus." Rio mendongak menatap manik mata Hana. Hana tak mampu lagi membendung air matanya, ia pun menangis tanpa isakan. Rangga dan Arumi saling pandang, tidak menyangka akan jadi seperti ini. Saat Rangga dan Arumi ingin mengingatkan Rio akan keputusannya barusan, kembali Rio berucap.


"Aku ingin kita putus, dan menjalin hubungan baru menjadi sepasang suami istri." Ucap Rio mengusap air mata Hana. Hana terdiam mencerna perkataan Rio barusan. Dan ia pun langsung memukul dada pria itu karena sudah mempermainkannya, ia kira benar-benar akan putus dengan pria ini.


"Uufff... so sweet." Ucap Rangga ingin merangkul Arumi, namun cepat di tepis oleh perempuan itu.


"Nikahin dulu baru peluk-peluk!" Arumi menudingkan jarinya pada Rangga.


Azzam di tengah-tengah mereka, menghela napas. Permasalahan orang-orang dewasa ini tidak pernah selesai, ia kembali mengangkat bahu, lanjut bermain.


 


*****


 


Bersambung...